NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama

Keheningan yang tadi diisi oleh kekaguman mendadak pecah oleh teriakan melengking yang memekakkan telinga. Felicia, yang gaun champagne-nya tampak kontras dengan wajahnya yang kini merah padam karena amarah, melangkah maju ke depan panggung.

"ALDEN! APA-APAAN INI?!" teriak Felicia. Suaranya bergetar hebat, bukan lagi karena kesedihan, melainkan karena penghinaan luar biasa yang baru saja ia terima.

Seluruh aula kembali menegang. Para tamu yang tadi memuji kecantikan Aleta kini mundur selangkah, memberi ruang bagi drama yang mulai memuncak.

Felicia menunjuk Aleta dengan jari yang gemetar. "Kamu... kamu perempuan murahan! Kamu pikir dengan kecantikan murahmu itu kamu bisa mencuri posisiku?!"

Mendengar kata-kata itu, Aleta tersentak. Rasa takutnya yang tadi melumpuhkan perlahan berubah menjadi rasa perih yang nyata. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat karena menahan tangis, ia telah berhasi menghancurkan kebahagiaan perempuan lain.

Tapi Alden tetap tenang. Ia tidak sedikit pun terusik oleh teriakan Felicia. Sebaliknya, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Aleta dengan posesif, seolah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Aleta adalah miliknya dan ia akan melindunginya.

Alden menatap Felicia dari atas tangga dengan sorot mata dingin yang merendahkan.

"Jaga ucapanmu, Felicia, Reputasi keluarga kamu saat ini bergantung pada bagaimana kamu bersikap di hadapan tamu-tamu ini."

"Aku nggak peduli!" Felicia memekik lagi, air mata kemarahannya mulai jatuh.

"Kamu mempermalukan aku di depan semua orang! Ayah! Kenapa diam saja?!"

Ayah Felicia, seorang pengusaha besar yang tadi duduk di barisan depan, berdiri dengan rahang mengeras. Suasana semakin panas. Aleta merasa terjepit di antara dua kekuatan besar yang siap meledak. Ia menatap Alden dengan mata memohon, namun Alden hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan.

"Semuanya sudah terlambat, Felicia," bisik Alden, suaranya sengaja dibuat cukup keras agar bisa didengar oleh beberapa orang di sekitar tangga.

"Keputusan sudah dibuat. Dan aku tidak pernah mengubah apa yang sudah menjadi milikku."

Alden kemudian menatap Aleta, tangannya mengusap punggung gadis itu dengan gerakan yang terlihat manis bagi orang luar, tapi bagi Aleta, itu adalah peringatan keras untuk tetap diam dan mengikuti perannya.

"Aleta, sayang... jangan dengarkan dia. Ayo, kita turun dan selesaikan malam ini."

Aleta merasa kakinya dipaksa untuk terus melangkah, menuruni tangga menuju singa-singa yang sedang marah, sementara semua orang hanya bisa menonton dengan napas tertahan.

🌍🌍🌍

Rania Nyonya besar keluarga Alden—seorang wanita yang selalu tampak tenang namun memancarkan aura intimidasi yang kuat—bergerak dengan anggun melintasi aula yang kini terasa seperti medan perang.

Langkahnya terukur, tidak terburu-buru, namun cukup efektif untuk memecah ketegangan yang menyesakkan.

Ia berhenti tepat di hadapan Felicia, lalu dengan gerakan lembut namun tegas, ia menyentuh lengan gadis itu.

"Felicia, sayang," suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan jeritan Felicia tadi.

"Kita tidak seharusnya membiarkan para tamu menjadi saksi atas ketidaknyamanan ini. Ini rumah kami, dan martabatmu adalah prioritas saya juga."

Rania melirik sekilas ke arah para tamu, memberikan isyarat dengan tatapan matanya agar mereka tidak terlalu ikut campur. Ia kembali menatap Felicia yang masih terisak napasnya karena murka.

"Mari kita bicara di luar, Kamu berhak mendapatkan penjelasan."

Felicia menatap calon ibu mertuanya itu dengan pandangan bingung dan terluka. cengkeraman halus Rania pada lengannya terasa seperti perintah yang tidak bisa dibantah.

"Tapi tante... dia..." Felicia masih mencoba memprotes, menunjuk ke arah Aleta yang masih berdiri di atas tangga bersama Alden.

"Ikut saya sekarang," potong Nyonya besar dengan nada yang tidak lagi membujuk, melainkan sebuah instruksi mutlak, ia sudah punya rencana sendiri untuk bagaimna menyingkirkan gadis sialan itu.

Rania membawa Felicia menjauh dari kerumunan, menuju pintu samping yang mengarah ke taman belakang.

Kepergian mereka berdua membuat suasana aula sedikit lebih longgar, namun ketegangan masih menggantung tebal di udara. Para tamu mulai saling berbisik, mencoba menerjemahkan apa yang baru saja terjadi.

Alden, di sisi lain, tidak membuang waktu. Ia menatap Aleta yang masih gemetar di sampingnya. Dengan tangan yang masih merangkul pinggang gadis itu, ia membisikkan sesuatu yang membuat darah Aleta seolah membeku.

"Sekarang giliran kita, Aleta," ucap Alden dengan seringai tipis.

"Mereka semua sedang menunggu tindakan selanjutnya dari kita. Tersenyumlah, buat mereka percaya bahwa kamu memang wanita yang pantas berdiri di sampingku."

Alden pun mulai menuntun Aleta turun dari tangga, masuk ke tengah-tengah kerumunan tamu yang masih terdiam, membawa Aleta masuk lebih dalam ke dalam rencana manipulatifnya.

🌍🌍🌍

Alden memang terlihat sangat sibuk. Ia terus ditarik ke sana kemari oleh relasi bisnis ayahnya, menerima jabat tangan, dan dipuji atas "kejujurannya dalam mengikuti kata hati."

Setiap kali ia berbicara, ia selalu memastikan tangannya tetap menggenggam tangan Aleta atau melingkar di pinggangnya, seolah Aleta adalah trofi yang harus selalu dipamerkan.

di tengah kesibukan itu, perhatian Alden tidak pernah lepas dari Aleta. Setiap kali Aleta mencoba sedikit saja untuk menarik tangannya atau melangkah menjauh, genggaman Alden akan menguat, dan bisikan dingin akan segera menyusul,

"Jangan jauh-jauh, Aleta. Ingat, mama kamu masih ada di tangan aku"

Aleta merasa seperti sedang berada di dalam jebakan yang sangat indah namun mematikan. Di sekelilingnya, orang-orang berpakaian mewah tertawa dan menyesap minuman mereka, seolah tidak menyadari bahwa gadis di samping Alden sedang mengalami kehancuran batin yang luar biasa.

Saat Alden sedang terlibat percakapan intens dengan seorang pria paruh baya yang merupakan investor utama perusahaannya, ia memberikan kode dengan matanya kepada Aleta agar tetap diam dan tersenyum.

Aleta memanfaatkan sepersekian detik itu. Ia menoleh ke sekitar, matanya menyapu kerumunan dengan putus asa, mencari sosok yang bisa membantunya. Ia melihat ke arah pintu utama, ke arah taman, ke arah manapun yang bisa memberikan jalan keluar.

Tiba-tiba, mata Aleta menangkap sesuatu di antara celah kerumunan tamu.

Di sudut ruangan, tak jauh dari meja prasmanan, ia melihat Marsha. Sahabatnya itu ternyata datang ke pesta ini. Marsha terlihat sangat tidak nyaman, mengenakan pakaian sederhana yang tampak sangat mencolok di antara para tamu elit. Marsha tidak melihat ke arah tamu lain; matanya terkunci pada Aleta dengan tatapan yang penuh kepanikan sekaligus tekad.

Marsha sepertinya berusaha mencari cara untuk mendekat, namun ia terhalang oleh banyaknya orang dan penjaga yang berdiri di sudut-sudut ruangan.

Jantung Aleta berdegup kencang. Ia ingin memberi sinyal pada Marsha agar segera pergi, agar Marsha tidak tertangkap oleh Alden. Namun di saat yang sama, kehadiran Marsha adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih memiliki koneksi dengan dunia luar.

Alden yang merasakan ketegangan di tubuh Aleta, tiba-tiba memutar kepalanya dan mengikuti arah pandang Aleta. Tatapannya tertuju pada satu titik di kerumunan.

Alden menyipitkan mata, lalu seringai tipis yang mengerikan muncul di wajahnya. Ia tahu siapa yang Aleta lihat.

"Oh," bisik Alden tepat di telinga Aleta, suaranya sedingin es.

"Ternyata teman kecilmu itu masih belum kapok, ya? Dia ingin melihat bagaimana akhirnya, atau mungkin... dia ingin jadi korban berikutnya?"

Alden menoleh ke arah salah satu penjaga di dekatnya, memberi kode dengan sedikit anggukan kepala. Penjaga itu segera bergerak menembus kerumunan, perlahan tapi pasti bergerak mendekati posisi Marsha berdiri.

"Aleta, jangan coba-coba kasih kode apa pun ke dia," bisik Alden lagi, cengkeramannya di pinggang Aleta semakin kuat hingga membuat Aleta sedikit meringis.

"Kalau kamu mau Marsha selamat malam ini, lebih baik lo fokus ke aku. Sekarang."

🌍🌍🌍

Kemegahan yang tadi menyelimuti rumah itu kini terasa mencekam. Suara denting gelas dan percakapan berbasa-basi telah digantikan oleh kesunyian yang berat, yang hanya sesekali dipecah oleh suara langkah kaki pelayan yang sedang membereskan sisa-sisa pesta.

Jam dinding besar di ruang tengah berdenting sebelas kali. Satu per satu tamu terhormat telah pergi, meninggalkan aula yang kini tampak lengang dan angkuh. Lampu kristal utama diredupkan, membuat bayangan di sudut ruangan tampak memanjang dan menakutkan.

Alden melepas jas tuxedo-nya, melemparkannya begitu saja ke atas sofa mewah, dan melonggarkan dasinya dengan kasar. Ia tampak kelelahan setelah berjam-jam memasang topeng

"pria yang jatuh cinta", namun tatapannya saat menoleh ke arah Aleta masih setajam silet.

Aleta berdiri di tengah ruangan, gaun pestanya yang mewah kini terasa seperti kostum sebuah sandiwara yang sudah selesai. Ia merasa terkuras habis, lelah secara fisik maupun mental. Ia sempat melirik ke pintu keluar, berharap Marsha sudah pergi dengan selamat dan tidak tertangkap oleh penjaga tadi. Namun, pikirannya terhenti saat ia menyadari bahwa kini ia benar-benar sendirian dengan Alden.

"Tamu sudah pulang semua," suara Alden memecah kesunyian, terdengar begitu dingin dan dominan di ruangan yang luas itu.

Alden melangkah mendekati Aleta. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu, lalu dengan satu tangan, ia mengangkat dagu Aleta agar menatap matanya.

"Malam ini panjang, Aleta," bisik Alden.

"Dan sekarang, setelah semua orang pergi, saatnya kita kembali ke realita kita yang sebenarnya."

Alden memutar tubuh Aleta, lalu dengan posisi tangan yang tetap memegang bahu gadis itu, ia menuntun Aleta berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Setiap derap langkah mereka di atas karpet tebal terdengar begitu memekakkan telinga di rumah yang kini terasa seperti penjara raksasa.

"Ibu kamu ada di rumah, aman," ucap Alden seolah bisa membaca pikiran Aleta yang cemas.

Aleta tidak menjawab. Ia hanya berjalan gontai, mengikuti tuntunan Alden. Ia merasa setiap anak tangga yang ia lalui adalah langkah yang membawanya semakin dalam ke dalam kegelapan. Ketika mereka sampai di depan pintu kamar, Alden membuka pintu itu lebar-lebar, membiarkan cahaya lampu kamar yang hangat namun menyesakkan menyoroti wajah Aleta yang pucat pasi.

"Masuk," perintah Alden singkat. Ia tidak lagi menggunakan keramahan palsu yang ia tunjukkan di depan para tamu tadi. Malam ini, topeng itu telah ditanggalkan, dan yang tersisa hanyalah Alden yang asli—pria yang menganggap Aleta sebagai miliknya sepenuhnya.

Aleta melangkah masuk ke dalam kamar. Suasana di dalam terasa jauh lebih menyesakkan daripada di aula tadi; tidak ada lagi keramaian tamu yang bisa ia jadikan alasan untuk berlindung. Pintu kayu mahoni yang besar itu tertutup dengan suara klik yang berat, mengunci mereka berdua di dalam ruang kedap suara tersebut.

Alden tidak langsung mendekat. Ia melepas kemeja putihnya yang kusut dan membiarkannya jatuh ke lantai, lalu berjalan menuju meja bar kecil di sudut kamar untuk menuangkan segelas minuman. Gerakannya begitu santai, kontras dengan Aleta yang masih berdiri mematung di dekat pintu, gaun pestanya yang elegan kini terasa seperti beban yang mencekik.

Aleta menatap punggung Alden yang tegap, lalu beralih ke jendela besar yang tertutup rapat, mencari celah, namun ia tahu itu sia-sia.

"Duduk, Aleta," suara Alden memecah keheningan, suaranya tenang namun mengandung perintah yang tak bisa ditolak.

"Malam ini kita punya banyak hal untuk dibicarakan mengenai masa depan kita. Kamu tidak mau berdiri terus, kan?"

Alden berbalik dengan gelas di tangan, matanya menyipit saat menatap Aleta dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya bukan lagi tatapan memuja seperti di depan para tamu, melainkan tatapan posesif seorang pemilik terhadap barang berharganya.

🌍🌍🌍

di tunggu ya bab selanjutnya.

jangan lupa like jangan sungkan juga buat koment, aku Nerima semua kritikan dan saran ko😉👇🏻

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!