NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERPEGANG PADA TALI YANG RAPUH

Maira menjalani sisa masa remajanya dengan bergantung sepenuhnya pada Rayn. Ketika takdir merebut paksa seluruh cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang paling ia sayangi—mulai dari kepergian sang ayah, pengkhianatan ibunya, hingga wafatnya sang nenek—Maira merasa dunia ini begitu kejam. Namun, saat Rayn hadir dan menetap di sisinya, Maira merasa kali ini Tuhan mungkin sedang sedikit berbaik hati padanya. Rayn adalah satu-satunya pelarian, satu-satunya alasan mengapa ia masih bernapas.

Namun, ketergantungan yang terlalu dalam itu malah semakin memberikan kesenangan tabu pada hidup Maira. Jiwanya yang rapuh tidak menyadari bahwa ada harga mahal yang harus ia bayar. Setiap kali Maira mendapatkan secercah cinta, pelukan hangat, dan perhatian dari Rayn, ia merasa seperti harus membayar semua afeksi itu. Entah dengan menyerahkan tubuhnya, atau dengan menuruti apa saja hal liar yang Rayn minta. Maira menjadi buta, mengorbankan kehormatan diri demi sebuah rasa kepemilikan yang semu.

Begitu pula dengan Naomi. Sahabat perempuan yang selama ini ia agungkan bak support system utama dalam hidupnya, ternyata tak lebih dari sebuah belati yang berselimut kain sutra. Masuknya Naomi ke dalam lingkaran kehidupan Maira dan Rayn hanyalah sebuah alibi kelam agar ia bisa selalu dekat dengan Rayn—pria yang sebenarnya sudah lama Naomi cintai dalam diam.

Bagi Naomi, kehadiran Maira di hidup Rayn adalah sekat tebal yang menghalangi ambisinya. Mau tidak mau, Naomi harus menurunkan egonya, berpura-pura memakai topeng sebagai sosok sahabat yang paling pengertian untuk Maira. Semua itu ia lakukan demi sebuah rencana panjang: agar bisa selalu berada di dekat Rayn, mencari celah, dan merebut pria itu sepenuhnya suatu saat nanti. Dan malam ini, di dalam club itu, Naomi berhasil mewujudkan niat busuknya.

Hubungan asmara yang telah dibina selama lima tahun ternyata sama sekali tidak ada apa-apanya bagi Rayn. Pria itu dengan begitu mudah berpaling. Tepat hari ini, di waktu yang bersamaan ketika ibu kandung Maira datang membawa dan membuka kembali luka lama masa kecilnya, Rayn dan Naomi justru bersekongkol menghujamkan luka baru yang paling mematikan tepat di jantung Maira.

Kini, cukup sudah. Penderitaan bagi Maira rasanya sudah melewati batas kemampuan manusianya. Ia merasa benar-benar tidak ada gunanya lagi melanjutkan hidup di dunia yang teramat kejam dan tidak pernah berpihak padanya ini. Semua orang membuangnya. Semua orang mengkhianatinya.

Dengan pakaian gaun malam yang masih basah kuyup akibat pengaruh malam yang dingin, Maira melangkah keluar dari rumah peninggalan neneknya. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan pandangan yang kosong. Air matanya seakan sudah habis, menyisakan rasa perih yang teramat sangat di kedua pelupuk matanya. Ia berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti. Langkah kakinya yang gontai membimbingnya menyusuri jalanan kota yang kian senyap. Atau mungkin, sebenarnya tujuannya sudah terkunci di dalam kepala: mengakhiri hidupnya malam ini.

Langkah kaki Maira terhenti tepat di sebuah jembatan besar yang melintasi sungai arus deras kota. Keadaan sekitar sangat sepi. Ia melangkah mendekati pembatas, menatap ke arah kiri jembatan yang diselimuti kegelapan pekat. Di bawah jembatan itu, suara gemuruh air dari sebuah sungai besar terdengar samar namun mengerikan. Terlintas dengan sangat jelas di benaknya, melompat ke dalam sana adalah satu-satunya jalan pintas untuk menghentikan seluruh kebisingan dan rasa sakit di dadanya.

Namun, beberapa detik sebelum tubuhnya melompat, dadanya bergejolak hebat. Ia mencengkeram besi pembatas jembatan lalu berteriak histeris membelah sunyinya malam.

“Tuhaan... Kenapa harus guee?!” jeritnya parau, suaranya pecah bersaing dengan angin malam. “Gue capek... Gue capek!”

Tepat saat kedua kakinya mulai menaiki pagar besi jembatan, bersiap menjatuhkan diri, sebuah suara bariton yang cukup keras dan tenang tiba-tiba terdengar dari arah belakang, sukses menghentikan pijakan kaki Maira.

“Mbak, sholat dulu bentar. Nanti dilanjut loncatnya habis sholat. Pasti jam segini Mbak belum sholat Isya, kan?”

Maira tersentak. Ia menolehkan kepalanya yang terasa berat ke arah sumber suara. Di sana, berdiri seorang pemuda berpenampilan rapi dengan jaket tebal yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—tidak ada tatapan menghakimi di matanya.

Laki-laki itu melangkah mendekat, menghampiri Maira yang masih berdiri di atas pagar jembatan dengan posisi yang berbahaya.

“Sini Mbak, turun dulu. Pegangan sama jaket saya, tapi jangan pegang kulit tangan saya ya, hehe,” ucap pemuda itu dengan nada yang sedikit santai, mencoba mencairkan ketegangan dramatis di tempat itu.

Maira mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Di tengah keputusasaannya, ia merasa terganggu. “Siapapun Lu, jangan ikut campur urusan gue!” sentak Maira dengan suara serak.

“Ya saya bukan siapa-siapa, Mbak. Saya cuman seorang muslim yang sedang mengajak muslim lainnya untuk beribadah,” jawab lelaki itu tenang, wajahnya tetap teduh. “Lagian ya Mbak, di bawah sana itu gelap banget. Nanti aja agak pagian loncatnya, biar begitu Mbak jatuh, langsung kelihatan dan ada orang yang nemuin jenazah Mbak.”

“Sialan Lu!” umpat Maira berang.

Namun, entah mengapa, setelah mendengar ucapan lelaki asing itu, Maira justru mendadak didera rasa takut yang tipis. Ia menurunkan pandangannya, kembali menatap ke bawah jembatan yang hitam pekat, gulita tanpa ujung. Bulu kuduknya meremang. Maira menelan air liurnya dengan susah payah. Keberaniannya untuk mati mendadak goyah.

“Nah, kan... serem kan, Mbak? Yaudah, ayok turun dulu. Kita ke masjid dekat sini,” ucap lelaki itu, melihat keraguan di mata Maira. “Pegangan ke jaket saya.”

Maira yang tubuhnya mulai lemas akhirnya menyerah. Ia mengulurkan tangannya, berpegang kuat pada lengan kokoh pria itu yang berbalut kain jaket tebal, memastikan tidak ada sentuhan kulit di antara mereka yang bukan mahram.

Begitu kedua kaki Maira kembali menapak di atas beton jembatan, lelaki itu dengan cekatan langsung melepas jaket tebalnya. Tanpa banyak bicara, ia menyampirkan jaket itu ke pundak Maira, menutup tubuh gadis itu yang terbuka akibat gaun malamnya yang minim dan basah. Rasa hangat langsung menjalar di tubuh Maira.

“Ayo Mbak, kita jalan kaki aja. Motor saya biar saya dorong. Soalnya kalau kita boncengan, saya takut nanti jadi fitnah,” ucap lelaki itu seraya menuntun motor matic-nya yang semula diparkir di tepi jembatan.

Maira menatapnya sinis. “Yaudah, Lu pergi aja sana! Lu gak mau kan ada fitnah kalau jalan sama cewek nakal kayak gue?” ketus Maira, mengasihani dirinya sendiri.

Lelaki itu tersenyum tipis sembari terus mendorong motornya di samping Maira. “Ya kan jalannya jauhan, Mbak. Udah malam begini, sepi. Saya takut nanti ada orang jahat yang macam-macam sama Mbak kalau jalan sendirian.”

Maira menyipitkan mata, menatap profil samping wajah lelaki itu dengan penuh selidik. “Emang Lu bisa dipercaya?”

“InsyaAllah bisa, Mbak,” jawabnya mantap.

Mereka pun akhirnya berjalan kaki bersama membelah keheningan malam. Tidak ada obrolan di antara mereka; hanya suara deru roda motor yang didorong dan langkah kaki yang saling bersahutan. Begitu langkah mereka tiba di depan sebuah masjid berarsitektur indah, langkah kaki Maira mendadak tertahan di gerbang.

Maira mendadak dilingkupi rasa minder yang teramat besar. Ia melihat ke arah penampilannya sendiri. Ia merasa kotor, bernoda, dan sama sekali tidak pantas untuk menginjakkan kaki ke dalam rumah ibadah, apalagi dengan pakaian terbuka yang tersembunyi di balik jaket ini.

Setelah memarkirkan motornya dengan rapi di halaman, lelaki itu berbalik dan mendapati Maira yang mematung. “Loh, Mbak, kenapa malah diam di situ? Gak bisa wudhu? Tenang, nanti saya ajarin deh. Kalo sholatnya juga lupa atau gak bisa, ikutin saya aja di depan, saya jadi imamnya.”

Maira mendongak, matanya berkaca-kaca menatap kubah masjid yang megah. “Apa... apa cewek kayak gue pantes dateng ke sini?” bisik Maira, suaranya bergetar menahan tangis yang kembali membuncah.

Lelaki itu menghentikan langkahnya, menatap Maira dengan pandangan yang teramat teduh dan menyejukkan. “Siapa yang bilang gak pantes, Mbak? Tuhan sendiri kok yang nyuruh kita datang. Setiap kali Mbak kehilangan arah, atau sedang berada di titik paling lemah, Tuhan selalu menunggu Mbak. Menunggu cerita Mbak, menunggu keluh kesah Mbak... ya, caranya dengan sholat.”

Kalimat itu seperti meruntuhkan sebongkah batu besar yang menyumbat dada Maira. Dengan langkah yang gemetar, ia akhirnya melangkah masuk menuju tempat wudhu wanita. Ia membasuh wajah dan anggota tubuhnya dengan air yang dingin, seolah air itu sedang menyucikan jiwanya yang penuh debu hitam.

Maira mengenakan mukena putih bersih yang disediakan di fasilitas masjid. Malam itu, di dalam ruang utama masjid yang sunyi, ia melaksanakan sholat Isya yang telah lama ia tinggalkan. Gerakan demi gerakan ia lalui dengan tubuh yang bergetar. Dan tepat saat dahinya menyentuh sajadah dalam posisi sujud, pertahanan batin Maira runtuh total.

Setelah salam terakhir diucapkan, pikiran Maira mendadak menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Namun, di saat yang sama, dadanya sesak oleh rasa bersalah yang teramat luar biasa. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah berjalan terlampau jauh dari agama. Terakhir kali ia bersujud di atas sajadah adalah waktu neneknya masih hidup.

Maira teringat kembali akan selembar surat tulis tangan dari neneknya yang tersimpan di rumah; pesan terakhir yang meminta dirinya untuk tidak pernah meninggalkan sholat. Di bawah cahaya temaram masjid pada jam dua malam yang sunyi itu, Maira menangis sejadi-jadinya. Isak tangisnya menggema pilu di ruangan yang kosong. Ia meremas mukena yang melekat menutupi tubuhnya, memohon ampun atas segala kelalaian dan jalan sesat yang sempat ia tempuh demi mencari cinta semu makhluk.

Maira tidak mampu berkata-kata lagi di hadapan Tuhannya. Ia hanya bisa menangis dan menangis, menumpahkan seluruh rasa sakit akibat pengkhianatan Rayn, Naomi, dan ibunya ke atas hamparan karpet masjid.

Di sudut belakang ruangan, dekat pintu keluar, lelaki asing itu berdiri tegak. Ia menatap dalam-dalam ke arah punggung Maira yang terguncang hebat karena tangis. Sebuah senyuman lega terukir di wajah teduhnya melihat bagaimana wanita yang beberapa jam lalu hampir kehilangan nyawa karena putus asa, kini justru sedang menangis pasrah di hadapan Tuhannya.

Perlahan, lelaki itu membalikkan badan dan melangkah keluar ke area teras masjid, membiarkan Maira tenggelam dalam tangis sepuasnya agar jiwanya yang terluka bisa menjadi lebih tenang dan damai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!