NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:67.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Malam Pengkhianatan

Malam itu, lima orang yang menjadi sales kredit pakaian Vira datang untuk mengambil barang dagangan.

Satu per satu mereka menerima pakaian yang akan dijual esok hari, lalu berpamitan.

Namun, malam itu Arvin tidak datang.

Setelah kelima sales itu pulang, Vira kembali duduk di ruang tengah. Ia membuka buku pembukuan, mencatat stok barang yang keluar, dan barang yang dibeli tunai. Sedangkan pemasukan kredit belum ada karena usaha itu baru dimulai.

Sekitar setengah jam kemudian, ia menutup buku tersebut sambil mengembuskan napas lega.

"Yanti," panggilnya.

"Iya, Ra." Yanti segera menghampiri.

Vira menatap sepupunya beberapa saat sebelum berkata, "Besok kamu, Daril, dan Bu Mirna akan menyampaikan klarifikasi di hadapan seluruh warga."

"Iya," jawab Yanti lirih. Tanpa disadari, jemarinya perlahan mengepal.

"Jadi..." lanjut Vira tenang, "...besok adalah hari terakhir kamu tinggal di rumahku."

Yanti langsung mengangkat wajah. "Ra..."

Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku masih pengin kerja sama kamu." Suaranya terdengar memelas. "Bapakku di kampung lagi sakit. Ibuku juga harus banting tulang sendirian buat menghidupi keluarga."

Air matanya mulai menetes. "Kalau aku berhenti kerja, aku gak cuma susah menghidupi diriku sendiri. Aku juga gak bisa bantu mereka."

Yanti menggenggam kedua tangannya. "Kumohon, Ra. Bagaimanapun juga kita masih sepupu. Ayahku adik kandung almarhum ibumu."

Vira terdiam beberapa saat. Tatapannya tetap tenang. "Justru karena kamu sepupuku..."

Ia menarik napas pelan. "...aku gak menuntut ganti rugi."

Yanti membeku.

"Apa kamu mau aku hitung berapa kerugian tokoku sejak fitnah itu menyebar?"

Yanti menundukkan kepala. Tangannya mengepal semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku bisa maafin kamu." Suara Vira terdengar lembut, tetapi tegas. "Tapi aku gak bisa lupain apa yang udah kamu lakukan."

Ia menatap Yanti lurus. "Dan aku juga gak bisa lagi mempekerjakan orang yang udah mengkhianati kepercayaanku."

Vira menggeleng pelan. "Setiap kali lihat kamu, aku bakal terus teringat bagaimana kamu ikut menghancurkan nama baikku."

Yanti menggigit bibirnya.

"Tentang bapakmu..." lanjut Vira. "Aku juga gak memotong gajimu ataupun meminta kamu mengganti kerugian yang aku alami. Itu sudah lebih dari cukup."

Vira bangkit dari kursinya. "Setiap orang harus bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya."

Ia membuka dompet, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. "Ini."

Vira meletakkan uang tersebut di atas meja. "Tiga juta rupiah. Gaji kamu selama satu bulan."

Yanti menatap uang itu tanpa bergerak.

"Gaji itu juga lebih besar daripada upah ART di daerah sini."

Vira tersenyum tipis. "Aku memberikannya karena aku masih ingat keadaan bapakmu."

Ia kembali menatap Yanti. "Semoga setelah ini kamu bisa berpikir lebih matang sebelum menyakiti orang lain. Besok, setelah kamu selesai klarifikasi di hadapan warga..."

Vira berhenti sejenak. "...silakan tinggalkan rumahku."

Tanpa menunggu jawaban, Vira mengambil buku pembukuannya, lalu berjalan menuju kamar.

Klik.

Pintu kamar tertutup.

Yanti masih berdiri di ruang tengah. Tatapannya tertuju pada pintu kamar Vira yang baru saja tertutup.

Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi wajah memelas. Yang tersisa hanyalah sorot mata penuh kebencian.

Perlahan, ia mengambil uang di atas meja lalu mengantonginya. Setelah itu ia merogoh ponselnya dari saku bajunya. Jarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.

> Rumah sudah sepi. Kalian harus beraksi cepat.

Tak lama kemudian, pesan itu terkirim. Yanti menyunggingkan senyum tipis.

Ia menyimpan kembali ponselnya, lalu berjalan menuju pintu kamar Vira.

Tok! Tok!

"Ra."

"Iya?" sahut Vira dari dalam.

"Aku mau keluar beli mi ayam sebentar."

"Ya."

Mendengar jawaban itu, sudut bibir Yanti kembali terangkat.

Ia berbalik, membuka pintu rumah dengan pelan, lalu menghilang ke dalam gelapnya malam.

***

Di sisi lain, Daril berdiri di balik rimbunnya pohon pisang di dekat kebun yang mulai lengang. Sesekali ia melirik ke arah jalan desa, memastikan tak ada orang yang memerhatikan.

Tak lama kemudian, Yanti datang tergesa-gesa. "Aku udah ngabarin mereka," bisiknya pelan. "Katanya mereka udah ada di sekitar sini."

Daril mengangguk puas. "Bagus."

Yanti menelan ludah. "Terus aku harus ngapain?"

"Nanti kamu balik ke rumah seperti biasa." Daril menatap tajam wajah perempuan itu. "Awasi keadaan. Begitu waktunya pas..."

Ia mendekat lalu berkata, "...teriak sekencang mungkin minta tolong. Biar semua orang ngira kamu juga korban."

Yanti mengangguk pelan. "Aku ngerti."

"Ingat, jangan sampai salah waktu."

"Tenang aja."

Keduanya kemudian berpisah, masing-masing mengambil arah berbeda.

Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa hanya beberapa meter dari tempat itu, di balik batang pohon randu yang besar, Arvin sedang jongkok baru saja selesai buang air kecil hendak berdiri.

Saat mendengar suara Daril, Arvin spontan menghentikan gerakannya. Ia memilih diam agar keberadaannya tidak diketahui.

"...begitu waktunya pas... teriak minta tolong...."

"...orang-orang udah di sekitar rumah...."

Hanya potongan-potongan kalimat itu yang berhasil ditangkapnya. Setelah itu suara mereka semakin pelan tertelan gemerisik dedaunan yang dihembus angin.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menjauh. Arvin baru berani mengintip ketika keadaan benar-benar sepi.

"Itu Daril sama Yanti?" gumamnya pelan.

Keningnya berkerut. Ia memang tidak mendengar seluruh percakapan mereka. Namun entah mengapa mendadak jantungnya berdetak kencang. Firasat buruk menyergapnya.

"Orang-orang di sekitar rumah..." ulangnya lirih.

Rumah...

Rumah siapa?

Mendadak wajah Vira terlintas di benaknya. Jantung Arvin berdegup semakin cepat.

"Jangan-jangan..."

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari meninggalkan kebun. Ia sengaja tidak melewati jalan utama. Jika benar Daril dan Yanti sedang menjalankan suatu rencana, mereka bisa saja melihatnya.

Arvin memilih memotong jalan melalui pekarangan warga.

Ia melompati selokan kecil, menerobos semak, lalu berlari di sela-sela kebun singkong dan rumpun bambu.

Napasnya mulai memburu.

"Semoga aku cuma kepikiran yang enggak-enggak," gumamnya sambil terus mempercepat langkah.

 

Sementara itu, Vira baru saja masuk ke kamar setelah membersihkan wajahnya di kamar mandi yang ada dalam kamarnya.

Pikirannya masih dipenuhi ucapan Arvin di tepi sungai. Tiba-tiba...

Tok! Tok! Tok!

Terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.

"Yan?" panggil Vira, mengira Yanti yang datang.

Tidak ada jawaban. Vira menunggu beberapa detik.

Tok! Tok!

Ketukan itu terdengar lagi. Perasaan tidak nyaman mulai merambat di dadanya.

"Ada apa, Yan?" tanyanya sedikit lebih keras.

Tetap tidak ada sahutan. Vira menatap daun pintu beberapa saat. Entah mengapa, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Namun ia menggeleng pelan.

"Ngapain sih si Yanti?" gumamnya pelan.

Perlahan ia membuka kunci, lalu memutar gagang pintu.

Klek. Klek. Klik.

Baru saja pintu terbuka beberapa senti... Tiba-tiba--

Brak!

Dua pria bertopeng kain langsung menerobos masuk dengan tenaga penuh.

"Ukh!"

Tubuh Vira terdorong keras hingga terjatuh ke dalam kamar.

Belum sempat ia berteriak, salah seorang pria sudah membekap mulutnya dengan telapak tangan.

"Mmph...!"

 

...✨"Musuh yang paling berbahaya bukanlah orang asing, melainkan mereka yang mengetahui letak seluruh kepercayaanmu."...

..."Kesempatan kedua adalah bentuk kebaikan. Namun, tidak semua orang menggunakannya untuk berubah."...

..."Pengkhianatan tidak selalu datang dengan wajah penuh amarah. Terkadang ia hadir bersama senyum, air mata, dan kata-kata penyesalan."...

..."Hati yang terlalu baik sering kali tidak kalah berbahaya dibanding hati yang terlalu curiga, karena keduanya sama-sama mudah dimanfaatkan."...

..."Tidak semua firasat buruk bisa dijelaskan. Namun sering kali, firasat itu muncul sebelum kebenaran memperlihatkan wajahnya."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!