Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penangkapan Sang Dalang
"Jangan pikir Anda bisa mati dan melarikan diri dari tagihan saya semudah itu, Lucien!"
Suara Geneviève melengking tajam memecah kesunyian malam. Otak rasionalnya menghitung probabilitas dalam hitungan milidetik. Ia baru saja didorong hingga tersungkur, dan tubuh Lucien yang berotot serta berlapis zirah kulit itu terlalu berat untuk ditarik menggunakan tenaga seorang wanita. Menariknya dengan tangan kosong adalah hal yang mustahil.
Mata Geneviève menangkap ujung sabuk kulit tebal milik Lucien yang menjuntai di atas tanah berbatu.
Tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun, Geneviève menyambar sabuk kulit itu dengan kedua tangannya. Ia menjejakkan kaki botnya ke bongkahan batu kapur di depannya untuk mencari tumpuan, lalu melemparkan seluruh berat badannya ke belakang dengan sekuat tenaga. Prinsip tuas dan momentum fisika bekerja dengan sempurna.
Tubuh besar Lucien terguling paksa ke arah samping tepat pada detik yang sama saat suara desingan mematikan membelah udara.
SYUT! JLEB!
Sebuah anak panah berujung besi hitam menancap sangat dalam pada tanah berpasir, tepat di titik di mana punggung Lucien berada sepersekian detik yang lalu. Cairan racun berwarna keunguan mendesis pelan saat bersentuhan dengan bebatuan, menyebarkan asap tipis yang berbau sangat busuk.
Lucien mengerang pelan saat luka di bahunya terbentur tanah, namun matanya menatap Geneviève dengan kilatan kekaguman yang luar biasa di tengah rasa sakitnya. Wanita ini tidak menjerit. Wanita ini menyelamatkan nyawanya menggunakan perhitungan fisika.
Di atas dahan pohon ek, sang penembak jitu rahasia mendecak kesal. Pria berjubah kamuflase itu segera merogoh tabung panahnya dengan cepat, bersiap menarik anak panah kedua untuk menyelesaikan tugasnya.
Namun, waktu yang ia miliki sudah habis.
"Singkirkan senjatamu dari majikanku, bajingan kotor!"
Suara bariton yang sangat berat dan dipenuhi aura membunuh meledak dari arah semak semak.
Sebelum sang penembak jitu sempat menoleh, sebuah belati perak melesat dengan kecepatan kilat dan menancap tepat di pergelangan tangannya. Pria itu menjerit kesakitan, melepaskan busurnya yang langsung jatuh ke tanah.
Gaspard muncul dari balik kegelapan hutan bagaikan malaikat maut berpakaian hitam. Ksatria bayangan itu tidak membuang waktu. Dengan kelincahan yang di luar nalar manusia, Gaspard melompat, menjejakkan kakinya di batang pohon ek, dan memanjat naik dalam tiga lompatan besar.
Sang penembak jitu mencoba mencabut belati dari tangannya, tetapi Gaspard sudah berada tepat di depannya. Ksatria elit itu memberikan satu pukulan telak ke rahang sang pembunuh menggunakan bagian belakang pedangnya. Terdengar bunyi tulang berderak, dan pria berjubah hijau itu kehilangan kesadarannya seketika.
Gaspard mencengkeram kerah baju sang pembunuh dan menjatuhkannya ke bawah tanpa belas kasihan. Tubuh pria itu menghantam tanah berbatu dengan bunyi debuk yang sangat keras.
"Nona! Apakah Anda terluka?!"
Odette berlari keluar dari semak belukar, napasnya tersengal sengal sambil memegang wajan besi tempur barunya. Pelayan itu membelalakkan mata melihat kondisi gaun Geneviève yang robek berantakan dan tangan majikannya yang berlumuran darah hitam.
"Aku baik baik saja, Odette," jawab Geneviève dengan napas yang memburu. Ia segera bangkit berdiri, menata kembali postur tubuhnya layaknya seorang manajer yang baru saja mengendalikan krisis kebangkrutan. "Cepat ikat pria yang jatuh itu. Jangan sampai dia mati. Dia adalah aset kesaksian kita yang paling berharga malam ini."
"Dengan senang hati, Nona," sahut Odette dengan seringai kejam.
Pelayan kecil itu segera berjongkok di samping penembak jitu yang pingsan. Odette mengambil sisa tali kekang dari kuda pembunuh yang mati, lalu mengikat tangan dan kaki pria itu dengan simpul mati yang sangat menyiksa. Ia bahkan menendang tulang kering pria itu sekali lagi hanya untuk kepuasan pribadinya.
Gaspard melompat turun dari pohon dan segera berlutut di samping Lucien. Wajah ksatria kaku itu memucat melihat kondisi majikannya.
"Tuan Duke, racun ini... kita harus segera mencari tabib istana," ucap Gaspard dengan nada panik yang jarang sekali terdengar.
"Jangan libatkan tabib istana," potong Geneviève tegas. Ia melangkah mendekati Lucien dan memeriksa turniket dari sobekan gaun beludrunya yang mengikat pangkal lengan sang ksatria. Ikatan itu masih sangat kencang. "Kalian bisa mempercayai tabib istana sama seperti kalian mempercayai seekor ular berbisa. Bawa dia kembali ke perkemahan, kita akan menggunakan penawar racun yang dibawa Odette."
Lucien menatap Geneviève dengan pandangan yang mulai sayu, namun bibirnya memaksakan sebuah senyum tampan. Tangan kirinya yang masih bersih bergerak meraih jari jari Geneviève.
"Kau mengambil alih komando pasukanku dengan sangat menawan, C'eow-ku," bisik Lucien menggoda di tengah rasa sakitnya yang menyiksa.
Wajah Geneviève merona merah seketika mendengar panggilan rahasia itu diucapkan lagi. Ia menarik tangannya dengan cepat dan berdehem keras untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
"Simpan rayuan konyol Anda untuk nanti, Lucien," tegur Geneviève dengan wajah ketus yang dibuat buat. "Odette, siapkan penawarnya. Gaspard, panggul majikanmu dengan hati hati. Kita tidak akan kembali ke tenda melalui pintu belakang. Kita akan masuk melalui pintu utama."
Gaspard mengerutkan keningnya, tidak memahami strategi tersebut. "Nona Montmirail, Tuan Duke terluka parah. Membawanya ke pusat keramaian hanya akan mengekspos kelemahannya kepada musuh musuh politiknya."
"Justru itu yang kita inginkan, Gaspard," seringai Geneviève dengan tatapan mata yang sangat dingin dan mematikan. Ia melirik ke arah penembak jitu yang kini sudah terikat rapi seperti paket kargo. "Kita sedang memegang kartu truf. Menyembunyikan bukti kejahatan di dalam tenda gelap adalah tindakan yang sangat merugikan. Kita akan melakukan audit publik malam ini juga. Kita seret anjing ini ke hadapan Putri Mahkota dan lihat bagaimana sang malaikat suci berkelit dari laporan kerugian ini."
Mendengar nada bicara Geneviève yang penuh perhitungan, Lucien terkekeh pelan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran di pelukan ksatria bayangannya. Pria itu mempercayakan seluruh nasib politik dan nyawanya ke dalam tangan sang wanita kapitalis.
Setengah jam kemudian, suasana di aula utama perkemahan Istana Hutan Fontainebleau masih dipenuhi oleh dentingan gelas anggur dan tawa renyah para bangsawan.
Tenda paviliun raksasa berbahan sutra putih itu diterangi oleh puluhan lampu kristal. Para bangsawan mengenakan gaun dan setelan berburu yang sangat mewah, menikmati hidangan daging panggang seolah mereka benar benar baru saja berburu di hutan.
Di tengah ruangan, Putri Mahkota Camille duduk di kursi kebesarannya. Wanita itu memegang sebuah gelas kristal berisi anggur merah muda, tersenyum mendengarkan sanjungan dari para menteri. Namun, di balik senyum sucinya, pikiran Camille sedang menghitung mundur. Ia sangat yakin bahwa saat ini, Geneviève de Montmirail sudah mati terinjak kuda atau lehernya telah ditebas oleh para algojo bayarannya.
BRAK!
Suara hantaman keras pada pintu kayu ganda paviliun itu menghentikan seluruh aktivitas di dalam ruangan. Musik gesek berhenti bermain. Tawa para bangsawan terputus di udara. Semua mata menoleh ke arah pintu masuk.
Pintu itu terbuka lebar. Angin malam yang dingin berhembus masuk, meniup ujung gaun gaun sutra para wanita.
Geneviève de Montmirail melangkah masuk ke dalam ruangan yang terang benderang itu.
Penampilannya sangat kontras dengan kemewahan di sekitarnya. Gaun beludru birunya robek parah di bagian bawah, menyisakan pinggiran kain yang tidak rata. Rambut cokelatnya yang biasanya ditata rapi kini sedikit berantakan. Dan yang paling mengerikan, kedua sarung tangan sutra putihnya berlumuran noda darah berwarna hitam pekat.
Namun, tidak ada satu pun tanda ketakutan atau rasa malu di wajahnya. Postur tubuh Geneviève tegak lurus sempurna. Dagunya terangkat tinggi. Matanya memancarkan aura arogansi seorang bangsawan kelas atas yang menuntut keadilan berdarah. Ia melangkah bagaikan seorang ratu yang baru saja pulang dari medan perang, membuat para bangsawan otomatis menyingkir untuk memberikan jalan.
Di belakang Geneviève, Gaspard melangkah masuk dengan wajah sekeras batu. Ksatria itu tidak memanggul Lucien yang sudah diamankan ke tenda medis rahasia mereka, melainkan menyeret kerah baju sang penembak jitu yang masih terikat erat.
Melihat kedatangan Geneviève yang masih bernapas, senyum di wajah Putri Mahkota Camille seketika membeku. Gelas kristal di tangannya sedikit bergetar. Wajah suci sang Putri Mahkota memucat selama satu detik sebelum ia berhasil menguasai kembali ekspresi wajahnya.
Geneviève berhenti tepat sepuluh langkah di depan kursi kebesaran Camille.
Dengan satu isyarat kecil dari tangan Geneviève, Gaspard melemparkan tubuh penembak jitu itu tepat ke depan kaki Putri Mahkota Camille.
BUK!
Terdengar bunyi debuk keras saat pria berjubah kamuflase itu menghantam karpet tebal paviliun. Para bangsawan wanita menjerit tertahan dan mundur beberapa langkah karena terkejut. Pria itu mengerang kesakitan, darah segar mengalir dari hidung dan bibirnya yang pecah akibat pukulan Gaspard sebelumnya.
"Astaga! Apa apaan ini, Nona Montmirail?!" seru Camille, segera memainkan perannya sebagai wanita suci yang ketakutan. Ia berdiri dari kursinya, meletakkan tangan di dada dengan ekspresi ngeri. "Mengapa Anda membawa seorang kriminal berlumuran darah ke dalam perjamuan suci kita? Dan darah siapa yang menodai tangan Anda itu?"
Geneviève tersenyum dingin. Senyum yang membuat suhu di dalam ruangan itu terasa anjlok seketika. Ia tidak akan gegabah menuduh sang Putri Mahkota secara langsung. Itu adalah tindakan makar yang bisa membuat kepalanya dipenggal. Ia akan menggunakan bahasa diplomasi yang jauh lebih mematikan. Ia akan membuat Camille menggali kuburannya sendiri.
"Mohon maafkan ketidaksopanan saya karena merusak suasana perjamuan Anda yang indah ini, Yang Mulia," ucap Geneviève dengan suara lantang yang sengaja dikeraskan agar seluruh bangsawan di ruangan itu bisa mendengar setiap suku katanya.
Geneviève menunjuk pria yang terikat di lantai menggunakan ujung jarinya.
"Darah di tangan saya ini adalah milik pahlawan terbesar kekaisaran kita, Duke Lucien de Vaudémont," lanjut Geneviève, memancing keterkejutan massal dari para tamu undangan. Suara gumaman panik mulai menyebar di seluruh penjuru ruangan.
"Seseorang telah menyewa sekawanan anjing kotor di hutan sana untuk membunuh sang Komandan Ksatria dengan racun pengecut," sambung Geneviève, matanya menatap tajam langsung ke dalam mata biru Camille. "Pria di lantai ini adalah satu satunya pembunuh yang berhasil kami tangkap hidup hidup."
Camille menelan ludah. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya yang tertutup riasan tebal. Situasinya benar benar berbalik menjadi bumerang.
"Sebagai Putri Mahkota yang agung, adil, dan sangat mencintai perdamaian kekaisaran," serang Geneviève dengan jebakan verbal yang sangat rapi. "Anda pasti sangat ingin mendengar sendiri nama pengkhianat kotor yang berani menyentuh nyawa pahlawan kita, bukan? Anda pasti ingin pria ini berbicara di hadapan kita semua untuk mencari tahu siapa dalang di balik konspirasi ini."
Skakmat.
Seluruh ruangan kini menatap ke arah Putri Mahkota Camille, menunggu titah keadilan dari calon penguasa mereka. Camille tersudut oleh logika diplomasi tersebut. Jika ia memerintahkan pengawal istana untuk segera membunuh tawanan itu dengan alasan keamanan, ia akan terlihat sangat mencurigakan dan melindungi sang dalang. Tetapi jika ia membiarkan pria itu berbicara, rahasianya akan terbongkar.
Napas Camille tertahan di tenggorokan. Bibirnya bergetar mencoba mencari kalimat bantahan yang masuk akal.
Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang menegang, penembak jitu yang terikat di atas karpet itu perlahan membuka matanya. Pria itu terbatuk pelan, mengangkat kepalanya yang memar, dan membuka mulutnya yang berdarah untuk bersaksi.
Selalu ingin menjadi pahlawan, mencari atau mendekati orang-orang yang punya masalah besar agar bisa dijadikan "proyek" perbaikan.
Memaksa memberi solusi:, suka memengaruhi dan memaksa mengubah kehidupan orang lain agar menjadi lebih baik sesuai anggapannya atau mendikte hidup orang lain bahkan saat tidak diminta atau tidak dibutuhkan.
Membantu dan menolong orang lain memang perbuatan yang terpuji.
Namun, ketika Anda memiliki perilaku savior complex, bantuan yang Anda lakukan justru membuat orang lain merasa terganggu dan tidak nyaman...🤔🫣🤨
Baris-baris itu melukiskan rasa cinta yang kuat dan hangat di tengah cuaca yang sangat dingin.
Makna dari Puisimu adalah
Cinta yang hangat:
Rasa sayang digambarkan seperti tungku besi panas yang melawan dinginnya badai.
Perjuangan:
Kayu bakar yang dibakar menunjukkan usaha keras untuk menjaga api cinta tetap menyala.
Berikut adalah kelanjutan bait puisi untuk melengkapi ungkapan perasaanmu.
Oh Lucien, cintaku padamu sepanas tungku besi, membakar kayu bakar di tengah badai salju.
Biar angin menderu menghantam dinding sunyi, hangatnya dekapku takkan pernah jadi abu.
Ketukan rintik es kian mencerca jendela, namun bara di dada enggan untuk mereda.
Dunia boleh membeku dalam balutan lara, kita tetap menyala, berdua tanpa jeda.