NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pakaian itu jatuh. Pintu kamar berderit terbuka. Nadira tidak menoleh, berharap orang yang masuk akan segera pergi. Namun, bayangan orang itu terlihat jelas di cermin meja rias. Itu bukan Arga. Itu Mia, adik tiri mereka yang selalu memiliki selera humor yang mengerikan.

"Kak Clarissa kok sibuk sekali di kamar kakak sendiri?" tanya Dinda dengan nada menyindir. Gadis itu bersandar di kusen pintu, menatap tajam ke arah tumpukan baju di lantai.

"Kak Arga bilang kakak kelihatan aneh sejak tadi pagi. Dia curiga kakak lagi nyari sesuatu yang bukan hak kakak."

Nadira menelan ludah kering. Ia harus menjaga peran. Clarissa pasti akan berteriak jika disindir seperti ini.

Nadira memutar tubuhnya perlahan, menatap Mia dengan pandangan tajam yang biasa ia latih di depan kaca.

"Aku cuma bersih-bersih, Mia. Kamu tidak punya urusan di sini. Keluar," kata Nadira datar, meniru intonasi dingin Clarissa.

Mia tidak bergerak. Gadis itu malah melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya.

"Kakek meninggalkan banyak rahasia, Kak. Dan aku tahu kakak selalu ingin semua harta itu untuk sendiri. Tapi hati-hati, ya. Kak Arga sudah memanggil ahli kunci untuk memeriksa brankasnya besok pagi. Kalau kakak punya kunci duplikat, lebih baik serahkan sekarang."

Napas Nadira tertahan. Jadi Arga sudah curiga. Dan Mia sekarang adalah ancaman langsung. Nadira memaksakan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.

"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Sekarang, keluar dari kamarku sebelum aku memanggil Pelayan untuk mengusirmu." Nadira melangkah maju, memaksa Mia mundur hingga ke pintu.

Begitu Mia keluar dengan wajah merah karena marah, Nadira mengunci pintu kamar dari dalam. Kunci kecil di sakunya terasa semakin berat dan tajam menusuk pahanya. Ia harus bergerak cepat sebelum ahli kunci itu datang. Ia butuh waktu tenang untuk mencari tahu lemari apa yang cocok dengan kunci ini tanpa memicu kecurigaan siapa pun di rumah besar yang penuh dengan mata dan telinga ini.

Nadira mendorong kusen jendela kamar mandi hingga terbuka lebar, membiarkan udara malam masuk dan menyentuh wajahnya yang lengket oleh keringat dingin. Detak jantungnya masih berpacu kencang sejak insiden di ruang makan bersama Dinda. Ia butuh ruang, butuh napas yang tidak terasa seperti tertelan paksa oleh tenggorokannya sendiri.

Ia melangkah keluar menuju taman belakang, menyusuri bebatuan hias yang tajam di bawah kaki sandalnya. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma basah dari tanah dan sisa wewangian bunga melati yang mulai layu di pojok taman.

Napas pertamanya di luar ruangan terasa berat, dadanya masih sesak menahan sisa amarah yang mengendap. Nadira menarik napas panjang secara pelan, menahan udara itu selama dua detik, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut. Bahunya yang tegang perlahan merosot turun. Udara segar ini mulai membantu menenangkan saraf-saraf yang sebelumnya ingin meledak.

Butuh waktu beberapa menit sebelum kepalanya berhenti berdenyut. Suara langkah kaki di atas kerikil memecah konsentrasinya. Nadira membeku, tangannya

mencengkeram pagar besi taman. Ia tidak perlu menoleh untuk menebak siapa yang datang. Ada aroma parfum yang tajam dan menyengat, terlalu kuat untuk suasana malam yang tenang ini. Tubuhnya langsung menegang kembali, napasnya tertahan di tenggorokan.

"Kamu terlalu lambat, Clarissa," suara Dinda terdengar tajam membelah keheningan taman. Dinda berdiri di bawah cahaya lampu taman yang redup, menunggunya dengan

tangan terlipat di dada. Wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mencuri surat wasiat.

Nadira menoleh pelan, menatap Dinda dengan rahang mengeras. Jari-jarinya masih melingkar kaku di pagar besi.

"Apa maumu sebenarnya, Dinda? Masih kurangkah hinaan yang kau berikan di dalam?" Suaranya parau, berusaha menahan gemetar yang mulai terasa di ujung jarinya.

Dinda mendekat dengan langkah mengancam, sepatunya menginjak tanaman hias kecil tanpa peduli. Ia berhenti hanya selangkah dari Nadira, menatapnya dari atas ke bawah dengan senyum tipis yang tidak menyentuh matanya.

"Aku ingin apa yang seharusnya menjadi milikku. Warisan kakek tidak akan pernah jatuh ke tangan wanita sepertimu."

Nadira merasakan darahnya mendidih, tapi ia memaksakan dirinya untuk tidak berteriak. Ia

menarik napas lagi, lebih dalam kali ini, mencoba menetralisir racun kata-kata Dinda

dengan oksigen.

Menyerang sekarang hanya akan membuatnya terlihat seperti Clarissa

yang dulu, emosionil dan mudah dikalahkan.

Ia mengepalkan tangan di balik punggung, kuku-kuku tajamnya mencengkeram telapak

tangan hingga perih. Rasa sakit itu membantu menjaganya tetap waras.

"Kau pikir kau sudah menang karena surat itu?" Nadira bicara pelan, nadanya datar tapi matanya menyorotkan api yang berbeda dari biasanya.

"Jika aku harus bermain menjijikkan demi uang ini, aku akan melakukannya. Arga... aku

butuh Arga!" batin Nadira.

Ia tidak akan membiarkan Dinda menang hanya dengan satu dokumen palsu. Strategi

telah berubah. Pertarungan mereka baru saja memasuki babak yang lebih kotor, dan

Nadira tahu ia tidak bisa melawan keserakahan Dinda sendirian.

Ia menatap punggung Dinda yang mulai berjalan pergi, matanya menyipit menatap ke arah kamar Arga di lantai atas.

Cahaya kamar Arga masih menyala. Nadira menghapus keringat di dahinya dan mulai

berjalan kembali menuju rumah, melangkah lebih pasti kali ini. Malam ini, ia akan

mengetuk pintu suaminya. Bukan sebagai Clarissa yang meminta, tapi sebagai sekutu

yang punya tawaran yang tidak bisa Arga tolak begitu saja.

Angin malam berhembus kencang, membawa aroma hujan yang akan segera turun.

Nadira berdiri di ambang pintu kaca yang menuju ke balkon.

Di tangannya, sebuah cangkir keramik berisi teh hijau hangat terasa cukup berat. Uap tipis masih mengepul dari permukaan cairan itu, menyisakan aroma melati yang menyengat hidung.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang berdegup cepat. Malam ini adalah taruhan besar bagi rencananya. Ia melangkah keluar, menyusuri lantai marmer yang dingin dengan kaki telanjang.

Arga duduk di kursi rotan paling ujung, punggungnya membelakanginya. Pria itu menatap kosong ke arah taman gelap di bawah sana. Botol wiski setengah kosong bersandar di meja sampingnya, bersama sebuah asbak yang masih bersih.

Suara gemuruh mesin pendingin ruangan dari dalam kamar terdengar samar, menembus keheningan di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!