NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa depan

Semalaman ternyata aku tidak tidur sama sekali. Alarm kokokan ayam di kamar lah yang menyadarkan ku. Aku yang tengah mencatat beberapa hal penting dari buku yang telah selesai kubaca beberapa menit lalu dikagetkan oleh suara kokokan ayam dari dalam kamar.

Aku terkesiap sendiri mencari keberadaan jam dinding di ruangan ini, sialnya tak kutemukan sama sekali.

Gegas aku menuju ke kamar dan melihat jam dinding disana, jam 03.30 pagi.

Amazing!!!

Aku tidak percaya, Mataku begitu kuat tidak terpejam hampir semalaman. Kuraih ponsel Ferdy di samping bantal dan menon-aktifkan alarm nya. Masih ada satu jam menjelang shubuh, aku harus bisa tidur.

Kurebahkan tubuh disamping Ferdy yang tidak terusik dengan suara alarm nya sendiri, heran saja. Untuk apa dia menyetel alarm di pagi buta begini?!

Kucoba memejamkan mata dan berusaha mengabaikan semua pikiran-pikiran yang datang. Aku harus tidur.

Kukuruyuuuk

Kok..kok..betok...

Kukuruyuuuk

Kok..kok..betok...

Sial!!!

Alarm itu lagi!

Kembali kuangkat tubuh ini dan meraih ponsel Ferdy yang kuletakkan diatas nakas. Langsung kuatur volume untuk alarm ini hanya menjadi getaran dan kuletakkan persis di samping telinga Ferdy. Aku memutuskan kembali kedepan dan mencoba tidur disana saja.

"Dit?! Jam berapa sekarang?" Suara serak khas orang bangun tidur dibelakang ku membuatku menghela nafas dengan berat.

Apakah malam ini aku benar-benar tidak akan tertidur?!

"Setengah empat. Alarm Lo udah bunyi tuh." Aku menunjuk ponsel nya dengan gerakan kepalaku.

"Hehe.. iya, sorry ganggu tidur Lo ya. Babeh tuh yang ngatur, katanya biar gue nggak telat shubuh syukur syukur sekalian biar gue bisa tahajud."

Aku menanggapinya hanya dengan senyuman menghargai. Sungguh bukan saatnya aku merespon semua yang dia ucapkan, atau aku akan benar-benar tidak tertidur malam ini.

Kulanjutkan langkahku kedepan dan segera merebahkan diri di sofa panjang ini.

"Dit?! Udah jam segini juga. Udah ayo Mabar aja sambil nungguin shubuh." Aku mengangkat lenganku yang sengaja kupakai untuk menutupi mataku, kulihat Ferdy sudah ada diatas karpet tepat di bawahku.

"Gue ngantuk Dy, Lo main sama yang lain aja. Mungkin jam segini ada yang online juga. Nanti Lo bangunin aja kalau udah shubuh." Kembali kututup mata dan mengarahkan lenganku untuk menutup area mataku. Karena meskipun sudah kututup mata sensasi silau dari lampu ruangan ini masih bisa membuyarkan konsentrasi ku untuk bisa terlelap. Aku benar-benar tidak merasakan kantuk sama sekali, meski berkali-kali kucoba memejamkan mata ini tapi aku tidak benar-benar tertidur.

"Eh,, ajaib lho Dit. Gue nggak mual muntah kayak kemaren lagi. Dit! Lo nggak usah tidur lah udah hampir shubuh juga." Gerakan cukup kasar kurasakan menggoyang badan ku.

Ferdy...

Tidakkah dia tahu, aku belum tidur dari semalam...

"Dy, gue belum tidur nih. Please,,, Lo jangan gangguin lagi. Lumayan manfaatin waktu yang tersisa sekedar merem sampe shubuh." Aku menghentak kesal menatapnya tajam.

"Belum tidur?!" Ferdy melihatku dengan Wajah keheranan nya yang tidak sepenuhnya terlihat heran sebenarnya, aku justru merasakan ada keusilan terpendam disana.

"Belum, gue nggak inget waktu malah keasyikan baca buku. Udah ah, Lo nggak usah ajak ngobrol lagi." Aku mengganti posisiku menyamping menghadap sandaran sofa dan membelakangi Ferdy.

"Emang buku apa dit?! Tumben aja Lo betah baca buku lama." Kembali pertanyaan Ferdy membuatku kesal.

Tidak bisakah dia mengabaikan ku sekarang?!

Membiarkanku terpejam?!

Aku tak berniat menjawabnya sama sekali, biarlah dia bersuara tanpa kurespon.

Saat tubuhku mulai relax dan aku merasakan mataku yang telah terpejam semakin berat, tiba-tiba sebuah benda dingin yang tidak kutahu apa menempel di telingaku. Aku yakin ini ulah Ferdy, tapi aku malas memprotesnya.

Kukuruyuuuk

Kok..kok..betok...

Kukuruyuuuk

Kok..kok..betok...

Aku terlonjak kaget saat benda dingin itu bersuara keras di telingaku.

Astaghfirullah...

Ferdyyy!!!

"Hahahaha" suara tawa keras kudengar setelahnya.

Aku merasa pusing sekarang. Gerakan tiba-tiba ku tadi membuat ku merasakan pusing yang cukup menyakitkan.

Aku masih tidak merespon apapun dan kupijat pelan pelipisku yang sepertinya menjadi pusat rasa pusing ini.

"Dit,,, ayo laah mabar."

"Gue pusing banget nih tiba-tiba, dari pada mabar mending lo pijitin aja kepala gue ini." Aku kembali merebahkan diri, kali ini aku merebahkan diri diatas karpet dengan menjadikan lipatan kaki ferdy sebagai bantal. Tanpa memprotes lebih, Ferdy pun langsung memainkan jari tangannya di keningku. Dengan gerakan perlahan namun penuh tekanan Ferdy mulai memijat kepalaku. Aku menikmatinya, rasanya nyaman.

"Dit, lo ada recana lanjut kuliah kemana? Gue udah tau si, ada undangan khusus buat lo dari beberapa univ ternama. Tapi kira-kira lo mau pilih kemana?" Di tengah kesibukannya memijat kepalaku, Ferdy mulai membuka obrolan.

"Gue belum tau. Gue pengen keluar kota aja Dy. Kalau bisa malah pengen ke desa terpencil gitu." Aku meresponnya masih dengan mata terpejam menikmati setiap pijatan yang Ferdy lakukan.

"Gaya lo ah! Desa terpencil! Yang ada lo bisa mati bosan disana." Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku sudah cukup jujur mengungkapkan pada Ferdy, memang aku berencana pergi dari kota metropolitan ini. Meskipun dia tidak percaya, setidaknya saat nanti aku benar-benar pergi, aku sudah pernah ada pembicaraan ini dengannya.

"Gue pengen kita bareng lagi Dit. Oke aja si kalau mau keluar kota. Kita bisa ngekos bareng atau lo bisa minta bokap lo beliin rumah deket kampus kita nanti biar gue bisa nebeng tinggal bareng." Aku menangkap nada sendu pada kalimatnya.

Ferdy...

Mungkin aku lebih baik menghilang saja dari mu. Aku ingin menjadi pribadi yang baru dan menjadi orang yang baru dikenal oleh orang-orag disekitarku. Entah dimana itu, tapi aku tidak akan memberikan jejak apapun pada orang-orang yang kukenal sekarang. Termasuk kamu Ferdy, sahabat yang sudah sangat mendarah daging bagiku.

"Lo ada recana kemana?" Aku bertanya, memastikan keinginan sebenarnya dari sahabatku ini.

"Gue mau bareng lo, gue nunggu keputusan lo. dan gue akan ada di tempat yang sama dengan lo." Aku kembali menanggapi hanya dengan senyumanku.

Ferdy...

Segigih itu dirinya...

Tapi maaf, sudah kuputuskan akan meninggalkan semua yang ada disini.

"Adit? Lo aneh. Lo nggak ada niatan buat kabur kan? Buat menjauh dari gue kan?!" Pertanyaan Ferdy kali ini membuat mataku terbuka.

Sejelas itu kah di matanya bahwa wajahku terlihat menyimpan sesuatu yang kusembunyikan..

"Ada niatan untuk jauh dari sini. Nanti lah lihat bagaimna jadinya." Ucapku menutupi kekhawatiran di wajahnya.

"Inget Dit, gue ikut Lo." Kembali Ferdy menegaskan dan kali ini dia seperti menunggu respon persetujuan dari ku.

"Lihat gimana nanti aja lah ya. Lo masih punya masa depan panjang Dy. Dibanding gue yang penuh dengan virus, gue nggak mau jadi beban buat Lo nantinya." Aku kembali memejamkan mata mengucapkan nya. Rasanya sakit menyinggung fakta ini kembali.

"Justru itu, Lo butuh gue. Dan gue nggak akan pernah merasa terbebani. Kemana Lo mau pergi, gue ikut. Gue harus memastikan Lo terus berjuang dan gue yakin perjuangan yang akan Lo lakukan sangat butuh dukungan orang disekitar Lo. Gue mau jadi orang itu." Dengan cepat Ferdy membantah semua ucapan ku.

"Hmm." Aku berusaha mengakhiri obrolan ini dengan sedikit ungkapan rasa setuju ku.

Rasa kantuk mulai menguasai ku. Entah tinggal berapa menit lagi menuju shubuh, tapi selagi adzan belum berkumandang aku akan terlelap sebentar. Pijatan Ferdy di kepalaku masih terus berlanjut namun kali ini Ferdy terdiam dan sepertinya paham bahwa aku mencoba untuk tertidur. Kali ini pijatan yang kurasakan makin melemah, aku yakin bukan karena Ferdy yang merasa capek tapi dia berusaha membuat pijatan nya senyaman mungkin untuk mengantar tidurku. Dan ya, Rasanya nyaman.

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!