Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Dua minggu ini, Nisa tak lagi membawa motor saat bekerja, Ojan selalu mengantar jemputnya setiap hari. Itu pun, kadang masih diajak sarapan dulu atau makan malam. Hari-harinya terasa menyenangkan, bahkan lebih menyenangkan daripada saat ia bersama Sandi dulu. Ia tak menyangka, kalau move on dari Sandi, ternyata tak sesulit yang ia bayangkan. Ada Ojan yang setiap saat bisa membuat dunianya berwarna, membuat dunianya asyik hingga lupa soal patah hati. Belum genap 2 bulan putus, ia sudah benar-benar move on. Saat bertemu dengan Sandi di kantor, juga sudah biasa saja.
Suasana rumah juga tentram dua minggu ini, tak ada lagi obrolan soal Sandi. Ia dan Naina jarang bertemu, tapi ada kalanya pertemuan itu tak dapat terelakkan mengingat mereka tinggal serumah, namun jangankan menegur, yang ada Naina melengos saat mereka bertemu.
"Mau kemana kamu, Nai?"
Nisa yang sedang menggoreng telur, mendengar suara Ibunya.
"Keluar, Bu."
"Sarapan dulu, kita makan sama-sama." Semalam dia dan Pak Bambang memikirkan soal anak-anak yang hubungannya terasa makin renggang. Jujur, mereka sedih melihat itu. Anak hanya dua, dan alangkah baiknya jika akur.
"Aku buru-buru, Bu."
"Ini Minggu, mau kemana?" tanya Ayah yang baru pulang dari olahraga jalan kaki dengan tetangga. "Ayah gak mau denger kamu masih ada hubungan dengan Sandi lagi. Taruh tas kamu, kita sarapan bareng."
Naina menghela nafas panjang, kembali masuk kamar untuk menaruh kembali tas selempangnya. Ia yang sudah janjian dengan Sandi, mengirim pesan, meminta cowok itu menunggu sebentar.
Bu Wiwik ke dapur, membantu Nisa menyiapkan sarapan. Nasi sudah matang, telur dadar, tempe goreng, dan sayuran yang direbus. Tinggal membuat sambal saja, setelahnya sudah bisa dinikmati.
"Nis." Panggil Bu Wiwik yang berdiri di depan kompor, menunggu cabe, bawang dan tomat yang sedang digoreng, bakal untuk sambal.
"Iya, Bu." Nisa yang menyiapkan piring, menoleh.
"Kata Mbak Siti, kamu tiap hari di antar jemput cowok. Kamu punya pacar baru?" Pagi tadi saat belanja di tukang sayur, Mbak Siti tetangga depan rumah memberi tahu. Bagus juga kalau Nisa sudah punya pacar baru, itu artinya dia sudah berhasil move on, meski rasanya kok terlalu cepat.
"Bukan Bu, cuma teman."
"Kenapa gak jemput kamu ke dalam? Ibu sampai gak pernah tahu loh."
Nisa tersenyum simpul. Sebenarnya Ojan juga ingin menjemputnya langsung di rumah, izin sama orang tua, tapi ia yang melarang. Ia merasa belum waktunya. Ia ingin laki-laki yang nanti ia perkenalkan pada orang tuanya, adalah laki-laki yang memang benar-benar serius dengannya. Sementara sekarang, ia masih belum benar-benar membuka hati pada cowok itu.
"Cuma teman biasa kok, Bu."
Pembahasan soal itu tak lagi berlanjut karena sambal sudah matang, tinggal di uleg aja dan ditambahi garam, gulu, lalu siap dihidangkan.
"Nai," panggil Bu Wiwik. "Sarapan."
Pak Bambang memasuki dapur, dan beberapa saat kemudian, disusul Naina, duduk di sebelah Ayahnya, berhadapan tepat dengan Nisa. Gadis itu datang dengan wajah ditekuk, terlihat seperti terpaksa. Setelah pertengkaran malam itu, ini pertama kalinya mereka sekeluarga makan bersama dalam satu meja.
"MasyaAllah Bu, sambelnya jos jis," puji Pak Bambang sambil menahan pedas di mulut. "Telurnya juga muantep, gak kalah sama telur dadarnya warung nasi padang."
"Nisa yang bikin, niru resep di internet katanya," Bu Wiwik menoleh pada Nisa.
"Nai, Minggu gini, daripada keluyuran, mending di rumah, belajar masak sama Mbak mu," ujar Pak Bambang. Ia ingin sekali melihat kedua putrinya akur kembali.
Naina hanya diam, menunduk, fokus pada makannya agar cepat habis dan bisa segera keluar.
"Eh Nis, kamu masih ingat Amran gak? Kakak kelas kamu pas SD dulu, anaknya Pak Narto, kampung sebelah. Tadi, dia nitip salam buat kamu. Dia udah jadi PNS sekarang, dan alhamdulillah, sudah bisa pindah ke Jakarta. Dulu katanya ditugaskan di pelosok Probolinggo atau Lamongan gitu, pokoknya daerah Jawa Timur."
Nisa hanya menanggapi dengan senyuman tipis.
"Mbak Nisa udah punya pacar, Yah." Naina mengangkat wajah, menyunggingkan senyuman sinis. "Pacarnya ojol." Nada bicaranya terdengar seperti mengejek.
"Apa dia yang dimaksud Mbak Siti tadi, Nis?" Bu Wiwik yang duduk bersebelahan dengan Nisa, menoleh.
"Cuma temen."
"Yakin cuma temen?" Naina tersenyum miring. "Kayaknya tiap hari kesini jemput kamu."
"Beneran Nis, kok gak pernah masuk, ketemu Ayah atau Ibu?" Pak Bambang menatap Nisa.
"Kami gak ada hubungan apa-apa Yah, cuma teman."
"Ya tapi, mau bawa anak gadis orang, seenggaknya punya sopan santun, izin ke orang tuanya," ujar Pak Bambang.
"Dia cuma nebengin berangkat dan pulang kerja aja kok, gak ada ngajak kemana-mana."
"Bilang aja kalau dia pecundang, gak punya nyali," cibir Naina sambil tersenyum miring. "Sekali-kali kenapa sih Mbak, kalau nyari pacar yang bertanggung jawab, yang langsung ngajak serius gitu. Gak capek apa, digantung terus tiap pacaran?"
Nisa membuang nafas kasar, kesal dengan ucapan Naina. "Terus menurut kamu, laki-laki yang gentle, yang bertanggung jawab, itu kayak siapa, Sandi?" ia tersenyum kecut. "Aku tahu kali Nai, tiap hari dia masih nganterin kamu pulang, tapi yang gitu, cuma sampai depan gang, gak berani masuk, pecundang. Kamu bilang aku salah terus pilih pacar, tapi kenyataannya, mantanku kamu pungut." Puas sekali rasanya ia bisa membalikkan kata-kata Naina.
Naina meremat pinggiran kursi, menatap Nisa tajam.
"Bener itu, Nai, kamu masih berhubungan dengan Sandi?" tanya Bu Wiwik.
"Bu, Mbak Nisa udah punya pacar baru, udah move on, lalu kenapa Mas Sandi gak boleh move on? Gak boleh punya pacar baru? Mas Sandi itu pengen serius, tapi kalian egois, tak menghargai niat baiknya." Naina meletakkan sendoknya lalu bangkit.
"Duduk!" Ujar Pak Bambang dengar suara rendahnya, tegas, sampai membuat Bu Wiwik tak berani menatap, demikian pun dengan Nisa.
Naina menghela nafas panjang, kembali duduk.
"Habiskan makananmu!"
Dengan terpaksa, Naina mengangkat sendok, melanjutkan makan meski sudah tak selera lagi.
"Tidak ada lagi bahasan soal Sandi di rumah ini. Ingat itu!" tekan Pak Bambang. "Segera mungkin, akhiri hubungan kamu dengan Sandi," menatap Naina tajam. "Ayah tidak muluk-muluk dengan kriteria menantu, asal bukan Sandi." Hatinya begitu sakit saat Nisa diputuskan dengan alasan tak setara, dan tambah sakit lagi, saat tahu laki-laki itu hendak meminang Naina. Sungguh tak punya hati, apa dia tak memikirkan perasaan Nisa.
"Dengarkan kata-kata Ayah kamu," Bu Wiwik menimpali.
"Selain melihat anak-anaknya sukses, punya kehidupan yang bahagia, yang tak kalah diinginkan orang tua, adalah anak-anaknya akur." Pak Bambang kembali bicara. "Kalian hanya dua bersaudara, tak bisakah kalian akur?" menatap Nisa dan Naina bergantian. Matanya merah, ia sedih dengan kondisi keluarga seperti ini, anak-anak tak akur gara-gara seorang laki-laki.
Selesai sarapan, Naina buru-buru keluar, Sandi sudah menunggunya di depan gang, cowok itu terlihat kesal, menunggunya terlalu lama.
"Maaf Mas, Ayah nahan aku buat keluar." Naina memegang lengan Sandi, menatap dengan rasa bersalah.
Sandi tak berkata apapun, menunggu hampir 1 jam, mana mungkin tak membuat hatinya dongkol. Mobilnya langsung melesat meninggalkan depan gang rumah Naina, menuju tempat praktek dokter kandungan.
Btw, Ojan kemana ya seharian engga ada nge wa Nisa? Sekarang Nisa pasti sedih lagi, nanti siapa yang ngehibur Nisa. Apa Ojan lagi sibuk sidang skripsi S2 nya?
Sesakit itu hati orang tua dgn ""kemurahan" Naina akan dirinya yg menyerahkab kesuciannya.
Mau g mau Nisa akan liat muka si penghianat karena mereka menikah
Bener Nis, benalu murahan puas denger Nisa ngomong begitu
kamu terlalu mahal dan berharga untuk sandi sa, jadi tenang aja tar ada calon ceo yang datang melamar 🤭
disini yang jadi pertanyaannya kenapa move on sandi malah pacaran sama kamu😏