NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Ibu

Roda takdir terus berputar dengan kecepatan yang melampaui rotasi rantai motor Supra Fit milik Arya Prasetya. Di saat sang driver ojol sedang membelah aspal panas kawasan Slipi untuk menyelesaikan orderan gosend kilat pertamanya pagi itu, di tempat lain, dua markas komando kasta tertinggi Jakarta sedang menyelesaikan analisis data intelijen sosial yang baru saja mereka beli dengan harga sebuah pangkalan modern ber-AC dan beasiswa luar negeri seumur hidup.

Di lantai teratas gedung Grand Indonesia, Citra Kirana berdiri menatap dinding kaca raksasa yang langsung menghadap ke arah bundaran HI. Di tangannya, sebuah map dokumen digital tablet memperlihatkan satu nama yang digarisbawahi dengan tinta neon merah: Ibu Aminah. Di samping nama itu, tertulis catatan tebal hasil interogasi tak resmi terhadap Mbak Sri: “Ibu kandung Arya adalah poros hidupnya. Sentuh hatinya, maka Anda memegang 90% kendali atas keputusan emosional Arya.”

Citra menggeser layarnya, menampilkan analisis preferensi kuliner sang ibu. “Ibu Aminah menyukai kue-kue tradisional legendaris yang tidak terlalu manis karena memiliki riwayat gula darah yang harus dijaga. Dia adalah wanita bersahaja yang membenci kemewahan yang mencolok. Segala sesuatu yang berbau pamer kekayaan justru akan memicu benteng pertahanan psikologisnya.” Citra mematikan tabletnya, menoleh ke arah sekretaris pribadinya yang berdiri tegap di pintu. “Siapkan mobil MPV paling standar yang kita miliki di garasi logistik perusahaan. Lepas semua stiker logo Grand Indonesia. Kita akan melakukan pendekatan taktis menggunakan metode Kearifan Lokal Terselubung.”

Pada saat yang bersamaan, di dalam ruang ganti eksklusif sebuah studio foto internasional di kawasan Menteng, Nadia Anastasia sedang membiarkan penata rambutnya merapikan rambut cokelat terangnya pasca pemotretan majalah fesyen ternama. Di pangkuannya, sebuah dokumen fisik yang dicetak oleh asisten pribadinya memuat informasi yang sama dari hasil wawancara dengan Bang Jay.

“Ibunya Arya adalah pilar utama dari karakter protektif pria itu,” gumam Nadia, bibir sensualnya yang sudah kembali normal setelah insiden cabai rawit setan semalam kini melengkung membentuk senyuman penuh intrik. “Citra pasti akan mencoba membelikannya barang-barang rumah tangga mewah atau mengirim dokter spesialis. Itu terlalu mudah ditebak. Aku akan bergerak dari sudut pandang yang menyentuh memori emosionalnya sebagai seorang ibu kelas pekerja.” Nadia menjentikkan jarinya ke arah asistennya. “Batalkan seluruh jadwal fitting baju saya di Paris untuk akhir pekan ini. Cari tahu resep kue apem tradisional paling otentik yang menggunakan gula jawa organik tingkat kemurnian seratus persen. Saya sendiri yang akan turun ke dapur hari ini.”

Pukul 11.00 WIB. Suasana di sebuah rumah kontrakan berukuran lima kali lima meter di sudut terdalam gang Tambora terasa cukup tenang. Ibu Aminah, seorang wanita paruh baya berwajah teduh dengan kerutan-kerutan halus di sudut matanya yang memancarkan ketabahan seorang ibu tunggal, sedang sibuk melipat pakaian bersih di atas tikar pandan. Kipas angin dinding tua berbaling-baling hijau di atasnya berputar dengan suara derit ritmis yang khas, berusaha mengusir hawa gerah Jakarta siang itu.

Ketukan lembut di pintu kayu jalusi depannya yang cat hejaunya sudah mengelupas membuat Ibu Aminah menghentikan gerakannya. “Iya, sebentar...” ucapnya dengan suara lembut khas wanita Jawa Tengah yang sudah puluhan tahun merantau di kerasnya ibu kota.

Begitu pintu dibuka, Ibu Aminah sempat terpaku selama beberapa detik. Berdiri di teras rumahnya yang sempit adalah seorang gadis muda yang memiliki postur tubuh yang luar biasa anggun dengan wajah sewarna pualam. Gadis itu mengenakan kemeja katun putih polos yang lengannya digulung rapi hingga siku dan celana kain hitam longgar—sebuah pakaian yang sengaja dirancang untuk terlihat sesederhana mungkin, meskipun Ibu Aminah yang mantan buruh konveksi tahu betul dari potongan jahitannya bahwa pakaian itu berharga jutaan rupiah. Gadis itu adalah Citra Kirana.

Di tangan kanannya, Citra membawa sebuah rantang bambu anyaman tradisional yang mengeluarkan aroma harum pandan segar.

“Selamat siang, Ibu. Apakah benar ini kediaman Ibu Aminah, ibunda dari saudara Arya Prasetya?” tanya Citra dengan nada suara yang sengaja diatur pada frekuensi paling rendah, santun, dan penuh penghormatan, menghilangkan 99 persen wibawa es kutub korporatnya yang biasa.

“Selamat siang.. Eh Iya, benar, nduk. Saya ibunya Arya,” jawab Ibu Aminah, menatap tamunya dengan pandangan menyelidik namun tetap ramah. “Ada apa ya? Apa si Arya ada masalah di jalan? Apa dia nabrak mobil orang atau ada barang penumpang yang hilang?” Kepanikan seorang ibu dari driver ojol langsung terpancar jelas di wajahnya.

Citra dengan sigap tersenyum lembut, sebuah gerakan wajah yang sangat jarang ia lakukan di depan dewan direksi perusahaannya. “Oh, sama sekali tidak, Ibu. Arya adalah mitra navigasi lapangan terbaik kami. Dia sangat berhati-hati di jalan. Saya ke sini murni dalam rangka kunjungan silaturahmi perwakilan manajemen logistik untuk mengapresiasi kinerja luar biasa putra Ibu. Dan... saya membawa sedikit hantaran kue talam pandan rendah kalori yang dibuat khusus tanpa pemanis buatan, karena kami tahu Ibu sangat menjaga kesehatan.”

Mendengar perhatian yang begitu detail mengenai kondisi kesehatannya dari seorang perwakilan manajemen yang tampak begitu terhormat, benteng kewaspadaan Ibu Aminah mulai mencair. “Ya ampun... kok repot-repot sekali, nduk. Ayo masuk, masuk. Rumahnya kecil dan berantakan begini, cuma ada tikar.”

Namun, belum sempat Citra melangkahkan kaki kanannya melewati ambang pintu kontrakan, sebuah suara deru halus dari mesin mobil listrik premium yang melaju pelan di gang luar terdengar berhenti. Detik berikutnya, suara langkah kaki yang tergesa-gesa namun ritmis layaknya ketukan di atas panggung mode mendekat.

Nadia Anastasia muncul di ujung teras dengan penampilan yang tidak kalah taktis. Ia mengenakan terusan gaun linen berwarna krem longgar yang kasual, rambutnya dikuncir kuda sederhana dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajah cantiknya secara alami. Di tangannya, ia membawa sebuah wadah anyaman rotan eksklusif berisi kue apem gula jawa yang masih hangat, menyebarkan aroma karamel organik yang sangat pekat ke udara sekitar.

Begitu matanya menangkap sosok Citra Kirana yang sudah berdiri di depan pintu, kilatan petir kompetisi seketika memercik di antara kedua bola mata mereka.

“Oh, ternyata pihak retail sudah sampai lebih dulu dengan rantang bambunya,” sindir Nadia dengan senyuman manis yang mematikan, suaranya terdengar sangat ceria namun mengandung tekanan psikologis tingkat tinggi. “Selamat siang Ibu, Saya Nadia, sahabat dekatnya Arya. Maaf saya agak terlambat sedikit karena tadi harus memastikan kue apem gula jawa organik ini matang sempurna langsung dari kukusan dapur rumah saya khusus untuk Ibu.”

Ibu Aminah semakin melongo melihat kehadiran gadis kedua yang visualnya bahkan setingkat bintang iklan televisi internasional. “Ini... ini teman-temannya Arya semua? Kok cantiknya kelewat batas begini...”

Citra Kirana membalikkan badannya setengah putaran, menghalangi sebagian akses pintu dengan postur tubuhnya yang tegas, sambil menatap Nadia dengan pandangan dingin sedalam samudra. “Nadia. Kehadiranmu di sini sangat di luar koordinasi jadwal wilayah. Saya sedang melakukan kunjungan formal korporat berbasis apresiasi keluarga mitra.”

“Kunjungan formal yang sangat kaku, Citra,” balas Nadia, melangkah maju hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa centimeter saja di teras sempit itu. “Arya bukan sekadar angka di dalam laporan logistikmu. Dia adalah manusia yang memiliki hati, dan cara terbaik menghargai seorang anak adalah dengan membahagiakan ibunya melalui kehangatan rasa yang personal, bukan dengan analisis kalori rantang bambu.”

Ibu Aminah yang berdiri di antara dua kutub energi raksasa itu hanya bisa berdehem pelan, memecah ketegangan yang mulai membuat kipas angin tuanya seolah-olah berputar lebih lambat karena tekanan atmosfer. “Nduk... nduk berdua ini temannya Arya yang semalam diajak makan soto tangkar Pak Haji Yusuf ya? Yang pangkalan ojolnya mendadak berubah jadi gedung kaca itu?”

Baik Citra maupun Nadia langsung tersenyum canggung secara bersamaan, mendadak sadar bahwa reputasi aksi subuh mereka sudah menyebar ke telinga sang ibu.

“Iya, Ibu. Itu murni bentuk apresiasi kecil dari kami,” jawab Citra cepat.

“Betul, Ibu. Kami hanya ingin lingkungan kerja Arya lebih nyaman,” timpal Nadia tidak mau kalah.

“Ya sudah, daripada kalian berdiri di luar kepanasan, ayo masuk semuanya. Kita ngobrol di dalam saja,” ajak Ibu Aminah, menyingkirkan tumpukan kain yang belum dilipat ke sudut ruangan untuk memberikan ruang di atas tikar pandan.

Di dalam ruangan kontrakan yang sempit itu, Citra Kirana dan Nadia Anastasia terpaksa duduk bersimpuh di atas tikar pandan yang agak kasar—sebuah posisi duduk kasta rendah yang belum pernah mereka lakukan seumur hidup mereka. Namun demi memperebutkan restu tertinggi dari sang ibu, kedua dewi ibu kota ini melipat kaki mereka dengan keanggunan mutlak yang luar biasa terjaga.

Tepat saat kedua wadah makanan—kue talam pandan rendah kalori milik Citra dan kue apem gula jawa organik milik Nadia—diletakkan di atas meja kayu kecil di tengah ruangan, ponsel gaib di dalam saku celana Arya yang sedang berada di lampu merah perempatan Tomang mendadak memancarkan getaran sinyal darurat tingkat kosmik!

TING-TONG!

[PERINGATAN DARURAT SISTEM: DEFENSI RESTU MATRIARKAL DIAKTIFKAN!]

Sistem mendeteksi bahwa kedua target VIP (Citra Kirana & Nadia Anastasia) telah berhasil menembus pertahanan perimeter rumah kontrakan Driver dan kini sedang berhadapan langsung dengan Unit Matriarkal Tertinggi (Ibu Aminah).

Status Psikologis Ibu Aminah: 50% Ragu, 50% Selidik. Beliau mendeteksi adanya motif tersembunyi di balik kemewahan terselubung kedua target. Jika benteng psikologis Ibu Aminah menolak mereka, ulasan Bintang 5 Driver di masa depan akan terkunci secara permanen pada level stagnan!

Bantuan Sistem Otomatis: Sistem telah menyuntikkan efek “Aroma Nostalgia Masa Susah” pada kue apem Nadia dan efek “Harmoni Ketenangan Batin” pada kue talam Citra. Namun, keberhasilan mutlak kini bergantung pada bagaimana Driver menavigasi situasi ini secara jarak jauh melalui intervensi batin gaib sistem. Driver diberikan hak veto untuk mengirimkan satu pesan teks gaib yang akan muncul sebagai notifikasi ilusi di pikiran ibunya.

Arya yang sedang menunggu lampu hijau langsung membelalakkan matanya di balik kaca helm ojolnya. “Buset dah, sistem! Ini dua dewi beneran nekat bener! Baru tadi subuh bikin pangkalan ojol jadi kayak lobi hotel, sekarang siang-siang udah nongkrong di tikar pandan emak gua! Mana bawa kue apem sama kue talam lagi! Kalau emak gua tahu mereka lagi rebutan ojol miskin kayak gua, bisa-bisa emak gua langsung ngadain syukuran potong tumpeng di balai warga!”

Arya segera mengaktifkan fitur veto batin sistem. “Sistem, kirim notifikasi ilusi ke pikiran emak gua sekarang! Bilang kalau dua cewek itu adalah orang baik yang pernah gua tolong di jalan, dan minta emak gua untuk memperlakukan mereka kayak anak perempuan sendiri yang lagi main ke rumah, jangan dinilai dari status kayanya!”

BZZZT! Pesaing gaib terkirim.

Di dalam rumah kontrakan, Ibu Aminah mendadak mengerjapkan matanya. Sebuah kilatan rasa hangat dan kedamaian yang aneh tiba-tiba mengalir di dalam dadanya, diikuti oleh sekelebat bayangan wajah Arya yang tersenyum tulus di dalam benaknya. Seluruh rasa curiga dan kecanggungan yang sempat ia rasakan terhadap Citra dan Nadia mendadak luntur seutuhnya, digantikan oleh rasa kasih sayang seorang ibu yang mendalam melihat dua gadis cantik ini rela duduk bersempit-sempitan di atas tikar rumah miskinnya.

Ibu Aminah tersenyum sangat tulus, matanya memancarkan kelembutan keibuan yang luar biasa tebal. Ia membuka kedua wadah kue di depannya. “Nduk Citra, Nduk Nadia... terima kasih banyak ya sudah repot-repot bikin kue ini buat ibu. Ibu coba ya.”

Ibu Aminah mengambil sepotong kecil kue talam milik Citra dan menyuapkannya ke dalam mulut, disusul sepotong kue apem milik Nadia. Efek gaib sistem yang berpadu dengan ketulusan yang mulai tumbuh di hati kedua gadis itu langsung bekerja dengan sempurna. Wajah Ibu Aminah tampak berbinar haru.

“Ya Ampun... ini kue talamnya rasanya pas banget di lidah orang tua kayak ibu, gak bikin enek dan adem banget di tenggorokan,” puji Ibu Aminah menatap Citra, membuat jantung sang CEO muda mendadak berdegup kencang karena rasa lega yang aneh—sebuah perasaan sukses yang jauh lebih memuaskan daripada memenangkan tender proyek senilai triliunan rupiah.

“Dan kue apem ini... rasanya mirip banget sama kue apem yang dulu sering dibuat almarhum neneknya Arya di kampung. Harum gula jawanya asli banget,” lanjut Ibu Aminah menatap Nadia dengan tatapan mata yang penuh rasa sayang. Nadia Anastasia seketika merasakan matanya memanas, ada rasa haru yang mendalam yang menyergap dadanya karena pujian tulus dari seorang ibu sederhana tersebut, sesuatu yang belum pernah ia dapatkan di dunia mode yang penuh kepalsuan.

“Nduk berdua ini... pasti sayang banget ya sama si Arya?” tanya Ibu Aminah tiba-tiba dengan nada suara yang sangat lembut namun penuh selidik alami seorang orang tua.

Pertanyaan frontal tersebut seketika membuat wajah Citra Kirana yang sewarna pualam dan wajah cantik Nadia Anastasia mendadak merona merah padam secara bersamaan. Dua wanita paling berpengaruh di lingkaran sosial elit ibu kota itu mendadak kehilangan seluruh perbendaharaan kata taktis mereka di atas tikar pandan yang sempit.

“Saya... saya hanya menghargai dedikasi dan integritas profesional Arya, Ibu,” jawab Citra dengan suara yang sedikit gugup, pandangan matanya sengaja dialihkan ke arah lantai tikar.

“Arya... Arya adalah pria paling tulus dan paling aman yang pernah saya temui di dunia ini, Ibu. Saya hanya ingin berada di dekatnya,” aku Nadia dengan nada suara yang sangat jujur, tanpa ada topeng kepura-puraan lagi di hadapan Ibu Aminah.

Ibu Aminah memperhatikan gurat wajah kedua gadis itu satu per satu, lalu ia mengembuskan napas panjang sambil tersenyum penuh arti. Sebagai wanita yang sudah makan asam garam kehidupan, ia tahu persis bahwa putranya yang hanya seorang driver ojol biasa kini telah menjadi pusat gravitasi dari hati dua berlian paling berharga di Jakarta.

“Arya itu anak yang baik, nduk,” urai Ibu Aminah, suaranya terdengar sangat tenang mengalir di dalam ruangan. “Dia tumbuh besar di lingkungan yang keras, sering dihina orang karena bapaknya dulu cuma tukang becak dan dia sekarang cuma narik ojol. Tapi dia gak pernah sekalipun mengeluh atau dendam sama hidup. Dia selalu bilang sama ibu, ‘Bu, biar dompet kita tipis, yang penting hati kita tetap luas buat bantuin orang lain.’ Makanya, kalau nduk berdua ini merasa nyaman dekat sama Arya, ibu cuma titip satu hal... jangan pernah sakiti hatinya ya. Dia itu kalau udah sayang sama orang, bakal dikasih seluruh jiwa raganya sampai dia sendiri lupa sama keselamatannya.”

Mendengar petuah dari Ibu Aminah, baik Citra Kirana maupun Nadia Anastasia merasakan sebuah getaran komitmen yang sangat sakral merayap di dalam sanubari mereka. Persaingan di antara mereka yang tadinya dipicu oleh ego kompetisi asmara kini perlahan mulai bertransformasi menjadi sebuah rasa tanggung jawab emosional yang jauh lebih mendalam untuk melindungi dan mendampingi pria yang bernama Arya Prasetya.

Pertempuran diplomasi restu di atas tikar pandan gang Tambora siang itu tidak melahirkan pemenang atau pecundang; yang ada hanyalah sebuah aliansi emosional tak tertulis yang semakin mengikat takdir kedua dewi ibu kota tersebut dengan kehidupan sang driver ojol misterius yang memiliki hati sekuat baja.

Di luar gang, matahari Jakarta siang itu bersinar terik, seolah menjadi saksi dari babak baru kisah asmara gaib kasta tertinggi yang kini akarnya telah tertanam kuat di dalam restu seorang ibu kandung. Arya Prasetya yang baru saja menyelesaikan orderannya di ujung jalan hanya bisa merasakan bulu kuduknya merinding kembali, menyadari bahwa navigasi hidupnya ke depan akan menjadi jauh lebih menantang sekaligus sarat akan kemakmuran yang tidak terbatas.

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!