NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Angin laut membelai wajah mereka saat perahu nelayan kecil menjauh dari Pulau Beras. Napas mereka masih memburu, dan bayangan senyum dingin Rusli masih terngiang di benak Rendra. Tidak ada yang berbicara sejenak—semua masih tertegun melihat betapa besar dan kejamnya markas yang dibangun di pulau tak berpenghuni itu.

“Sengaja dia tidak memburu kita sampai ke laut,” kata Asep tiba-tiba, memecah keheningan. “Dia ingin kita pulang dan membawa pesan: bahwa apa pun yang dia miliki, dia tidak takut orang lain tahu. Dia percaya tidak ada yang berani atau mampu menjatuhkannya.”

Sesampainya kembali di rumah sewa kawasan nelayan, mereka beristirahat sejenak sebelum menyusun apa yang baru saja mereka lihat. Bapak Harun duduk di sudut ruangan, menatap foto anak wanita tua yang diserahkan kemarin.

“Orang-orang yang dikurung di bawah tanah itu,” katanya pelan, “bukan sekadar tahanan biasa. Mereka adalah orang yang tahu terlalu banyak—tentang batas wilayah laut, tentang kandungan sumber daya alam, tentang jalur yang tidak tercatat di peta resmi. Rusli mengumpulkan pengetahuan itu untuk menguasai apa yang ada di bawah tanah dan di dasar laut.”

Dika mengangguk sambil mengetik cepat di laptopnya. “Saya memeriksa data lama. Ternyata selama sepuluh tahun terakhir, izin eksploitasi di sekitar pulau-pulau kecil dan perairan dalam di sini selalu diberikan pada perusahaan yang berafiliasi dengan Rusli. Dia tidak hanya mengatur pelabuhan—dia sedang memetakan dan mengambil alih kekayaan alam yang seharusnya milik seluruh rakyat.”

Sore itu, wanita tua yang datang kemarin kembali membawa berita baru. Ia berbisik bahwa ada satu orang yang dulu menjadi sopan pribadi Rusli, lalu lari karena tidak tega melihat apa yang terjadi. Orang itu sekarang bersembunyi di desa terpencil di pedalaman Sumatera, takut nyawanya diincar.

“Dia bilang dia menyimpan buku catatan kecil,” kata wanita itu. “Isinya catatan perjalanan, nama-nama tamu penting yang datang ke rumah Rusli, dan lokasi persis tempat penyimpanan dokumen rahasia di rumah kediamannya.”

Mereka segera berangkat ke desa itu. Perjalanan memakan waktu seharian, melewati jalan tanah berlumpur dan hutan belantara. Sopir itu, Pak Udin, menyambut mereka dengan curiga di awal, tapi perlahan terbuka saat melihat ketulusan di mata Rendra.

“Saya sudah bekerja untuknya lima belas tahun,” katanya sambil menyodorkan buku catatan kecil bersampul kulit hitam. “Dulu saya pikir dia pengusaha dermawan. Sampai suatu hari saya mengantarnya ke pertemuan rahasia di perbatasan. Dia berbicara dengan orang yang saya yakini adalah penasihat keamanan Bimo dari Sulawesi, dan seseorang yang wajahnya tertutup bayangan—saya yakin itu orang tertinggi dari kelompok mereka.”

Ia menunjuk satu baris di catatan: “Mereka berjanji akan membagi wilayah kekuasaan penuh setelah proyek ‘Langit Baru’ selesai. Tidak ada lagi campur tangan pemerintah pusat.”

“Proyek Langit Baru?” tanya Pak Haris berkerut kening. “Saya belum pernah mendengar nama itu di dokumen mana pun.”

“Isinya tidak pernah dibicarakan secara rinci,” jawab Pak Udin. “Tapi saya mendengar sekilas bahwa itu berkaitan dengan penguasaan jalur strategis yang menghubungkan pulau-pulau utama. Jika proyek itu selesai, kelompok mereka akan mengendalikan arus perdagangan dan pergerakan di seluruh Indonesia.”

Malam itu juga, mereka menyusun rencana baru. Bukan menyerbu markas pulau—itu terlalu berbahaya dan mereka belum cukup kuat. Tapi mereka bisa menyusup ke rumah pribadi Rusli di kota, tempat di mana ia menyimpan dokumen kunci proyek itu.

Namun pagi harinya, berita buruk datang lewat siaran lokal: Rusli baru saja mengumumkan donasi besar untuk pembangunan daerah, dan berita tentang aktivitas mencurigakan di perusahaannya disangkal habis-habisan. Bahkan ada berita bohong yang menyebar bahwa kelompok yang sedang mencari kebenaran adalah sekelompok perusuh asing yang ingin merusak kemajuan daerah.

“Dia sudah menyiapkan perlindungan publik,” kata Surya cemas. “Masyarakat di sini mulai melihatnya sebagai pahlawan. Jika kita bergerak tanpa bukti yang sangat kuat, kita akan dianggap musuh rakyat.”

Rendra menatap buku catatan di tangannya. Ia tahu ini saat yang sulit. Tapi ia juga sadar: semakin Rusli tampil sempurna di depan umum, semakin dia berusaha menutupi sesuatu yang sangat besar.

“Kita tidak akan terburu-buru,” katanya tegas. “Kita akan mencari bukti proyek ‘Langit Baru’ selengkapnya dulu. Dan jika itu benar-benar mengancam seluruh negeri, kita akan memastikan seluruh rakyat tahu siapa yang sebenarnya sedang merencanakan apa.”

Di lain tempat, Rusli berdiri di balkon rumahnya yang megah, memandang pelabuhan yang ia kuasai sepenuhnya. Ia tersenyum tipis saat mendengar laporan bahwa tamu tak diundang masih ada di wilayahnya.

“Biarkan mereka mencari,” katanya pelan pada orang di sebelahnya. “Semakin dalam mereka menyelam, semakin dekat mereka ke tempat yang akan menjadi kuburan terakhir mereka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!