Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Telepon dari Mama
"Kak Theo?"
Theo mengangguk tipis. Tatapannya yang semula hanya tertuju pada Milka perlahan bergeser ke pria di sampingnya.
"Saudara Delvando Argianda."
Vando sedikit terkejut. Ia tak menyangka istrinya mengenal dokter bedah yang begitu sulit ditemui itu. Meski rasa heran memenuhi benaknya, ia tetap mengulurkan tangan dengan senyum profesional.
"Merupakan kehormatan bisa bertemu langsung dengan Dokter Theodore."
Theo menyambut uluran tangan itu.
Grep.
Genggamannya mantap. Terlalu mantap.
Vando spontan mempererat balasannya. Beberapa detik kemudian, ia mulai merasakan nyeri menjalar di telapak tangannya. Namun, demi menjaga harga diri, ia tetap mempertahankan senyum di wajah.
Saat itulah ...
Tatapan mereka saling bertemu. Entah mengapa, wajah dokter muda di hadapannya terasa begitu familiar.
'Aneh ....'
'Di mana aku pernah melihat orang ini?'
Tanpa sadar, Vando menatap Theo sedikit lebih lama.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Dok?" tanyanya tiba-tiba.
Milka ikut menoleh. Tentu saja pernah. Bahkan dulu, saat masih SMA, Vando pernah mendorong Theo menjauh hanya karena Theo muda selalu mengikutinya.
Namun Milka memilih diam. Ia justru semakin yakin, pertemuan malam ini bukan sebuah kebetulan.
Theo tersenyum tipis. "Mungkin."
Jawaban singkat itu justru membuat dahi Vando semakin berkerut.
"Entahlah. Saya merasa pernah bertemu Dokter ... tapi dalam situasi yang berbeda."
"Wajah saya memang cukup umum," jawab Theo tenang.
Lalu ia mempersilakan mereka. "Silakan duduk."
Vando masih sempat memandangi punggung Theo beberapa saat sebelum ikut duduk. Perasaan janggal itu belum juga hilang. Seolah ada kenangan lama yang berusaha muncul dari balik kabut.
'Siapa dia sebenarnya...?'
"Mas?"
Lamunan Vando buyar ketika Milka memanggilnya. "Iya."
Mereka bertiga duduk mengelilingi meja bundar. Beberapa pelayan segera menghidangkan makanan. Suasana sempat hening.
Vando diam-diam mengagumi restoran eksklusif yang berada di dalam kompleks rumah sakit itu. Tak pernah ia menyangka sebuah rumah sakit memiliki fasilitas semewah ini.
Theo mengambil pisau makan. Gerakannya tenang. Presisi. Setiap potongan steak memiliki ukuran yang nyaris sama. Kebiasaan seorang ahli bedah rupanya terbawa hingga ke meja makan.
Vando tanpa sadar memperhatikannya.
"Saudara Vando."
Suara Theo membuatnya tersentak. "Ya, Dok?"
"Saya sudah membaca proposal kerja sama dari perusahaan Anda."
Wajah Vando langsung berbinar. "Bagaimana menurut Dokter?"
Theo mengangkat gelas air putihnya. "Lumayan."
Hanya satu kata. Namun cukup membuat senyum Vando membeku.
Theo kembali meletakkan gelasnya. "Tapi jangan khawatir. Saya tidak pernah bekerja sama hanya karena proposal yang bagus."
"Lalu ... berdasarkan apa, Dok?"
"Karakter."
Vando ikut tersenyum. "Kalau begitu saya cukup percaya diri. Perusahaan kami dikenal memiliki reputasi yang sangat baik."
Theo menatapnya beberapa detik. "Saya tidak sedang membicarakan perusahaan."
Suasana mendadak sunyi.
"Saya berbicara tentang karakter orang yang akan saya ajak bekerja sama."
Milka yang sejak tadi lebih banyak diam mulai memahami arah pembicaraan. Theo sedang menguliti Vando. Pelan. Tanpa membuat lawannya sadar.
Theo kembali memotong steaknya. "Profesi dokter mengajarkan saya satu hal."
"Apa itu, Dok?"
"Organ tubuh yang paling mudah rusak ..." Theo berhenti sejenak. "... bukanlah jantung."
"Lalu apa?"
Belum sempat Theo menjawab ...
Bzzztt ....
Ponsel Milka bergetar. Nama yang muncul membuat sorot matanya sedikit berubah.
Mama.
"Maaf ... saya izin menjawab telepon sebentar."
Theo mengangguk. "Tentu. Obrolan ini juga tidak terlalu formal."
Milka segera menerima panggilan video itu. Wajah Aira langsung memenuhi layar.
"Milka ...."
"Ya, Ma."
"Kenapa akhir-akhir ini kamu jarang menghubungi Mama? Bagaimana keadaanmu dan Vando?"
Milka menggigit bibir. Dadanya terasa sesak. Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa rumah tangganya sedang hancur di depan tersangka dan orang luar?
Sebelum sempat menjawab...
Vando tiba-tiba mengambil ponsel itu dari tangannya. "Halo, Ma. Kabar kami baik-baik saja. Ini bahkan kami sedang makan malam di luar."
Lalu ia mengarahkan kamera ke arah meja. "Benar kan, Sayang?"
Milka mengepalkan tangan di bawah meja. Ia menatap Vando tanpa senyum.
Di seberang meja ... Gerakan pisau Theo terhenti sesaat. Tatapannya tetap tenang.
Namun ruas-ruas jarinya memutih karena menggenggam gagang pisau terlalu kuat.
"Syukur, kalau begitu," ucap Aira lega.
"Akhir-akhir ini Mama sering bermimpi Milka menangis."
Kalimat itu membuat suasana membeku. Milka menundukkan kepala. Dadanya terasa semakin sesak.
"Semua baik-baik saja kok, Ma," jawab Vando cepat.
"Percayakan Milka sama saya. Dia istri saya. Saya pasti menjaganya."
Milka memejamkan mata. Begitu mudah pria itu mengucapkan kebohongan.
Sementara Theo hanya memandang Vando dalam diam.
'Teruslah bicara....'
'Semakin tinggi kebohonganmu...'
'Semakin keras pula saat semuanya runtuh nanti.'
"Ngomong-ngomong," lanjut Aira.
"Milka sudah ada tanda-tanda hamil belum?"
"Kan sudah sebulan menikah."
"Mama dulu baru sebulan menikah langsung mengandung Milka."
Vando tertawa canggung. "Mohon doanya saja, Ma."
Milka spontan membuang wajah. Tak sudi mendengar pembicaraan itu lebih lama.
"Kalau kalian ada waktu, mampirlah ke rumah."
"Mama sama Papa kangen."
Milka segera mengambil kembali ponselnya. "Iya, Ma. Salam buat Papa. Nanti Milka telepon lagi."
Panggilan pun berakhir. Ruangan kembali sunyi. Milka menatap Vando dengan kesal.
"Harus ya, Mas yang jawab? Itu Mama-ku."
Vando mengangkat bahu. "Mama kamu juga Mama aku. Lagian cepat atau lambat kita juga bakal punya anak."
"Ekhem." Suara Theo memecah ketegangan.
Keduanya serempak menoleh. Theo masih duduk tenang.Seolah tak mendengar apa pun.
"Silakan lanjutkan makan malamnya."
Milka langsung berdiri. "Maaf. Sepertinya saya sudah kenyang."
Ia mengambil tasnya. "Permisi." Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Milka melangkah meninggalkan restoran.
Vando ikut berdiri tergesa. "Maaf, Dok. Pembicaraan selanjutnya kita lanjutkan lewat surel saja. Saya harus menyusul istri saya."
Theo mengangguk pelan. "Silakan."
Tak lama kemudian ... Restoran kembali sunyi. Theo tetap duduk di tempatnya.
Tatapannya mengikuti punggung Milka dan Vando hingga keduanya menghilang di balik pintu.
Ia lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
"Mainkan sandiwaramu, Delvando."
"Di saat kamu masih bisa."
"Karena saat semua topengmu terbuka ..."
"... tak akan ada lagi yang bisa menyelamatkanmu."
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣