Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Dibalik pintu
"Terima kasih banyak, Val... untuk segalanya," ucap Nindya tulus, matanya berkaca-kaca menatap hangatnya dukungan dari sahabat lamanya itu.
Noval menyunggingkan senyum lembutnya. "Tidak perlu berterima kasih, Nin. Aku senang bisa ada di sampingmu lagi."
Meski suasana di restoran terasa begitu nyaman, Nindya sadar betul akan posisinya saat ini. Ia tidak boleh ceroboh. Di tengah proses hukum yang sedang ia persiapkan, sedikit saja celah salah paham bisa dimanfaatkan oleh pihak Haris untuk memutarbalikkan fakta. Nindya tidak ingin niat baik Noval justru berbalik menjadi fitnah perselingkuhan yang akan merugikan dirinya di pengadilan nanti.
"Val, bisakah kamu antarkan aku ke bengkel sekarang untuk mengambil mobilku?" panggil Nindya pelan. "Aku dan Arka harus segera pulang. Kita tidak bisa berlama-lama seperti ini... aku tidak ingin ada celah fitnah seolah-olah aku yang berselingkuh."
Noval tertegun sejenak, lalu mengangguk paham. Keheningan dan kecerdasan Nindya dalam memperhitungkan risiko makin membuat Noval kagum. Pria itu mengusap lembut kepala Arka yang mulai mengantuk, lalu berdiri dari kursinya.
"Kamu benar, Nin. Kita harus sangat hati-hati," puji Noval bijak. "Ayo, aku antarkan ke bengkel sekarang."
Sepanjang perjalanan menuju bengkel resmi, suasana di dalam mobil Noval terasa begitu tenang. Arka sudah tertidur pulas di kursi belakang dengan selimut kecil yang dipasangkan oleh Noval. Noval memandu kemudinya dengan sangat hati-hati hingga mereka tiba di area parkir bengkel, tempat mobil putih Nindya yang bumpernya telah diperbaiki rapi siap untuk dikendarai kembali.
Nindya membujuk Arka yang terbangun kecil untuk pindah ke dalam mobil mereka sendiri. Sebelum mengitari kemudi, Nindya berbalik menatap Noval yang berdiri tegap di samping mobilnya.
"Sekali lagi terima kasih, Noval. Mengenai Pak Lukas, aku akan berkoordinasi secara profesional di kantor hukumnya," ujar Nindya tegas, menjaga batasan formalitas agar tidak memicu prasangka buruk dari siapa pun.
"Aku mengerti, Nindya. Jaga dirimu dan Arka baik-baik," balas Noval hangat, matanya mengawal setiap gerak-gerik Nindya dengan rasa hormat yang mendalam. "Ponselku selalu aktif jika kamu membutuhkan bantuan teknis atau darurat."
"Tentu." Nindya tersenyum tipis, memutar badannya, lalu melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Mobil putih Nindya perlahan membelah jalanan malam kota, menyisakan Noval yang berdiri mematung menatap lampu belakang mobil Nindya yang makin menjauh. Nindya melirik ke spion tengah, menatap putranya yang kembali terlelap.
Fokusnya kini kembali bulat penuh: menjaga nama baiknya, menyelesaikan urusan di toko emas, dan fokus mengumpulkan bukti dalam waktu satu bulan tanpa memberi Haris sedikit pun celah untuk menyerang balik. Nindya melaju mantap menembus kegelapan malam, membawa Arka kembali ke rumah—siap menghadapi permainan Haris dengan kepala dingin dan strategi yang matang.
Mobil putih Nindya membelah kesunyian pelataran rumah mewah berlantai dua itu. Begitu mesin mobil dimatikan, Nindya menarik napas panjang, mengumpulkan tenaga sebelum melangkah keluar. Di kursi belakang, Arka tertidur begitu pulas, kelelahan setelah seharian beraktivitas dan bermain.
Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Nindya membukakan pintu belakang, membungkuk, lalu mendekap tubuh hangat putra kecilnya ke dalam pelukan. Kepala Arka bersandar lemas di bahu Nindya. Nindya menggendong Arka dengan erat, memastikan napas kecil putranya tetap teratur, lalu mengunci mobil dan melangkah menuju pintu utama.
Begitu pintu jati yang kokoh itu terdorong terbuka, aroma maskulin yang sangat dihafalkannya menyambut indra penciuman Nindya.
Haris berdiri kaku di ruang tamu yang temaram. Pria itu tampak sangat berantakan— kemeja kerjanya tergulung sebatas siku, dasinya sudah terlepas, dan raut wajahnya dipenuhi kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan lagi. Haris sudah menunggu kepulangan Nindya sejak tadi sore setelah tak mendapati anak dan istrinya di rumah.
Melihat Nindya masuk menggendong Arka, Haris langsung melangkah maju dengan terburu-buru.
"Nindya! Dari mana saja kamu sampai jam segini baru pulang?" cecar Haris, suaranya tertahan karena berusaha tidak berteriak di depan Arka. "Ponselmu sulit dihubungi, aku khawatir—"
Langkah Haris mendadak terhenti saat Nindya memberikannya tatapan dingin yang begitu tajam. Tatapan itu seolah menjadi benteng tebal yang melarang Haris untuk mendekat satu senti pun.
"Jangan bising, Mas. Arka baru saja tertidur," potong Nindya pelan namun penuh penekanan. Suaranya sehalus sutra, tetapi rasanya lebih tajam dari mata pisau.
Haris menelan ludah, tenggorokannya terasa kaku. Pria itu mengalihkan pandangannya pada wajah polos Arka yang terlelap di ceruk leher Nindya. Ada dorongan di dalam dadanya untuk mengulurkan tangan, membantu Nindya menggendong Arka atau sekadar menyentuh bahu istrinya. Namun, aura keanggunan dan ketegasan yang kini memancar dari Nindya membuat Haris merasa seperti orang asing yang tak berhak melangkah lebih jauh.
Tanpa memedulikan Haris yang masih berdiri mematung di tengah ruangan, Nindya melangkah melewatinya begitu saja. Aroma harum parfum elegan milik Nindya terlintas di indra penciuman Haris, meninggalkan jejak kepedihan yang asing bagi egonya.
Nindya menaiki tangga dengan langkah yang mantap, membawa Arka menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuh mungil Arka di atas tempat tidur dengan sangat lembut, melepas sepatu kecilnya, dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh sang putra. Nindya sempat membungkuk, mendaratkan kecupan hangat di dahi Arka yang tertidur lelap.
Ketika Nindya berbalik untuk menutup pintu kamar Arka secara perlahan, ia mendapati Haris berdiri beberapa meter di belakangnya, menatapnya dengan raut penuh penyesalan dan ketidakpastian.
"Nindya, kita butuh bicara..." bisik Haris dengan nada memohon yang tak pernah Nindya dengar sebelumnya.
Nindya memutar gagang pintu kamar Arka hingga terdengar bunyi klik pelan, menandakan pintu itu telah terkunci rapat. Ia berdiri tegak, membalikkan badan, dan menatap suaminya lurus-lurus tanpa sedikit pun keraguan di matanya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi malam ini, Mas," jawab Nindya datar. "Aku lelah. Dan besok aku punya banyak hal penting yang harus kurus."
Dengan gerakan anggun, Nindya berjalan melewati Haris menuju kamar sebelah, menutup pintunya sendiri rapat-rapat, dan meninggalkan Haris yang sekali lagi tenggelam dalam kehampaan di lorong rumahnya sendiri.