NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:463.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Berkali-kali Nisa mengecek ponsel mulai dari bangun tidur hingga menjelang berangkat kerja, namun tak ada pesan ataupun telepon dari Ojan. Ia mengambil kunci motor yang ada di laci nakas, berjalan dengan langkah gontai menuju teras. Tatapannya langsung tertuju pada pintu pagar begitu kakinya menginjak teras, berharap tiba-tiba Ojan sudah ada disana, menunggunya, dan berkata, "Yuk berangkat, Mbak! Mau mampir sarapan dimana dulu nih?"

Sayangnya, itu hanya ada dalam khayalannya, Ojan tak ada di depan pagar.

Sebelum berangkat, terlebih dulu Nisa memanasi motornya yang akhir-akhir ini jarang dipakai. Setiap mendengar suara motor, ia akan langsung menatap pagar, berharap itu suara motor Ojan. Sayangnya selalu orang lain, bukan Ojan dengan motor putih dan jaket hijaunya.

Dalam perjalanan ke tempat kerja, matanya selalu memperhatikan orang-orang berjaket ojol, berharap tak sengaja berpapasan dengan Ojan yang sedang narik. Namun hingga motornya masuk halaman kantor, ia tak melihat Ojan.

Mungkinkah seperti ini yang dirasakan Ojan dulu, saat bilang baterainya tinggal 1 persen? Tak ada semangat sama sekali. Dunia serasa sepi meski banyak orang, ada yang kurang, ada yang hilang.

Sudahlah tak semangat, masih harus melihat muka Sandi di tempat kerja, rasanya pengen muntah. Belum pernah ia semuak ini pada laki-laki. Selain tukang selingkuh, tukang zina juga, definisi gak ada bagus-bagusnya sama sekali. Bisa-bisanya dulu ia jatuh cinta pada laki-laki seperti itu. Kalau sekarang, dikasih gratis pun, ogah.

"Kamu kenapa Nis, kok kelihatan galau gitu?" Diam-diam, Dinda memperhatikan Nisa yang terlihat tak semangat. Beberapa kali ia tak sengaja memergoki Nisa mengecek HP, lalu memasukkan kembali ke dalam kantong celana.

"Din, kalau seseorang tiba-tiba gak ada kabar, itu kira-kira kenapa ya?"

"Ya siapa dulu yang gak ada kabar. Kalau orang punya utang, tiba-tiba gak ada kabar, fix, dia sengaja menghilang biar gak ditagih. Eh Nis, gimana Sandi kutu kupret, sudah kamu tagih utangnya?"

"Gampanglah nanti." Nisa sedang tak ingin memikirkan itu. "Ojan kemana ya?" gumamnya pelan. Ia membuang nafas kasar, berjalan menuju kursi yang ada di pantry lalu menjatuhkan pantat disana.

"Kamu lagi milikin siapa sih, Nis?" Dinda menarik kursi di depan Nisa, duduk disana. "Siapa yang gak ada kabar?"

"Seseorang." Nisa merebahkan kepalanya di meja.

"Cie...pacar baru kamu ya?"

"Paan sih?"

"Elah, lemes banget suaranya, segitu kehilangan ya?" goda Dinda. "Kenalin dong sama pacar baru kamu." Mencondongkan tubuh ke arah Nisa.

"Aku gak punya pacar baru."

"Terus, yang tiap hari chatingan sama kamu, bikin kamu senyum-senyum sendiri, itu siapa?"

"Tauk ah. Ke meeting room yuk." Nisa mengangkat kepala, bangkit duluan, lalu disusul Dinda. Tadi Bu Erina menyuruhnya membersihkan serta menyiapkan ruang meeting, akan dipakai setelah makan siang.

Di meeting room, sambil mengelap meja, Dinda geleng-geleng. "Nis, tuh HP kalau bisa ngomong, pasti bilang muak lihat muka kamu. Dari tadi asyik liatin HP mulu. Gak usah nunggu di kasih kabar, langsung telepon kalau kangen."

"Apa sih, gak jelas."

Setelah mempersiapkan meeting room, keduanya meninggalkan ruangan itu untuk beristirahat. Sialnya, tanpa sengaja malah papasan Sandi di koridor. Nisa yang biasanya pura-pura gak lihat saat berpapasan, kali ini sengaja menghentikan langkah, menatap Sandi dengan kedua tangan dilipat di dada.

Sandi terlihat gugup, ia menunduk, meneruskan langkah melewati Nisa.

"Gak pernah aku sesenang ini putus dari cowok," Nisa berujar lumayan kencang. "Sok alim, tapi ternyata bajingan, perusak anak gadis orang."

Mustahil Sandi tak mendengar, tapi laki-laki itu pura-pura tak dengar, terus saja berjalan, bahkan lebih cepat.

"Apa maksud kamu, Nis?" Dinda jadi penasaran.

"Naina hamil." Nisa tertunduk dalam, malu.

Dinda yang syok, menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan.

...----------------...

Ojan benar-benar tak ada kabar, hingga malam hari, ponselnya masih tidak aktif, sudah berkali-kali Nisa mencoba telepon.

"Jan, kamu baik-baik sajakan?" Nisa memandangi foto selfinya dengan Ojan di kursi trotoar malam itu. Ia sangat merindukannya, apa ini artinya, ia telah jatuh cinta pada cowok itu. Cowok yang menurutnya, jika dilihat, semakin lama semakin ganteng, bahkan rasanya lebih ganteng daripada Sandi. Apalagi pas pakai batik di kondangan Bu Intan, sumpah, ganteng banget.

Sampai tengah malam, Nisa tak kunjung bisa tidur gara-gara memikirkan Ojan. Ia yang haus, keluar untuk mengambil minum di dapur. Jantungnya serasa mau melompat melihat siluet seseorang duduk di kursi dapur, dalam kegelapan. Ia yang kebetulan dekat dengan saklar, langsung menyalakan lampu.

"Ayah!"

Pak Bambang terkejut lampu tiba-tiba menyala. Segera, ia menyeka air mata di kedua pipi.

Nisa mendekati Ayahnya, menarik kursi, duduk tepat di hadapannya. Bisa ia lihat, mata Ayahnya yang sembab dan merah, tanda habis menangis.

"Kok belum tidur, Nis?" Pak Bambang berusaha bersikap santai.

"Ayah sendiri, kenapa belum tidur?"

"Belum ngantuk. Lapar, nyari makanan di dapur gak ada." Ia tersenyum sambil mengusap tengkuk.

"Mau Nisa bikinin mie?"

"Gak usah." Pak Bambang pura-pura menguap. "Udah ngantuk, Nis. Ayah tidur dulu ya." Ia bangkit dari duduknya.

"Yah." Panggil Nisa saat ayahnya hendak melangkah.

"Nisa gak lihat kok, kalau Ayah mau nangis, nangis aja.".

Pak Bambang membeku beberapa saat, hingga akhirnya, kedua telapak tangannya yang gemetar, menutupi wajah. Bahunya berguncang, laki-laki paruh baya itu menangis.

Nisa bangkit dari duduknya, menghampiri Ayahnya, memeluknya. " Nangis bukan berarti lemah, bukan berarti cemen, atau gak pantas disebut laki-laki. Kalau nangis bisa mengurangi sedikit sesak di dada, kenapa tidak. Tidak apa-apa menangis, karena kita punya perasaan."

Pak Bambang membenamkan wajah di bahu Nisa, menangis disana. Ia fikir, tak ada yang akan melihatnya menangis di dapur malam ini, tapi ternyata ia salah.

"Ayah gagal, Nis. Ayah tidak bisa menjaga titipan yang telah diamanahkan Allah."

Nisa ikut menangis, faham apa yang dirasakan Ayahnya. Pulang kerja tadi, rumah terasa beda, lengang dan dingin. Tak ada suara TV yang selalu menayangkan sinetron kesukaan Ibunya. Tak ada pula Ayahnya yang duduk lesehan di karpet, menemani sang istri nonton TV, tapi fokusnya pada ponsel, melihat berita di internet. Tak ada aroma sedap dari dapur, tak ada teriakan Ibunya meminta ia dan Naina makan. Semua terasa beda hari ini.

"Bagi Nisa, Ayah tidak gagal. Ayah sudah berusaha mendidik kami dengan baik, memberi bekal ilmu yang cukup untuk kami tahu mana yang benar dan mana yang salah. Nisa tahu, Ayah sudah berusaha menjaga kami semaksimal mungkin. Tolong jangan salahkan diri Ayah."

Pak Bambang melepas pelukan Nisa, menatap wajah putri sulungnya tersebut. "Maafkan Ayah. Maaf jika Ayah belum bisa menjadi orang tua yang baik buat kamu."

"Ayah sudah menjadi Ayah yang baik, Ayah yang bertanggung jawab."

"Nis," Pak Bambang meraih kedua tangan Nisa, menggenggamnya. "Apa kamu akan marah pada Ayah, jika Ayah merestui pernikahan Naina dan Sandi?"

Nisa menarik nafas dalam, matanya terpejam sesaat. Ini bukan sesuatu yang mudah, bukan sesuatu yang ia harapkan, tapi apa boleh buat, sepertinya takdir berjalan tak sesuai keinginannya. Ia menggeleng pelan. "Nisa gak marah."

"Maafkan Ayah, Nis." Pak Bambang memeluk erat putrinya.

1
Indriani Kartini
bagus nisa kamu cerdas dan yakin akan mendapat lebih dri yg di inginkan pa Yapto, semangat nisa
murni ali
Gooo nisaaa semangat 💪💪💪 emak" berdaster mendukung mu 😄ojan terus ada disamping nisa ya berdua berjuang bersama.....demi restu papa nya ojan 💪💪🙏🙏

Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
Opi Sofiyanti
asal pak Yapto jgn maen curang aja nanti....
Endah Puji Lestari
💪
Yeni Fitriani
jgn terlalu keras pak yapto takutnya nanti malu sendiri....

untungnya bu Dewi sdh sedikit lunak.... pdhl ni ya laki2 klo sdh . menikah dgn perempuan yg dia cintai maka akan cenderung manut sm si perempuan tsb.... nah disanalah pentingnya mendapatkan perempuan yg Akhlaknya baik bukan yg karirnya baik....karna klo anak2 laki2 dpt istri yg berakhlak baik maka dia akan bisa mendamaikan dan . menyenangkan hati kedua mertuanya menghindari cekcok dfn mertua..... Laah klo cm karir yg baik tp akhlak Nol besar hehe lihat sm panas membara nanti yg ada hubungan menantu dan mertuanya.
Ais
terima aja nis tantangan bapak tua ini sok merasa paling tau siapa pendamping anaknya untung qiana tipe perempuan yg tau diri dasar yapto knp ngak kamu aja to yg nikah sm qinan klo emang dia terbaik😄😄😄yapto yapto minta didik agama lagi neh orang menganggap harta bebet bibit bobot adalah value yg berharga pdhl ngak ada yg dibawa mati dasar songong si tua yapto🤣🤣
Alifia Husna
cinta sih cinta nis kmu direndahkan bgtu utk apa kyknya percuma kmu berjuang biasanya sekali org g suka apa2 semua y ttp g suka nis mslh restu ortu ojan biarin ojan berjuang sendri
Ayila
buset pak yapto ,, jahat amat pak
Oma Gavin
nisa tambah semangat belajarnya jgn sampai pak yapto merendahkan kamu lagi kamu sudah dpt poin lebih karena Ojan tetap kekeh maunya nikah sama kamu semoga ojan ngga ingkar janji
Sugiharti Rusli
semangat Nisa, memang ga ada yang salah kalo kamu baru mulai kiliah sekarang, toh selama masih ada kemauan dan kesempatan itu akan berguna nanti dengan atau tanpa restu ortu Ojan, yang penting restu kedua ortu kamu,,,
Sugiharti Rusli
dan semoga tantangan dari pak Yapto bukan bikin kamu terbebani, tapi kamu tunjukan kalo kamu sebenarnya memiliki kemampuan secara akdemik, hanya kesempatan belum ada buat kuliah dulu
Sugiharti Rusli
terkadang yang bikin kita ga berani bicara karena merasa terlalu merendahkan diri sendiri, padahal sejatinya punya kapasitas
Sugiharti Rusli
dari jawaban kamu kepada pak Yapto sebenarnya menunjukan kalo kamu memiliki kematangan mental,,,
Sugiharti Rusli
bagus Nis, selama mereka sesama manusia, tidak boleh merasa terintimidasi dengan status sosial,,,
Sugiharti Rusli
ah meski sedih dengan perlakuan pak Yapto, tapi ternyata meski di awal Nisa gemetaran dia bisa menjawab apa yang papa Ojan katakan,,,
Sugiharti Rusli
hadeh tegang euy, apalagi di situ ada si Qiana dan Nisa tahu dia yang mau dijodoh kan sama Ojan,,,
Sugiharti Rusli
tapi bapaknya sepertinya akan seperti apa reaksinya begitu si Ojan bilang Nisa hadir saat itu,,,
Sugiharti Rusli
mungkin bu Dewi masih bisa di posisi netral antara suami dan putranya sih di sini, meski sepertinya juga suka sama si Qiana
Sugiharti Rusli
karena sepertinya perlawanan keras Ojan masih ditentang oleh kedus ortunys, terutama ayahnya,,,
Sugiharti Rusli
Ojan yang akan menghadapi, kenapa kita yang jadi deg-deg an yah😷😷😷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!