NovelToon NovelToon
KUBALAS PENGHIANATAN KEKASIHKU!

KUBALAS PENGHIANATAN KEKASIHKU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:278.9k
Nilai: 5
Nama Author: Viar05

Nagita Mahendra harus menerima kenyataan pahit jika ternyata dia telah di hianati oleh tunangan dan sahabatnya. Setelah mengetahui semuanya, Nagita menjadi lebih dingin dan berniat membalaskan sakit hatinya. Di saat yang sama, ada seorang laki-laki yang bernama Damian Wijaya klien dari ayahnya. Di menawarkan diri untuk membantunya dengan berpura-pura menjadi kekasih Nagita. Hingga hubungan pura-pura itu berlangsung lama, dan membuat hati Nagita kembali bisa merasakan indahnya cinta. Bagaimana kisah Nagita yang harus berjuang melupakan kisah cintanya kepada Damian setelah mengetahui jika ternyata laki-laki itu sudah mempunyai seorang tunangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viar05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Nasihat Orang Tua.

"Mas, kamu sudah pulang? Darimana saja kamu semalam?" tanya Sania saat melihat hat suaminya baru datang.

Marvin tidak menghiraukan pertanyaan istrinya, dia terus berjalan menuju ke kamarnya dan mengunci pintu. Sania yang yang tidak mendapat jawaban merasa kesal karena Marvin mengabaikan nya. "Sial! kalau bukan karena terpaksa, gak mungkin aku nurunin harga diri untuk ngemis kaya gini." Batin Sania.

Hampir empat puluh menit Sania menunggu, akhirnya Marvin keluar dengan memakai setelan kerja dan menrnteng tas nya.

"Mas aku sudah siapin sarapan untuk kamu! Kita harus bicara Mas." Ucap Sania.

"Aku harus kerja Sania, ini sudah siang." Ujar Marvin lalu pergi meninggalkan istrinya yang terlihat kesal.

Marvin masuk kedalam mobil, sopir yang sudah mengerti langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang mulai tampak sepi, karena ini sudah siang. tiga puluh menit kemudian Marvin sampai di kantornya, dia segera keluar ari mobil dan berjalan masuk kedalam kantor dan masuk ke dalam lift khusus untuk memuju ke lantai atas.

Marvin berjalan menuju ke ruangannya, Milka yang saat itu melihat bosnya datang langsung berdiri dan menyapa atasannya.

"Siang Pak Direktur!"

"Milka, tolong bawakan aku kopi." Perintah Marvin.

"Baik Pak, segera."

Marvin masuk kedalam, dan melihat Denis sedang duduk di sofa. Dia langsung berdiri dan menghampiri bos sekaliagus sahabat baiknya itu.

"Siang Pak! Apa Anda baik-baik saja?"

"Aku baik Denis, apa ada kabar terbaru?" tanya Marvin.

"Semalam, tidak lama Bu Sania pulang dari hotel tanpa di antar oleh Willy Pak."

"Kamu tetap awasi mereka, dan tolong kamu hubungi pengacaraku untuk mengurus surat perceraian ku Denis."

"Baik Pak. Saya permisi." Ucap Denis lalu keouar dari ruanagn bosnya.

Milka datang dengan membawa nampan di tangannya.

"Permisi Pak! Ini kopi Anda." Ucap Milka.

"Kamu memakai parfum apa Milka?"

"Hah? Maksud Bapak apa, saya tidak mengerti?" tanya Milka.

"Aku suka wangi parfum yang kamu pakai." Jawab Marvin tanpa embel-embel.

Milka merasa terkejut mendengar ucapan bosnya, seketika wajahnya langsung merona. Namun dia tetap bisa bersikap profesional.

"Saya tidak memakai parfum apa-apa Pak, karena saya tidak suka."Jawab Milka santai. " Permisi Pak, saya akan membacakan jadwal kerja Anda hari ini." Ucap Milka lagi.

Marvin mengangguk lalu menikamti kopinya sambil mendengarkan sekretaris nya. Pikirannya melayang tentang masalah semalam. Dia ingat nasehat dari Pak Mardi tadi pagi.

Flashback

Marvin menceritakan semua masalah yang sedang dia hadapi bersama istrinya. Entah kenapa, dia merasa nyaman saat mengobrol dengan bapak tua itu. Semua cerita mengalir begitu saja, padahal mereka baru bertemu semalam.

"Selesaikan masalah mu baik-baik Nak, jangan mengambil keputusan di saat kita emosi."

*****

Marvin sadar, mungkin memang sudah saat nya dia mengambil tindakan. Dia tidak ingin sampai masalah ini berlarut-larut dan semakin sulit dia selesaikan.

"Maaf Pak, apa Anda mendengar kan ucapan saya?" tanya Milka.

"Kamu atur ulang jadwal saya Milka, hari ini saya ada urusan yang penting." Ujar Marvin, lalu keluar dari ruangannya.

Milka hanya bisa mengusap dadanya. "Jadi bos enak banget ya, maen pergi gitu aja!" gumamnya. Milka segera merapihkan meja kerja Marvin, lalu keluar dari sana dan menutup pintunya kembali.

Denis datang mendekatinya.

"Apa pak bos ada didalam Milka?' tanya Denis.

"Dia baru saja pergi Pak Denis." Jawab Milka.

"Kemana?"

"Saya tidak tahu Pak, beliau hanya bilang ada urusan penting dan menyuruh mengulang jadwal kerjanya."

Denis mengangguk, lalu kembli ke ruangannya. Dia tahu kemana tujuan bos nya saat ini, Denis kembali mengerjakan tugasnya untuk hari ini.

*****

"Siang Bunda?" ucap Marvin menghampiri bundanya yang sedang berda di dapur menyiapkan makan siang.

"Marvin! Kapan kamu datang. Sania mana?" tanya Melisa.

"Aku datang sendirian Bunda." Jawab Marvin.

"Ya sudah, kamu duduklah kita makan siang bareng. Kebetulan bunda masak banyak hari ini!" ujar Melisa.

"Tumben, apa ada acara?"

"Tidak! hanya saja nanti akan ada tante kamu untuk membicarakan masapah pernikahannya Nagita dan Willy. Bunda kan minta tante Sella yang menghendel semuanya. Tutur Melisa.

Mendengar nama Willy, membuat darah Marvin seketika mendidih, tapi dia berusaha untuk tetap tenang di hadapan bundanya. Marvin tidak mau sampai Melisa curiga.

"Oh gitu." sahutnya datar.

Marvin makan siang dengan bundanya, hala yang sangat jarang dia lakukan karena kesibukannya saat ini. Setelah selesai, Melisa mengajak putra sulung ke ruang kerja sang suami. Melisa mengerti paati ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh putranya itu.

"Bicaralah Nak! Ada apa, tidak biasanya kamu datang sendiri seperti ini." Ucap Melisa.

Marvin diam, dia masih ragu untuk berbicara, tapi hatinya merasa tidak tenang jika harus terus menyimpan nya sendirian.

"Aku ingin berpisah dengan Sania Bunda!" ungkap Marvin to the point.

Melisa terkejut mendengar ucapan putranya, terlihat dari raut wajahnya yang berubah.

"Ada masalah apa, sampai kamu memutuskan hal itu Marvin? Bukannya kalian itu baik-baik saja selama ini?" heran Melisa.

"Maafkan aku Bunda! Semalam aku melihat Sania sedang bersama laki-laki lain dikamar hotel. Dan ternyata itu bukan untuk pertama kalinya mereka berdua bertemu."Tutur Marvin.

"Apa?" kali ini Melisa merasa terkejut. " Bagaimana bisa Marvin, sudah berapa lama?" selidik Melisa.

"Sudah berjalan hampir satu tahun Bunda. Selama ini aku mencoba bersabar, sambil mencari tahu tentang Sania dan laki-laki itu. Aku berharap Sania biaa berubah, namun ternyata dia malah semakin berani bahkan dia lebih memilih selingkuhan nya dari pada aku yang jelas masih suaminya." Ingka Marvin.

"Ya Tuhan ... kenapa kamu tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya sama kami Marvin."

"Aku tidak ingin membuat kalian sedih Bunda, maafkan aku!" lirih Marvin.

"Apa kamu menyukai gadis lain?"

"Kenapa Bunda bertanya hal itu?" heran Marvin.

"Bukannya Bunda tidak percaya, bunda hanya tidak ingin kamu sama halnya seperti istri kamu itu."

"Tidak Bunda, aku masih punya perasaan. Tidak mungkin aku berbuat hal itu selama masih punya istri."

"Jadi kalau sudah singgel, kamu mau mencari perempuan lain?" tanya Melisa lagi.

"Kalau ada kenapa tidak!" jawab Marvin sambil tersenyum.

"Kamu ini, masih bisa bercanda di saat serius begini. Bunda tidak akan melarang ataupun menyuruh kamu, tapi jika memang kamu sudah memikirkan masalah ini dengan benar-benar dan itu adalah jalan terakhir nya. Kenapa tidak, bunda cuma bisa doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Walaupun bunda kecewa dengan kelakuan Sani, tapi dia tetap bagian dari keluarga ini Marvin." Nasehat Melisa.

"Iya Bunda, terima kaih banyak. Aku akan pergi kekantor untuk menemui ayah dan membicarakan hal ini." Ujar Marvin.

"Iya, pergilah. Hati-hati Marvin." Ucap Melisa.

"Tuhan ... semoga ini jalan yang terbaik untuk putraku." Doa Melisa.

Marvin mengendarai mobilnya menuju perusahaan milik Dion Mahendra, ayahnya. Dalam perjalanan menuju ke ruangan ayahnya, Marvin sempat bertemu dengan Willy. Tatapan tajam dia layangkan ke laki-laki yang menjdi selingkuhan suaminya itu, lalu pergi meninggalkan Willy yang hanya diam mematung.

Marvin masuk menemui ayahnya, yang saat itu sedang bersama Nagita. Nagita yang mengerti kode dari kakaknya langsung izin keluar untuk meninggalkan keduanya.

"Tumben kamu mau jauh-jauh datang menemui ayahmu ini!" cibir Dion.

Marvin hanya tersenyum saat ayahnya seaakn menyindir dirinya yang memnag jarang menemui ayahnya itu.

"Aku ingin bicara serius sama ayah." Ucap Marvin.

"Duduk dan bicaralah!" ujar Dion.

Marvin langsung menceritakan apa yang terjadi dengan tumah tangga nya kepada sang ayah. Dia juga meminta izin Dion untuk berpisah dari istrinya.

Dion menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar. Dion bukan tidak tahu apa yang sedang menimpa putra pertamanya itu. Tapi Dion tidak ingin ikut campur masalah itu, walaupun tahu menantunya sudah berbuat curang.

"Apa kamu sudah memikirkannya dengan baik-baik Marvin? Jangan sampai kamu menyesal nantinya."

"Iya Ayah, aku sudah mantap dengan keputusan ku." Tegas Marvin.

"Baiklah kamu bisa melakukan apapun yang menurut kamu baik dan benar. Ayah yakin kamu sudah dewasa dalam menyikapi setiap masalah yang datang. Ayah hanya minta satu hall sama kamu, semarah dan sebencinya kamu sama Sania ... jangan sampai kamu memukul ataupun menyakitinya Marvin. Biar itu menjadi urusan Tuhan dalam hal menghukum manusia yang bersalah. Kita tidak bisa menghakimi orang lain bersalah atas apa yang mereka perbuat, karena belum tentu kita juga tidak punya salah." Ucap Dion dengan bijak.

"Iya Ayah, terima kasih banyak atas nasihatnya." Ucap Marvin lalu memeluk Dion.

"Aku pergi Yah,"

Dion mengangguk.

Marvin berjalan menuju lift yang akan membawa nya turun ke lantai dasar. Malam ini dia akan berbicara dengan Sania untuk menyelesaikan masalah mereka berdua.

*****

Nagita sudah cuti dari kantornya, dia bangun dengan bermalas-malasan pagi ini. Padahal Melisa sudah berulang kali menyuruhnya untuk bangun. Nagita pergi ke dapur untuk mengambil minum dan sarapannya karena perutnya sudah keroncongan.

"Ya ampun, tuan putri baru bangun rupanya. Mentang-mentang cuti!" cibir Naila, sepupu nya yang baru datang dari luar kota.

"S*alan lo, ngapain datang kesini? Pasti tante Sella ngusir elo ya dari rumah." Ujar Nagita sambil mengunyah nasi gorengnya.

"Kalian ini, kebiasaan banget deh. Tiap bertemu pasti saling ejek. Timpal Melisa.

"Tahu nih tante, yang mau nikah bawaan nya sensi. Aww ...! Sakit Nagita Mahendra." Teriak Naila, saat Nagita menjitak kepalanya Naila.

Nagita hanya tersenyum saat melihat sepupunya jadi korban kejahilannya.

"Tante lihat kan, dia selalu saja jahatin aku!" adu Naila kepada Melisa.

"Cih, bisanya ngadu." Sindir Nagita. Tapi walaupun begitu keduanya memang saling menyayangi, terbukti denagan kedekatan keduanya jika bertemu.

"Sudah, siang ini kalian ikut berdua ikut bunda pergi ke butik ya untuk melihat pakaian yang akan dikenakan oleh kamu nanti sayang." Ucap Melisa kepada putrinya.

"Siap Bunda!" jawab Nagita.

"Siap tante!" ujar Naila.

Mereka bertiga kini sudah berada di sebuah butik ternama milik sahabatnya Melisa yang bernama Naura. Keluarga Melisa memang sudah lama berlangganan di tempat itu. Selain kwalitas, Nayra juga ramah dan sangat baik kepadanya.

"Hai Melisa apa kabar? Wah, kalian berdua sangat cantik, pangling tante sama kalian. Apalagi calon pengantin kita ini, auranya terlihat berbeda." Ujar Naura.

"Baik Nura, lama juga ya kita tidak pernah bertemu karena kamu sekarang sibuk banget dan jarang ada di tempat."

"Ya begitulah Melisa, tapi aku sudah mulai mengurangi jadwalku. Karena aku ingin pukus dengan Siena yang mulai beranjak dewasa."

"Sip itu lebih baik Naura. Oh iya, gimana kabar putri kamu yang pertama ... apa kamu sudah menemukannya?" tanya Melisa.

"Sudah, tapi dia masih menolak untuk tinggal bareng aku Mel. Dia sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan sebagai sekretaris."

"Wah, hebat itu. Kapan-kapan kita buat acara supaya bisa kumpul barenga mereka."

"Itu bisa diatur Mel. Ayo kita naik ke atas, aku sudah menyiapkan pakaian nya."

Melisa mengangguk, lalu mereak mengikuti Naura yang didah berjalan duluan. Naura menunjukan busana yang sudah Nagita pesan sebelumnya.

"Wah ... ini cantik banget Gita. Kamu paati beda saat memakai gaun ini." Ucap Naila. Sambil menatap gaun yang sedang di pajang di manekin. Tapi Naila merasa ada yang berbeda dengan Nagita. Dia tidak terlihat bahagia ataupun semangat saat ini.

"Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dariku Nagita?" tanya Naila.

"Gita, kita kenal dan deket dari kecil, jadi gue bisa tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja." Uajr Naila.

"Gue bakalan cerita, tapi gak di sini!" ucap Nagita.

"Baiklah. Sekarang kita pokus dulu sama gaun ini Nagita."

Nagita dan Naila, bergabung dengan Melisa dan Naura. Nagita mulai mencoba gaun yang di sediakan oleh Naura satu persatu. Setelah meminta saran dari Naura dan Melisa, akhirnya Nagita memilih gaun yang menurutnya nyaman di pakai dan tentu saja terlihat elegan. Dia tidak ingin memakai gaun sesuai permintaan nya yang pertama. Karena menurutnya perniakahn itu tidaka akn pernaha terjadi. Ada rasa takut dan bimbang saat akan memutuskan hal itu. Tapi dia tidak mungkin merubah rencana yang sudah dia sudun sebelumnya.

Jam tiga sore, Nagita dan Naila memilih pergi berdua meninggalkan Melisa yang masih ada urusan bersama Naura. Disinilah merrka berdua, sebuah cafe tempat nongkrong muda-mudi yang sedang kasmaran.

"Gak salah elo ajakin gue kesini Gita?'' ucap Naila heran.

Nanti elo bakalan tahu Naila. Ayo ikut gue!" ajak Nagita kepada sepupunya itu.

Mereka duduk berhadapan di bagian pojokan, sehingga tidak akan terganggu dengan kedatangan tamu lain.

"Ngapain kita duduk di sini Gita? Masih banyak tempat yang lebih nyaman." Protes Naila.

Nagita hanya diam, dia tidak merespon ucapan Naila. Tiba-tiba Naila di kejutkan dengan kedatangan sepasang laki-laki dan perempuan yang sangat dia kenali.

"Nagita, bukanya itu ...! Naila tidak meneruskan ucapannya saat melihat Nagita menyuruhnya untuk diam. Dia hanya mengangguk sambil menatap tajam ke arah paasangan yang tidak mengtahui keberadaan mereka berdua.

"Gue mohon lo jangan sampai bocorin hal ini ke orang tua gue Naila. Gue gak mau mereka sedih, cukup gue yang merasakan hal itu." Ucap Nagita dengan air mata yang mengalir deras. Dia tidak bisa menahan rasa sakit hatinya saat melihat kedekatan Sarah dan calon suaminya. Mereka benar-benar tega berbuat demikian di belakang nya selama ini. Bahkan mereka masih sering bersama di saat pernikahan nya bersama Willy tinggal menghitung hari.

"Mereka benar-benar sudah keterlaluan Nagita, harusnya elo hajar mereka berdua langsung biar tahu rasa sekalian." Ucap Naila dengan penuh emosi.

1
Olha Alamri
Buruk
Diajeng lope
demian awalnya sok baik n tegas nyatanya zonk
Diajeng lope
kan telp msih nyambung berarti gampang di lacak thor kan orang kaya
Henny Cip Tati
jangan banyak iklan...iklannya jangan lama
Isabell Serinah
up lagi
Isabell Serinah
up lagi banyak 2 plseeee 👍
Viar05: Terima kasih banyak 🙏🏿🙏🏿
total 1 replies
Purwati
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
ku kasih bunga Thor biar semangat up nya💪🔥
Viar05: Terima kasih banyak kakak🙏🏿🙏🏿
total 1 replies
Ida Susiana
kasihan amira arkana
Ida Susiana
lanjut thor upnya
Samsinar Panggabean
dilanjut tor ceritanya
Zaskia Mecca
ceritanya bagus, alurnye pake alur maju jd kita bs tau ,sm bahas yg digunakan mudah dimengerti oleh kita yg awam
Putri Chaniago
secepatnya Arkana menikahi Amira n membalaskan semua perbuatan Vanya n ibunya
fitra andriyani
tokoh cwek nya kurang tegas
Eqy Qomsiyah - hwi
selalu ada pnyiksaan, dan yg di siksa cm diem aja
Ida Susiana
lanjut thor
Ida Susiana
thor di lanjut up
Ida Susiana
lanjut thor upnya
Ida Susiana
lanjut upnya thor
Ida Susiana
lanjut thor
Viar05: Terimakasih 🙏🏿
total 1 replies
Noey Aprilia
Waduhhh....udh pd gd aja mreka y,...
d tnggu jdohnya arkana,biar ga jd playboy trs...😁😁😁
Viar05: Terimakasih banyak kakak 🙏🏿😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!