NovelToon NovelToon
Balas Dendam Putri Terbuang

Balas Dendam Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Marwiyah Ningsih

seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perselisihan

"Katakan sekali lagi." Ucap Hana pelan. Suaranya rendah, tapi setiap kata menusuk seperti jarum es.

Garam menelan ludah. "A-aku hanya memberi saran, Nona..."

"Jangan berani menyentuh namaku dengan rencana pengecut mu." Potong Hana. Ia melangkah mendekat ke meja. "Jika kau takut mati, Jenderal Garam, pulang saja ke rumahmu. Peluk cucumu. Sanata tidak butuh pengecut yang menjual pahlawannya demi ketenangan sesaat."

Garam memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Hana.

Kaisar menepuk meja dengan keras. "Cukup! Kita tidak akan menyerahkan siapa pun. Sanata berdiri di atas kehormatan. Jika kita menyerahkan Hana hari ini, besok siapa lagi yang akan kita jual?"

Semua orang mengangguk. Bahkan Wira ikut menunduk hormat.

Hana menatap peta lagi. Jarinya menunjuk titik merah di selatan. "Aku akan ke perbatasan selatan. Sendiri jika perlu. Aku akan menghentikan mereka sebelum mereka menginjakkan kaki di tanah Sanata."

"Tidak!" Bantah Dominic cepat. Ia menoleh ke Hana. "Terlalu berbahaya, Nona Hana. Lima ribu lawan satu. Kau butuh pasukan. Kau butuh aku."

"Aku tidak butuh pasukan." Jawab Hana tanpa menoleh. "Aku butuh hasil."

Dominic mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. `Dia gila. Atau dia memang sekuat itu. Tapi aku tidak akan membiarkannya mati sendirian.`

Kaisar menghela napas panjang. Ia menatap Hana, lalu Dominic. "Baik. Kau boleh pergi, Nona Hana. Tapi ini perintahku: Bawa Dominic dan seratus prajurit terbaik. Itu bukan permintaan. Itu perintah Raja."

Hana menatap Kaisar lama. Ia bisa melihat kekhawatiran di balik perintah itu. Lalu ia mengangguk sekali. "Dimengerti, Yang Mulia."

_*_

Tengah malam.

Hana kembali ke kamar tamunya untuk mengambil pedangnya dan beberapa perlengkapan. Kamar itu luas, tapi terasa dingin.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

"Masuk."

Pintu terbuka. Alexander masuk. Wajahnya cemas. Jubah emasnya ia kenakan seadanya, seolah ia berlari dari kamarnya.

"Hana." Ucapnya.

Hana menoleh dari cermin. Ia sedang mengikat rambutnya tinggi. "Putra Mahkota."

"Jangan pergi." Ucap Alexander langsung. Tanpa basa-basi. "Lima ribu pasukan... itu bukan jumlah kecil, Hana. Kau bisa mati di sana. Kau bisa tidak kembali."

Hana mengikat simpul terakhir di rambutnya. "Semua orang bisa mati, Pangeran. Prajurit. Raja. Bahkan Putra Mahkota."

"Aku tidak mau kau mati." Suara Alexander bergetar. Ia melangkah mendekat. "Aku... aku menyukaimu, Hana. Kau tahu itu. Aku tidak bisa membayangkan istana ini tanpa kau."

Hana berhenti. Ia menatap Alexander lewat cermin. Tatapannya datar. Tidak ada belas kasihan, tapi juga tidak ada kebencian.

"Aku sudah bilang sebelumnya, Pangeran." Ucapnya pelan. "Aku tidak menyukaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai Pangeran Kerajaan Sanata. Tidak lebih dari itu."

Alexander menunduk. Dadanya sesak lagi, seperti kemarin di perjamuan. "Kenapa?" Tanyanya pelan. "Kenapa kau tidak bisa memberiku satu kesempatan saja, Hana?"

Hana berbalik menghadapnya. "Karena aku tidak punya waktu untuk cinta, Pangeran. Tanganku berlumuran darah. Musuhku ada di depan, bukan di belakang. Cinta hanya akan membuatku ragu. Dan keraguan di medan perang berarti kematian."

Alexander menggeleng. Air mata hampir jatuh. "Cinta tidak membuat lemah, Hana. Cinta membuat orang ingin pulang. Membuat orang ingin hidup."

Hana terdiam.

`Dia naif.` Batin Hana. `Tapi aku iri pada orang yang bisa berpikir seperti itu. Aku iri pada orang yang masih percaya rumah itu tempat yang aman.`

"Aku harus pergi." Ucap Hana akhirnya. Ia mengambil pedangnya.

Alexander mundur selangkah. "Hati-hati." Bisiknya.

Hana keluar tanpa menoleh. Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Alexander berdiri lama di kamar kosong itu. Tangannya mengepal. `Kembalilah, Hana. Aku mohon.`

_*_

Di halaman istana, seratus prajurit sudah bersiap. Obor menyala. Kuda-kuda menghembuskan asap putih di udara dingin malam.

Dominic menunggang kudanya di depan. Zirahnya lengkap. Wajahnya serius.

Ia melihat Hana keluar dari pintu istana.

Hana menaiki kudanya tanpa bantuan siapa pun. Gerakannya cepat dan lincah.

"Kita berangkat." Ucapnya. Suaranya memotong malam.

Rombongan bergerak meninggalkan istana. Derap kaki kuda terdengar berat di jalan batu.

Bima berlari dari dalam istana. "Hana! Tunggu!"

Hana menarik kendali kudanya dan menoleh.

Bima terengah-engah. Ia tidak memakai jubah tebal, hanya baju dalam. "Ayah... hanya ingin bilang. Hati-hati, Nak. Pulanglah dengan selamat."

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Hana melunak sedikit. Es di matanya retak sedikit.

"Aku akan kembali, Ayah." Ucapnya.

Bima mengangguk. Matanya berkaca, tapi ia menahannya. "Ayah percaya padamu."

Hana memutar kudanya dan pergi.

_*_

Perjalanan ke selatan memakan waktu dua hari dua malam.

Sepanjang jalan, Hana tidak banyak bicara. Dominic di sampingnya juga diam. Namun udara di antara mereka tidak canggung. Ada pengertian yang tumbuh tanpa kata.

Malam kedua, mereka berkemah di tepi hutan.

Api unggun menyala. Kayu berderak.

Dominic duduk di seberang Hana. "Kau takut?" Tanyanya tiba-tiba.

Hana menatap api. "Tidak."

"Berbohong."

Hana menoleh. Alisnya terangkat. "Apa?"

"Kau takut." Kata Dominic pelan. Matanya menatap mata Hana. "Bukan takut mati. Tapi takut gagal melindungi orang yang kau sayang. Takut gagal melindungi Ayahmu. Takut gagal melindungi Sanata."

Hana terdiam. Ia tidak menyangkal.

Dominic melanjutkan. "Aku melihatnya di matamu"

Hana tidak menjawab. Ia melempar satu potong kayu ke dalam api. Percikan api naik.

Dominic tersenyum kecil. "Tidak apa-apa takut, Hana. Itu artinya kau masih manusia. Bukan pedang tanpa jiwa."

Hana menatapnya lama.

`Dia... melihatku.` Batinnya. `Bukan Nona Hana sang pembantai yang dipuja rakyat. Tapi Hana. Wanita yang lelah. Wanita yang takut kehilangan.`

"Aku tidak butuh belas kasihan." Ucap Hana dingin.hana terlalu gengsi dihadapan Dominic.

"Aku tidak memberimu belas kasihan." Jawab Dominic. "Aku memberimu pengakuan. Bahwa kau boleh lelah."

Hana tidak membalas. Ia hanya berbaring di atas mantelnya dan memejamkan mata.

Dominic tetap terjaga. Ia duduk dengan tombaknya di pangkuan. Menjaga. Sepanjang malam.

_*_

Fajar hari ketiga.

Kabut tebal menyelimuti Lembah Kabut.

Mereka tiba di perbatasan selatan.

Dari atas bukit kecil, Hana melihat ke bawah. Di seberang lembah... bendera merah Kerajaan Barat berkibar. Lima ribu pasukan berbaris rapi seperti semut. Tombak mereka berkilau di bawah matahari pagi.

Hana menghentikan kudanya.

Dominic di sampingnya menelan ludah. "Mereka banyak sekali, apa kita akan menang ,Nona Hana."

Hana mengangguk. "Kita memang sedikit.,dan itu sangat mustahil kita bisa mengalahkan mereka semua"

"Lalu apa rencanamu?"

Hana mencabut pedangnya perlahan. Cahaya matahari memantul di bilahnya. "Membunuh sebanyak mungkin sebelum mereka menyentuh satu jengkal tanah Sanata."

Dominic menarik napas dalam. Ia juga mencabut tombaknya. "Maka aku di belakangmu."

Hana menoleh ke seratus prajurit di belakangnya. Wajah mereka tegang, tapi tidak mundur.

"Prajurit Sanata!" Teriak Hana. Suaranya menggema di seluruh lembah. "Hari ini kita tidak bertarung untuk pujian! Kita bertarung untuk rumah kita! Untuk keluarga kita! Maju!"

"MAJU!" Seru seratus prajurit serentak. Suara mereka mengguncang kabut.

Dan perang pun dimulai.

_**

Di istana, Kaisar menerima kabar burung dari merpati pos.

"Nona Hana telah tiba di Lembah Kabut. Pasukan Barat sudah melihatnya. Pertempuran akan segera dimulai."

Kaisar menutup mata. Ia meletakkan tangannya di dada. "Semoga para dewa melindunginya. Semoga Sanata tidak kehilangan pedangnya."

Alexander mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. `Hana... hiduplah. Tolong, kembali lah dengan selamat.`

Di sudut istana, Bima berdoa dengan gelisah. Ia tidak bisa duduk. Ia berjalan mondar-mandir.

Dan di Lembah Kabut... Hana mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke langit.

"Untuk Sanata!"

"UNTUK SANATA!"

Pertempuran dimulai.

1
Adelina Lin
kapan up lagi thor, seru ceritanya
Rubiyata Gimba
kenapa pindik sangat belum puas rasanya
Rubiyata Gimba
knapa tidak bom saja kan cpat slasai di sistemnya kan ada berbagai senjata tingal minta saja
Faitun Puji Astuti
enak dibaca, Dan menghanyutkan, seolah menjadi warga kerajaan Sanata
Osie
naah cocok nih hana n dominic.. jauhkan para pebinor n pelakor dr hidup mereka berdua💪💪💪
Osie
hana gitu lho💪💪💪💪💪
Caty Chanel
waaaah makin seru aja cerita nya Thor. semangat teruss ya kk. makasih sudah crazy up 💪🙏
Atalia
kasian hana 😭
Caty Chanel
terimakasih sudah crazy upp Thor 💪 semangat trus 💪
Maudy: terimakasih kembali kak 😍🙏
total 1 replies
Sekar
lanjut thor💪💪😍😍
Dinda
mantap kak
Dinda
puas bangat😍
Dinda
kejam,,dunia kejam bagi orang miskin.
Dinda
kasihan Hana semoga saja semua orang yang menyakiti nya, mendapatkan balasan yang setimpal !
Dinda
Hana balas Mereke semua
Dinda
jahat bangat keluarga nya
Osie
prajurit songong..jenderalnya pun songong..dikasih bantuan makanan bukannya terimakasih tapi malah bikin rusuh..sombong amir..aku doain deh moga author bikin tuh jenderal bucin akut sama hana dan ditolak sama hana..biar tau rasa dia
Osie
kesalahan 18thn lalu kenapa tdk dikuak biar ketahuan siapa penjahat sebenarnya
Osie
hana miris bgt hidupmu
Osie
baru baca udah es mosi aja aku ma tuh keluarga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!