Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Bukan Daril
Setelah pulang dari balai desa, Vira dan Arvin berjalan berdampingan menyusuri jalan menuju rumah. Tak jauh di depan, jalan itu akan bercabang. Dari sanalah mereka akan berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan sendok pada sisi gerobak terdengar dari arah berlawanan.
Seorang pria paruh baya tampak mendorong gerobak bertuliskan Batagor.
Di daerah tempat mereka tinggal, sebuah kelurahan di pinggiran ibu kota kabupaten, pemandangan seperti itu sudah biasa. Penjual batagor, bakso, cilok, ketoprak, nasi goreng, hingga mi ayam sering berkeliling memasuki gang-gang perkampungan menjelang sore.
Mata Vira langsung berbinar. "Vin, beli batagor dulu, yuk."
Belum sempat Arvin menjawab, Vira sudah lebih dulu menarik pelan lengannya menuju gerobak.
Arvin menoleh. Ini adalah kali kedua Vira menyentuhnya. Entah mengapa, sentuhan sederhana itu selalu membuat hatinya terasa hangat.
"Mang, beli dua bungkus, ya," seru Vira.
"Siap, Neng."
Penjual batagor segera menyiapkan pesanan mereka.
Sesaat kemudian, Vira menerima dua bungkus batagor yang masih hangat.
"Kita makan di pinggir sungai sana, yuk, Vin." Nada suara Vira terdengar begitu antusias.
Arvin mengangguk. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Syukurlah," batinnya. "Hari ini senyum Vira akhirnya kembali. Sejak namanya dibersihkan di balai desa, wajahnya terlihat jauh lebih lega."
Mereka berjalan menuju tepi sungai yang tak jauh dari sana. Di bawah rindangnya sebuah pohon besar, keduanya duduk berdampingan sambil menikmati batagor.
Angin sore bertiup pelan, membuat permukaan sungai beriak kecil. Beberapa ikan kecil tampak berenang di tepian, sesekali muncul ke permukaan.
Tatapan Arvin mengikuti gerakan ikan-ikan itu.
"Kamu masih takut lihat sungai?" tanyanya pelan.
Vira mengangguk. "Sedikit," katanya, lalu kembali menggigit batagornya.
"Masih trauma karena dulu hampir tenggelam?"
"Iya." Vira tersenyum tipis. "Waktu itu... aku benar-benar hampir mati."
Nada suaranya pelan. Namun, senyum tipis yang menghiasi bibirnya justru menyimpan kepahitan. Ingatannya kembali pada peristiwa yang mengubah jalan hidupnya.
Arvin menoleh.
"Kenapa senyummu begitu?" tanyanya sambil menggigit sepotong batagor.
Vira mengalihkan pandangannya ke aliran sungai.
"Karena..." ucapnya lirih. "Peristiwa itu adalah awal mula aku mengenal Daril lebih jauh."
Arvin mengernyit. "Kenapa?"
Vira menarik napas pelan. "Kalau aku gak tenggelam hari itu, aku gak bakal ditolong Daril. Dan aku juga gak bakal melakukan apa pun buat dia hanya karena merasa berutang budi. Aku gak bakal cinta sama dia."
Seketika Arvin berhenti mengunyah batagornya. Ia menatap Vira beberapa saat, lalu tersenyum tipis.
"Daril memang nolong kamu..." katanya pelan. "Tapi meski dia gak datang, kamu juga gak bakal mati, Ra."
Vira menoleh cepat. "Kamu gak tahu, Vin." Nada suaranya meninggi. "Aku terseret arus. Aku hampir tenggelam. Kalau gak ada yang nolong, pasti aku udah mati."
"Aku tahu."
Jawaban Arvin begitu singkat. Ia kembali menggigit batagornya seolah tak mengatakan sesuatu yang aneh.
Vira semakin curiga. "Kalau tahu, kenapa kamu bilang begitu? Reaksi kamu ini..." Vira menyipitkan matanya, menatap Arvin lebih saksama. "...aneh."
Arvin menelan makanannya lebih dulu sebelum menanggapi. "Aneh apanya?"
"Kamu bilang meski Daril gak nolongin aku, aku juga gak bakal mati."
Arvin mengernyit. "Loh..." Ia menatap Vira dengan bingung. "Memangnya selama ini kamu pikir yang narik kamu dari sungai itu Daril?"
Kini giliran Vira yang mengernyit. "Bukannya memang Daril?"
Ekspresi Arvin langsung berubah. Ia tampak terdiam beberapa detik, seolah baru menyadari ada kesalahpahaman besar yang selama ini tidak pernah diluruskan.
"Jadi..." gumamnya pelan. "Selama ini kamu benar-benar percaya Daril yang nyelametin kamu?"
Vira mengangguk pelan. "Iya. Memangnya bukan?"
Arvin menggeleng. "Bukan..." Ia menarik napas pelan. "...yang narik kamu ke tepi sungai itu aku."
Vira membeku. "Apa?"
"Yang nyelam ke sungai buat nolong kamu itu aku, Ra."
Mata Vira membulat lebar.
Arvin melanjutkan dengan nada santai, seolah sedang menceritakan kejadian biasa.
"Waktu itu aku lagi mancing sama ibuku di pinggir sungai. Pas lihat kamu hanyut, aku langsung nyebur."
"Setelah berhasil bawa kamu ke tepian, ibuku malah maksa turun ke sungai buat bantu. Aku takut beliau ikut terpeleset."
Arvin terkekeh pelan mengingat kejadian itu.
"Kebetulan Daril datang. Jadi aku minta dia nganter kamu ke puskesmas, sedangkan aku tetap di sana buat jagain ibuku."
Batagor di tangan Vira perlahan turun.
Tatapannya kosong. Seolah seluruh kepingan kenangan yang selama ini ia yakini mulai runtuh satu per satu.
"Jadi..." Bibirnya bergetar. "...yang nyelametin aku bukan Daril?"
Arvin menggeleng pelan. "Yang gendong kamu ke puskesmas memang dia. Tapi yang narik kamu keluar dari sungai..."
Ia tersenyum tipis. "...itu aku."
Vira mematung. Dadanya bergemuruh.
Di kehidupan sebelumnya... Ia rela mengorbankan uang, tenaga, bahkan harga dirinya karena merasa berutang nyawa kepada Daril.
Ia bertahan menghadapi perlakuan buruk Mirna. Ia memaafkan berkali-kali kesalahan Daril.
Bahkan tak sempat mengurus dirinya sendiri karena sibuk merawat Mirna dan membantu Daril mengelola usaha kredit pakaian.
Semuanya ia lakukan karena ia percaya Daril adalah penyelamatnya. Namun sekarang...
Keyakinan yang selama ini menjadi alasan terbesar pengorbanannya ternyata hanyalah sebuah kesalahpahaman.
Air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya.
"Kenapa..." bisiknya lirih, pipinya mulai basah. "Kenapa baru sekarang aku tahu?"
Arvin langsung panik melihat air mata yang mengalir di pipi Vira.
"Ra... kenapa nangis?"
Vira menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba ia menggenggam kedua lengan Arvin.
"Kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu yang nyelametin aku, Vin?" Suaranya bergetar. "Kenapa?"
Arvin tampak canggung. "Karena... nolong orang itu memang kewajiban sesama manusia."
Ia tersenyum tipis. "Aku ikhlas. Jadi menurutku gak perlu bilang ke kamu."
Arvin menundukkan pandangannya sesaat. "Lagian kalau aku bilang, aku takut kamu salah paham." Ia mengusap tengkuknya. "Aku takut kamu mengira aku sengaja mengungkit-ungkitnya supaya dapat balasan dari kamu."
Vira terdiam. Air matanya terus mengalir. Ia tak mampu menyalahkan Arvin. Justru apa yang dilakukan pemuda itu menunjukkan ketulusan yang sesungguhnya.
Arvin menghela napas pelan. "Maaf ya, Ra. Aku benar-benar gak kepikiran kalau gara-gara itu kamu jadi salah paham dan mengira Daril yang nyelametin kamu."
Vira menggeleng pelan sambil mengusap air matanya. "Bukan salah kamu."
Ia menarik napas panjang. "Aku yang salah. Aku yang menyimpulkan semuanya sendiri."
Suasana kembali hening. Hanya suara aliran sungai yang terdengar mengisi sela-sela percakapan mereka.
Beberapa saat kemudian Arvin menatap Vira dengan hati-hati.
"Ra..."
"Hm?"
"Jangan bilang..."
...✨"Orang yang benar-benar menolong sering kali tidak merasa perlu diingat. Sebaliknya, orang yang haus pujian justru membiarkan dirinya dianggap pahlawan."...
..."Ketulusan tidak selalu datang dengan pengakuan. Kadang, ia memilih diam, lalu membiarkan waktu yang mengungkapkannya."...
..."Yang paling menyakitkan bukan mengetahui bahwa kita telah dibohongi, melainkan menyadari bahwa seluruh pengorbanan kita diberikan kepada orang yang salah."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄