NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Katon yang Membakar Keadilan

Ujung laras besi itu bergetar sangat pelan.

Tetesan keringat dingin meluncur dari pelipis agen Cipher Pol yang berdiri paling depan. Rahangnya terkatup rapat. Matanya menatap lurus ke arah pemuda berarmor merah di hadapannya. Pelatihan keras selama bertahun-tahun di fasilitas rahasia Pemerintah Dunia seolah menguap begitu saja.

Naluri pembunuhnya ditekan habis-habisan oleh tekanan udara yang tiba-tiba menjadi sangat berat.

Jarak mereka hanya tiga meter. Jarak tembak yang sangat ideal. Peluru mematikan dari pistol flintlock modifikasi itu bisa menembus tulang tengkorak manusia dewasa dalam sekejap mata.

Tetapi jari telunjuk pria berjas hitam itu terasa kaku.

Di depannya, Madara berdiri dengan ketenangan yang tidak masuk akal. Tangan kanannya bertumpu dengan santai di atas gagang pedang bersarung hitam. Dia tidak menarik pedang itu. Dia hanya meletakkan tangannya di sana, seolah sedang mempertimbangkan apakah lalat di depannya layak untuk ditebas.

Waktu di dalam gang sempit berbatu itu terasa berhenti.

Hanya ada suara tetesan air dari atap bangunan kayu yang jatuh menimpa genangan kotor di bawahnya. Tik. Tik. Tik.

Robin menahan napasnya di ujung gang. Punggungnya menempel erat pada tembok bata yang dingin. Dia memeluk bahunya sendiri. Hawa intimidasi yang memancar dari pemuda misterius itu membuatnya merasa sangat kecil.

Pria berjas hitam di tengah formasi Cipher Pol menyadari anak buahnya ragu-ragu. Wajahnya mengeras. Tidak boleh ada kelemahan dalam menjalankan keadilan absolut.

“Tembak dia!” perintah pria di tengah dengan suara tertahan.

Perintah itu memecah kebuntuan mental sang agen. Insting kepatuhannya mengambil alih rasa takut. Jari telunjuknya yang sedari tadi kaku akhirnya memberikan tekanan penuh pada pelatuk logam.

Mekanisme pelatuk berderak. Batu api bergesekan dengan baja. Percikan bunga api memercik menyambar bubuk mesiu di dalam ruang ledak.

Sebuah ledakan kecil memekakkan telinga meletus di dalam gang yang sempit.

Asap putih kelabu menyembur dari ujung laras pistol. Sebuah proyektil timah bulat melesat membelah udara dengan kecepatan mematikan, mengarah tepat ke bagian tengah dahi Madara.

Bagi mata manusia biasa, peluru itu hanyalah sebuah kilatan tak kasatmata yang membawa kematian. Bagi Nico Robin, itu adalah akhir dari keajaiban yang baru saja dia saksikan. Bagi agen Cipher Pol, itu adalah penyelesaian tugas.

Namun bagi Uchiha Madara, lintasan peluru itu tidak lebih dari lemparan batu seorang balita.

Meski mata hitamnya tidak berubah menjadi merah, refleks Sharingan yang telah terukir di dalam sistem sarafnya masih bekerja dengan sempurna. Dunia di sekitarnya melambat hingga titik di mana debu yang melayang di udara terlihat berhenti.

Dia bisa melihat putaran proyektil timah itu. Dia bisa melihat lintasan angin yang terbelah oleh peluru tersebut.

Madara bahkan tidak repot-repot menarik pedangnya. Menggunakan bilah pedang untuk menangkis benda sekecil itu adalah pemborosan tenaga.

Dia membiarkan peluru itu mendekat hingga jaraknya kurang dari satu jengkal dari wajahnya.

Tepat pada detik terakhir, Madara menggeser pusat gravitasinya. Dia hanya memiringkan lehernya ke arah kiri. Gerakannya sangat minim. Sangat efisien. Dia hanya berpindah sepersekian milimeter dari jalur maut tersebut.

Peluru timah itu melintas tepat di sebelah telinga kanannya.

Angin panas dari proyektil itu menyapu beberapa helai rambut hitamnya. Peluru itu terus melesat melewati bahu Madara, menghantam dinding batu di belakangnya dengan suara nyaring, meninggalkan lubang kecil yang berasap.

Asap mesiu perlahan menipis di udara.

Agen Cipher Pol yang baru saja menarik pelatuk itu melebarkan matanya. Mulutnya sedikit terbuka. Dia menatap laras pistolnya sendiri, lalu menatap kembali ke arah pemuda di depannya.

Pemuda itu masih berdiri di tempat yang sama. Tidak ada darah. Tidak ada lubang di kepalanya. Postur tubuhnya bahkan tidak berubah sama sekali, seolah dia tidak pernah bergerak.

“B-Bagaimana mungkin,” gumam agen itu dengan suara bergetar.

Dua agen lainnya di belakang juga terpaku. Mereka adalah saksi mata yang melihat bagaimana peluru itu ditembakkan dari jarak yang sangat dekat. Tidak ada manusia normal yang bisa menghindari tembakan mendadak seperti itu tanpa persiapan.

Di sudut tembok, kelopak bibir Robin sedikit terbuka. Dia tidak bisa memercayai penglihatannya sendiri.

Madara menghela napas panjang. Udara keluar dari hidungnya dengan pelan.

Tangan kanannya yang sedari tadi bertumpu pada gagang pedang perlahan terlepas. Dia menjatuhkan tangannya ke sisi tubuh.

Menggunakan pedang besi biasa ini untuk memotong serangga-serangga pengecut di depannya tiba-tiba terasa sangat membosankan. Dia baru saja tiba di dunia yang dipenuhi oleh lautan ini. Jalur energi di dalam tubuhnya masih terasa kaku karena pengaruh mabuk laut yang menyiksanya selama dua hari terakhir.

Otot-ototnya butuh peregangan. Saluran chakranya butuh sedikit pemanasan agar tidak tersumbat oleh energi yang tidak tersalurkan.

“Kalian sangat menyukai senjata mainan itu,” ucap Madara dengan nada datar.

Dia mengangkat kedua tangannya perlahan hingga sejajar dengan dada. Jari-jarinya terbuka dan mulai menyatu.

“Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan pada kalian, bagaimana caraku bermain.”

Kata-kata itu diucapkan dengan ketenangan yang membekukan darah. Namun apa yang terjadi selanjutnya, sepenuhnya menghancurkan akal sehat ketiga agen Cipher Pol tersebut.

Jari-jari Madara mulai bergerak.

Kecepatannya tidak bisa diikuti oleh mata manusia biasa. Jari-jarinya melipat, menyilang, dan bertaut membentuk serangkaian segel rumit dalam hitungan sepersebelas detik. Bayangan tangannya terlihat kabur, menyatu dengan udara di sekitarnya.

Kuda. Harimau. Ular. Domba. Monyet. Babi. Kuda. Harimau.

Sebuah urutan segel tangan yang telah terukir dalam memori genetik klan Uchiha selama ratusan tahun. Segel tangan untuk sebuah jutsu dasar yang menjadi identitas kebanggaan klannya.

Sesaat setelah segel terakhir terbentuk, udara di dalam gang berbatu itu mengalami perubahan drastis.

Sensasi dingin dan tekanan mental yang sebelumnya mencekik, kini menghilang sepenuhnya. Sebagai gantinya, suhu di sekitar mereka melonjak naik secara tidak masuk akal. Udara terasa mengering. Genangan air kotor di bawah sepatu mereka mulai mengeluarkan uap tipis.

Madara menarik napas sangat dalam.

Dadanya membusung ke depan. Dia menarik sisa-sisa chakra yang mengalir lambat di dalam jaringan tubuh remajanya, mengumpulkannya di paru-paru, dan memadatkannya dengan sangat ekstrem. Dia mengubah energi spiritual dan fisik itu menjadi elemen murni.

Panas terkumpul di pangkal tenggorokannya.

Pria berjas hitam di tengah menyadari bahaya mutlak yang akan datang. Instingnya berteriak kencang, menyuruhnya untuk segera melarikan diri dari tempat ini.

“Lari! Cepat lari dari sini!” teriak pria itu dengan suara panik yang sangat asing bagi seorang agen pemerintah.

Namun, peringatan itu datang terlambat. Terlalu lambat untuk mengimbangi kecepatan seorang dewa perang.

Madara memposisikan tangan kanannya di depan mulut, membentuk ruang kecil di antara jari telunjuk dan ibu jarinya. Dia menatap ketiga pria berjas hitam itu dengan pandangan yang kosong.

Lalu, dia mengembuskan napasnya.

Katon. Goukakyuu no Jutsu.

Sebuah percikan api kecil keluar dari bibirnya. Dalam waktu kurang dari satu kedipan mata, percikan itu meledak dan berekspansi menjadi sebuah bola api raksasa yang menyala terang.

Bola api itu memiliki diameter yang hampir menyamai lebar gang sempit tersebut. Warnanya merah kekuningan, menyala dengan intensitas yang membutakan mata. Hawa panas yang dibawanya terasa seperti lahar gunung berapi yang baru saja meletus.

Bola api raksasa itu melesat maju, menelan udara di depannya, dan menyapu bersih segala sesuatu yang berada di jalurnya.

Agen yang menembakkan pistol tadi berada di barisan paling depan. Dia bahkan tidak sempat berteriak ketika gelombang api pertama menghantam tubuhnya.

Jas hitamnya yang dijahit dengan kain kualitas tinggi langsung hangus menjadi abu. Kulitnya melepuh dan menghitam dalam hitungan detik. Kekuatan dorong dari bola api itu mengangkat tubuhnya dari tanah dan menghempaskannya ke arah belakang, menabrak kedua rekannya yang baru saja berbalik untuk lari.

Ketiga agen Cipher Pol itu tertelan sepenuhnya oleh kobaran api.

Api raksasa itu terus bergerak maju bagaikan monster rakus yang memakan oksigen. Dinding bangunan berbatu di sisi kiri dan kanan gang mulai retak akibat perubahan suhu yang sangat ekstrem. Lumut hijau yang menempel di dinding mengering dan terbakar seketika. Bebatuan di bawah mereka meleleh, menciptakan cairan kental yang bercahaya kemerahan.

Suara deru api menutupi segala suara lainnya. Gang sempit itu berubah menjadi lorong neraka yang terang benderang.

Di ujung gang, Nico Robin menutup wajahnya dengan kedua lengan. Dia meringkuk di sudut tembok, menutup matanya rapat-rapat. Dia bisa merasakan suhu panas yang luar biasa mendekat ke arahnya. Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Dia bersiap merasakan rasa sakit dari kulit yang terbakar. Dia bersiap menjemput ajalnya di tempat yang gelap dan terpencil ini.

Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

Deru api perlahan mereda. Cahaya terang yang menyilaukan di balik kelopak matanya mulai meredup. Suara gemuruh lautan api berganti menjadi suara letupan-letupan kecil dari sisa bara.

Robin membuka matanya secara perlahan. Dia menurunkan kedua lengannya.

Matanya terbelalak lebar. Jantungnya berdegup dengan kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa tidak percaya.

Dinding gang di sisi kiri dan kanannya telah berubah warna menjadi hitam pekat. Bebatuan di sekitarnya masih mengeluarkan asap tebal. Jalanan beraspal lumpur di depannya telah mengering sepenuhnya, meninggalkan retakan-retakan besar seperti tanah di musim kemarau.

Semuanya hangus terbakar.

Tetapi bagian tembok tempat Robin bersandar, dan jalanan di bawah kakinya, sama sekali tidak tersentuh oleh api.

Ada garis batas yang sangat jelas di tanah. Setengah meter di depan sepatu bot Robin, bebatuan terlihat hangus dan meleleh. Namun di tempatnya berpijak, udaranya hanya terasa sedikit hangat.

Gadis itu menatap lurus ke depan. Menembus asap tebal yang mulai menipis.

Pemuda berarmor merah itu masih berdiri di posisinya. Asap tipis mengepul dari sela-sela jari tangan kanannya. Dia menurunkan tangannya dengan santai, menghembuskan sisa udara dari mulutnya.

Bagi Robin, pemandangan ini adalah keajaiban yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.

Dia berpikir bahwa pemuda itu sengaja membelah serangan apinya untuk melindunginya. Dia berpikir bahwa di balik sikap dingin dan kata-kata arogannya, pemuda itu memiliki kepedulian yang sangat besar untuk tidak melukai orang yang tidak bersalah.

Sebuah benih kekaguman mulai tumbuh di dalam hati Robin. Dia menatap punggung berarmor merah itu dengan pandangan yang tidak bisa dia deskripsikan. Seorang pahlawan gelap yang turun dari langit untuk membakar keadilan palsu Pemerintah Dunia.

Tentu saja, interpretasi Robin sangat jauh dari fakta yang sebenarnya.

Madara sama sekali tidak peduli apakah gadis itu terbakar atau tidak.

Alasan mengapa api itu tidak menyentuh sudut tempat Robin berada adalah murni karena perhitungan efisiensi chakra. Kapasitas energi di dalam tubuh remajanya sangat menyedihkan. Dia tidak mau membuang satu tetes pun chakra hanya untuk membakar tembok bata kosong di ujung gang.

Dengan kendali chakranya yang berada di tingkat dewa, dia membatasi jarak jangkauan Goukakyuu no Jutsu miliknya. Dia memfokuskan pusat panas hanya pada tiga agen di depannya, lalu memadamkan aliran energinya tepat sebelum api itu menyentuh ujung gang. Menjaga bentuk dan jarak api di area sempit adalah hal mendasar bagi seorang klan Uchiha.

Bahwa gadis buronan itu selamat karena posisinya berada di luar radius efisiensi chakra Madara, hanyalah sebuah kebetulan matematis yang sangat tidak disengaja.

Suara erangan kesakitan memecah keheningan pasca ledakan.

Di tengah-tengah jalanan yang hangus, tiga tubuh tergeletak dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Pakaian mereka telah berubah menjadi abu dan kain gosong yang menempel pada kulit. Tubuh mereka melepuh merah dan menghitam di banyak bagian.

Agen yang berada di barisan paling depan sudah tidak bergerak sama sekali. Napasnya terhenti akibat kerusakan fatal pada paru-parunya yang menghirup udara bersuhu ratusan derajat.

Namun dua agen lainnya, yang sempat tertahan oleh tubuh rekan mereka, masih memiliki sedikit kesadaran.

Pria yang sebelumnya memerintahkan tembakan sedang berguling perlahan di atas bebatuan yang panas. Dia mengerang dengan suara serak yang menyayat hati. Wajahnya yang sebelumnya arogan kini dipenuhi oleh kengerian yang mutlak.

Dia berusaha mengangkat kepalanya dengan susah payah. Mata kanannya sudah membengkak akibat luka bakar, tetapi mata kirinya masih bisa melihat sosok pemuda berarmor merah yang melangkah mendekat dari balik asap.

Pemuda itu berjalan dengan tenang, seolah dia sedang menyusuri taman bunga yang indah, bukan gang yang baru saja dia ubah menjadi neraka.

Pria berjas yang tersisa itu menelan ludah. Rasa sakit di seluruh tubuhnya kalah oleh rasa takut yang menggerogoti pikirannya.

Informasi militer Pemerintah Dunia berkelebat di dalam kepalanya yang mulai kacau. Tidak ada senjata api atau teknologi yang bisa menciptakan ledakan api sebesar dan secepat itu dari mulut seorang manusia. Tidak ada trik sulap atau alat penyembur api yang bisa disembunyikan di balik tangan kosong.

Hanya ada satu penjelasan logis di dunia ini yang bisa menjawab fenomena tidak masuk akal tersebut.

“B-Buah Iblis,” suara agen itu keluar dengan bergetar, menyerupai isakan tangis.

Madara berhenti tepat di dekat pria yang sedang terkapar itu. Dia menundukkan pandangannya, menatap sisa-sisa agen rahasia yang kini tidak lebih dari onggokan daging yang terbakar.

Agen itu memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada wajah Madara.

“L-Logia,” rintih agen itu dengan napas tersengal-sengal. Kengerian semakin jelas terlihat di matanya. “Buah Iblis Logia... T-Tipe Api. Kau... kau memakan kutukan lautan itu.”

Pria itu terbatuk pelan, mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya yang pecah-pecah.

“Berengsek,” umpat agen itu, suaranya terdengar sangat putus asa. “Siapa... siapa kau sebenarnya, Bocah? Pemerintah Dunia... tidak pernah memiliki data tentang pengguna Logia Api semuda dirimu.”

Madara mendengarkan ocehan pria itu dalam diam. Wajahnya tidak menunjukkan rasa simpati sama sekali.

Logia. Buah Iblis. Tipe Api.

Kata-kata konyol itu kembali merasuki telinganya. Orang-orang di dunia ini tampaknya memiliki imajinasi yang sangat sempit. Setiap kali mereka melihat sesuatu yang melampaui batas pemahaman fisik mereka, mereka selalu mengaitkannya dengan buah kutukan yang menjijikkan itu.

Apakah mereka benar-benar berpikir bahwa dia membutuhkan sepotong buah untuk menguasai elemen api? Elemen yang menjadi jiwa dan identitas klan Uchiha sejak generasi pertama?

Sebuah penghinaan yang sangat menggelikan.

Madara bahkan tidak merasa marah. Dia hanya merasa terlalu lelah dengan tingkat kebodohan penduduk di dunia ini. Menjelaskan konsep chakra, cetakan segel, dan energi spiritual kepada anjing pelacak yang akan segera mati adalah perbuatan yang membuang-buang waktu.

Dia hanya mendengus pelan. Sebuah dengusan yang dipenuhi oleh arogansi dan kebanggaan atas kekuatannya sendiri.

“Kalian terlalu bodoh untuk memahami perbedaan antara kekuatan pinjaman dan kekuatan mutlak,” ucap Madara dengan nada datar.

Dia mengangkat kaki kanannya perlahan. Sandal kayunya melayang tepat di atas leher pria berjas yang sedang sekarat itu.

“Keadilan yang kalian agungkan sangat mudah terbakar. Dan kalian, sama sekali tidak menyenangkan untuk diajak bermain.”

Agen itu mencoba menggerakkan tangannya untuk menahan kaki Madara, tetapi saraf-saraf motoriknya sudah hancur.

Madara menginjakkan kakinya dengan cepat.

Suara retakan tulang terdengar sangat pelan di tengah suara bara api yang masih berletup. Pria itu menghentikan erangannya seketika. Tubuhnya mengejang satu kali sebelum akhirnya terdiam sepenuhnya di atas tanah yang menghitam.

Madara menarik kakinya kembali. Dia tidak melirik ke arah mayat ketiga agen itu lagi. Tugas pemanasannya sudah selesai. Saluran chakranya terasa sedikit lebih lancar sekarang.

Dia memutar tubuhnya perlahan, bersiap untuk melanjutkan perjalanannya yang tertunda menuju toko pandai besi.

Saat dia berbalik, matanya tidak sengaja bertemu dengan sosok gadis yang masih meringkuk di sudut tembok.

Nico Robin masih berada di posisi yang sama. Mata birunya yang kelam menatap lurus ke arah Madara. Ketakutan yang sebelumnya ada di wajah gadis itu telah memudar, digantikan oleh rasa takjub dan kekaguman yang tersembunyi.

Gadis itu menatapnya seolah-olah dia adalah dewa penyelamat.

Madara mengerutkan dahinya sedikit. Dia sangat membenci tatapan seperti itu. Tatapan penuh harapan dan ketergantungan. Tatapan dari orang lemah yang mencari tempat untuk berlindung.

“Apa yang kau lihat, Wanita?” tanya Madara dengan nada kasar.

Robin terkesiap pelan. Dia mencoba berdiri, namun kakinya terasa sangat lemas. Dia tergelincir dan kembali merosot ke tanah.

“K-Kau... kau menolongku,” suara Robin terdengar serak dan gemetar.

“Menolongmu?” Madara mendecih. Dia memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya muak melihat anjing-anjing berseragam itu menghalangi jalanku. Eksistensimu sama sekali tidak ada hubungannya denganku.”

Itu adalah kejujuran yang brutal. Madara sama sekali tidak memiliki niat tersembunyi.

Namun di telinga Robin, kata-kata kasar itu diartikan dengan sangat berbeda. Gadis yang sudah terbiasa dengan pengkhianatan dan kebohongan manis dari orang-orang dewasa, tiba-tiba dihadapkan pada kejujuran yang sangat tajam.

Pemuda ini tidak mencoba memanfaatkan posisinya sebagai penyelamat. Pemuda ini tidak mencoba mengklaim bahwa dia adalah pahlawan. Pemuda ini benar-benar menghancurkan agen Cipher Pol murni karena mereka berani menghalangi jalannya.

Keangkuhan itu, secara aneh, memberikan rasa aman yang belum pernah Robin rasakan sebelumnya.

Robin menundukkan pandangannya. Jantungnya masih berdetak kencang. Dia melirik ke arah sisa-sisa api yang masih menyala kecil di dinding gang.

Api yang diarahkan dengan sangat presisi. Api yang menghancurkan musuhnya, tetapi menyisakan ruang aman baginya untuk berlindung.

Robin mengulas senyum yang sangat tipis dan getir.

Dia tidak peduli apa alasan pemuda itu. Dia tidak peduli apakah pemuda itu adalah pengguna Buah Iblis Logia Api atau monster dari neraka. Pemuda ini adalah satu-satunya orang di dunia ini yang berani berdiri melawan Pemerintah Dunia secara terbuka, dan menang tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.

Di dunia yang memburunya tanpa henti, punggung berlapis armor merah itu terlihat seperti satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa.

Madara mendengus sekali lagi. Dia tidak memedulikan gadis yang terdiam di sudut itu. Urusannya di gang ini sudah selesai.

Dia melangkah maju, kembali menyusuri gang yang dipenuhi aroma hangus tersebut. Langkah kakinya yang tenang kembali terdengar berirama. Sandal kayunya beradu dengan bebatuan yang menghitam, meninggalkan jejak abu tipis di belakangnya.

Tuk. Tuk. Tuk.

Sistem di dalam kepalanya kembali berkedip, memberikan notifikasi poin reputasi yang melonjak akibat ketakutan agen Cipher Pol dan kekaguman sang Gadis Iblis. Namun Madara mengabaikannya.

Sang Hantu Uchiha terus berjalan menembus asap, menyisakan legenda baru yang mulai menyebar di bayang-bayang kota pelabuhan Oohara.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!