NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Koper Louis Vuitton itu terasa berat bukan main. Bukan cuma karena isinya, tapi tanah becek di gang sempit ini seolah menarik roda-rodanya. Aquilla terpaksa menyeretnya dengan emosi.

Srek. Srek. Srek.

Suara seretan kopernya terdengar memalu-malukan, persis seperti nasibnya saat ini.

Aquilla menghentakkan kaki. Sepatu Converse putihnya langsung terciprat lumpur. Ia melirik penampilannya sendiri hotpants denim, crop top rajut warna krem, dan rambut panjang yang mulai lepek kena keringat. Benar-benar gaya anak orang kaya yang tersesat di pemukiman padat.

Di depannya, Altair terus berjalan tanpa menoleh. Pria yang baru resmi jadi suaminya tiga jam lalu itu cuma memakai kemeja flanel, jeans, dan jaket kulit. Tanpa gaun, tanpa pesta. Cuma tanda tangan di atas materai dan tatapan puas keluarga Andrea yang berhasil menyingkirkannya.

Akhirnya Altair berhenti di depan sebuah rumah kecil. Cat hijaunya sudah mengelupas parah, menampilkan semen abu-abu di bawahnya. Atapnya tampak rapuh, dan dari dalam tercium bau apek bercampur aroma got.

aquilla berhenti menyeret koper. Ia menatap bangunan itu, lalu bergantian menatap Altair.

"Ini rumah lo?" tanyanya ketus sambil merengut.

Altair menoleh dengan tatapan dingin. Ia memperhatikan Ciara dari ujung kepala sampai koper mewahnya. Lalu, senyum miring tercetak di wajahnya.

"Ekspektasi lo apa?" balasnya santai tapi menohok. "Istana? Kolam renang? Gue cuma mekanik bengkel, Illa. Bukan pangeran."

"Bukannya gaji eksekutor itu gede? Dikemanain duit lo?"

Altair cuma mengacungkan bahu. "Gaji gue nggak sebanding sama kebutuhan gue. Ada hal lain yang lebih penting."

Aquilla mengerutkan alisnya. "Lo punya anak di luar nikah? Gue nikah sama duda, nih?"

Pletak!

Altair menyentil dahi Aquilla cukup keras, membuat gadis itu meringis sambil mengusap keningnya.

"Nggak usah kepo masalah pribadi gue," sarkas Altair.

Darah Aquilla serasa naik ke kepala. Ia menghentakkan kaki lagi sampai lumpur muncrat ke betisnya. "Gue nggak siap hidup miskin!" teriaknya, tak peduli tetangga mulai mengintip. "Keluarga Andrea's gila! Jual gue cuma buat balas budi!"

Altair melangkah mendekat. Sangat dekat, sampai Aquilla bisa mencium wangi maskulin khas pria itu.

Altair menunduk, berbisik tepat di telinga Aquilla. "Dengar ya, Nona Manja," bisiknya rendah. "Di sini nggak ada pelayan atau sopir. Lo masak, nyuci, dan ngepel sendiri."

Pria itu menunjuk pintu kayu lapuk di depan mereka. "Dan mulai malam ini, lo tidur di dalam situ sama gue. Status lo istri gue, suka nggak suka."

Aquilla mundur selangkah. Hatinya kacau. Ia benci Altair, benci keluarga Andrea's, benci situasi ini.

"Gue nggak bakal nyentuh lo," lanjut Altair sambil memperhatikan penampilan Aquilla dari atas ke bawah. "Tapi kalau lo belagu atau macem-macem..."

Altair menggantung kalimatnya sambil mengangkat bahu, membuat Aquilla bergidik ngeri.

Saat air mata Aquilla sudah di ujung pelupuk, matanya menagkap sesuatu di teras rumah sebelah, rumah yang bentuknya mirip dengan rumah Altair.

Ada anak laki-laki kecil, berusia sekitar empat atau lima tahun. Kepalanya botak dan kulitnya sangat pucat. Anak itu duduk sambil memeluk boneka Nailong kuning yang usang, menatap Aquilla tanpa berkedip.

Aquilla refleks mengucek matanya. Rasa jijiknya pada lingkungan ini mendadak tertutup rasa merinding.

"Al," panggilnya pelan sambil menunjuk teras sebelah. "Lo... lihat tuyul nggak di situ?"

Altair yang baru mau masuk rumah langsung menghentikan langkahnya. Ia melihat ke arah yang ditunjuk Aquilla, lalu menghela napas berat.

"Dia manusia, Illa. Cucu pemilik kontrakan ini, bukan tuyul," ucap Altair malas.

Aquilla tertegun, wajahnya berubah canggung. "Oh... kirain."

Pada dasarnya, Aquilla punya dua kelemahan: uang dan anak kecil. Melihat anak itu, nalurinya langsung muncul. Ia melupakan tanah becek dan bau got, lalu berjongkok berniat menyapa.

"Eh, Dek. Kok sendirian? Bonekanya lucu, ya," sapanya lembut.

Baru saja melangkah, pergelangan tangannya langsung dicekal kuat oleh Altair. Aquilla tertarik ke belakang hingga menabrak dada pria itu.

"Jangan dekat-dekat," tegur Altair tegas. Rahangnya mengeras. "Anak itu pembawa masalah."

"Maksud lo apa? Dia cuma anak kecil, Al. Pucat gitu, mungkin lagi sakit—"

"Dibilang jangan, ya jangan!" potong Altair dengan nada tinggi. "Di sini beda sama rumah lo. Nggak semua anak kecil itu aman. Ngerti?"

Aquilla kaget. Ini pertama kalinya Altair membentaknya serius. Sebelum Aquilla sempat memprotes, Altair langsung menariknya masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.

Bruk!

Kondisi dalam rumah ternyata tak kalah mengenaskan. Pengap dan berbau apek. Cuma ada satu sofa bolong, meja kayu, dan TV tabung tua.

Di luar, anak laki-laki botak itu masih memeluk boneka Nailong-nya. Tatapannya menembus jendela kaca retak rumah Altair, lalu bibir pucatnya mengukir senyum tipis yang misterius.

Begitu matanya beradaptasi dengan ruangan yang remang-remang, Aquilla merasa napasnya makin sesak. Tempat ini lebih mirip kotak sabun daripada rumah.

Ubin keramiknya sudah kuning kusam dan pecah-pecah. Sofa cokelat di pojokan sudah keluar busanya. Televisi tabung 21 inci menumpang di atas rak kayu yang miring. Dindingnya penuh retakan dengan cat hijau yang mengelupas.

"Dapur di sana," tunjuk Altair datar sambil membuka kulkas tua yang berbunyi nyaring. "Kamar mandi di belakang. Kamar cuma satu, kasur satu."

Aquilla mengintip ke area dapur yang cuma disekat triplek, lalu ke kamar mandi. Pintunya tak bisa ditutup rapat, bak semennnya agak kotor, dan klosetnya tipe jongkok. Kamar mandi di rumah lamanya bahkan jauh lebih luas dari seluruh isi rumah ini.

"Ini... yang lo sebut rumah?" tanya Aquilla serak, bingung antara mau marah atau menangis.

Altair meneguk air dari gelas seng, lalu meletakkannya kasar. "Kenapa? Kurang mewah?"

Ia mendekati Aquilla hingga jarak mereka tersisa sedikit. "Bokap angkat lo cuma minta gue nikahin lo. Dia nggak nyuruh gue memanjakan lo pakai penthouse. Jadi ya ini yang bakal lo terima."

Aquilla menggigit bibirnya rapat-rapat. Ia melirik ke luar jendela, melihat kopernya yang ditinggal di tanah becek.

Saat pandangannya beralih ke dinding dekat pintu kamar, mata Aquilla tertambat pada gantungan kunci. Di sana ada kunci dengan gantungan boneka Nailong kuning—persis seperti yang dipeluk anak botak di sebelah.

Perasaan Aquilla mendadak makin tak enak. "Al... itu..."

Altair mengikuti arah pandang Aquilla. Melihat gantungan Nailong itu, wajahnya makin tegang. Ia langsung menyambar kunci itu kasar dan memasukkannya ke saku.

"Gue udah bilang nggak usah banyak tanya," potong Altair galak. "Mau tidur, kamar di situ. Mau kabur, silakan. Tapi kalau ketemu anak kecil tadi di luar, jangan salahin gue kalau lo nggak bisa balik lagi."

Tanpa menunggu balasan, Altair masuk ke kamar dan membanting pintunya.

Braak!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!