NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:66.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Lima belas menit kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar dari arah tangga. Alya turun lebih dulu dengan wajah paling kusut yang pernah dilihat para pelayan. Di belakangnya ada Theo yang terus menguap sambil mengacak rambutnya. Sementara Elang turun paling terakhir dengan ekspresi dingin dan tidak bersahabat.

Ketiganya tampak seperti orang yang dipaksa bangun saat mimpi indah sedang berada di bagian terbaik. Di meja makan, Arabelle sudah selesai sarapan.

Segelas jus alpukat di tangannya baru saja ia letakkan di atas meja. Melihat ketiga anak tirinya datang, Ara tersenyum puas.

"Nah, masih hidup ternyata."

Tidak ada yang menjawab, Ara menunjuk kursi. "Duduk,"

Mereka bertiga duduk dengan malas.

"Apa ini?!" Teriak Alya. Suara gadis itu menggema di seluruh ruang makan.

Theo yang baru melihat isi meja juga langsung melotot.

"Ini sarapan manusia atau makanan kelinci?!"

Di atas meja hanya ada telur rebus, roti gandum, alpukat, susu hangat, dan beberapa potong buah.

Alya langsung menoleh ke arah para pelayan.

"Kalian serius menyajikan ini?"

Salah satu pelayan langsung menunduk.

"Nona muda, kami hanya menjalankan perintah..."

"Perintah siapa?"

Theo ikut membentak. "Kenapa tidak ada makanan normal?"

Para pelayan saling pandang dengan gugup.

Alya langsung berdiri. "Aku nggak makan ini!"

Theo ikut berdiri. "Aku juga!"

Beberapa pelayan langsung menundukkan kepala lebih dalam.

Sementara, Elang yang duduk di ujung meja hanya memandangi telur rebus di depannya seperti sedang memandangi musuh bebuyutan.

Ara yang sejak tadi memperhatikan tingkah mereka akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi.

"Sudah selesai?"

Tidak ada yang menjawab.

"Aku tanya, sudah selesai teriak-teriaknya?"

Alya menoleh kesal. "Ibu lihat sendiri ini makanan apa?!"

Ara mengangguk.

"Telur." Lalu menunjuk alpukat. "Itu alpukat." Kemudian menunjuk susu. "Itu susu ... bisa liatkan?"

Theo mengangkat kedua tangannya frustrasi.

"Kami tahu itu!"

"Nah, terus buat apa nanya?" Jawab Ara santai. "Berarti otak kalian masih berfungsi."

Theo hampir tersedak mendengarnya. Alya menatap Ara tidak percaya. Sedangkan, beberapa pelayan langsung menahan tawa.

Ara kemudian berdiri, tangannya mengambil satu telur rebus.

"Lihat ini."

Ketiga anak itu menatapnya.

"Protein." Kemudian mengambil alpukat.

"Lemak baik." Lalu menunjuk susu. "Kalsium."

Setelah itu Ara menunjuk mereka satu per satu.

"Kalian bertiga."

"Hah?"

"Kurang semuanya."

Alya langsung menganga. Theo menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?"

"Iya."

Kemudian Ara menunjuk Elang. "Kamu juga."

Elang yang sedari tadi diam langsung mengangkat alis.

"Kenapa aku, perasaan dari tadi diam aja."

Ara menyeringai. "Karena orang yang benci sayur biasanya keras kepala."

Elang langsung memijat pelipis. Theo menatap meja dengan putus asa.

"Aku mau nugget."

"Tidak ada."

"Ayam goreng."

"Tidak ada."

"Sosis."

"Tidak ada."

"Tuhan, aku mau hidup bahagia..."

Ara langsung menjawab cepat. "Kalau begitu makan yang sehat dulu, biar nggak cepat mati,"

Alya mendengus keras. "Aku nggak suka telur rebus."

Ara mengangguk. "Aku juga nggak suka anak yang pulang malam."

Alya langsung diam. Theo yang mendengar itu langsung menahan tawa. Namun, beberapa detik kemudian Ara menoleh ke arahnya.

"Dan aku nggak suka anak yang bikin keributan di depan warung."

Theo langsung ikut diam. Sementara para pelayan mulai menyadari sesuatu. Mereka mengira Arabelle akan kalah menghadapi ketiga anak Nathan.

Ternyata sebaliknya. Wanita itu selalu punya jawaban untuk setiap bantahan. Ara kemudian melipat kedua tangannya.

"Pilihan kalian sederhana." Ketiganya menatapnya.

"Makan atau?" Ara tersenyum manis. "Sampai siang tidak ada camilan."

Seketika Alya dan Theo membeku. Elang bahkan sampai menghela napas panjang.

Alya menatap telur rebus di piringnya dengan ekspresi menderita.

"Ini kayak makanan program MBG saja." Gerutunya pelan.

Theo langsung mengangguk setuju. "Kurang susu kotak doang."

Alya lalu melirik Arabelle yang sedang duduk santai sambil meminum jusnya.

"Kayaknya ibu memang suka menyiksa anak-anak." Cibirnya.

"Tergantung seperti apa yang diasuh, kalau anak titisan Sumala, jelas aku harus lebih dari itu," ujarnya bangga. Sikap acuh tak acuh itu justru membuat Alya semakin kesal.

Setelah sarapan selesai, Ara berdiri dan berjalan ke arah dapur. Ia mulai berdiskusi dengan beberapa pelayan mengenai menu makan siang. Para pelayan mencatat semua instruksinya dengan wajah pasrah.

Saat sedang berbicara, Ara melihat Theo dan Alya diam-diam berjalan menuju ruang keluarga. Keduanya terlihat santai. Jelas berniat menghabiskan hari libur dengan bermalas-malasan.

"Theo ... Alya."

Langkah keduanya langsung berhenti. Dengan malas mereka menoleh.

"Apa lagi?" Tanya Theo.

Ara menyilangkan tangan. "Kalian sudah mencuci sepatu?"

Keduanya saling melirik. "Sepatu apa?" Tanya Alya polos.

Ara langsung mengangkat alis. "Sepatu sekolah apalagi."

Theo terlihat bingung. "Lah kenapa dicuci?"

Ara menatap mereka seperti sedang melihat spesies baru.

"Kalian datang ke sekolah pakai sepatu, kan?"

"Iya."

"Ya dicuci."

Theo dan Alya kembali saling pandang. Seolah pertanyaan itu tidak masuk akal.

Alya lalu berkata santai, "Itu urusan pelayan."

Ara mengernyit. "Kenapa?"

"Ayah sudah menyiapkan pelayan di rumah." Jawab Alya. "Percuma digaji kalau nggak kerja."

Beberapa pelayan yang mendengar itu langsung menunduk. Mereka sudah terbiasa dengan ucapan semacam itu.

"Mereka juga manusia."

Alya dan Theo diam.

"Ada capeknya, ada lelahnya. Kalau kita menghargai orang lain, orang lain juga akan menghargai kita."

Theo mendengus dan lalu berkata seenaknya,

"Ibu mau dihargai berapa?"

Beberapa pelayan langsung menahan napas. Mereka tahu Theo baru saja membuat kesalahan besar. Ara langsung berjalan ke arahnya dan langsung menendang lutut Theo.

"Aduh!" Theo langsung memegangi lututnya. "Apa sih!"

Ara menatapnya tajam. "Tidak sopan tau,"

"Sakit tahu!" Keluh Theo masih mengusap lututnya.

"Bagus, rasakan itu!""

Theo langsung melotot. Ara menunjuk ke arah koridor.

"Sekarang pergi cuci sepatu sekolah."

"Nggak mau."

"Tiga."

"Apa?"

"Dua."

Theo langsung berdiri. "Menyebalkan!" Gerutunya. Alya yang melihat itu juga berniat membantah. Namun, tatapan Ara membuat semua kata-katanya tertelan kembali.

Beberapa detik kemudian, keduanya berjalan pergi dengan wajah tidak rela.

"Kenapa hidup kita begini?" Keluh Theo.

"Karena karma." Sahut Ara santai.

Setelah Theo dan Alya pergi, kini tinggal Elang seorang. Pemuda itu masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Ara berjalan mendekat. "Kamu,"

Elang bahkan tidak mengangkat kepala.

"Hm."

"Ambil laptop."

"Tidak,"

"Kenapa?"

"Males..." Jawab Elang jujur.

Ara mengangguk. "Baik."

Elang tersenyum tipis. Namun, sedetik kemudian Ara melanjutkan,

"Kalau begitu nanti aku telepon dosenmu."

Elang langsung menoleh. "Apa urusannya?"

Ara duduk di hadapan Elang. "Kamu harus memperbaiki skripsimu."

Elang mendengus. "Percuma."

"Kenapa?"

"Kalau perlu aku bayar orang saja."

Ara langsung menggeleng. "Percuma."

Elang mengangkat alis. "Kenapa percuma?"

"Karena meskipun skripsimu selesai..." Ara menunjuk kepalanya.

"Otakmu tetap tidak ikut lulus."

Elang langsung terdiam. Ara melanjutkan tanpa ampun.

"Kalau orang lain yang mengerjakan semuanya, kamu tetap tidak belajar apa-apa."

"Yang penting lulus." Bantah Elang.

"Salah." Ara menggeleng. "Yang penting paham."

Elang mulai kehilangan kesabaran.

"Kalau ibu pintar, kenapa tidak sekalian ibu yang kerjakan?"

Niat awal Elang sebenarnya sederhana, ingin membuat Ara menyerah.

Ara malah berkata santai, "Aku tidak akan mengerjakannya."

Elang tersenyum. "Nah."

"Tapi aku bisa mengajarimu."

Senyum Elang langsung hilang.

"Hah?"

Ara menunjuk lantai atas. "Ambil laptop."

Elang masih menatapnya tidak percaya.

"Aku serius."

"Aku juga serius." Jawab Ara.

"Kita perbaiki sama-sama."

Elang benar-benar bingung. Biasanya orang dewasa langsung menyerah menghadapi dirinya. Dan entah kenapa, itu jauh lebih sulit dihadapi oleh Elang daripada kemarahan apa pun. Dengan langkah malas, Elang melangkah menuju lantai atas untuk mengambil laptopnya.

1
seribu nama
Ayolah biar Tahu Rena si pacar Alya itu dapat pelajaran dari mamah Ara dan si Alya ga deket lagi sama si Reno😠
Retno Palupi
oh Kenzo yg punya arena balap?
Ariany Sudjana
semoga Theo lekas mendapatkan penanganan yang terbaik, dan pasti Arabelle yang akan mengurusnya
Jaya Fandi
menegangkan,,mksh ka,,banyak " up nya,, semangat 💪🏽💪🏽
Jaya Fandi
terserah otornya lah yg menang siapa,,misal nnti theo kalah psti ada hikmahnya,,💪💪
T&K
Heeeeey Reno! kamu kira akan lolos dr Kenzo? tunggulah penyelidikannya
Lisa Halik
semoga saja nathan tidak akan menyalahkan arabelle.....lepas ini kamu sadarlah theo
Les Tary
jgn sampai nanti nathan menyalahkan ara
Ita rahmawati
bengek sih kamu elang malah mikir nti setelah sadar Theo bakal diamuk emak tiri 🤦🤣🤣🤣
yumna
reno licik ara pasti dapet bukti bwat jeblosin reno k pnjraa....bukti d lintasin cctv.....abis lah kau reno...dan kau theo d amuk m ara
Aditya hp/ bunda Lia: puas juga ntar sama si Alya dia nanti jadi tau kalo si Reno emang berengsek
total 2 replies
Fia Ayu
🤣🤔🤣🤣
Fia Ayu
Awalnya aku ragu mau baca nie novel, kaga taunya asik banget
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣
seribu nama
Kalau Thei tahu pacarnya Alya itu Reno musuhnya gimana ya pasti marah banget. Plis Theo hati" jangan sampai dengan kamu celaka rahasia ibu tirimu terbongkar
Ariany Sudjana
Theo kecelakaan, Arabelle yang akan turun tangan untuk merawatnya
Ita rahmawati
tuh kan Theo kuwalat udh ngelawan SM ibu tiri sih 😂😂
Ariany Sudjana
wah kakaknya Arabelle jadi pengelola lintasan balap 😄
Ita rahmawati
owalah Kenzo toh
Ita rahmawati
ikut sedih ih aku 😔
Les Tary
harus dikasih pelajaran itu si reno dari segalanya kelakuan buruk
Angga Gati
semoga theo bisa mengatasi jebakan yg dbuat reno & menangin pertandingan lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!