NovelToon NovelToon
Aku Tak Terima Dicurangi

Aku Tak Terima Dicurangi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:227k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.

Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.

Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.

Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.

Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangis kesakitan : 12

“Nyonya sudah menggeledah kamar—”

“Jawab saja!” tegasnya memotong kalimat dengan nada menuntut.

Sekian detik hanya terdengar suara napas memburu Helyara, bi Mirma masih terdiam.

“Saya, saya adik iparnya mbak Ganira, Nya. Suami saya adik kandungnya. Maaf sudah berbohong —”

“Kamu kira dengan meminta maaf semua jadi impas, terampuni, bisa dimaklumi, hah?!” Gagang telepon dicengkram kuat, suara gigi bergemeletuk bukti betapa Helya tengah menahan diri agar emosinya tidak meledak.

Bi Mirma bungkam, lalu terdengar isak tangis sampai ada suara lain yang berusaha menenangkan.

“Sejak kamu masuk ke dalam rumahku, berarti sudah paham kalau tugasmu bukan bersih-bersih rumah, tapi juga merangkap membodohi si pemilik hunian, iya?”

“MIRMA!!” Helya berteriak, kesabarannya benar-benar diuji.

“Iya, Nyonya,” jawab suara parau.

Badan Helya merosot terduduk di lantai, bersandar pada pinggiran sofa. “Dimana hati nuranimu? Selama ini aku menganggap Bibi bukan pelayan, melainkan keluarga. Kenapa tega?!”

“Maafkan saya, Nyonya. Bibi terpaksa. Waktu itu bapaknya anak-anak sakit keras, kami kebingungan cari biaya pengobatan. Datanglah mbak Ganira menawarkan bantuan dengan syarat saya harus mengikuti semua kemauannya,” ia mulai jujur, mengungkapkan.

“Apa yang Bibi lakukan gak bisa dijadikan pembenaran atas semua kejahatan sudah kamu perbuat ke aku!” Helya tidak lagi bermurah hati.

“Lima tahun Bibi kerja disini, selama itu tak sekalipun mencoba memberi tahu selain saat-saat terakhir mau pensiun. Terbuat dari apa hatimu sampai tega mencurangi anak yatim-piatu, sebatang kara, jahat kamu, Bi!” sambil menangis, dia meluapkan kekecewaannya.

Isak tangis di ujung sana menjadi-jadi. Rasa bersalah, menyesal menyerang bi Mirma.

Helya mengatur napas, sadar kalau tidak boleh terbawa emosi. Masih banyak rahasia belum terungkap. Dikesampingkan dulu pertanyaan reflektif dorongan emosi dampak hatinya tersakiti.

Dia mengedepankan otak, agar bisa mengajukan pertanyaan logis dan analitis. “Bibi kenal Siska? Dia simpanan Alan atau apa statusnya?”

“Saya kenal Siska sewaktu dia pertama kali masuk ke rumah Nyonya. Sebelumnya gak kenal. Latar belakangnya gak tau. Namun dia bukan diambil dari yayasan penyalur tenaga kerja pembantu, soalnya Bibi pernah dengar kalau Siska dibawa langsung sama tuan Alan,” ucapnya jujur.

“Berhenti menyebut Tuan ke mokondo itu!” lantaran terlalu kesal, Helya sampai berkata kasar menggunakan kalimat kekinian. Sebelumnya wanita bak orang depresi itu selalu menjaga ucapannya.

“Iya. Maaf Nyonya.”

“Jadi, sedari awal Siska dan Alan punya hubungan terlarang, bukan terjalin sewaktu di rumahku?” demi mempertahankan konsentrasi, Helya mencubit kulit pahanya.

“Benar, Nyonya. Pas dia dateng dan sesudahnya Nyonya masuk lagi ke ruang kerja … saya melihat mereka —”

“Katakan saja yang jelas!” titahnya, bisa merasakan keraguan dalam kalimat terjeda.

“Mereka berciuman tepat didepan pintu ruang kerja Nyonya,” sebenarnya tak sampai hati mengatakan, tetapi rasanya pun salah jika terus menyembunyikan.

Dada Helya bertambah sesak, ia kesulitan mengumpulkan susunan kata berantakan.

“Alamsyah anak mereka bukan?” Helya mengubah pertanyaan, ternyata dia belum sanggup membayangkan pria sangat dicintai dan percayai mencumbu wanita lain.

“Iya Nyonya. Sewaktu Siska mengajukan cuti panjang dengan alasan mau mengurus bapaknya yang sakit-sakitan, dia pergi dari rumah Nyonya dalam keadaan mengandung empat bulan,” suaranya semakin mengecil.

Bi Mirma juga duduk di lantai seraya berkalung handuk kecil yang dipakai untuk mengelap air mata.

“Apalagi yang Bibi tau? Katakan semuanya, sejujurnya!” rasa sakit hatinya memunculkan sisi egois, enggan memikirkan dampak dari kalimat pedas, pemaksaan.

“Gak ada Nyonya. Saya cuma disuruh tutup mata, bungkam menyembunyikan apa yang terlihat. Sungguh hanya itu. Perihal identitas Siska, saya betulan tidak tau.”

Sesaat hanya ada keheningan. Dua orang beda umur, terhalang jarak membentang sama-sama terdiam, menangis tanpa suara.

“Dimana saja mereka berbuat hal menjijikan itu dalam rumahku?” sudah terlanjur tahu, maka harus tuntas mengungkapkan tabir rahasia menjijikan.

Bi Mirma menarik napas, tangannya mencengkeram gorden pintu penghubung ruang tengah dengan dapur.

“Di kamar utama almarhum ayah ibu, Nyonya, dan kamar mendiang den Tomo,” hatinya ikutan sakit kala mengatakan, apalagi mengingat perbuatan pasangan bercumbu sebelum masuk ruangan tertutup.

“Apa? Ulangi! Bibi bohong kan? Katakan kalau kamu lagi berdusta! Gak mungkin … Akhhh!” Helya kembali menjerit dengan suara nyaris habis.

Bi Mirma memberanikan diri mengungkapkan sambil menahan isak tangis, suaranya timbul tenggelam. “Beberapa kali saya memergoki mereka masuk ke kamar Nyonya besar. Sewaktu Bibi mendekat, terdengar suara orang bercumbu, lalu tak lagi sanggup menguping.”

“Pernah lima kali Bibi memergoki mereka keluar dari kamar den Tomo, sehabis subuh,” lanjutnya lirih.

Helyara tidak tahu lagi mesti apa, pengakuan bi Mirma benar-benar memberi efek guncangan dahsyat bagi jiwa rapuh.

Dalam satu waktu, kebohongan terbongkar, rahasia tersembunyi terungkap.

Telepon seluler terjatuh dari genggaman, Helya tersadar dari lamunan lalu dia mengamuk. Menarik tiang gantungan baju sampai terbanting dan bagian kayu pendek patah.

Bi Mirma masih setia menggenggam ponsel, mendengarkan teriakan frustasi, kemarahan, dan sakit hati.

‘Maafkan saya nyonya Helyara. Harusnya gak egois agar kecurangan itu tidak berlarut-larut. Maaf ….’ batinnya menangis pilu, air mata terus bercucuran.

Entah bagaimana caranya dia sudah sampai di kamar yang dijaga sepenuh hati. Helya tidak sadar kalau tadi dirinya merangkak masuk tempat istirahat ayah dan ibunya kala masih hidup.

Mata lelah, sembab terus mengeluarkan buliran bening. Bibirnya mencebik bergetar, tertatih dia mendekati ranjang bersprei putih motif bunga mawar merah, bunga kesukaannya dan sang ibu.

“Mereka main gila disini? Di kamar yang kurawat, tak pernah ku ubah susunan perabot agar tetap bisa merasakan suasana sewaktu ayah dan ibu masih ada. Aku gak salah dengar kan pas Bibi bilang tindakan tak senonoh itu dilakukan disini?” tanyanya kepada ruangan kosong terdapat satu set tempat tidur dari kayu jati.

“Berhenti gak?! Aku bukan orang cengeng! Jangan keluar lagi!” air mata masih juga berderai diusap kasar dengan telapak tangan.

Dirabanya seraya dipandangi lekat sprei lembut. Helya bergerak mendekati susunan bantal bersarung putih bersih.

“SiAlan kurang ajar!” ia mengumpat, beberapa helai rambut pendek hitam menempel dibantal.

kemarahannya bertambah besar kala jemarinya menarik sehelai rambut bergelombang panjang, bukan miliknya karena rambutnya lurus, tapi kepunyaannya Siska.

Amarahnya benar-benar meledak, ditariknya seprei sampai bantal dan selimut ikut tertarik dan jatuh ke lantai.

“Gak akan ku ampuni kalian semua!” jeritan itu memenuhi kamar yang sering dia datangi kala rindu kepada kedua orang tuanya.

Bantal yang sering dipeluknya sambil membayangkan mendekap ibu maupun ayahnya, diinjak-injak.

Jijik sekali Helyara membayangkan peraduan suci kedua orang tuanya dijadikan tempat mesum oleh manusia mati hati nuraninya.

Dia masih belum puas melampiaskan amarah, namun otaknya mengingatkan harus mengambil tindakan segera.

.

.

Bersambung.

1
SENJA
🔥🔥🔥 helyara sayangku 💪
ahs@
good job, helyara..buat mereka seperti tuna wisma..🤭
ahs@
nilep uangnya tidak tanggung- tanggung untuk memenuhi kebutuhan c Siska dan keluarganya...
Ne Ajja
siAlan lagi kerja...
mau minta duitmu itu, Hel...

tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
SENJA
yuk sembuh yuk helyara sayang 💪💪💪
ahs@
tambah stress sialan kalautahu Avanzanya mau di jual....
Abinaya Albab
siAlan ini menjijikan...tendang anunya sekalian saja Hel biar pecah telurnya gk bisa enak² sama madumu
ahs@
stress sialan kalau tahu mobil kebanggaannya di jual...🤣🤣
SENJA
mantabs , miskinkan mereka semua💪
novel destiny
emas, surat2 berharga udah aman di keluarga paman, tabungan baru udah dibikin
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
SENJA
emang mokondo dan momekdo benalu , culas ga tau malu
ahs@
suruh jalan kaki saja tuch sialan🤣🤣
Dibalik Senja
Kamu kuat hely ayo semangat untuk smbuh ....ada laki2 yg mencintaimu dngn tlus jngn merasa minder dan malu ....siAlan main remes2 aza'menjijikan jngn mau hely tendang manuknya biar tdk bs berdiri
SENJA
sidak hel sidak
SENJA
terus rumah keluarga cemana? walau udah dinodai makondo sama momekdo kan itu rumah kenangan
Rahmawati
moilnya dijual biar alandi gk bisa ber gaya😂
Ne Ajja
si Alan lagi nyari mangsa baru kah?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭
Bang Fay
seperti nya ada pesan yg terlupakan...
Mommy Snowy 💕
dihhh,, meskipun dy gk jajan, tp rasanya gk bisa terima laki² yg dtang stlh pulang dr istri k 2 ny... apalgi inii bkn hnya mendua, ngenget rayap yg trus mkan kayu smpai keropos... siram bensin aturan org kek gtu tuuhhh🤬
SENJA
mantab! aset yang lain juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!