" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Cinta Pemaksaan
Setelah pertemuannya dengan Ara, Sean pulang ke rumah utama dengan mood cukup baik.
"Ibu," kata Sean duduk dan memeluk ibunya sejenak untuk menghilangkan rasa lelah.
"Wahhhh, kau bawa bolu pandan lagi," semangat Ayah melihat paper bag yang ditaruh Sean di atas meja.
"Mmmh, aku pikir bolu pandan, ternyata salad," lesu Ayah kembali menaruhnya di atas meja.
"Ayah, kalau sudah tua itu makan yang sehat biar nggak gampang stroke," kata Sean mengecup tangan kanan Ayahnya itu.
Plak!
Tangan yang baru saja dikecup Sean kini malah menampar lengannya.
"Kau mendoakan aku stroke?" suara meninggi Ayah.
"Iya, biar aku bisa menguasai semua hartamu," tawa meledak Sean yang langsung berlari ketika Ayah tidak berhenti melemparnya dengan seluruh bantal sofa yang ada.
"Anak kurang ajar," ucap Ayah yang merasa lelah setelah cukup lama berlarian mengejar Sean.
"Ayah, aku punya hadiah bagus untuk kau lihat," kata Sean meminta berkas pada Bimo yang masih berdiri shock di dekat sofa melihat Sean dan Ayahnya.
"Kalian ini sudah sama tua, kelakuan masih seperti 20 tahun yang lalu," geleng kepala Ibu.
"Aku masih muda," jawab mereka bersamaan, lalu saling tatap karena jawaban mereka serentak.
"Muda?" Ibu menertawai Ayah dan anak yang masih merasa muda itu.
"Bimo, pulanglah," kata Sean setelah menerima berkas itu.
"Ayah, duduklah. Aku ingin bicara serius," ucap Sean.
"Bicara apa?" ketus Ayah yang sudah bad mood.
"Aku menemukan 23 orang koruptor di perusahaanmu. Puncak tertingginya berada pada adik sepupu Ayah tercinta," senyum lebar Sean melihat perubahan ekspresi di wajah Ayahnya.
"Dia korupsi dana perusahaan hampir 852 miliar," ucap Sean menaruh berkas di atas meja agar dibaca sang Ayah.
"Apa?" terkejut Ayah dan Ibu bersamaan.
"Sekarang mengerti kan kenapa perusahaan sulit berkembang? Sudah aku katakan pada Ayah, jangan terlalu percaya pada orang lain sekalipun itu keluarga kita," pernyataan Sean.
"Kau sudah memecatnya?" pertanyaan singkat Ayah tanpa berkomentar apa-apa melihat data-data di perusahaan.
"Aku pecat, proses secara hukum dan miskinkan," ucap Sean memangku kedua tangannya.
"Sean, tapi bagaimanapun mereka adalah keluarga kita," ucap Ibu juga melihat data-datanya.
"Bagiku, mereka yang tidak menghargai, apalagi melakukan kejahatan padaku, bukanlah keluarga lagi," pernyataan Sean.
"Sean, tapi setidaknya hargai keluarga kita. Bagaimana pun mereka adalah kerabat, cukup pecat saja," pernyataan Ayah masih mempertimbangkan beberapa hal.
"Tidak, orang tuaku adalah generasi terakhir yang menghargai kerabat toksik dan aku adalah pemutus mata rantai itu," pernyataan Sean.
"Ayah sudah memberikan hak penuh memimpin perusahaan padaku dan keputusanku adalah siapa yang tidak kompeten di suatu bidang tidak akan ditempatkan di sana," tegas Sean yang tidak terbantahkan.
"Aku tidak menyangka keluargaku sendiri seperti ini," ucap Ayah menarik napas berat menatap Sean yang perlahan menghilang menuju kamarnya.
"Jadi selama ini mereka melarang agar aku tidak menjadikan Sean pemimpin karena takut kebusukan mereka terbongkar," ucap Ayah yang tiba-tiba menyimpulkan satu hal.
......
Keesokan harinya.
Begitu Sean turun dari mobilnya, semua staf dan karyawan menyambutnya, namun ada seseorang yang menarik perhatian Sean.
Ara duduk di dekat kursi tunggu resepsionis dengan wajah kesal dan juga sedih di wajahnya.
"Tuan Muda, ada nona kecil. Sepertinya dia ingin ketemu," bisik Bimo pada Sean yang akan berjalan lurus menuju lift.
Sean memutar langkahnya dan menghampiri Ara.
"Kak Sean," kata Ara langsung berlari memeluk Sean dengan perasaan sedih, mengejutkan semua orang yang melihatnya.
"Kenapa?" tanya Sean mengelus kepala Ara, menatap pada resepsionis yang tiba-tiba wajahnya memucat.
"Nona kecil, kenapa bisa tahu alamat kantor ini?" tanya Bimo tersenyum setelah Ara melepaskan pelukannya pada Sean karena sekarang mereka bekerja di perusahaan utama.
"Dikasih tahu resepsionis kantor lama yang ramah, tidak seperti resepsionis di sini yang menghina orang lain," sindir Ara menatap resepsionis itu.
"Menghina?" ulang Sean melirik kedua wanita itu yang juga merupakan bagian dari keluarga besarnya.
"Ganti mereka," perintah Sean tanpa banyak bicara dan mengajak Ara ikut bersamanya.
"Tidak, Ara mau ke kampus, sebentar lagi masuk," kata Ara menolak ajakan Sean.
"Lalu mengapa ke sini?" pertanyaan Sean.
Ara mengambil kotak kecil dari saku depan rok jeans-nya dan mengeluarkan cincin.
"Mulai hari ini Kak Sean pacar Ara," bisik Ara memakaikan cincin itu ke tangan Sean yang masih berdiri terdiam.
"Daaaa, Ara mau pergi kampus dulu," kata Ara berlari pergi setelah memakaikan cincin.
"Ara, tapi perjanjian beberapa mi..." Sean jadi terdiam melihat Ara yang sudah menghilang di tengah keramaian orang-orang.
Sean kembali berjalan, sesekali menatap cincin di jarinya yang dipasangkan Ara tanpa Sean duga.
"Status baru nih, Tuan Muda," goda Bimo yang memang mendengar apa yang dibisikkan Ara karena dia berdiri tepat di belakang Sean.
"Bim, kenapa gadis kecil itu begitu nekat dan memaksa?" lesu Sean menarik napas berat.
"Sudah jalani saja dulu," senyum tertahan Bimo menatap Tuan Muda yang biasanya keras jadi terus diam tak berkutik ketika berhadapan dengan Ara yang bahkan memaksa untuk menjadi Sean pacarnya.
"Carikan aku nomor ponsel Ara," perintah Sean yang diangguki Bimo.
"Ngapain bicara di telepon? Datang saja ke kampusnya, bicara langsung," ucap Bimo yang sangat mendukung hubungan mereka.
"Tapi kan jadwalku cukup padat hari ini," ucap Sean yang benar-benar ingin tahu siapa Ara sepenuhnya.
"Aku bisa mengosongkan beberapa jam," ucap Bimo.
.....
Setelah menghubungi Ara sebelumnya di jam makan siang, Sean menunggu Ara di sebuah restoran dekat kampus Ara.
"Kak Sean," kata Ara tersenyum lebar begitu datang bersama Melly.
"Aku ingin bicara sebentar dengan Ara. Bim, makanlah dulu bersama teman Ara," perintah Sean yang diangguki Bimo.
"Ayo, nona," kata Bimo dengan senyum khasnya.
"Ara," Melly malah memeluk lengan Ara semakin erat.
"Tidak apa-apa, Kakak itu juga ganteng," bisik centil Ara mengedipkan matanya.
Setelah mereka tinggal berdua, Sean menatap Ara yang duduk di hadapannya.
"Ini maksudnya apa?" pertanyaan Sean menatap cincin yang masih melingkar di jarinya yang tadi pagi dipasangkan Ara.
"Kak Sean jadi pacar Ara," pernyataan Ara.
"Perasaan aku belum menerima untuk menjadi pacar kamu," ucap Sean menatap Ara yang langsung mengklaim Sean adalah pacarnya.
"Kalau tidak menerima, kenapa cincinnya masih dipakai?" goda Ara mengangkat sebelah alisnya.
"Itu, itu, ka, karena, aku, aku lupa melepasnya," kata Sean gelagapan akan segera melepas cincinnya.
"Mmmmh, nggak boleh dilepas," kata Ara memegang kedua tangan Sean.
"Tapi kan aku belum mengenal kamu sepenuhnya," ucap Sean menatap Ara yang bahkan belum sebulan dikenalnya.