NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang dan alot, kesepakatan akhirnya tercapai. Kerja sama besar antara Bratadikara Group dan Wilmar World Group resmi terjalin ditandai dengan penandatanganan berkas kontrak oleh Tristan dan Samuel.

Untuk merayakan keberhasilan tersebut, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan momen dengan makan siang bersama yang mewah. Di sela-sela hidangan utama, Samuel memesan sebotol minuman beralkohol kelas atas sebagai bentuk selebrasi, lalu menuangkannya ke dalam gelas masing-masing, termasuk gelas milik Ananda.

"Mari kita bersulang untuk kesuksesan proyek besar kita!" seru Samuel dengan senyum lebar, mengangkat gelas kristalnya ke udara.

Ananda menatap cairan bening di dalam gelasnya dengan ragu. Kilasan malam mengerikan enam tahun lalu saat ia dicekoki minuman di hotel ini mendadak membuat dadanya sesak. Namun, ia tahu ia harus menjaga reputasi Bratadikara Group. Demi profesionalitas dan menghormati klien, Ananda memaksakan senyum tipis lalu meneguk sedikit minuman tersebut, merasakan sensasi hangat yang membakar tenggorokannya.

Rapat dan makan siang mengalir santai sampai akhirnya Andre tampak gelisah. Ia berdehem kecil, lalu berbisik kepada Samuel. "Tuan Samuel, saya izin ke toilet sebentar."

Setelah mendapatkan anggukan dari bosnya, Andre bergegas keluar dari ruang VVIP. Tristan yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Andre dengan mata memburunya menaruh gelasnya ke meja tanpa menimbulkan suara.

"Aku juga izin keluar sebentar, Sam," ujar Tristan datar, yang langsung diangguk santai oleh Samuel yang tengah asyik mengobrol dengan Ananda.

Di dalam toilet restoran yang sepi dan bernuansa marmer mewah, Andre membasuh wajahnya berulang kali di wastafel. Napasnya memburu, mencoba meredakan ketakutan setengah mati yang mendera sejak melihat wajah Tristan.

Namun, begitu Andre membalikkan tubuhnya hendak melangkah keluar menuju pintu, sebuah bayangan besar menyergapnya dengan kecepatan kilat.

Brak!

Tristan menyudutkan tubuh Andre ke dinding marmer. Dengan gerakan brutal, ia menyiku leher Andre dengan lengan kekarnya, menekan urat leher pria itu hingga Andre langsung tercekik dan kesulitan bernapas. Wajah Andre seketika memerah padam, kedua tangannya mencengkeram lengan Tristan, berusaha melepaskan tekanan yang mematikan tersebut.

"L...lepaskan... gue, Tristan... Lo... jangan gila!" rengek Andre terbata-bata dengan sisa oksigen yang ada.

"Harusnya gue sudah membunuhmu enam tahun yang lalu, dasar bedebah!" desis Tristan dengan suara rendah yang sarat akan kebencian yang mendalam. Matanya berkilat menyala, memancarkan aura membunuh yang sangat nyata. "Gara-gara jebakan sialan kalian malam itu, hidup gue tersiksa seumur hidup!"

"M... Maafkan gue, Tristan... Gue... gue sangat menyesal...!" rintih Andre, matanya mulai berair karena cekikan Tristan yang semakin kuat mengunci jalur napasnya.

"Basi lo! Penyesalan elo gak ada gunanya!" bentak Tristan, menekan sikunya setingkat lebih keras hingga Andre hampir kehilangan kesadarannya.

"Tristan... k...kasih gue kesempatan... u...untuk mencari si itik..." bisik Andre dengan susah payah, mencoba bernegosiasi demi nyawanya. "Gue janji... gue janji bakal temuin dia untuk elo... sebagai rasa... untuk menebus kesalahan gue di masa lalu! Tolong..."

Mendengar nama 'si itik' disebut, kilatan amarah di mata Tristan perlahan mereda. Kelemahan terbesarnya barusan disentuh. Perlahan, Tristan mengendurkan tekanan sikunya di leher Andre, memberikan pria itu kesempatan untuk meraup udara sebanyak-banyaknya, meski ia tetap menatapnya dengan bengis.

"Buktikan semua ucapan elo!" ancam Tristan dingin, menunjuk dada Andre dengan jarinya. "Jika dalam waktu dekat kau berbohong atau gagal, aku sendiri yang akan menghancurkan hidupmu dan kariermu di perusahaan Samuel."

Andre terbatuk-batuk, memegangi lehernya yang memerah. "E..elo tenang saja, Tristan... Secepatnya gue bakal temukan dia untuk lo. Gue pegang janji gue!"

Tanpa sudi mendengar rentetan kata dari Andre lagi, Tristan berbalik dengan angkuh dan melangkah pergi meninggalkan toilet, membiarkan Andre yang kini terduduk lemas di lantai dengan wajah pucat pasi akibat kehabisan oksigen.

Setelah merasa kondisinya agak membaik, Andre menegakkan tubuhnya kembali sambil meringis perih. Pikiran di kepalanya berputar cepat.

‘Gue gak bisa nyari si itik sendirian. Gue mesti hubungi si Indra! Dia harus bantuin gue... Bukankah sekarang dia sudah sukses menjadi seorang polisi intel? Ya, gue yakin dengan jaringan intelnya, dia bisa dengan mudah melacak keberadaan si itik buruk rupa itu!’ batin Andre yakin, menemukan secercah harapan.

Sementara itu, di dalam ruang VVIP, suasana justru mencair dengan cara yang berbeda. Memanfaatkan absennya Tristan dan Andre, Samuel yang berjiwa sosial tinggi mulai mengajak Ananda mengobrol akrab. Mereka membahas banyak hal, mulai dari perkembangan bisnis properti hingga selera kuliner.

Samuel yang ramah beberapa kali mengangkat gelasnya, mengajak Ananda untuk kembali minum demi merayakan kemitraan baru mereka. Ananda yang dasarnya jarang menyentuh alkohol dan sedang didera stres batin akibat berada di Hotel Permata, tidak bisa menolak dengan baik. Setiap kali Samuel mengajaknya bersulang, ia terpaksa meneguk minuman tersebut.

Tanpa terasa, efek alkohol mulai bekerja di dalam tubuhnya yang lelah. Pandangan Ananda perlahan mulai mengabur, kepalanya terasa berputar, dan kesadarannya perlahan terkikis, membuatnya berada dalam kondisi setengah mabuk di atas kursi mewahnya tepat saat pintu VVIP kembali terbuka.

Begitu Tristan melangkah kembali ke dalam ruang VVIP, langkahnya seketika terhenti saat netranya menangkap pemandangan di meja makan. Wajah Ananda sudah memerah padam, sementara sorot matanya tampak sayu dan kehilangan fokus akibat pengaruh alkohol.

Melihat kedatangan Tristan, Samuel yang sedang melirik jam tangannya segera berdiri dari kursi mewah tersebut. "Ah, Tristan, kau sudah kembali. Kebetulan sekali, aku baru saja ingin pamit. Ada urusan penting yang mendesak di kantor pusat yang harus segera ku selesaikan," ucap Samuel ramah seraya merapikan jasnya.

"Oh, begitu? Baiklah, Sam. Terima kasih atas kerja samanya hari ini," sahut Tristan, berusaha bersikap seprofesional mungkin seraya menjabat erat tangan rekan bisnisnya itu.

Samuel melangkah pergi dari ruangan VVIP, disusul oleh Andre yang berjalan tergesa-gesa di belakangnya. Saat melewati ambang pintu, Andre sempat menatap wajah Tristan. Pria itu tampak begitu ketakutan, dengan wajah pucat pasi dan tubuh yang sedikit gemetar karena sisa ancaman maut di toilet tadi masih melekat kuat di benaknya.

Kini, keheningan merayap kembali, menyisakan Ananda dan Tristan berdua saja di dalam ruangan yang luas itu. Tristan melangkah mendekat, lalu berkacak pinggang di hadapan sekretarisnya yang mulai tumbang.

"Nanda... hey, sadarlah!" panggil Tristan tegas sembari menepuk pelan pipi mulus Ananda. "Kau payah sekali... Baru minum beberapa gelas saja sudah mabuk seperti ini. Benar-benar merepotkan!"

Ananda yang kesadarannya sudah terkikis habis akibat pengaruh alkohol mendongak dengan tatapan sayu. Ia mengangkat satu jari telunjuknya dan menempelkannya di depan bibir ranumnya sendiri.

"Ssstttt... Diam kau...!" racau Ananda, suaranya terdengar sengau dan tidak beraturan. "Jangan mengomeliku terus... Kau... kau itu pria congak yang sangat menyebalkan! Tristan Bratadikara adalah pria tengil, kejam... dan... dan... Hoek... Hoek!"

Sebelum Tristan sempat mencerna makian lancang dari sekretarisnya, cairan pekat mendadak keluar dari mulut Ananda. Wanita itu tak sengaja muntah tepat di hadapan Tristan, mengotori permukaan jas mahal bermerek milik sang CEO, serta sebagian mengenai bagian depan kemeja kerja Ananda sendiri.

Aroma tajam langsung menguar di udara. Detik itu juga, rahang Tristan mengeras dan tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku jarinya memutih. Amarahnya membubung tinggi karena kesombongan dan harga dirinya baru saja dikotori oleh sekretaris barunya sendiri.

"Kau...!"

Namun, sebelum Tristan sempat meluapkan kemarahannya, tubuh Ananda mendadak lemas tak bertulang. Wanita itu ambruk ke depan, jatuh tepat di dalam dekapan pelukan dada bidang Tristan yang hangat.

"Dasar sekretaris sialan! Enyahlah dari tubuhku!" umpat Tristan geram.

Dengan napas memburu, Tristan mencengkeram kedua bahu Ananda dengan kuat, bermaksud mendorong tubuh wanita itu agar menjauh dan berdiri tegak. Namun, saat tubuh mereka berjarak beberapa senti, Tristan tertegun. Wajah sayu Ananda yang sedang mabuk, cara wanita itu meracau tak jelas dengan mata terpejam, mendadak memutar kembali memori kelam di Hotel Permata enam tahun lalu. Sosok si itik buruk rupa saat berada di bawah minuman serta pukulan telak di tengkuk nya itu mendadak tumpang tindih dengan wajah cantik di hadapannya sekarang.

Tristan menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir bayangan tersebut. ‘Ada apa dengan otakku? Sepertinya otakku sudah benar-benar konslet! Mana mungkin Ananda yang secantik ini adalah si itik!’ batinnya menyangkal keras, mencoba bersikap rasional meski hatinya terus bergejolak hebat.

Melihat kondisi mereka berdua yang sangat kacau dan kotor, Tristan menghela napas panjang untuk meredam emosinya. Mustahil baginya untuk membawa Ananda pulang ke kantor atau memesan taksi dengan pakaian seperti ini.

Tanpa memikirkan gengsinya lagi, Tristan mengulurkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Ananda, lalu mengangkat tubuh ramping sekretarisnya itu ke dalam gendongannya. Dengan langkah tegap dan wajah dingin yang menahan dongkol, Tristan membawa Ananda keluar dari restoran menuju meja resepsionis hotel untuk memesan sebuah kamar VVIP siang itu juga, berniat membersihkan pakaian mereka yang terkena noda muntah.

Bersambung...

1
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
Nar Sih
ayoo dree sgra kaaih tau kebnran nya pada tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
Ilfa Yarni
waah Tristan sekarang udah terang2an bilang sayang sama Nanda eits hati2 Tristan jgn sampe keceplosan dikantor bilang sayang ya nanti kebongkar hubungan kalian sebelum wkt yg tepat selesaikan dulu urusan perusahaanmu yg kacau dan km jg hrs cari tau gmn kehidupan bella dan tingkah lakunya diluar sana agar nanti km menolaknya ada bukti klo bella itu ga pantas buat km tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip Bunda
total 1 replies
Aghitsna Agis
aih padahal tristan pura2 duterima pertunana itu nah nanti bongkar semua kebusukan bella dan mungkin bella sydah sering gunti ganti pasang nanti pasang lsyar tancap disana dsn thor harus langsung up juga dirunggu mks
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nanti ada saatnya si Bella di balas oleh Tristan ya kak 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!