NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 : Pujian Dari CEO

Aldi masih terlihat syok. "Astaga..."

Alexander hanya mengangguk pelan. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Justru itu yang membuat Aldi semakin tahu bahwa sahabatnya benar-benar sudah lelah.

"Jadi selama ini..." Aldi menghela napas. "Lo ngurus semuanya sendirian?"

"Gue nggak suka ngumbar masalah pribadi."

"Dasar keras kepala."

Alexander hanya kembali membuka dokumen.

Namun beberapa detik kemudian Aldi menyeringai usil. Ekspresi yang selalu membuat Alexander curiga.

"Kenapa lo?" tanya Alexander datar.

Aldi menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Berarti..."

Alexander mengangkat sebelah alis.

"Kalau lo duda..." Aldi menahan tawa.

Alexander sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu. "Jangan mulai."

"Tunggu dulu." Aldi tertawa. "Ini informasi besar."

"Aldi."

"Artinya sebentar lagi akan dibuka lowongan untuk para wanita."

Alexander menatapnya tanpa ekspresi.

Aldi malah semakin semangat. "Bayangin. Jutaan wanita Indonesia akan bahagia."

Alexander meletakkan pulpennya. "Aldi."

"CEO muda, tampan, kaya raya, sekarang resmi sendiri."

"Berhenti."

"Hahaha!"

Alexander mengambil map lalu melemparkannya ke arah Aldi.

Bruk!

Aldi langsung menangkapnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Lex, serius. Kalau berita ini keluar, media pasti heboh."

"Mereka bukan urusan gue."

"Tapi para wanita itu urusan lo."

Alexander menggeleng pelan. Kadang ia benar-benar heran bagaimana pria di depannya bisa menjadi direktur operasional perusahaan besar sekaligus manusia paling menyebalkan yang pernah ia kenal.

Aldi masih terkekeh. "Lagian lo juga masih muda."

Alexander kembali fokus pada dokumen.

"Tiga puluh tiga tahun bukan tua, dan masih sangat layak u untuk diperebutkan."

Alexander menghela napas panjang. "Kenapa gue bisa ya berteman sama lo?"

"Karena gue ganteng."

"Kayanya waktu kuliah gue salah pilih teman."

"Hahaha!"

Ruangan itu akhirnya dipenuhi suara tawa Aldi. Sudah lama sekali Alexander tidak membicarakan kehidupan pribadinya dengan siapa pun. Meskipun topiknya menyebalkan, setidaknya percakapan itu membuat beban di dadanya sedikit berkurang.

Beberapa saat kemudian...

Aldi yang akhirnya berhasil berhenti tertawa kembali menyeruput kopinya. "Lalu setelah cerai?"

Alexander terdiam sesaat. "Fokus kerja."

"Cuma itu?"

"Iya."

Aldi menggeleng. "Gue nggak percaya."

Alexander mengangkat alis.

"Seseorang yang hidupnya isinya kerja, pulang kerja, kerja lagi, biasanya bakal cepat bosan."

"Gue nggak."

"Lo cuma belum sadar."

Alexander tidak menjawab.

Aldi lalu tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong..."

"Hm?"

"Kayaknya Dara mulai cocok kerja di sini."

Alexander kembali membaca dokumen. " Dia cukup baik."

Aldi hampir tersedak. "Cukup baik?"

Alexander mengangkat kepala. "Apa?"

"Lex." Aldi tertawa tidak percaya. "Dari mulut lo, kalimat 'cukup baik' itu setara dengan 'luar biasa'."

Alexander tidak membantah, karena memang benar. Dalam waktu singkat, Dara berhasil beradaptasi dengan ritme kerja yang bahkan membuat banyak sekretaris senior menyerah.

Gadis itu memang masih sering gugup, masih sering salah tingkah. Namun kemampuannya jauh di atas perkiraan. Dan yang paling penting ia jujur. Sifat yang semakin langka ditemukan.

Aldi memperhatikan ekspresi sahabatnya beberapa detik. Lalu senyum jahil perlahan muncul lagi.

Alexander langsung curiga. "Kenapa lo lihatin gue begitu?"

Aldi menyeringai. "Nggak."

"Jangan bohong."

"Nggak apa-apa kok."

"Aldi."

"Cuma tiba-tiba kepikiran."

"Apa?"

Aldi tertawa kecil. "Baru seminggu. Tapi kayaknya ada seseorang yang mulai menarik perhatian CEO PT Dirgantara Group."

Keheningan langsung memenuhi ruangan.

Alexander menatap Aldi datar. Beberapa menit. "Aldi."

"Hm?"

"Keluar."

Aldi langsung tertawa keras. "Hahahaha!"

"Keluar."

"Oke, oke!"

Aldi berdiri sambil masih tertawa. Sebelum keluar dari ruangan, ia sempat menoleh sekali lagi.

Dan berkata dengan santai. "Jangan marah. Tapi gue nggak pernah lihat lo memperhatikan sekretaris baru selama ini."

Klik.

Pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Alexander menggeleng pelan. "Ngaco."

Namun beberapa detik kemudian, entah kenapa. Yang muncul di pikirannya justru wajah Dara saat panik di ruang rapat. Alexander memejamkan mata sesaat. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya bergerak tipis. Kini CEO PT Dirgantara Group tersenyum.

Sore itu perlahan berubah menjadi malam. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu di balik dinding kaca ruang kerja Alexander. Namun berbeda dengan lantai lain yang sudah mulai sepi, lantai direksi masih terlihat sibuk.

Di ruangan sekretaris, Dara sedang memeriksa jadwal besok untuk ketiga kalinya. Padahal semuanya sudah benar, tetapi entah kenapa hari ini ia sulit fokus. Mungkin karena pujian dari Alexander siang tadi.

Tapi sejak tadi kata itu terus terngiang di kepalanya. Dara memukul pelan dahinya sendiri. "Astaga, Dara."

Itu cuma pujian kerja, bukan lamaran. Kenapa dipikirin terus? Saat itulah telepon internal di mejanya berbunyi.

Tring.

Dara langsung tersentak. Ia segera mengangkatnya. "Halo?"

"Dara."

Tubuhnya langsung menegang. Suara Alexander. "Iya, Tuan."

"Masuk."

Klik.

Sambungan langsung terputus.

Dara menatap teleponnya, lalu menatap pintu ruang CEO. "Ya Tuhan... Kenapa setiap dipanggilnya aku selalu. deg-degan?"

Dara berdiri, merapikan blazer, rambut, map. Lalu sadar dirinya tidak perlu melakukan semua itu. Akhirnya ia berjalan menuju ruang CEO.

Tok... Tok...

"Masuk."

Dara membuka pintu perlahan.

Alexander sedang duduk di belakang mejanya sambil membaca laporan. "Tuan memanggil saya?"

"Hm."

Alexander menunjuk sebuah dokumen. "Duduk."

Dara langsung duduk.

Alexander menyerahkan beberapa berkas. "Besok saya ada penerbangan ke Surabaya."

Dara menerima dokumen itu.

"Pukul tujuh pagi."

"Baik, Tuan."

"Meeting dengan investor jam sembilan. Kembali malam hari."

"Baik."

Alexander mengangkat kepala.

Dara langsung diam.

"Kau hanya bisa bilang baik?"

Dara berkedip. "Hah?"

Alexander menghela napas pelan. "Hah lagi."

Wajah Dara langsung merah. "Maaf, Tuan."

Kini sudut bibir Alexander bergerak tipis. Tapi Dara melihatnya, dan seketika ia membeku. Beliau... barusan hampir senyum?

Alexander kembali menunduk membaca dokumen. "Tidak usah terlalu tegang."

Dara terdiam sesaat, sebelum menjawab. "Tapi saya memang gugup, Tuan."

"Kau selalu gugup."

Dara tidak bisa membantah.

Alexander kembali menandatangani dokumen. "Padahal tidak ada yang perlu ditakutkan."

Dara dalam hati langsung protes. Tidak ada yang perlu ditakutkan?nTuan ini CEO paling menyeramkan satu gedung. Tapi tentu saja ia tidak berani mengatakannya.

Alexander kemudian menutup map. "Sudah."

Dara berdiri. "Kalau begitu saya kembali ke ruangan."

"Hm."

Dara berbalik, namun baru dua langkah berjalan.

"Tunggu."

Dara langsung berhenti. "Iya, Tuan?"

Alexander tampak berpikir beberapa detik. Hal yang jarang sekali terjadi. Lalu akhirnya berkata. "Kerja bagus hari ini."

Dara membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Alexander sendiri sudah kembali membaca dokumen seolah tidak mengatakan apa-apa. Sedangkan Dara masih berdiri di tempat.

"Dara?" Alexander mengangkat kepala.

Dara langsung tersadar. "Oh! Iya! Terima kasih, Tuan!"

Kemudian ia buru-buru keluar. Pintu tertutup, begitu sampai di ruangannya sendiri...

Dara langsung memegangi dadanya. "Ya ampun..."

Pujian kedua, dalam satu hari. Kalau Aldi melihat ini, pasti dia juga tidak akan percaya.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!