Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Suami yang Kukira Kukenal
Berbahaya.
Kata itu menetap di kepala Vivi, sementara lengan Sebastian masih melingkari pinggangnya di sofa.
Ia tahu pria ini berbahaya. Semua orang di Jakarta yang pernah membaca berita bisnis juga tahu. Sebastian Gunawan merebut kendali Gunawan Group dari keluarga besar yang bertahun-tahun meremehkannya. Ia bisa membuat satu perusahaan kehilangan pemasok sebelum makan siang dan membeli gedung pesaing sebelum pasar tutup.
Namun, bahaya yang baru saja Vivi lihat di matanya terasa berbeda.
Pribadi.
“Kamu masih mau duduk di sini?” tanya Sebastian.
Vivi tersadar bahwa kedua kakinya masih mengapit pinggang pria itu. Wajahnya langsung panas.
“Aku mau turun.”
Lengan Sebastian justru mengencang. “Tadi kamu menggeleng.”
“Tadi aku masih pusing.”
“Sekarang?”
Vivi melirik boneka beruang di sisi sofa, lalu menatap anak tangga menuju lantai dua. Ia ingin masuk kamar, mengunci pintu, dan menyusun seluruh ingatan yang baru kembali. Lebih dari itu, ia ingin menjauh dari dada bidang yang membuat tubuhnya merasa aman meski kepalanya berteriak bahaya.
“Aku cuma mau mandi,” katanya. “Bajuku basah oleh keringat.”
Sebastian menatapnya beberapa detik. “Baik.”
Tanpa peringatan, ia berdiri.
Vivi memekik dan refleks memeluk lehernya. “Sebas! Turunkan aku. Aku bisa jalan.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa aku masih digendong?”
“Karena kakimu gemetar.”
Jawaban itu begitu masuk akal hingga Vivi kehabisan bantahan.
Sebastian mengangkatnya hanya dengan satu lengan di bawah paha, sementara tangan satunya mengambil boneka beruang. Gerakannya tenang seolah tubuh Vivi tak memiliki berat. Ia berjalan melewati foyer dan menaiki tangga tanpa kesulitan.
Pak Yanto muncul dari lorong samping sambil membawa handuk kering.
“Mobil sudah saya minta disiapkan, Pak Sebastian,” katanya. “Kalau Bu Vivian perlu dibawa ke rumah sakit...”
“Tidak perlu.”
“Saya sudah membaik, Pak Yanto,” Vivi cepat-cepat menambahkan. “Maaf membuat semua orang panik.”
Pak Yanto tersenyum lega. “Yang penting Bu Vivian tidak apa-apa.”
“Besok pagi, kosongkan jadwal rumah,” perintah Sebastian. “Jangan ada tamu.”
Vivi menoleh. “Kenapa?”
“Kamu perlu istirahat.”
“Aku bukan pasien rawat inap.”
“Malam ini kamu hampir pingsan.”
“Hampir bukan berarti benar-benar pingsan.”
Sebastian berhenti di anak tangga terakhir. Tatapannya turun ke wajah Vivi.
“Jangan berdebat saat tubuhmu masih gemetar.”
Nada itu tidak keras. Justru karena diucapkan pelan, Vivi langsung menutup mulut.
Pak Yanto menunduk seolah tiba-tiba sangat tertarik pada lipatan handuk di tangannya.
Kamar Vivi terletak di ujung lorong lantai dua, berseberangan dengan kamar Sebastian. Warna merah muda pucat memenuhi dinding dan tirai. Semua dipilihkan setahun lalu agar pengantin baru itu merasa nyaman, meski pemilik rumah tak pernah tidur bersamanya.
Sebastian menendang pintu hingga terbuka, lalu membawa Vivi masuk.
Punggung Vivi menegang.
Dalam sekejap, pintu merah muda itu berubah menjadi pintu besi dalam ingatannya. Ada bunyi kunci diputar dari luar. Ada telapak tangannya sendiri yang berdarah karena memukul permukaan logam. Ada suara berat yang menyuruhnya berhenti menangis.
Vivi mencengkeram kerah Sebastian.
“Jangan tutup pintunya.”
Pria itu berhenti.
“Kenapa?”
Vivi tak bisa menjawab. Jika ia mengatakan bahwa dalam kehidupan lain Sebastian pernah mengurungnya, apa yang akan dilakukan pria ini? Menertawakannya? Menganggapnya gila? Atau malah memastikan ketakutannya benar?
Ia memaksa jemarinya terbuka. “Pengap.”
Sebastian melirik pendingin udara yang menyala pada suhu dua puluh satu derajat. Anehnya, ia tidak membantah.
Ia membiarkan pintu terbuka.
Vivi diturunkan ke tepi ranjang. Boneka beruang diletakkan di pangkuannya dengan hati-hati, telinganya dirapikan terlebih dahulu sebelum Sebastian menarik tangan.
Gerakan kecil itu membuat Vivi terdiam.
“Kamu merapikan telinganya?”
Sebastian menatap boneka tersebut seolah baru sadar benda itu ada. “Miring.”
“Kamu biasanya tidak peduli.”
“Sekarang juga tidak.”
Ia berbalik menuju lemari dan mengambil jubah mandi untuk Vivi. Percakapan selesai menurutnya.
Vivi menunduk, lalu tanpa sengaja mencium aroma samar pada kepala boneka. Dingin, bersih, sedikit seperti kayu cedar setelah hujan.
Aroma Sebastian.
Tadi ia memang sempat memegang boneka itu di sofa, tetapi hanya beberapa detik. Aroma ini tertinggal sampai ke bagian dalam bulu, seolah benda tersebut pernah lama menempel di dada seseorang.
Vivi mengangkat wajah.
Sebastian sedang berdiri membelakanginya. Bahunya kaku di balik kemeja hitam yang basah.
Ia belum tahu apa arti temuan kecil itu. Mungkin boneka ini pernah dibawa staf rumah tangga ke ruang yang sama dengan jas Sebastian. Mungkin hidungnya masih dipenuhi aroma kemeja pria itu karena tadi ia menempel terlalu dekat.
Atau mungkin ada kebiasaan suaminya yang tidak pernah ia lihat.
Vivi memeluk boneka tersebut lebih erat.
Dalam kehidupan pertama, ia merasa sudah mengenal Sebastian. Ia mengenal jadwalnya, aturan rumahnya, tatapan dinginnya, dan caranya selalu pergi setelah penyakit Vivi mereda.
Ternyata yang ia ketahui hanya permukaan.
Ia bahkan tak pernah memahami alasan dirinya dikurung setelah meminta cerai.
Kali ini, Vivi tidak boleh hanya menunggu akhir yang sama. Ia harus mengamati semuanya sejak awal, termasuk hal-hal kecil yang dulu ia abaikan.
“Aku akan mandi,” katanya.
Sebastian meletakkan jubah di dekatnya. “Aku tunggu di luar.”
“Tidak perlu.”
“Kalau kamu jatuh?”
“Aku akan berteriak.”
“Aku tetap menunggu.”
Tentu saja.
Vivi masuk ke kamar mandi sambil membawa jubah. Ia mengunci pintu, menempelkan punggung ke permukaan kayu, lalu mengembuskan napas yang sejak tadi ditahan.
Air hangat membantu membersihkan sisa keringat, tetapi tak mampu membilas potongan ingatan tentang kematiannya. Vivi mandi cepat. Ketika keluar, Sebastian masih berdiri di dekat jendela, persis seperti janjinya.
Tatapannya langsung jatuh pada gaun tidur kotor di tangan Vivi.
“Berikan padaku.”
Vivi berhenti. “Untuk apa?”
“Dibuang.”
“Kenapa dibuang? Bisa dicuci.”
“Kamu berkeringat saat kambuh. Jangan dipakai lagi.”
Alasannya terdengar masuk akal. Namun, keluarga Gunawan memiliki staf khusus untuk pakaian. Sebastian tak pernah mengurus cucian siapa pun, bahkan miliknya sendiri.
Vivi teringat aroma pada boneka beruang.
Sebuah dugaan kecil muncul, terlalu aneh untuk langsung dipercaya.
“Nggak usah.” Vivi memasukkan gaun itu ke kantong hitam di dekat meja rias. “Biar staf rumah tangga yang urus.”
Mata Sebastian mengikuti gerak tangannya.
Hanya sepersekian detik, tetapi Vivi melihat jari pria itu menekuk di sisi tubuhnya.
“Buang saja,” katanya.
“Aku bilang dicuci.”
“Vivi.”
“Itu bajuku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Vivi tidak mengalihkan tatapan. Jantungnya berdebar sangat keras, tetapi ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Sebastian ketika aturan kecilnya ditolak.
Pria itu mendekat satu langkah.
Bayangannya menutup cahaya lampu meja. Vivi menahan napas, siap menghadapi perintah berikutnya.
Namun, Sebastian hanya mengambil handuk dari bahunya, mengeringkan setetes air yang jatuh ke leher Vivi, lalu meletakkan handuk itu kembali.
“Baik,” ucapnya. “Dicuci.”
Ia berbalik dan keluar dari kamar.
Vivi baru bisa bernapas setelah langkahnya menghilang di lorong.
Beberapa menit kemudian, seorang staf rumah tangga datang membawa pakaian bersih. Vivi menyerahkan kantong hitam itu secara langsung.
“Tolong cuci besok pagi,” pesannya. “Jangan dibuang.”
“Baik, Bu Vivian.”
Staf itu membawa kantong keluar. Pintu kamar tetap terbuka seperti permintaan Vivi.
Ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk boneka beruang. Dari posisinya, Vivi masih bisa melihat sebagian lorong kosong.
Ia belum punya bukti. Hanya aroma yang terlalu dalam, tatapan yang terlalu lama, dan jari Sebastian yang menekuk ketika gaun tidurnya dibawa orang lain.
Namun, untuk pertama kalinya Vivi merasa pria itu tidak ingin membuang pakaiannya.
Ia ingin mengambilnya.