NovelToon NovelToon
Makeup His Heart

Makeup His Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:575
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.

​Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Yang Nyata

​Sementara itu, di sebuah griya tawang (penthouse) mewah yang terletak di salah satu kawasan paling elite di Jakarta Selatan, Maxemilian berdiri di dekat jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Di bawah sana, kerlap-kerlip lampu kota Jakarta malam hari membentang luas bagai hamparan permata.

​Setelah mengirimkan pesan terakhirnya kepada Yeza, Max tidak langsung tidur. Ia menatap layar ponselnya selama beberapa saat sebelum akhirnya mencari sebuah kontak di daftar teleponnya dan menekan tombol panggil.

​Panggilan itu langsung tersambung pada nada kedua.

​"Halo, selamat malam, Tuan Max," terdengar suara ramah seorang wanita paruh baya di seberang telepon. Ia adalah kepala pengelola layanan kebersihan (housekeeping) khusus untuk unit-unit pribadi milik Max.

​"Malam, Bu Ratna. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda," ujar Max dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa. "Saya ingin meminta bantuan untuk mengirim tim kebersihan besok pagi-pagi sekali."

​"Tentu saja, Tuan. Unit yang mana yang harus kami bersihkan?"

​"Unit nomor 20B. Unit di sebelah tempat tinggal saya saat ini," jawab Max.

​Di seberang telepon, Bu Ratna sempat terdiam sejenak karena terkejut. Unit 20B adalah apartemen tipe premium dengan dua kamar tidur yang selama ini dibiarkan kosong dan terkunci rapat, karena Max sangat menjaga privasinya dan tidak pernah membiarkan sembarang orang tinggal di dekatnya.

​"Baik, Tuan. Apakah ada instruksi khusus untuk pembersihannya?" tanya Bu Ratna profesional, cepat-cepat menguasai keterkejutannya.

​"Bersihkan seluruhnya sampai tidak ada debu sedikit pun. Ganti semua sprei, gorden, dan pastikan pengharum ruangannya aroma melati yang lembut. Isi juga lemari es dengan bahan makanan segar, susu, dan buah-buahan," instruksi Max dengan sangat detail. "Pastikan semuanya sudah siap dan rapi sebelum lusa siang."

​"Dimengerti, Tuan Max. Besok pagi tim kami akan langsung mengerjakannya dan memastikan semuanya sempurna sesuai standar Anda."

​"Terima kasih, Bu Ratna. Selamat malam."

​Max memutus sambungan telepon, lalu mengembuskan napas perlahan.

​Sebenarnya, apartemen yang ia tawarkan kepada Yeza bukanlah apartemen biasa di lokasi yang acak. Unit tersebut berada di gedung yang sama, di lantai yang sama, dan bahkan bersebelahan persis dengan unit tempat tinggal pribadinya saat ini. Pintu mereka hanya berjarak beberapa langkah di lorong yang sama.

​Max sengaja tidak memberitahukan detail ini kepada Yeza di pesan tadi. Ia tahu gadis itu pasti akan merasa sungkan atau bahkan menolak karena merasa terlalu dekat dengan bosnya.

​Namun bagi Max, ini adalah keputusan yang paling logis. Dengan menempatkan Yeza di unit sebelahnya, Max tidak hanya mempermudah koordinasi kerja mereka yang akan sangat padat mulai bulan depan, tetapi juga memastikan satu hal penting: ia bisa mengawasi dan melindungi gadis itu secara langsung dari gangguan luar, termasuk dari bayang-bayang masa lalunya.

​Max melangkah ke balkon, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang tampan. Menatap pintu unit 20B yang berada di sebelah kirinya, sebuah senyuman tipis yang tak terbaca terukir di wajah sang aktor. Lusa, lorong sunyi ini tidak akan terasa sepi lagi.

​Max masih berdiri di balkon, membiarkan keheningan malam menemani pikirannya yang berkecamuk. Ia menyentuh pembatas besi balkon, menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit.

​Entah perasaan apa yang sebenarnya sedang merayap di dalam dadanya. Sejak pertama kali matanya beradu dengan mata bulat milik Yeza di ruang rias studio hari itu, ada dorongan kuat yang tak bisa ia jelaskan—keinginan mendalam untuk melindungi gadis mungil itu. Max adalah pria yang terkenal dingin, acuh tak acuh, dan sangat menjaga jarak aman dengan siapa pun di luar lingkaran profesionalnya. Namun di hadapan Yeza, semua tembok pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun seolah runtuh begitu saja tanpa permisi.

​Perubahan drastis ini tentu saja tidak luput dari perhatian Bram.

​Keesokan paginya, di dalam mobil dalam perjalanan menuju tempat latihan fisik Max, Bram yang sedang menyetir sesekali melirik bosnya dari spion tengah. Suasana mobil cukup tenang, hanya diiringi suara musik instrumental ber-volume rendah.

​"Max," panggil Bram memecah keheningan. "Semua persiapan untuk apartemen Yeza lusa sudah beres. Bu Ratna juga sudah mengonfirmasi kalau timnya sedang bekerja di unit 20B sekarang."

​"Bagus," jawab Max singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet di tangannya.

​Bram mengulum senyum, lalu terkekeh pelan. "Kamu tahu tidak? Selama hampir tujuh tahun aku bekerja jadi asisten pribadimu, ini pertama kalinya aku merasa seperti driver khusus untuk staf MUA."

​Max menghentikan gerakan jemarinya di atas layar tablet. Ia mendongak, menatap tajam ke arah Bram melalui spion. "Apa maksudmu?"

​"Ya... asisten MUA-mu yang dulu-dulu, boro-boro aku antar jemput sampai ke depan rumah mereka. Mereka bahkan harus datang sendiri ke lokasi syuting, bahkan kalau syutingnya selesai jam tiga subuh sekalipun," ujar Bram setengah menggoda. "Tapi untuk Yeza... kamu menyuruhku menjemputnya saat wawancara, mengantarnya pulang semalam, bahkan lusa aku harus membantunya pindahan rumah. Kamu berubah drastis, Max. Pengecualian ini terlalu mencolok."

​Mendengar ucapan Bram, Max terdiam. Ia tidak bisa membantah kata-kata asistennya karena semua itu adalah kebenaran yang nyata. Yeza telah mendapatkan semua pengecualian dan hak istimewa yang tidak pernah diberikan Max kepada siapa pun sebelumnya.

​Max kembali menatap layar tabletnya, mencoba menyembunyikan getaran aneh di dadanya. "Dia berbeda, Bram. Fisiknya kecil dan dia terlihat... mudah terluka. Aku hanya tidak ingin kinerjanya terganggu karena kelelahan di jalan."

​Bram hanya tersenyum simpul mendengar alasan klise dari bosnya. Ia tahu betul, alasan "profesionalitas" yang diucapkan Max hanyalah kedok untuk menutupi sebuah perasaan asing yang bahkan belum berani diakui oleh sang aktor sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!