NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:955
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau

Udara di dalam ruang kerja CEO Mahardika Tower terasa sepuluh derajat lebih dingin daripada biasanya. Meskipun pemanas ruangan diatur pada suhu ideal, Arkananta merasa seolah-olah embun es sedang merayap di sepanjang tulang belakangnya. Di hadapannya, tablet digital Kinanti menampilkan profil lengkap Pak Hariman, pria yang selama dua puluh tahun menjadi tangan kanan mendiang ayahnya, sekaligus mentor pribadi yang mengajari Arkan cara memegang kendali atas imperium bisnis Mahardika.

"Hariman," gumam Arkan, namanya terasa pahit di lidah. "Pria yang memberiku buku pertama tentang hukum korporasi saat aku berusia sepuluh tahun. Pria yang memelukku saat pemakaman ayah. Ternyata, dia adalah dalang yang menyiapkan panggung untuk kejatuhanku."

Kinanti berdiri di dekat jendela, memandang cakrawala Jakarta yang mulai redup diselimuti warna jingga senja. Ia tidak mengenakan blus putihnya lagi, melainkan setelan kerja hitam yang lebih praktis, dengan manset yang masih menutupi lebam di pergelangan tangannya. "Seringkali, musuh yang paling berbahaya adalah orang yang memegang kunci pintu gerbang kita, Pak. Hariman tidak hanya tahu tentang saham dan kontrak, dia tahu tentang Sumpah 1845. Dia tahu kelemahan Bapak."

Arkan memutar kursinya, menatap Kinanti dengan sorot mata yang tajam namun penuh dengan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. "Jika dia tahu tentang sumpah itu, mengapa dia menunggu sampai sekarang? Mengapa saat aku sedang berada di puncak kejayaan?"

"Karena dia butuh pemicu," jawab Kinanti, berbalik menatap Arkan. "Dia tidak bisa bergerak sendiri. Dia butuh Baskoro sebagai pengalih perhatian, dan dia butuh Faksi Selo untuk memecahkan kode silsilah kuno yang hanya bisa diakses oleh keturunan asli. Hariman adalah otak di balik logistik, tapi dia butuh elemen gaib untuk melumpuhkan Bapak sepenuhnya."

Arkan bangkit, berjalan mengelilingi meja kerjanya yang luas. "Dia ingin mengganti 'penjaga' yang tidak patuh dengan 'penjaga' yang bisa dia kendalikan. Hariman ingin memegang tali kekang Singa Mahardika."

Arkan berhenti di depan papan putih besar yang biasanya ia gunakan untuk menyusun strategi ekspansi pasar. Kali ini, papan itu penuh dengan bagan hubungan antara Hariman, Faksi Selo, dan beberapa pejabat tinggi yang terafiliasi dengan proyek infrastruktur di Cikarang.

"Bagus," suara Arkan terdengar tenang, namun di baliknya tersimpan guntur yang siap meledak. "Jika dia ingin bermain catur, kita akan berikan dia bidak yang dia inginkan. Tapi kita akan memastikan bahwa di setiap langkahnya, dia sedang berjalan menuju kotak skakmat yang kita rancang."

Keesokan paginya, suasana di ruang rapat utama Mahardika terasa berbeda. Pak Hariman duduk di sisi kanan Arkan, posisinya sebagai konsultan hukum senior memberikan hak istimewa untuk duduk di samping kursi kekuasaan. Pria berusia tujuh puluh tahun itu tampak sangat tenang, mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi dengan kacamata perak yang bertengger di pangkal hidungnya.

"Tuan Arkan," suara Hariman lembut, penuh wibawa yang menenangkan. "Mengenai insiden di Cikarang kemarin... apakah ada laporan resmi yang perlu kita sampaikan kepada dewan komisaris? Berita tentang penggerebekan gudang milik perusahaan pailit mulai terdengar simpang siur di telinga para pemegang saham."

Arkan menatap Hariman langsung ke matanya. Tidak ada kebencian yang terpancar di sana, hanya tatapan datar seorang pemimpin yang sedang mengamati bawahannya.

"Saya sudah mengurus semuanya, Pak Hariman," jawab Arkan dengan nada suara yang terkontrol sempurna. "Kami menemukan bahwa itu hanyalah aksi vandalisme oleh kelompok kriminal lokal yang tidak ada hubungannya dengan Mahardika Group. Kasusnya sudah ditutup oleh polisi."

Hariman mengangguk pelan, sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya—senyum yang bagi Kinanti, yang memperhatikan dari sudut ruangan, terlihat seperti seringai predator yang merasa mangsanya telah termakan tipu daya.

"Syukurlah," ujar Hariman. "Saya khawatir jika ada peretas yang mencoba masuk ke basis data server utama kita. Mengingat insiden Baskoro sebelumnya, kita tidak bisa terlalu berhati-hati."

"Justru karena itu," Arkan melanjutkan, suaranya naik sedikit, menarik perhatian seluruh anggota rapat yang hadir, "Saya telah memutuskan untuk mengalihkan seluruh protokol enkripsi server utama kita ke sistem Cold Storage terenkripsi yang baru. Dan proyek ini akan dipimpin langsung oleh Pak Hariman sebagai kepala penanggung jawab audit keamanan."

Mata Hariman sedikit melebar. Itu adalah umpan yang sangat besar. Protokol Cold Storage berarti semua dokumen rahasia, termasuk salinan Serat Jayaning Mahardika yang digital, akan dikumpulkan di satu titik yang sangat mudah untuk diakses oleh penanggung jawab audit.

"Sebuah kehormatan, Arkan," suara Hariman bergetar—bukan karena takut, melainkan karena antusiasme yang tertahan. "Saya akan memastikan data perusahaan tetap aman."

Kinanti mencatat setiap detik interaksi itu di tabletnya. Ia tahu apa yang direncanakan Arkan. Dengan memberikan Hariman akses ke "kunci" yang salah, Arkan sedang membiarkan Hariman melangkah masuk ke dalam jebakan tikus yang paling mematikan.

Setelah rapat selesai dan anggota direksi bubar, hanya tersisa Arkan, Kinanti, dan Hariman di ruangan tersebut. Hariman berdiri, merapikan jasnya, lalu menepuk bahu Arkan dengan gestur kebapakan yang terasa sangat palsu.

"Arkan, kamu telah tumbuh menjadi pemimpin yang luar biasa," kata Hariman. "Ayahmu akan sangat bangga melihat bagaimana kamu mempertahankan warisan ini."

"Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik, Pak Hariman," jawab Arkan dengan nada datar. "Saya tidak bisa melakukannya tanpa bimbingan orang-orang yang saya percaya."

Hariman tersenyum, mengangguk, lalu berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah mantap. Saat pintu ruangan menutup, Arkan menghela napas panjang, melemparkan pulpen mahalnya ke atas meja.

"Dia pikir dia baru saja memenangkan lotre," gumam Arkan.

Kinanti melangkah mendekat, mematikan rekaman suara rapat yang tadi disembunyikan di bawah meja. "Dia tidak tahu bahwa sistem Cold Storage yang Bapak tawarkan itu sebenarnya adalah sistem honeypot. Begitu dia mencoba menyalin data apa pun ke dalam server pribadinya, sistem kita akan melacak setiap paket data yang keluar, termasuk lokasi fisik dia berada."

Arkan menoleh ke arah Kinanti. Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya melunak. "Aku benci kenyataan bahwa aku harus menjebak orang yang pernah kupanggil 'Paman'. Bagaimana rasanya, Kinanti? Menipu seseorang yang kita percayai?"

Kinanti menatap Arkan, lalu secara spontan ia meraih tangan Arkan yang masih berada di atas meja. Jemarinya yang hangat memberikan kenyamanan yang tak terduga. "Bapak tidak menipu dia, Pak. Bapak sedang melindungi Mahardika. Pengkhianatan adalah pilihannya, bukan Bapak. Jangan biarkan hati nurani Bapak menghalangi Bapak untuk menjadi singa yang sesungguhnya."

Arkan memandang tangan mereka yang bertaut—tangan seorang CEO yang tangguh dan tangan seorang sekretaris yang kini telah menjadi pelindung takdirnya.

"Kau benar," Arkan menggenggam tangan Kinanti erat. "Malam ini, kita akan mulai mengawasi setiap gerak-gerik Hariman. Dan jika dia benar-benar mencoba mencuri data itu... kita akan memastikan dia tidak akan pernah bisa keluar dari gedung ini dengan tangan kosong."

Di luar jendela, langit Jakarta mulai menggelap, seolah mencerminkan badai besar yang akan segera datang. Namun di dalam ruang itu, di antara tumpukan dokumen dan ambisi, ada sebuah ikatan yang mulai menguat, sebuah aliansi yang tidak hanya dibangun di atas kontrak kerja, tapi di atas kepercayaan yang teruji dalam api pengkhianatan.

"Satu hal lagi, Pak," bisik Kinanti. "Tanda di tangan saya... dia berdenyut kencang saat Pak Hariman tadi menepuk bahu Bapak. Ada sisa energi gelap yang menempel di baju Bapak."

Arkan melonggarkan dasinya, wajahnya mengeras kembali. "Sisa energi? Artinya, dia sendiri yang meracuni sumpah itu secara langsung saat dia menyentuhku."

"Benar," kata Kinanti. "Dia tidak lagi hanya menggunakan orang lain. Hariman sendiri sudah menjadi penyalur energi kutukan itu."

Arkan menatap cermin di sudut ruangan. Bayangan dirinya di cermin tampak samar, seolah-olah kutukan itu sedang merayap di bawah permukaan kulitnya, mencoba mencari jalan keluar.

"Kalau begitu," kata Arkan dengan nada dingin yang absolut, "permainan catur ini baru saja menjadi permainan bertahan hidup. Kita harus mempercepat jadwal Cold Storage tersebut. Aku ingin dia masuk ke dalam perangkap itu sebelum dia sempat meracuni seluruh sistem sarafku."

Kinanti mengangguk, jarinya menari cepat di atas tablet. "Siap, Pak. Saya akan menyiapkan semuanya."

Dan di tengah kemewahan lantai tiga puluh dua, rencana yang akan menentukan nasib keluarga Mahardika pun mulai dijalankan, tanpa disadari oleh Hariman bahwa di balik setiap dokumen yang ia incar, sebuah jerat maut telah menanti.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!