Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kamu pikir kalau kamu minggat, Ibu bakal senang gitu? Pulang ya, Dek! Kita selesaikan semua bersama. Ibu, Bapak pastinya kecewa. Dan akan lebih kecewa lagi kalau kamu minggat. Tunjukkan kalau kamu bisa belajar dari kesalahan. Tunjukkan kalau kamu bisa berubah dan bisa dibanggakan. Paham?"
"Tapi Mbak, aku udah buat malu Ibu sama Bapak!"
"Asal kamu tulus minta maaf dan mengakui kesalahan di depan mereka, InsyaAllah Mbak yakin pasti Ibu dan Bapak akan memaafkan kamu dek!"
"Sudah ya, kali ini aja. Mbak minta sama kamu. Ikut apa kata Mbak. Pulang, kita selesaikan semuanya sama-sama."
"Njeh Mbak. Maafin Azka ya Mbak!"
"Iya, sudah tenang ya. Biar Mbak yang matur ke Ibu. Kamu hati-hati kerjanya. Fokus ya! Ambon wudhu kalau masih gelisah."
"Iya Mbak."
"Ya sudah, Mbak juga mau lanjut kerja. Biar bisa pulang cepat. Kita bisa segera menyelesaikan semua dan datang sama-sama ke rumah Putri. Mbak mau telpon Ibu dulu ya!"
"Iya Mbak."
Setelah itu, aku segera mencari kontak Ibu. Tidak terlalu lama, panggilan sudah tersambung.
"Assalamu'alaikum, Mbak!"
"Waalaikumsalam, Bu. Bu, bisa agak minggir kemana dulu gitu! Ada yang mau Mbak omongkan sama Ibu. Jangan lupa bawa headset njeh!"
"Iya Mbak. Sebentar ya. Ibu ijin ke toilet sebentar.
"Iya, Bu."
Tidak menunggu lama sudah terdengar lagi suara Ibu.
"Iya Mbak, ada apa? Mbak nggak papa kan?" tanya Ibu dengan nada khawatir.
"Ibu, Mbak minta maaf. Mbak mau minta sesuatu sama Ibu. Apapun yang Mbak ceritakan nanti, Ibu harus tetap tenang, dan sabar njeh!" pintaku pada Ibu.
"Ada apa to Mbak? Ibu jadi penasaran ini."
"Bu, apa yang kita takutkan selama ini terjadi, Bu. Lama nggak datang ke rumah ternyata Putri hamil, Ayah tadi telpon ngabari kalau tadi orang tua Putri ke rumah. Mereka minta pertanggungjawaban dari Azka. Kalau sampai nanti malam keluarga kita nggak ada yang kesana, Azka mau dilaporin ke polisi katanya." ucapku lirih dan pelan.
"Astaghfirullah, Mbak.... "
"Bu, ini ujian Ibu. Ibu pasti kuat, dan pasti tetep bisa memeluk anaknya meski dia salah. Azka nyesel kok Bu. Dia saking takutnya malah mau minggat katanya. Nggak mau bikin malu lebih jauh lagi. Tapi tadi Mbak udah telpon Azka, dia pulang kok nanti."
"Gimana nggak hamil duluan Mbak, lha ibarat kucing dikasih ikan asin. Tiap malam adikmu di suruh nemenin di rumah. Alasannya Putri takut kalau sendirian di kontrakan cuma sama adiknya. Lagian, dari awal Ibu sudah nggak sreg lho Mbak sama mereka."
"Nggeh sampun Bu, sampun kebacut. Yang penting sekarang Azka harus tanggung jawab kalau memang itu hasil dari perbuatan nya. Ibu boleh nggak suka sama Putri dan keluarga nya. Itu hak Ibu. Tapi nggak mungkin kan Ibu bakal benci sama calon cucu Ibu yang nggak tahu apa-apa. Yang sudah, ya sudah." (Sampun kebacut\=sudah terlanjur)
"Tapi kamu gimana Mbak. Masa' iya kamu dilangkahi sama adik kamu. Ibu nggak rela Mbak!"
"Bu, jodoh itu sudah ada garisnya masing-masing. Mungkin Azka diberi kesempatan ketemu jodohnya lebih dulu, meski dengan cara yang salah karena itu buat pembelajaran mereka. Nggak mungkin mereka nunggu Mbak ketemu jodoh yang entah kapan dan dimana."
"Tapi Mbak... "
"Ibu, Insya Allah Mbak ikhlas, Mbak rela dan Mbak ridho kalau Azka nikah duluan. Sampun njeh, Insya Allah Mbak pulang kok hari ini. Cuma ngecek satu cabang aja. Nanti kita sama-sama ke rumah Putri njeh." ucapku menenangkan Ibu.
"Iya Mbak." jawab Ibu.
"Ya sudah, Mbak lanjut kerja dulu. Ibu juga hati-hati kerjanya. Pulangnya juga."
"Iya Mbak."
"Assalamu'alaikum." ucapku.
"Waalaikum salam."
*****
Sesuai yang dijadwalkan sebelum berangkat tadi, jam tiga kami pulang dari cabang. Kami baru sampai habis magrib karena jalanan lumayan macet.
[Mbak baru sampai kantor. Tunggu ya, Dek! Ini Mbak sudah mau OTW pulang.]
Aku kirim pesan pada adikku. Mengabarkan jika aku sudah sampai.
[Iya mbak. Ini sudah siap kok Bapak sama Ibu]
[Ya sudah, mbak jalan pulang sekarang.]
[Iya Mbak.]
Hampir dua puluh menit membelah jalanan dengan motor matic kesayangan, akhirnya aku sampai juga di rumah. Setelah bersih-bersih dan ganti baju, aku segera keluar kamar dan bersiap berangkat ke rumah Putri.
Sesampainya di rumah putri, kami disambut oleh kakek dan nenek putri, karena kami di minta datang ke sana saja yang lebih dekat dengan rumah kami. Belum kulihat kedua orang tua Putri, dan juga Putri. Padahal kami sudah sampai dari lima belas menit yang lalu.
"Mohon Maaf, ini orang tua Putri sama putrinya mana njeh Bu?" tanyaku. Kenapa? Karena aku sedikit kesal. Padahal mereka sudah tahu kami datang, tapi tidak mau keluar. Bukankah kami datang atas permintaan mereka. Kesannya meremehkan.
"Oh, iya. Saya panggilkan dulu ya!" jawab Neneknya.
Tak lama, kedua orang tua Putri dan juga Putri ikut bergabung. Dari obrolan yang aku yang tangkap, mereka seakan memojokkan Azka. Padahal mereka juga turut andil atas kejadian yang menimpa Azka dan Putri. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka kesannya hanya Azka yang salah. Melihat Ibu yang hampir terbawa emosi, aku hanya bisa menggenggam tangan beliau. Mengisyaratkan minta izin untuk berbicara.
"Mohon maaf, permisi kalau kesannya saya kurang ajar. Mungkin dibanding semua yang ada disini saya cuma bocah ingusan yang tidak paham apa-apa. Cuma kesan yang saya tangkap dari sini seakan cuma Azka yang salah. Permisi ya ini, mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kasar atau menyinggung Bapak dan Ibu. Karena saya bukan orang alasan yang pintar memilih kata halus dan lembut. Juga semua yang ada disini,ngapunten kalau apa yang keluar dari mulut saya terdengar kasar dan manyakitkan."
"Pertama, kalau Bu Nana tadi mengatakan, Putri jadinya nggak bisa ikut ujian nasional padahal kurang beberapa bulan saja. Mohon maaf ya ini, saat melakukan itu apa pernah berpikir resiko apa yang bakal dia tanggung? Hamil seperti sekarang misalnya. Atau kalau tidak hamil bisa jadi hubungan mereka putus di tengah jalan. Siapa yang rugi? Tetap pihak perempuan lho yang rugi. Karena sekali hilang, itu akan berbekas seumur hidup. Kira-kira apa bisa suaminya nanti menerima jika istrinya sudah tidak virgin?
Yang kedua, selama ini saya juga melihat kesan kalau Bapak dan Ibu juga sering memberi kesempatan sama mereka berdua tanpa pengawasan di rumah kontrakan njenengan. Ibarat kucing ada ikan asin, sekuat-kuatnya iman belum tentu imron kuat.
Intinya, kita nggak usah mencari siapa yang salah, siapa yang benar. Percuma, njeh. Nggak mungkin kan kalau kita berdebat lalu putri kembali seperti dulu sebelim hamil? Sekarang yeng penting ditentukan saja kapan tanggal pernikahan Azka dan Putri. Karena pada dasarnya menurut saya, kita semua salah. Sudah gitu aja."
"Iya. Mbak Rani bener. Nggak mungkin kan nunggu Putri lahiran baru mereka menikah?" ucap Kakek Putri
Semua yang ada di sana mengangguk setuju. Hingga akhirnya ditentukan akad nikah mereka seminggu lagi. Sambil mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk proses akad nikah mereka nantinya.
Setelah itu, kami pamit pulang. Tubuhku terasa sangat lelah. Tapi ku paksa tetap fokus mengendarai motor dan membonceng Ibu. Sedangkan Bapak satu motor dengan Azka. Sepanjang jalan kudengar beliau menangis lirih.
"Sampun to Bu, nangis nya. Mbak nggak mau nanti Ibu sakit." ucapku mengingatkan.
"Iya Mbak, makasih ya sudah buat Ibu tenang."
"Njeh Bu, sehat selalu njeh! Kan mau punya cucu sebentar lagi." ucapku.
Rasa ngantuk sudah tidak dapat ku tahan lagi saat sampai di rumah. Aku langsung masuk kamar, tapi tidak lama ada yang mengetuk pintu kamar ku.
Setelah kubuka, ternyata Azka.
"Iya dek, ada apa?"
Dia tidak menjawab, hanya menangis sambil memelukku erat. "Maafin Azka ya mbak!"
"Sudah, nggak papa. Mbak udah maafin kamu. Belajar jadi lebih baik lagi ya, Dek! Sebentar lagi ada tanggung jawab yang lebih besar lagi. Harus siap! Oke!"
"Mbak, mbak nggak mau sekalian aja akad minggu depan, kita nikah barengan!"
"Sembarangan! Mbak nikah sama siapa coba?" tanyaku sambil tertawa dan duduk di atas tempat tidur.
"Mas Yunus lah! Masa' iya sama Kuda Nil! Suami orang dia mah!" jawab Azka yang mulai bisa santai.
"Dek, mbak sama Mas Yunus itu cuma teman. Masak iya tiba-tiba mbak nodong buat di ajak nikah!"
"Tapi Mbak... "
"Udah nggak usah mikir macem-macem! Ntar kalau udah saatnya Mbak ketemu jodoh nggak usah pacaran langsung nikah kok!" jawabku asal.