Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Mentari pagi bersinar hangat, seolah turut menyambut hari yang akan mengubah jalan hidup dua orang yang belum pernah saling mengenal.
Di rumah keluarga Baskara, suasana sudah sibuk sejak fajar menyingsing. Bu Ratna mondar-mandir memastikan segala keperluan suami dan anak tunggalnya tidak ada yang terlewat.
"Sat, kemeja batiknya sudah disetrika Ibu. Coba dipakai dulu, takut ada bagian yang kurang pas," panggil Bu Ratna dari depan pintu kamar putranya.
"Iya, Bu. Sudah saya pakai," sahut Satria Baskara dari dalam.
Pintu terbuka. Satria keluar dari kamarnya mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif elegan dipadukan dengan celana bahan hitam. Penampilannya yang tegap membuat kemeja itu melekat pas, memancarkan kesan rapi, bersih, dan berwibawa.
"Anak Ibu memang paling tampan," puji Bu Ratna dengan senyum puas, kedua tangannya bergerak merapikan kerah kemeja Satria.
"Ibu bisa saja," kekeh Satria pelan, mengusap tengkuknya yang tidak gatal karena merasa agak canggung.
Pak Hasan yang sedang melipat koran paginya di meja makan ikut mengangkat kepala, menatap putra tunggalnya dengan pandangan bangga. "Sudah siap, Satria?"
"Insyaallah, Pak," jawab Satria dengan anggukan mantap.
Pak Hasan berdiri, lalu melangkah mendekat dan menepuk pelan bahu kekar putranya. "Ingat, hari ini bukan untuk menentukan keputusan akhir. Anggap saja kita sedang bertamu dan menyambung tali silaturahmi."
"Iya, Pak. Satria mengerti," balas Satria tenang.
Meskipun suaranya terdengar stabil, Satria tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa telapak tangannya mulai terasa dingin. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya, berjalan menuju sebuah rumah untuk menemui perempuan yang digadang-gadang akan menjadi pendamping masa depannya.
Di sudut kota yang lain...
Suasana di dalam rumah keluarga Naira tak kalah menegangkan. Aroma harum masakan dan kue sudah tercium sejak pagi hari.
"Naira, masih lama di dalam kamar, Nak?" tanya ibunya, mengetuk pintu kayu dari luar dengan nada agak buru-buru. "Tamunya sebentar lagi sampai di depan gang."
"Iya, sebentar lagi selesai, Bu," sahut Naira sedikit dikeraskan agar terdengar keluar.
Di depan cermin rias, Naira memandangi pantulan dirinya sendiri. Ia mengenakan gamis berwarna krem pastel dengan jilbab segi empat senada yang menutup dada. Riasan tipis yang natural menghiasi wajahnya, membuat penampilannya tampak anggun tanpa kesan berlebihan.
Namun, sepasang matanya tidak bisa menyembunyikan rasa gugup yang luar biasa. Jemarinya saling bertautan, terasa dingin.
Tok... tok...
"Naira, Ayah boleh masuk?" tanya sang ayah dari balik pintu.
"Masuk saja, Yah. Pintu tidak dikunci," jawab Naira.
Ayah Naira melangkah masuk dengan senyum hangat khasnya. Ia langsung bisa menangkap gurat kecemasan di wajah putri tercintanya. "Kamu merasa sangat gugup?"
"Kelihatan sekali ya, Yah?" tanya Naira dengan senyum kecil yang dipaksakan.
"Sedikit," kekeh ayahnya, lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang, tepat di samping Naira.
Naira menoleh, menatap wajah teduh sang ayah.
"Nak, kalau nanti setelah mengobrol kamu merasa benar-benar tidak cocok dengan pria itu, katakan saja sejujurnya kepada Ayah," ujar sang ayah lembut, seolah tahu apa yang mengganjal di hati putrinya.
"Memangnya Ayah tidak akan marah atau merasa tidak enak dengan teman lama Ayah?" tanya Naira, memastikan.
"Tentu saja tidak. Ayah tidak akan pernah memaksamu," tegas ayahnya sambil menggenggam jemari Naira. "Bagi Ayah, kebahagiaan dan kenyamanan hidupmu jauh lebih penting dari apa pun."
Mata Naira mendadak berkaca-kaca mendengar ketulusan kalimat itu. "Terima kasih banyak, Yah."
"Sama-sama, Sayang. Tapi, Ayah hanya minta satu hal darimu hari ini," ucap sang ayah sembari mengusap pelan puncak kepala putrinya yang tertutup hijab.
"Apa itu, Yah?" tanya Naira, menyeka sudut matanya.
"Buka hatimu sedikit saja, kenali dulu bagaimana karakter orangnya. Jangan langsung menutup diri sebelum mencoba mengobrol," pesan sang ayah dengan tatapan penuh harap.
Naira mengangguk pelan, mencoba menelan bulat-bulat kegundahannya. "Baik, Yah. Naira akan coba."
Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil yang berhenti di halaman depan membuyarkan lamunan mereka. Sebuah mobil sedan hitam berpelat nomor rapi terparkir di bawah pohon mangga rumah Naira.
Pak Hasan keluar lebih dulu dari pintu kemudi, disusul oleh Bu Ratna dari pintu tengah, dan terakhir Satria yang keluar dengan langkah mantap namun hati-hati.
"Assalamualaikum," ucap Pak Hasan dengan suara lantang di depan pintu.
"Waalaikumsalam. Wah, selamat datang, Hasan!" balas Ayah Naira yang langsung membuka pintu lebar-lebar, menyambut sahabat lamanya itu dengan pelukan hangat. "Silakan masuk, silakan duduk."
"Terima kasih banyak, sudah repot-repot menyambut kami," ujar Bu Ratna ramah sembari menyalami ibu Naira.
Dalam waktu singkat, suasana ruang tamu itu langsung dipenuhi oleh obrolan yang hangat. Kedua orang tua tersebut saling melempar cerita masa lalu, membahas kabar kesehatan, hingga sesekali tawa renyah pecah di antara mereka.
Namun, di tengah keriuhan itu, ada dua orang yang justru lebih banyak memilih diam dan menunduk. Satria duduk tegak dengan pandangan lurus ke meja, sementara Naira masih berada di area dalam, belum memunculkan diri. Keduanya bahkan belum saling melempar pandang.
"Naira," panggil sang ibu dari arah dapur bersih, membuyarkan fokus Naira yang sedang menata cangkir.
"Iya, Bu?" sahut Naira tangkas.
"Tolong antarkan teh hangat ini dan kue brownies yang kamu potong tadi ke depan, ya," pinta ibunya lembut.
"Baik, Bu," ucap Naira, menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberaniannya.
Tangan Naira sedikit gemetar saat mengangkat nampan kayu berisi beberapa cangkir teh hangat dan sepiring brownies cokelat potong buatannya sendiri—kue yang sama yang siang kemarin membuat heboh kantor kecamatan. Dengan langkah anggun yang dijaga selembut mungkin, ia melangkah menuju ruang tamu.
"Permisi..." sapa Naira dengan suara lirih namun terdengar jelas.
Seketika itu juga, semua obrolan di ruang tamu terhenti. Semua mata langsung beralih tertuju pada sosok anggun yang baru saja datang.
Mendengar suara lembut itu, Satria yang sejak tadi menunduk memperhatikan jemarinya sendiri, perlahan-lahan mengangkat pandangan matanya. Dan pada detik itulah, untuk pertama kalinya, tatapan kedua insan itu bertemu di udara.
Hanya sesaat. Tidak lebih dari tiga detik. Namun, waktu seolah berjalan melambat bagi mereka berdua.
"Cantik dan teduh..." Kalimat itu spontan terlintas di benak Satria, membuat jantungnya memberikan letupan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sementara itu, Naira yang sempat terpaku langsung menangkap sorot mata pria di hadapannya. Sepasang mata yang tajam namun memiliki ketenangan yang menghanyutkan, persis seperti apa yang diceritakan Doni dan Siska kemarin siang di tokonya. Pria kaku yang tampan ini ternyata benar-benar Satria Baskara.
Naira buru-buru mengalihkan pandangannya ke bawah, merasa pipinya mendadak menghangat. Ia berlutut di dekat meja, meletakkan cangkir teh satu per satu dengan hati-hati. "Silakan diminum, Pak... Bu..."
"Wah, terima kasih banyak ya, Nak Naira. Repot-repot sekali," ucap Bu Ratna dengan binar mata yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada keanggunan Naira.
Saat Naira bergerak menggeser nampan untuk meletakkan cangkir terakhir tepat di hadapan Satria, rasa gugupnya mendadak memuncak. Jemarinya yang gemetar tanpa sengaja menyenggol sendok kecil di atas tatakan cangkir hingga tergelincir.
Ting!
Suara logam beradu dengan lantai keramik terdengar nyaring.
"Aduh... maaf, saya kurang hati-hati," ucap Naira refleks, langsung membungkuk rendah untuk memungut sendok yang menggelinding dekat kaki meja.
Namun, di saat yang bersamaan, Satria yang duduk di dekat sana juga ikut membungkukkan tubuhnya untuk membantu mengambilkan sendok tersebut. Gerakan spontan itu membuat ujung jari mereka nyaris bersentuhan di atas lantai.
Naira tertegun, menghentikan gerakannya. Satria pun ikut membeku selama satu detik, menatap kedekatan tangan mereka.
"Silakan, biar saya saja," ucap Satria pelan seraya menarik tangannya kembali lebih dulu, memberikan ruang bagi Naira.
"Tidak apa-apa, terima kasih banyak," bisik Naira lirih, memungut sendok itu lalu segera berdiri dan mundur selangkah untuk kembali duduk di samping ibunya.
Pak Hasan yang sejak tadi memperhatikan interaksi canggung namun manis itu hanya bisa saling melempar pandang dengan ayah Naira. Kedua pria paruh baya itu tersenyum simpul penuh arti.
Setelah beberapa menit berlalu dan suasana kembali mencair berkat teh hangat, Pak Hasan berdeham pelan, bersiap membuka inti dari pertemuan hari ini. "Jika kedua orang tua Naira berkenan..." Beliau menatap ayah dan ibu Naira bergantian. "...bagaimana kalau kita memberikan sedikit waktu dan kesempatan bagi Satria dan Naira untuk berbincang berdua di teras samping? Bukan untuk mengikat janji hari ini, hanya agar anak-anak kita bisa saling mengenal secara pribadi."
Suasana ruangan mendadak hening seketika.
Naira langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung jilbabnya karena bingung harus merespons apa. Sementara di seberang meja, Satria menarik napas panjang secara perlahan, mencoba menguasai gemuruh di dadanya. Inilah momen yang sejak semalam terus-menerus berputar di kepala kaku pribadinya.
Setelah beberapa saat sunyi, Naira perlahan-lahan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Melihat lampu hijau itu, Satria langsung menegakkan posisi duduknya dan menjawab dengan suara baritonnya yang mantap dan tenang,
"Baik, Pak. Satria bersedia."
Bersambung...