Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Demi Ego
Kamil melangkah keluar dari ruangan Direktur dengan bahu yang terasa jauh lebih berat dari biasanya. Pintu itu tertutup pelan di belakangnya, seolah menjadi garis tegas antara masa lalunya sebagai karyawan dan kenyataan pahit yang baru saja ia terima.
Langkahnya gontai menyusuri koridor kantor. Tatapan beberapa karyawan tertuju padanya—ada yang berbisik, ada yang terang-terangan menatap dengan sinis. Kamil mengatupkan rahang, berusaha menahan emosi yang bercampur antara kesal, malu, dan… sedikit penyesalan yang enggan ia akui.
"Kenapa Mas? Lesu banget kelihatannya. Dipecat ya gegara kejadian kemarin?”
Suara Alika menyambutnya di dekat pantry. Perempuan itu berdiri dengan tangan berkacak pinggang, sorot matanya tajam tanpa rasa iba.
Kamil mendengus pelan, tak langsung menjawab.
"Makanya jangan sok-sokan nyakitin perempuan, jadinya sekarang kena batunya,” sambung Nayla, menyilangkan tangan di dada.
"Lagian kalau mau viral, ya dengan prestasi lah,” tambah Ayu yang biasanya pendiam, kini ikut bersuara, “bukan dengan cara murahan kayak gitu.”
Kamil mengepalkan tangannya. Urat di pelipisnya terlihat menegang.
"Ini baru permulaan, lihat aja nanti ada lagi hal-hal buruk yang akan menimpamu, Mil,” Alika kembali menyerang, suaranya penuh penegasan.
"Sudahlah, jangan banyak omong,” potong Kamil akhirnya, nada suaranya dingin namun menyimpan bara, “ini perusahaannya aja yang gak bener. Nyampurin urusan pribadi sama kerjaan.”
"Ih bukannya sadar, malah nyalahin perusahaan,” sahut Tiara yang sejak tadi diam, kini ikut menatap Kamil dengan tatapan kecewa.
Belum sempat Kamil membalas, suara lain tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Kamiiillll, kamu gilaaa ya?”
Gustian datang dengan langkah cepat sambil membawa gelas kopi di tangannya. Wajahnya penuh ekspresi tak percaya.
"Kemarin kamu lagi mabok apa? Tega banget nikahin anak orang lalu langsung jadiin janda? Padahal istri kamu itu cantik gitu lho.”
Kamil menoleh, wajahnya datar.
"Aku gak mabok. Aku sadar sesadar-sadarnya ngelakuin itu.”
Semua yang ada di sana terdiam sejenak.
"Aku dijodohin sama bokap nyokap sama cewek kampung itu. Ya aku iya-in aja,” lanjut Kamil dengan nada santai yang justru terdengar kejam, "tapi dari awal aku udah niat bakal ceraiin dia setelah akad.”
Nayla menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan rasa muak.
"Tapi maksud kamu apaan nyakitin wanita itu, Mil?”
"Ya aku sebel aja,” jawab Kamil tanpa rasa bersalah, “dia mau dikawinin aku juga karena aku anak orang kaya. Gak mau lah aku dimanfaatin.”
"Maksudku,” potong Gustian, suaranya meninggi, "kenapa gak ditolak dari awal kalau kamu gak suka?”
Kamil tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip ejekan.
"Kesatu, aku mau ngasih pelajaran ke dia. Biar dia sadar kalau dia gak sepadan sama aku. Aku lambungkan dulu… biar dia ngerasa aku bakal jatuh cinta, lalu aku hempaskan.”
Ayu menutup mulutnya, tak percaya mendengar itu.
"Kedua,” lanjut Kamil tanpa peduli reaksi mereka, "aku lakuin ini demi orang yang aku cintai… Amanda.”
Alika langsung mengernyit.
"Maksud kamu Amanda Arisandi? Supervisor?”
"Ya siapa lagi?”
Gustian tertawa kecil, tapi bukan karena lucu—lebih ke arah tak habis pikir.
"Mimpiii… Amanda itu bukan levelan lu kali. Dia kaya, punya standar.”
"Lu kira aku miskin?” sahut Kamil cepat, tersinggung.
"Bukan soal miskin,” balas Gustian, kini lebih serius, “tapi setelah kejadian ini, aku yakin Manda gak akan mau sama kamu.”
Kamil menyeringai, penuh keyakinan yang nyaris terdengar gila.
"Jangan sok tahu deh,” katanya pelan tapi tajam, "justru setelah kejadian ini, Amanda bakal sadar… aku laki-laki yang bener-bener cinta sama dia.”
Suasana mendadak sunyi.
"Gak akan ada orang yang mencintainya melebihi aku.”
Tak ada yang langsung menanggapi.
Tatapan mereka berubah—bukan lagi sekadar marah atau kecewa… tapi juga iba.
Karena untuk pertama kalinya, mereka melihat dengan jelas—
bahwa yang berdiri di depan mereka bukan hanya pria egois…
tapi juga seseorang yang sedang tersesat dalam pikirannya sendiri.
Sudah ah, aku pamit, mau ke HRD dulu minta hakku. Dipecat dari sini juga aku gak akan susah nyari kerjaan. Perusahaan kira aku bakal nangis gara-gara ini? Masih banyak tempat di luar sana yang mau menerimaku”
Kamil berkata pongah, dagunya sedikit terangkat, seolah ingin menegaskan bahwa ia baik-baik saja—meski hatinya sendiri berantakan.
"Kamu viral, Mil,” Alika kembali bersuara, menatap tajam, “kamu gak ada niatan minta maaf? Atau minimal klarifikasi?”
Kamil terkekeh pendek, sinis.
"Minta maaf? Kalau aku minta maaf, berarti aku ngaku salah, ngaku khilaf. Ini nggak,” ucapnya mantap, “aku ngelakuin itu dalam keadaan sadar. Jadi jangan mimpi aku bakal klarifikasi.”
Suasana mendadak dingin.
Tak ada lagi yang mencoba menahannya.
Kamil berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Sepatu pantofelnya beradu dengan lantai, menciptakan bunyi yang terdengar semakin menjauh… dan semakin kosong.
Namun di balik punggung yang tampak tegap itu, ada sesuatu yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Setelah urusan beres di HRD, dia keluar. Sebelum berbelok di ujung koridor, langkahnya sempat melambat. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ada rasa sesak yang menekan dadanya—bukan karena dipecat semata, tapi karena untuk pertama kalinya… dunia tidak berpihak padanya.
Ia sedih. Ia kecewa.
Tapi lebih dari itu—ia kehilangan kendali.
Namun Kamil adalah Kamil.
Egonyalah yang selalu berbicara lebih keras daripada hatinya.
Dan hari ini, ego itu kembali menang.
***
Setelah sosoknya benar-benar menghilang, suasana di antara mereka masih dipenuhi emosi yang menggantung.
Alika menghela napas kasar, matanya masih menyala penuh amarah.
"Barusan aku videoin semua obrolan kita,” katanya tiba-tiba, mengangkat ponselnya, “aku bakal upload ke medsos. Biar makin viral… biar dia ngerasain dihujat habis-habisan. Sok banget jadi laki, gak gentleman.”
"Iya, ayo viralin lagi!” Nayla langsung menyambut, nada suaranya penuh semangat yang tercampur emosi.
Namun berbeda dengan yang lain, Ayu terlihat ragu. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap layar ponsel Alika.
"Ka… apa gak terlalu jauh?” ucapnya pelan, "maksudku… dia emang salah, tapi kalau terus-terusan diviralin…”
"Terus kenapa?” potong Alika cepat, “dia aja gak ada rasa bersalah. Bahkan minta maaf pun gak mau.”
Tiara mengangguk pelan, tapi wajahnya tak sepenuhnya setuju.
"Kadang… orang kayak gitu bukan makin sadar kalau dihujat,” gumamnya, “malah makin keras kepala.”
Alika terdiam sepersekian detik. Tapi amarahnya masih lebih besar dari keraguannya.
"Biar aja,” katanya akhirnya tegas, “setidaknya dia tahu… perbuatannya gak bisa dianggap biasa.”
Jari Alika mulai bergerak di layar ponselnya.
Sementara itu, tanpa mereka sadari—
di luar sana, satu langkah kecil yang mereka ambil…
akan menjadi gelombang besar berikutnya yang menghantam hidup Kamil.
Kamil melangkah cepat menuju area parkir, seolah ingin segera menjauh dari gedung yang baru saja "membuangnya”. Namun semakin jauh langkahnya, justru perasaannya semakin berat.
Begitu sampai di mobilnya, ia membuka pintu dengan kasar lalu masuk. Pintu itu ditutup sedikit lebih keras dari biasanya—seolah melampiaskan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.
Hening.
Untuk beberapa detik, Kamil hanya duduk diam di balik kemudi. Tangannya masih menggenggam setir, tapi tak segera menyalakan mesin. Tatapannya lurus ke depan, kosong… seperti kehilangan arah.
Rasa hampa itu datang begitu saja, menyusup tanpa permisi.
Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke jok.
"Cuma kerjaan…” gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri, “gampang nyarinya…”
Namun suara itu terdengar lemah. Bahkan ia sendiri tak sepenuhnya percaya.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu… yang ia tinggalkan bukan sekadar pekerjaan.
Itu adalah tempat di mana ia merasa “punya posisi”. Tempat di mana ia dihormati, diakui. Dan kini… semua itu hilang begitu saja.
Rahangnya mengeras.
Tapi ada hal lain yang lebih mengganggu pikirannya.
Amanda.
Bayangan wajah perempuan itu muncul begitu jelas di benaknya. Cara Amanda berjalan dengan percaya diri, cara bicaranya yang tegas, dan tatapan matanya yang selalu sulit ia tebak.
Kamil mengepalkan tangannya.
Dengan dipecatnya dia…
itu berarti satu hal yang tak bisa ia hindari—
Ia kehilangan kesempatan untuk dekat dengannya.
"Aku lakuin semua ini juga buat kamu…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar, “harusnya kamu ngerti…”
Namun mobil itu tetap diam.
Tak ada jawaban.
Tak ada pembenaran.
Hanya kesunyian yang perlahan menelanjangi kenyataan—
Bahwa semua yang ia lakukan… justru menjauhkannya dari hal yang paling ia inginkan.
Kamil memejamkan mata, menahan sesuatu yang terasa menekan di dadanya. Tapi seperti biasa… ia menelannya dalam-dalam.
Tak ada air mata.
Hanya ego yang masih berdiri tegak…
meski perlahan, mulai retak.
mantappp