cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22_Suster ngesot part1
Malam itu hujan turun begitu deras.
Petir menyambar langit berkali-kali, menerangi bangunan tua yang berdiri di ujung kota.
Rumah Sakit Harapan Abadi.
Rumah sakit itu sudah ditutup lebih dari lima belas tahun. Kaca-kacanya pecah. Cat dindingnya mengelupas. Rumput liar tumbuh
hingga menutupi pintu masuk.
Namun...Warga sekitar percaya bahwa setiap malam Jumat, suara roda tempat tidur pasien masih terdengar dari dalam.
Dan...Ada sosok suster yang berjalan tanpa kaki. Ia menyeret tubuhnya di lantai.
Ssreeettt....Ssreettt...Ssreeettt...
"Jangan masuk ke sana!"bSuara seorang nenek menghentikan langkah empat mahasiswa yang sedang berdiri di depan
gerbang rumah sakit tua.
Raka menoleh.
"Kenapa, Nek?" tanyanya penasaran sambil tersenyum tipis. Wajah Raka tampak tenang, tetapi matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Nenek itu menggeleng pelan.
"Waktu sudah hampir jam sebelas malam..." Suara nenek mulai bergetar. "Kalau sudah lewat tengah malam... dia keluar."
Dinda menelan ludah.
"Dia... siapa?" tanyanya lirih. Bibirnya bergetar tipis, alisnya bertaut, sementara matanya menatap wajah sang nenek dengan penuh kecemasan.
Nenek mengangkat tangan gemetar lalu menunjuk bangunan rumah sakit.
"Suster Ngesot..." ucapnya pelan. Wajahnya mendadak pucat pasi, napasnya memburu, sementara sorot matanya dipenuhi ketakutan seolah kembali mengingat kejadian mengerikan yang pernah disaksikannya
Angin tiba-tiba berembus sangat dingin. Daun-daun bergesekan menimbulkan suara menyeramkan.
Fajar tertawa kecil.
"Ah, cuma cerita buat nakut-nakutin orang." ujarnya santai. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya sedikit pun.
Ia memasukkan kedua tangan ke saku sambil tersenyum meremehkan.
Nenek memandang Fajar dengan wajah pucat.
"Anak muda..." katanya lirih. Kerutan di dahinya semakin dalam, bibirnya bergetar pelan, sementara matanya menatap Fajar dengan rasa khawatir yang sulit disembunyikan.
"Jangan pernah mengejek sesuatu yang tidak kau lihat." lanjutnya. Ia menggeleng perlahan, rahangnya mengeras, sementara tatapannya terlihat begitu serius.
"Tahun lalu... tiga orang masuk ke sana." ucapnya lagi dengan suara semakin pelan. Tenggorokannya bergerak menelan ludah, kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara matanya mulai berkaca-kaca.
Napas nenek mulai memburu.
"Yang pulang... cuma satu."ucapnya lagi dengan suara semakin pelan. Tenggorokannya bergerak menelan ludah, kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara matanya mulai berkaca-kaca.
Keempat mahasiswa itu saling berpandangan.
"Yang dua lagi?" tanya Maya lirih.
Nenek menundukkan kepala.
"Sampai sekarang... belum ditemukan." jawab nenek lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan, matanya berkaca-kaca, sementara bahunya tampak bergetar pelan seolah kenangan mengerikan itu masih menghantuinya.
Meski diperingatkan, rasa penasaran mengalahkan rasa takut.
Raka mengangkat kamera.
"Konten horor seperti ini pasti viral." ucapnya penuh percaya diri. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, alisnya terangkat antusias, sementara sorot matanya dipenuhi rasa penasaran
Fajar mengangguk.
"Ayo." katanya singkat. Wajahnya terlihat santai, dagunya sedikit terangkat, sementara langkahnya langsung mengarah ke gerbang rumah sakit tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Dinda menggenggam lengan Maya.
"Aku jadi takut." bisiknya pelan. Bibirnya bergetar, wajahnya memucat, sementara matanya terus menatap bangunan tua itu dengan penuh kecemasan.
Maya memaksakan senyum.
"Kita cuma sebentar." ujarnya berusaha menenangkan. Meski bibirnya tersenyum tipis, sorot matanya menyimpan kegelisahan, sementara jemarinya ikut menggenggam tangan Dinda dengan erat.
Gerbang rumah sakit berderit saat didorong.
"Kreeeeek..."
Suara berdecit itu menggema panjang, memantul di setiap sudut bangunan yang gelap dan sunyi.
Begitu mereka masuk...
Udara langsung berubah dingin. Sangat dingin. Seolah semua kehangatan menghilang.
"Hah?"gumam Fajar kaget. Alisnya langsung berkerut, napasnya tertahan sesaat, sementara wajahnya menunjukkan kebingungan.
Fajar mengusap lengannya.
"Kok mendadak dingin begini?"tanyanya heran. Matanya menyapu seluruh lorong dengan waspada, bibirnya mengatup rapat, sementara bulu kuduknya mulai berdiri.
Raka menyorotkan senter. Lorong rumah sakit terlihat panjang. Lampu-lampu menggantung miring. Dinding dipenuhi bercak hitam seperti bekas darah yang sudah mengering.
Dinda memejamkan mata.
"Aku nggak nyaman." ucapnya lirih. Wajahnya semakin pucat, kedua tangannya gemetar, sementara tatapannya terus bergerak ke segala arah seolah merasa ada seseorang yang sedang mengawasi mereka.
Tiba-tiba...
Terdengar suara langkah.
Tok...
Tok...
Tok...
Semua langsung terdiam.
"Itu suara siapa?" bisik Maya.
Raka menggeleng.
"Kita berempat di sini." ucapnya lirih. Alisnya bertaut rapat, sorot matanya menyapu lorong yang gelap, sementara jemarinya menggenggam senter sedikit lebih erat.
Langkah itu berhenti. Sunyi.
Lalu...
Suara lain muncul. Bukan langkah. Melainkan... Gesekan sesuatu.
"Sreeet..."
"Sreeeet..."
"Sreeeeet..."
Dinda memeluk Maya.
"Itu suara apa?" bisiknya dengan suara bergetar. Wajahnya memucat, bibirnya gemetar, sementara matanya bergerak ke segala arah dipenuhi rasa takut.
Belum sempat ada yang menjawab...
Sebuah kursi roda di ujung lorong bergerak sendiri. Pelan. Lalu semakin cepat.
"Ciiiiiit..."
"Ciiiiiit..."
BRAAAAK!!
Kursi roda itu menabrak dinding. Semua berteriak.
"AAAAAH!!" teriak mereka bersamaan. Wajah mereka pucat pasi, mata membelalak lebar, sementara tubuh mereka refleks mundur karena terkejut.
Fajar mundur beberapa langkah.
"Itu pasti angin!" serunya memaksa tersenyum. Meski berusaha terdengar yakin, rahangnya tampak menegang, napasnya memburu, sementara sorot matanya mulai dipenuhi kegelisahan.
Namun... Tidak ada angin. Udara begitu hening.
Mendadak... Dari kejauhan terdengar suara perempuan.
Lembut. Pelan. Seperti sedang bernyanyi.
"Laa... laa... laa..."
Suara itu bergema di seluruh lorong.
Maya menangis.
"Ayo pulang!" pintanya dengan suara parau. Air matanya mulai mengalir, bahunya bergetar hebat, sementara tangannya menggenggam erat lengan Dinda.
Raka justru mengangkat kamera.
"Kita cari sumber suaranya." ucapnya serius. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran, matanya menatap ke arah datangnya suara, sementara langkahnya perlahan mulai bergerak maju.
"Kamu gila?" bentak Dinda dengan wajah pucat.
"Kita harus pergi!" lanjutnya dengan suara hampir menangis. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, bibirnya bergetar hebat, sementara tubuhnya gemetar menahan ketakutan.
Raka menggeleng.
"Sebentar saja." jawabnya tenang. Rahangnya mengeras, tatapannya tetap lurus ke depan, sementara rasa penasarannya tampak jauh lebih besar daripada rasa takut.
Mereka berjalan mengikuti suara nyanyian. Lorong demi lorong mereka lewati.
Hingga akhirnya...
Mereka tiba di ruang operasi. Pintunya terbuka sedikit.
"Kreeek..."
Bau anyir langsung menyengat hidung. Fajar menutup hidungnya.
"Bau apa ini?" gumamnya dengan wajah meringis. Alisnya mengernyit tajam, hidungnya berkerut, sementara perutnya mulai terasa mual.
Raka menyinari ruangan. Kosong.
Namun... Di tengah ruangan... Ada ranjang operasi.
Di atasnya...
Terlihat bekas noda merah kehitaman. Seolah darah yang tak pernah bisa dibersihkan.
Dinda berbisik pelan.
"Aku merasa..." ucapnya lirih. Wajahnya semakin pucat, napasnya tertahan, sementara kedua tangannya mulai gemetar.
"Ada yang melihat kita." lanjutnya dengan suara nyaris tak terdengar. Sorot matanya dipenuhi kepanikan, sementara bulu kuduknya berdiri seketika.
Semua spontan menoleh ke segala arah. Tak ada siapa pun.
Lalu....
"Sreeeet..."
Suara gesekan kembali terdengar.
Kini... Sangat dekat.
"Sreeeeet..."
"Sreeeeet..."
Raka memutar senter ke arah pintu. Tak ada apa-apa.
Fajar menarik napas lega.
"Tuh kan, nggak ada—" ucapnya sambil tersenyum lega. Bahunya mulai mengendur, tetapi kalimatnya terhenti di tengah ucapan.
Kalimatnya terhenti. Matanya membelalak. Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya perlahan menunjuk ke bawah ranjang operasi.
"Itu..." bisiknya dengan suara tercekat. Bibirnya bergetar hebat, sementara napasnya terasa seolah berhenti.
"Itu..." ulangnya pelan. Air liurnya sulit ditelan, matanya tak berkedip sedikit pun menatap ke bawah ranjang.
Semua ikut melihat. Di bawah ranjang...
Sepasang tangan pucat perlahan merangkak keluar.
Jari-jarinya panjang. Kukunya hitam. Kulitnya penuh darah.
Lalu...
Muncul wajah seorang wanita berseragam suster. Matanya putih seluruhnya. Mulutnya robek hingga ke telinga. Ia tersenyum lebar.
Kemudian...
Tubuhnya mulai keluar. Bukan berjalan. Melainkan... Menyeret tubuhnya.
Sssreetttttt...Ssreettt.....Sreeett...
Sambil menatap lurus ke arah mereka. Dengan suara serak yang membuat darah membeku, ia berbisik,
"Pasien... kalian belum boleh pulang..."