NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

Malam harinya di rumah kapten Hugo.

Suasana di dalam ruang tengah itu terasa begitu sepi dan tenang setelah seharian penuh dengan kepanikan karena Nero.

Ibu Hugo, Nyonya Malinda yang sudah tua berjalan pelan menghampiri putranya. "Nero sudah tidur?" Tanya beliau melihat bocah itu tidur di pangkuan ayahnya. Pria itu masih duduk di kursi rodanya, membiarkan tubuh kecil putranya bersandar nyaman di sana.

"Ya, ibu," jawab Hugo dengan suara yang sangat pelan agar tidak mengejutkan sang anak.

Nyonya Malinda duduk di samping Hugo. Mengelus cucunya pelan dengan tangan yang sudah mulai keriput. Tatapan matanya penuh dengan rasa sayang sekaligus kesedihan yang mendalam saat melihat pertumbuhan anak-anak putranya. "Mereka masih kecil. Indira terlalu cepat menghadap Tuhan."

Hugo diam. Ada getir di sudut hatinya. Setiap kali nama mendiang istrinya disebut, ada rasa hampa yang kembali muncul, mengingatkannya pada kehilangan besar yang sampai sekarang belum sepenuhnya bisa dia ikhlaskan.

"Sudah waktunya kamu mendapatkan istri, Hugo," ujar nyonya Malinda lagi. Langsung pada inti masalah yang selama ini selalu dihindari oleh putranya.

"Aku belum siap," tolak Hugo singkat. Kepalanya menunduk menatap wajah pulas Nero di pangkuannya.

"Mereka butuh ada orang yang mengasuh," desak Nyonya Malinda mencoba memberikan pengertian dari sudut pandang masa depan anak-anak.

"Ada ibu, ada bibi," sahut Hugo. Masih mencoba bertahan pada pembelaannya selama ini agar tidak perlu membuka hati untuk wanita lain.

"Ibu dan bibi itu hanya menemani. Ibu juga sudah tua," ujar beliau mematahkan alasan Hugo.

Wanita tua itu menghela napas berat, mempertegas kenyataan bahwa keterbatasan fisiknya di usia senja tidak akan mampu lagi mendidik dan mengawasi perkembangan anak-anak Hugo yang semakin aktif.

Menatap lurus pada manik mata putranya. Mempertegas maksud ucapannya dengan nada yang lebih dalam. "Menemani tidak sama dengan mengasuh, Hugo. Mengasuh itu mendidik juga."

Beliau menekankan kata mendidik karena tahu bahwa anak-anak Hugo membutuhkan figur seorang ibu yang bisa membentuk karakter dan mendampingi tumbuh kembang mereka secara utuh, bukan sekadar menjaga agar mereka tidak menangis.

Hugo terpaku mendengarnya. Perkataan ibu benar-benar menghantam logikanya sebagai seorang ayah sekaligus pemimpin.

Pria ini memalingkan wajahnya sekilas. Merasakan beban berat yang menghimpit dadanya sebelum akhirnya menyuarakan isi hatinya dengan jujur.

"Aku belum siap, ibu. Aku mencintai Indira."

Ibunya tidak terkejut mendengar pengakuan itu. Beliau mengusap bahu kokoh putranya dengan lembut, mencoba menyalurkan pengertian tanpa ada niat untuk mendesak secara egois.

"Ibu tidak melarang mu mencintai Indira, tapi perhatikan anak-anak. Mereka butuh figur ibu," ujar wanita tua itu dengan nada tenang namun penuh penekanan pada realitas yang sedang mereka hadapi.

Beliau ingin Hugo paham bahwa menyimpan cinta untuk mendiang istrinya adalah hal yang sah, tetapi mengabaikan kebutuhan tumbuh kembang anak-anak yang kehilangan arah adalah sebuah kekeliruan.

Hugo diam. Pria itu tidak mampu lagi membantah kalimat ibunya. Logikanya sebagai orang militer yang biasanya cepat mengambil keputusan kini mendadak buntu. Menyadari bahwa apa yang dikatakan ibunya adalah kebenaran mutlak yang selama ini berusaha dia pungkiri. Namun dia sulit melakukannya.

"Jika hanya mengandalkan pengasuh, akan banyak korban lagi," kata ibu.

Ibu Hugo bisa bicara begini karena Hugo sudah mengganti beberapa pengasuh karena tidak tahan pada Nero. Kenakalan dan sikap rewel Nero yang ekstrem selama ini selalu berhasil membuat para pekerja itu menyerah dan angkat kaki dari rumah dalam waktu singkat.

Mendengar penuturan ibunya yang begitu gamblang, sekelebat sosok Asia lewat dalam benaknya. Bagaimana wanita muda itu mampu mengimbangi Nero.

Mengingat kembali momen di gerai makan beberapa jam lalu, di mana Nero yang biasanya melempar barang dan menjerit histeris justru bisa duduk tenang. Pun patuh bahkan rela memberikan mainan kesayangannya demi wanita asing tersebut.

Meskipun ada debat yang orang anggap tidak sopan, wanita muda itu tidak goyah. Dia tetap tenang menghadapi Nero.

Namun, ego dan kesetiaannya pada mendiang Indira langsung menolak pemikiran itu. Kepala Hugo menggeleng. Pria itu mengusir jauh-jauh bayangan wajah Asia dari kepalanya. Merasa tidak masuk akal jika dia harus melibatkan wanita yang baru beberapa jam lalu dia kenal ke dalam urusan rumah tangganya yang rumit.

"Ibu hanya mengingatkan," lirih wanita tua itu, menutup pembicaraan serius mereka malam itu dengan nada penuh harap.

Ibu menyentuh punggung tangan putranya, memberikan remasan lembut.

"Aku akan minta Udin mengangkat Nero ke kamarnya," kata Ibu karena sepertinya Nero sudah terlalu lama tidur di pangkuan Hugo.

"Ya, Bu."

***

Esok hari di kantor kodim. Hugo duduk di atas kursi rodanya di balik meja kerja, fokus memeriksa tumpukan berkas laporan intelijen wilayah dan peta kerawanan daerah yang baru diserahkan stafnya tadi pagi. Tangannya bergerak tegas menandatangani beberapa dokumen penting, mencoba mengalihkan pikirannya yang terusik sejak semalam.

Ketukan di pintu memecah konsentrasi Hugo. Pintu terbuka, lalu Gilang muncul dengan seragam lengkap. Pria itu melangkah masuk setelah memberikan hormat formal secara militer. Kemudian menutup pintu rapat-rapat agar pembicaraan mereka tidak terdengar keluar.

"Gimana Nero semalam? Apa rewel lagi?" tanya Gilang membuka obrolan, mengingat bagaimana hebohnya bocah itu kemarin seharian.

Sersan Gilang ini sahabat Hugo. Jadi kadang kala mereka bicara kasual jika sedang berdua saja di dalam ruangan kerja tanpa ada anggota lain.

"Tidak. Dia cepat tidur," jawab Hugo singkat. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah jendela kantor yang menampilkan lapangan upacara Kodim.

Gilang mengangguk. Dia melangkah mendekat, lalu memperhatikan gurat-gurat halus di wajah atasannya yang tampak kurang istirahat. "Kamu terlihat lelah."

"Ini bukan karena Nero," sahut Hugo datar, menyangkal kalau anak lak-lakinya yang menjadi penyebab beban pikirannya pagi ini.

"Paa ada masalah?" Gilang menaikkan sebelah alisnya. Penasaran dengan hal lain yang bisa membuat seorang Kapten militer yang tangguh seperti Hugo tampak terganggu.

Hugo menghela napas. Dia memijat pangkal hidungnya pelan sebelum akhirnya menyebutkan satu nama yang paling dia hormati. "Ibu."

"Ada apa? Apa beliau sakit?" tanya Gilang cepat dengan nada khawatir. Karena dia tahu betul bagaimana Hugo sangat menyayangi ibunya yang sudah sepuh.

"Tidak. Ibu memintaku menikah," ujar Hugo berterus terang.

Gilang diam. Dia paham soal ini sewaktu lalu. Bukan hal baru lagi ibunda kapten Hugo meminta putranya untuk menikah. Sebagai orang yang selalu berada di sisi Hugo, Gilang sudah sering mendengar keluhan yang sama. Mengingat anak-anak Hugo memang butuh perhatian penuh dan kondisi fisik sang ibu yang sudah semakin menurun untuk mengurus cucu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!