Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan bicara
Langkah kaki Jeremy terdengar berat dan cepat menyusuri lorong menuju kamar utama, tangan besarnya masih mencengkeram pergelangan tangan Claire erat, memberi pesan tegas bahwa perdebatan belum usai, bahwa sidang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Claire sempat mencoba meronta pelan, mulutnya terbuka hendak melontarkan protes atau candaan lain, namun tatapan Jeremy yang tajam dan diam membuatnya akhirnya menutup rapat bibirnya sendiri.
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, Jeremy langsung menariknya masuk ke dalam kamar mandi yang luas dan bersih. Ia mengisi air hangat ke dalam bak mandi besar itu, uap panas perlahan mengepul memenuhi ruangan, beradu dengan udara dingin malam yang masih menempel di kulit mereka. Tanpa banyak bicara, jemari Jeremy mulai membuka kancing baju Claire satu per satu dengan gerakan cepat namun tak kasar, menyingkirkan kain yang penuh debu, jelaga, dan bau asap itu hingga terjatuh ke lantai.
Claire berdiri terpaku, kulitnya merona hangat bukan hanya karena uap air, tapi karena sentuhan tangan suaminya yang begitu dekat, begitu intens. Ia ingin berbicara, ingin bertanya atau sekadar menggoda seperti biasanya, namun Jeremy menatapnya lekat-lekat saat ia hendak membuka mulut.
"Jangan bicara," perintahnya rendah, suaranya berat dan bergetar menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.
"Awas saja kalau bicara. Hukumanmu akan ku tambahkan dua kali lipat.
Claire menelan ludah, mengangguk pelan, lalu membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam bak mandi yang airnya sudah cukup penuh dan hangat. Jeremy ikut masuk setelah melepaskan pakaiannya sendiri, lalu duduk di belakang Claire, membiarkan tubuh gadis itu bersandar lepas pada dadanya yang bidang. Ia mengambil sabun lembut, lalu mulai mengusapkannya perlahan ke seluruh tubuh Claire yang kini kembali bersih dari noda hitam, menggosok dengan sabar di setiap lekuk, setiap sudut yang tadi tertutup debu, seolah ingin membersihkan bukan hanya kotoran di kulitnya, tapi juga segala bahaya yang baru saja mengancam nyawa istrinya.
Tangan besarnya bergerak naik ke kepala Claire, menyiram rambut yang masih berdiri tegak kaku itu dengan air hangat, lalu mengusapkan sampo beraroma segar. Ia menyisir helai demi helai dengan jari-jarinya, memijat pangkal kepala dengan lembut namun pasti, menghilangkan sisa listrik statis dan rasa tegang yang menumpuk seharian.
Claire memejamkan mata rapat, rasa hangat dan perhatian yang begitu mendalam membuatnya luluh seketika, segala keceriaan dan keberaniannya perlahan melebur menjadi rasa aman yang luar biasa. Ia mencoba bergerak sedikit mencari posisi yang lebih nyaman, namun tangan Jeremy yang melingkar erat di pinggangnya menahannya tetap di tempat.
"Jangan bergerak semaunya," bisiknya tepat di telinga Claire, napas hangatnya menyentuh leher gadis itu.
"Tapi kan aku bukan robot. Oh ya! "
"Aku bilang diam Claire." kata Jeremy lagi. Claire mengerucutkan bibirnya di depan Jeremy. Dasar suami nyebelin!
Jeremy membilas sisa busa di rambut dan tubuh Claire hingga bersih sepenuhnya, lalu mengangkatnya keluar dari bak mandi. Ia melilitkan handuk lembut di tubuh ramping istrinya, mengeringkannya dengan teliti. Tak ada lagi canda, tak ada lagi ledekan. Hanya kesunyian yang penuh dengan ketegangan yang berganti menjadi gairah yang mendesak di antara keduanya. Bagaimana tidak, keduanya sudah sama-sama telanjang.
Selesai mengeringkan rambut Claire pakai hair dryer, Jeremy membaringkan gadis itu perlahan di atas kasur empuk mereka, lalu menindihnya dengan tubuhnya tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk Claire meloloskan diri. Matanya menatap lekat ke dalam manik mata Claire.
"Kau pikir kau bisa tertawa begitu saja setelah mengacau seharian ini?" bisiknya sambil mencium pelan sudut bibir Claire, lalu turun ke rahang, ke leher yang jenjang.
"Kau berani bilang aku laki-laki tidak laku, hm? Coba bilang sekali lagi." Jeremy mengangkat wajahnya sedikit ke atas dan menatap Claire lekat-lekat. Gadis itu menahan senyum
"Kan memang nggak la..."
Cup.
Ciuman pria kembali mendaradi sudut bibir Claire, menghentikan ucapannya. Lalu ciuman ringan Jeremy perlahan berubah menjadi makin menuntut. Ia melumat bibir bawa Claire berkali-kali, menggigitnya sampai bibirnya terbuka, dan menggunakan kesempatan itu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Claire.
Claire terengah saat ciuman itu dilepas sejenak, dadanya naik turun hebat. Belum sempat napasnya teratur kembali, Jeremy kembali menautkan bibirnya, kali ini lebih dalam, lebih mendesak seolah ingin melahap seluruh napas dan keberanian yang masih tersisa pada gadis itu. Tangan besarnya mengunci kedua pergelangan tangan Claire di samping kepala, jemarinya mengerat pelan namun tegas, memberi pesan bahwa malam ini kendali mutlak ada padanya.
"Masih berani bilang begitu?" bisiknya parau di sela ciuman yang turun ke rahang, lalu ke lekuk leher Claire yang lembut, meninggalkan jejak hangat yang membuat gadis itu menggigil hebat.
"Tapi kan..."
Glek...
Lehernya di gigit dan di sesap kuat, membuatnya merasakan sensasi yang membuatnya tersentak hebat, punggungnya melengkung secara naluriah menyentuh dada bidang Jeremy. Desahan tertahan lolos dari bibirnya, terputus-putus saat Jeremy kembali menekan bibirnya, kali ini lebih dalam dan penuh kepemilikan.
"Tidak ada tapi-tapian," bisiknya berat, napasnya memburu sama hebatnya dengan Claire.
"Lihat bagaimana aku menghukummu."
Lalu selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka terbuka. Keduanya memang masih telanjang bulat. Jeremy sengaja tidak memakain baju karena dia tahu jelas apa yang akan dia lakukan terhadap istri nakalnya itu malam ini.
Buah dada Claire yang kencang dan putih bersih kini terekspos sempurna di hadapannya. Jeremy menatapnya sejenak, matanya berkilat penuh api yang tak lagi bisa diredam, sebelum ia menunduk perlahan. Bibirnya menyentuh puncak itu dengan lembut sekaligus menuntut, membuat Claire tersentak hebat dan mencengkeram bahu suaminya erat. Mulutnya mempermainkan, menghisap dan menjilati dengan irama yang membuat gadis itu melupakan segala keluh kesah dan candaannya. Saat Jeremy menarik tinggi putingnya menggunakan gigi pria itu, Claire kembali membuka matanya lebar-lebar.
"Ah ... Jeremy..." rintihnya tak kuasa menahan suara, tubuhnya melengkung makin tinggi seolah meminta lebih banyak sentuhan itu.
Jeremy tak menjawab, hanya membalasnya dengan desahan rendah yang bergetar di dadanya, lalu kembali mempermainkan area dada sang istri yang amat menggoda itu. Tangannya tidak tinggal diam memijat bagian sebelah, mencubit ujungnya kuat sampai Claire meronta pelan, napasnya memburu hebat, wajahnya memerah padam dan matanya berkaca-kaca menahan rasa yang begitu mendesak.
"Jangan... terlalu... ah..." suaranya terputus tak berdaya, jari-jarinya mencengkeram rambut hitam Jeremy akibat sensasi geli bercampur sedikit perih karena tarikan kuat itu.
Jeremy berhenti sebentar, melihat bekas merah samar tertinggal di sana sebelum melanjutkan menciumi perut Claire, terus ke bawah sampai di bagian terlarang di bawah sana. Claire tersentak.
mister jem ayo dtng, kaya ny claeir cs dlm bhaya/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/