NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. FITTING BUSANA PENGANTIN

Ketukan pelan terdengar di pintu. Cika dan Sinta menoleh bersamaan.

"Permisi." Dokter Arman masuk ke dalam kamar bersama seorang perawat yang membawa tablet rekam medis. "Selamat sore."

"Selamat sore, Dok," sapa Cika sambil berdiri.

Sinta ikut tersenyum. "Sore, Dokter."

Dokter Arman membalas senyum mereka sebelum menghampiri ranjang pasien. "Bagaimana, Sinta? Setelah kemoterapi pertama tadi pagi, bagaimana rasanya sekarang?"

Sinta menjawab jujur. "Tadi sempat mual, Dok. Badan juga lemas. Tapi sekarang sudah lebih enakan."

Dokter Arman mengangguk pelan. "Itu termasuk reaksi yang cukup sering terjadi setelah kemoterapi pertama. Yang penting, mualnya sudah berkurang."

"Iya, Dok." Sinta mengangguk.

Dokter kemudian mulai memeriksa kondisi Sinta. Ia mengukur tekanan darah, memeriksa denyut nadi, suhu tubuh, serta menanyakan beberapa keluhan lain. "Masih pusing?"

"Sedikit, tapi nggak seperti tadi."

"Nafsu makan bagaimana?"

"Sempat nggak pengen makan. Tapi tadi siang aku tetap makan, walau sedikit."

"Bagus. Tetap diusahakan makan sedikit-sedikit tapi sering, ya."

"Iya, Dok." Lagi-lagi Sinta mengangguk.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter menoleh kepada Cika. "Secara umum kondisi Sinta cukup baik setelah kemoterapi pertama. Untuk sementara kami belum melihat adanya efek samping yang mengkhawatirkan."

Cika mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah."

"Meski begitu, beberapa hari ke depan tetap perlu dipantau. Kalau muncul demam tinggi, muntah terus-menerus, atau keluhan lain yang berat, segera laporkan kepada perawat atau dokter jaga."

"Baik, Dok. Terima kasih." Cika membungkukan sedikit tubuhnya.

Dokter tersenyum hangat. "Tetap semangat, ya. Pengobatan ini memang membutuhkan proses, tetapi kami akan berusaha memberikan penanganan yang terbaik untuk Sinta."

"Iya, Dok," jawab Cika dengan penuh harap.

Dokter kemudian mengusap lembut kepala Sinta. "Dan kamu juga harus tetap semangat."

Sinta mengangguk sambil tersenyum. "Siap, Dok. Aku mau cepat sembuh."

"Itu baru pejuang yang hebat." Dokter dan perawat pun berpamitan meninggalkan ruangan, sementara Cika kembali duduk di samping ranjang adiknya. Kini hatinya sedikit lebih tenang setelah mendengar langsung bahwa kondisi Sinta pasca-kemoterapi pertama berjalan dengan baik.

Beberapa menit setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan, terdengar lagi ketukan pelan di pintu.

"Permisi."

Cika dan Sinta menoleh lagi secara bersamaan ke arah pintu. Gagang pintu perlahan berputar. Sesosok pria berjas rapi memasuki ruangan sambil membawa satu keranjang buah-buahan segar di tangan kiri dan sebuah boneka beruang berukuran sedang di tangan kanan.

Melihat sosok itu, wajah Sinta langsung berbinar. "Pak Robin!"

Robinson tersenyum hangat. "Halo, Princess." Ia menghampiri ranjang pasien, lalu meletakkan keranjang buah di atas meja kecil di samping tempat tidur. "Bagaimana kabarnya hari ini?"

Sinta mengangguk semangat. "Lebih baik, Pak."

"Syukurlah." Robinson kemudian menyerahkan boneka beruang berwarna cokelat muda yang dibawanya. "Ini untuk Princess."

Mata Sinta langsung membulat senang. "Buat aku?"

"Iya."

"Lucu banget ..." Sinta menerima boneka itu dengan hati-hati, lalu langsung memeluknya erat. "Terima kasih banyak, Pak Robin."

"Sama-sama." Melihat senyum tulus gadis kecil itu, senyum Robinson ikut mengembang. Baginya, melihat Sinta tersenyum setelah menjalani kemoterapi pertama merupakan kebahagiaan tersendiri.

Cika yang sejak tadi berdiri di samping ranjang ikut tersenyum. "Terima kasih, Pak. Sebenarnya Bapak tidak perlu repot-repot membawakan semua ini."

Robinson menggeleng pelan. "Ini bukan sesuatu yang merepotkan." Tatapannya kemudian beralih lagi kepada Sinta. "Yang penting Sinta cepat sembuh. Nanti kalau sudah sehat, bonekanya bisa diajak jalan-jalan."

Sinta terkekeh kecil sambil memeluk boneka barunya. "Iya, Pak. Aku pasti cepat sembuh."

"Aamiin," sahut Robinson dengan senyum hangat.

Cika juga mengamini perkataan adiknya itu.

Suasana kamar rawat itu terasa hangat.

Sinta sesekali tertawa kecil mendengarkan cerita Robinson yang pandai mencairkan suasana. Bahkan pria itu sempat menggoda Sinta agar cepat sembuh supaya nanti bisa menagih es krim yang pernah dijanjikan Cika. "Kalau Sinta sudah dinyatakan sembuh sama dokter, nanti Pak Robin traktir es krim," ujar Robinson.

"Beneran?" Mata Sinta langsung berbinar.

Robinson mengangguk mantap. "Tentu."

"Asyik!" seru Sinta sambil memeluk boneka barunya.

Cika hanya bisa menggeleng kecil sambil tersenyum. "Pak, nanti Sinta benar-benar nagih, lho."

"Nggak apa-apa. Janji tetap janji."

Obrolan mereka berlangsung beberapa menit hingga kembali terdengar ketukan di pintu. Seorang perawat masuk sambil membawa nampan kecil berisi obat dan segelas air putih.

"Permisi."

"Silakan, Sus," jawab Cika.

Perawat tersenyum kepada Sinta.

"Halo, Sinta. Sekarang waktunya minum obat, ya."

"Iya, Sus."

Perawat meletakkan obat di atas meja kecil, lalu membantu menyiapkannya.

Melihat itu, Robinson menoleh kepada Cika. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang?"

Cika mengangguk pelan. "Iya, Pak." Ia kembali menghampiri ranjang, mengusap lembut kepala Sinta.

"Kakak pergi sebentar, ya."

Sinta mengangguk manis. "Iya. Hati-hati Kak."

"Kamu juga harus nurut sama suster dan minum obatnya."

"Pasti."

Robinson ikut mendekat. "Semangat ya, Sinta."

"Iya, Pak Robin."

Pria itu mengulas senyum hangat.

"Pak Robin pamit dulu."

"Terima kasih sudah datang dan membawakan buah dan boneka untuk aku, Pak."

"Sama-sama."

Setelah memastikan Sinta baik-baik saja, Robinson dan Cika pun berpamitan kepada perawat, lalu berjalan keluar dari ruang rawat.

Pintu kamar perlahan tertutup kembali.

Di dalam, Sinta mulai meminum obatnya dengan patuh sambil sesekali memeluk boneka beruang pemberian Robinson. Senyum kecil masih menghiasi wajahnya, membuat Cika yang sempat menoleh dari balik kaca pintu merasa sedikit lebih tenang sebelum melangkah pergi bersama Robinson menuju butik untuk mencari kebaya pernikahan.

Langkah keduanya bergema pelan di sepanjang koridor rumah sakit. Beberapa saat, keduanya berjalan dalam diam. Cika masih sesekali menoleh ke arah ruang rawat Sinta hingga akhirnya mereka tiba di depan lift.

Robinson melirik gadis di sampingnya. "Sudah siap untuk fitting kebaya pengantin?"

Cika tersenyum tipis. "Siap, Pak." Jawaban itu terdengar mantap. Namun hanya Cika yang tahu, hatinya sama sekali belum siap.

Robinson mengangguk pelan, seolah menangkap kegugupan yang berusaha disembunyikan Cika, tetapi memilih tidak mengungkitnya.

Tak lama kemudian, pintu lift terbuka.

Mereka masuk, lalu Robinson menekan tombol menuju lantai dasar.

Di dalam lift yang lengang, Robinson kembali membuka percakapan. "Cika."

"Iya, Pak?"

"Untuk maskawin nanti ... kamu punya keinginan khusus?"

Cika sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menggeleng pelan. "Tidak ada, Pak."

"Yakin?"

"Iya."

"Lalu kamu mau maskawin apa?"

Cika menundukkan pandangan sejenak sebelum menjawab pelan. "Terserah Bapak saja."

Robinson menatap wajah Cika beberapa saat. "Kamu benar-benar menyerahkan semuanya kepada saya?"

Cika mengangguk. "Iya, Pak. Apa pun yang Bapak berikan, saya akan menerimanya dengan penuh rasa syukur."

Robinson tersenyum tipis. "Baiklah. Berarti saya yang akan menentukannya."

"Iya, Pak."

Pintu lift kembali terbuka. Keduanya melangkah keluar menuju area parkir, tempat mobil Robinson telah menunggu.

Sesampainya di dekat sebuah sedan hitam, Robinson menekan tombol pada remote. Lampu mobil berkedip dua kali disusul bunyi pengunci yang terbuka.

"Silakan," ucap Robinson sambil membukakan pintu penumpang depan untuk Cika.

"Terima kasih, Pak." Cika masuk ke dalam mobil.

Setelah memastikan gadis itu sudah duduk dengan nyaman dan mengenakan sabuk pengaman, Robinson menutup pintunya dengan pelan. Ia kemudian berjalan memutari mobil, masuk ke kursi pengemudi, lalu menyalakan mesin.

Mobil melaju perlahan meninggalkan area parkir rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin tetap tenang. Hanya alunan musik instrumental lembut yang terdengar dari pengeras suara mobil.

Robinson sesekali melirik Cika yang sedang menatap keluar jendela, menikmati pemandangan jalanan sore yang mulai dipadati kendaraan.

Tak lama kemudian, Robinson membelokkan mobil menuju kawasan pusat perbelanjaan tempat butik milik Astri berada.

Butik itu memang cukup terkenal karena sering menangani gaun pesta dan busana pengantin.

"Sebentar lagi kita sampai," ujar Robinson memecah keheningan.

Cika mengangguk pelan. "Iya, Pak."

Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman butik. Robinson memarkirkan mobil dengan rapi sebelum keduanya bersiap turun untuk menemui Astri dan memulai proses pemilihan serta fitting kebaya pernikahan yang tinggal menghitung hari.

Pintu butik terbuka pelan saat Robinson dan Cika melangkah masuk.

Interior butik itu tampak elegan. Berbagai kebaya pengantin dipajang rapi di atas manekin, sementara deretan gaun indah menggantung di rak-rak eksklusif.

Seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh lima tahun segera menghampiri mereka dengan senyum hangat. "Selamat sore, Pak Robinson."

"Selamat sore, Astri," balas Robinson sambil tersenyum.

Pandangannya kemudian beralih kepada Cika. "Ini pasti Cika."

Cika mengangguk sopan. "Iya, Bu."

"Senang bertemu denganmu."

"Saya juga, Bu."

Astri lalu mempersilakan keduanya duduk di ruang konsultasi yang nyaman. "Mas Hasan sudah cerita semuanya. Jadi, hari ini kita cari kebaya yang paling cocok untuk Cika."

Cika hanya tersenyum tipis.

Astri membuka beberapa katalog desain kebaya, lalu bertanya dengan ramah. "Kira-kira Cika maunya kebaya seperti apa? Modern, klasik, atau perpaduan keduanya?"

Cika tampak kebingungan. Ia menatap lembar demi lembar katalog yang menurutnya semuanya tampak indah. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan. "Saya ingin kebaya yang sederhana saja, Bu."

Astri tersenyum lembut. "Baik. Kalau begitu, biar saya pilihkan beberapa model yang sederhana, anggun, dan tetap elegan. Saya yakin akan sangat cocok dipakai Cika."

"Terima kasih, Bu."

Sementara Robinson hanya duduk memperhatikan percakapan keduanya.

Astri memilih beberapa model kebaya dari rak koleksinya. Setelah memperhatikan postur tubuh dan warna kulit Cika, akhirnya ia mengambil satu kebaya berwarna putih gading dengan sentuhan bordir bunga yang halus. Modelnya sederhana, tetapi memancarkan kesan anggun dan elegan. "Saya rasa yang ini akan sangat cocok," ujar Astri sambil menyerahkan kebaya itu kepada Cika.

Cika menerimanya dengan hati-hati.

"Silakan dicoba dulu, Cika."

"Iya, Bu." Cika pun masuk ke ruang ganti. Beberapa menit kemudian, tirai ruang ganti perlahan terbuka. Cika melangkah keluar dengan sedikit canggung.

Kebaya putih gading itu membalut tubuhnya dengan pas, mempertegas sosoknya yang ramping. Riasan belum ada, rambutnya pun masih dibiarkan sederhana, tetapi kecantikannya justru tampak alami.

Astri tersenyum puas. "Masyaallah ... cantik sekali."

Cika tersipu malu.

Pandangan Robinson yang semula tertuju pada ponselnya perlahan terangkat. Begitu melihat Cika berdiri di hadapannya, ia terdiam. Untuk beberapa saat, tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Tatapannya terpaku pada gadis muda itu. Seketika, ia teringat pada Rebeca. "Ya Tuhan ... aku benar-benar akan menikahi gadis seumuran putriku," bisiknya dalam benak.

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!