NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 : JEBAKAN DURI DAN TANAH

Fajar menyingsing kelabu, membawa kabut tebal yang menyelimuti lembah hingga jarak pandang tak sampai sepuluh langkah. Bayu melangkah perlahan, tangan kirinya menekan luka di lengan kanan yang kini terasa kaku dan panas. Di sampingnya, Karta berjalan menatap tajam ke sekeliling, senapan yang dirampas dari prajurit Belanda digenggam erat, matanya tak lepas dari setiap bayangan yang bergerak tertiup angin.

Mereka berjalan menyusuri lereng curam yang tertutup rimbunan semak belukar dan pohon-pohon besar. Jauh dari jalur utama. Jauh dari kampung halaman. Namun Bayu tahu, pasukan Belanda pasti sedang menyisir setiap jengkal tanah di sekitar hutan ini. Jejak darah yang sempat tertinggal sebelum hujan turun mungkin sudah memberi petunjuk arah pelarian mereka.

"Ke mana kita?" bisik Karta pelan sambil menatap ke arah lembah yang tertutup kabut tebal.

"Mereka pasti menjaga setiap jalan keluar."

Bayu berhenti melangkah sejenak, menatap tanah liat berwarna merah kecokelatan yang lembap dan lengket di bawah kakinya. Lalu matanya beralih ke semak-semak berduri rumbia yang tumbuh rapat dan lebat di sisi tebing. Duri-durinya tajam dan panjang, melengkung seperti kait yang siap mencengkeram apa pun yang lewat.

"Mereka mencari kita dengan senjata dan kompas," jawab Bayu pelan sambil menunjuk tanah di bawah kakinya.

"Mereka tak tahu bahwa tanah ini sendiri bisa menjadi senjata."

Karta mengerutkan kening.

"Maksudmu?"

Bayu berlutut, mengambil segenggam tanah liat itu, meremasnya hingga menempel kuat di kedua telapak tangannya.

"Tanah liat ini lengket dan licin. Kalau diinjak dengan tergesa-gesa... kaki akan terperosok tak terkendali. Dan di bawah sana..." Bayu menunjuk ke arah tebing curam yang tertutup semak rumbia lebat,

"...duri-duri itu akan menyangkut pakaian, melukai kulit, melumpuhkan gerakan. Tanpa perlu kita menembak satu peluru pun."

Karta melotot, matanya berbinar seketika.

"Jadi kita buat jebakan di jalur yang pasti mereka lewati?"

Bayu mengangguk pelan, lalu berdiri perlahan menahan nyeri di lengannya.

"Jalur yang menanjak curam itu satu-satunya jalan yang bisa mereka lewati dengan cepat. Mereka pasti akan mengejar lewat sana. Tanah di bagian atas itu lunak dan licin. Kalau kita menggalinya sedikit dan menutupnya dengan dedaunan kering..."

Karta tak menunggu penjelasan selesai. Ia segera meletakkan senapannya di samping, lalu berlutut mulai bekerja. Mereka bekerja cepat dan diam. Menggali tanah liat lunak di jalur tanjakan curam itu hingga membentuk lubang yang cukup dalam. Lalu mereka menutup permukaannya dengan dedaunan kering dan ranting tipis, menyamarkannya seolah tak ada apa-apa di atasnya.

Di sisi tebing yang curam tepat di bawah jebakan tanah licin itu, mereka menyusun dahan-dahan rumbia berduri rapat-rapat. Duri-durinya yang panjang dan melengkung diposisikan menghadap ke atas, siap mencengkeram apa pun yang jatuh ke arahnya.

"Tak perlu membunuh," bisik Bayu sambil memastikan dedaunan penutup lubang terlihat alami.

"Cukup melumpuhkan gerakan mereka. Semakin lama mereka terjebak di sini... semakin jauh jarak yang bisa kita tempuh."

Baru saja mereka selesai menyusun jebakan itu, terdengar suara langkah kaki berbaris dan suara percakapan dari arah belakang. Lebih cepat dari perkiraan. Pasukan pengejar sudah mendekat.

Bayu memberi isyarat tangan. Naik ke atas. Bersembunyi di balik batang pohon besar di tepi tebing.

Mereka baru saja merangkak naik ke tempat persembunyian, ketika empat orang prajurit Belanda muncul dari balik tikungan. Wajah mereka tampak lelah namun penuh tekad. Senapan terangkat siap ke segala arah. Di depan mereka berjalan seorang kopral yang matanya menyapu tanah dengan teliti.

"Het spoor loopt deze kant op! Ze kunnen niet ver zijn!" (Jejaknya mengarah ke sini! Mereka tak mungkin jauh!) seru Kopral itu sambil menunjuk ke arah tanah yang masih sedikit basah bekas langkah mereka tadi.

"De weg is steil... ze zijn uitgeput en gewond. Ze moeten langzaam lopen," (Jalannya curam... mereka kelelahan dan terluka. Mereka pasti berjalan lambat) jawab salah satu prajurit sambil mendongak menatap tanjakan di depan mereka dengan napas memburu.

"Vooruit! Snel! Vang ze levend!" (Maju! Cepat! Tangkap mereka hidup-hidup!) Kopral itu melangkah mendahului, menanjak cepat tanpa curiga sedikit pun.

Bayu dan Karta menahan napas di atas. Matanya mengikuti setiap langkah mereka. Satu langkah lagi... dua langkah lagi... tepat di atas jebakan.

Kopral itu melangkah tepat di atas lapisan dedaunan penutup lubang tanah liat itu. Dedaunan runtuh seketika. Kakinya terperosok masuk ke dalam lubang licin yang penuh tanah liat lengket. Tubuhnya terhuyung ke depan, kehilangan keseimbangan sepenuhnya.

"Pas op! Ik glij!" (Awas! Aku tergelincir!) teriaknya sekuat tenaga berusaha memegang sesuatu, namun tanah di bawah kakinya terlalu licin. Tubuhnya meluncur turun membawa dua prajurit di belakangnya yang tak sempat bereaksi.

Ketiga tubuh itu meluncur deras ke bawah, jatuh tepat ke tumpukan dahan rumbia berduri yang tersusun rapat di sisi tebing. Duri-duri panjang melengkung itu langsung menyangkut pakaian, melukai kulit, mencengkeram erat kain dan daging. Teriakan kesakitan terdengar memecah keheningan pagi.

"Au! Mijn ogen! De doornen!" (Aduh! Mataku! Duri-durinya!)

"Ik kan niet bewegen! Ik blijf vastzitten!" (Aku tak bisa bergerak! Aku tersangkut!)

Prajurit keempat yang tertinggal di belakang langsung berhenti melangkah, senapan terangkat gemetar menatap kawan-kawannya yang terjebak di semak berduri tajam. Darah mulai terlihat menetes dari luka-luka di tangan dan wajah mereka yang berusaha melepaskan diri namun semakin tersangkut semakin dalam.

"Wat is dit?! Wie heeft dit gedaan?!" (Apa ini?! Siapa yang melakukan ini?!) teriak prajurit keempat itu bingung setengah mati, menembakkan senapannya membabi-buta ke arah semak-semak di atas tanpa tahu siapa yang harus dituju.

Peluru melesat ke segala arah, menabrak batang pohon, memecah dahan-dahan. Namun Bayu dan Karta sudah bergeser perlahan ke tempat lain sejak pertama kali terdengar teriakan. Mereka hanya diam mengamati dari kejauhan, memastikan jebakan itu berfungsi sebagaimana mestinya.

Dari balik rimbunan pohon, Karta tersenyum puas menahan tawa.

"Tanah liat dan duri rumbia..." bisiknya pelan.

"Lebih mempan daripada peluru yang terbuang sia-sia."

Bayu menatap ke arah ketiga prajurit yang masih merintih kesakitan di bawah sana. Duri-duri itu tak mematikan, namun cukup untuk melumpuhkan mereka berjam-jam. Cukup untuk memberi waktu bagi mereka berdua untuk menjauh sejauh mungkin.

"Mereka tak akan bisa mengejar dalam keadaan begitu," ucap Bayu pelan sambil berbalik arah.

"Ayo pergi. Sebelum bantuan mereka datang dan menyadari polanya."

Karta melangkah mengikuti, sesekali menoleh ke belakang melihat prajurit-prajurit itu yang masih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman duri rumbia yang tajam dan licin. Tanah liat membuat kaki mereka tak berpijak. Duri membuat gerakan mereka terhambat total. Dua hal sederhana dari alam yang mereka pandang rendah... kini menjadi penghalang yang tak bisa mereka lewati begitu saja.

"Mulai sekarang..." bisik Karta sambil mempercepat langkah mengikuti Bayu,

"...jika mereka ingin mengejar... mereka harus berpikir dua kali sebelum melangkah di tanah yang tak mereka kenal."

Bayu mengangguk pelan, menahan rasa nyeri yang menjalar dari luka di lengannya. Matanya menatap ke depan, ke arah hutan yang semakin lebat dan jauh dari jangkauan mereka.

"Tanah ini punya cara sendiri untuk melindungi penghuninya," jawab Bayu tenang.

"Kita tak perlu membawa senjata dari jauh. Kita hanya perlu mengenal apa yang tumbuh dan hidup di tanah ini. Karena itulah senjata yang tak akan pernah habis."

Mereka berjalan terus meninggalkan suara rintihan dan teriakan amarah yang perlahan tertinggal di belakang. Di tanah liat merah yang lengket itu, di balik semak rumbia yang berduri tajam... mereka meninggalkan pesan sederhana. Bahwa tanah Rancagaok bukan tanah yang boleh diinjak sembarangan oleh siapa pun yang datang tanpa diundang. Bahwa setiap jengkalnya... bisa menjadi jebakan mematikan bagi mereka yang serakah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!