Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
"Nona... Apa yang sedang Nona lakukan?!"
Di sisi tempat tidur, Kania duduk memeluk lutut. Namun yang membuat darah pelayan itu seolah berhenti mengalir adalah benda yang digenggam erat di tangan kanan wanita itu, sebilah pisau tajam yang diambilnya dari peralatan makan yang tersedia di meja samping. Bilahnya berkilau samar terkena cahaya lampu tidur yang redup. Mata Kania kosong, merah sembab karena menangis, menatap tajam ke arah pintu seolah siap melawan siapa pun yang berani mendekat.
"Jangan... jangan mendekat!" seru Kania dengan suara parau dan gemetar, tangannya yang memegang pisau makin tergenggam kuat, ujungnya mengarah ke depan sebagai tanda ancaman. "Kalian sudah menghancurkan hidupku! Aku tidak ingin hidup lagi... semua yang kumiliki sudah hilang..."
Pelayan itu segera menurunkan nampan di meja terdekat dengan tangan gemetar hebat, lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sebagai tanda menyerah, berusaha tenang meski hatinya berdegup kencang ketakutan.
"Tenang, Nona... saya mohon tenanglah," ucapnya pelan namun jelas, berbicara dengan nada selembut mungkin agar tidak memicu ketakutan lebih lanjut. "Saya hanya membawa susu hangat sesuai perintah Tuan Victor. Tidak ada niat buruk sama sekali. Saya tidak akan mendekat, saya janji..."
Ia mundur perlahan selangkah demi selangkah, matanya tak berani beralih dari pandangan wanita itu yang penuh ketakutan sekaligus keputusasaan, berusaha meyakinkan bahwa ia bukan ancaman. "Ini hanya tugas biasa, Nona. Silakan diminum jika mau. Saya... saya akan segera memanggil Tuan Victor untuk datang ke sini..."
Tanpa berani menunggu lebih lama, pelayan itu perlahan mundur keluar kamar, lalu menutup pintu kembali dengan sangat hati-hati, segera bergegas melapor kepada tuannya dengan jantung yang masih berpacu cepat.
Sementara itu, Victor baru saja meletakkan dokumen tebal di atas meja kerjanya ketika pintu diketuk dengan tergesa-gesa. Belum sempat ia menyuruh masuk, pelayan itu sudah muncul dengan wajah pucat dan napas terengah-engah, matanya menunduk tak berani menatap langsung.
"Ada apa?" tanya Victor dengan suara datar dan dingin, tanpa mengubah posisi duduknya.
"Tu… Tuan Victor… maafkan saya mengganggu, tapi… di kamar tamu… Nona itu… dia..." suara pelayan itu terputus-putus karena gugup. "Dia memegang pisau tajam. Ketika saya membawakan susu, dia mengancam tidak boleh didekati. Saya takut terjadi hal buruk…"
Sekejap saja rahang Victor mengeras, namun tak ada ekspresi kaget yang tampak. Ia hanya berdiri perlahan, merapikan ujung lengan kemeja hitamnya, lalu melangkah keluar dengan langkah yang tetap terukur dan tenang.
Sesampainya di depan pintu kamar, ia tidak mengetuk atau memanggil. Dengan satu gerakan tangan, ia mendorong pintu terbuka lebar. Suara engsel yang berderit pelan membuat Kania tersentak, tangannya yang memegang pisau terangkat lebih tinggi lagi, bahunya gemetar hebat.
Victor berdiri tepat di ambang pintu, cahaya dari lorong di belakangnya membuat bayangannya tinggi dan menghitam. Seperti malaikat pencabut nyawa yang datang menagih.
"Letakkan benda itu," perintahnya dengan nada rendah namun tegas, berwibawa hingga terasa menusuk ke tulang sumsum. "Sekarang."
Kania menelan ludah susah payah, matanya berkaca-kaca namun tetap memandang penuh kecurigaan. "Jangan mendekat! Kalian semua sama saja… ingin menghancurkan hidupku seperti yang mereka lakukan, bukan?!" teriaknya dengan suara pecah, pisau di tangannya bergetar hebat.
Victor mendengus pelan, nada suaranya tetap tak berubah, "Jika aku ingin menghancurkan hidupmu, aku tak perlu membuang waktu membawamu pulang, merawat lukamu, dan menyuruh dokter memeriksa. Aku bisa saja membiarkan mereka yang mengejarmu menyeretmu pergi tadi."
Ia melangkah masuk satu langkah saja, cukup untuk terlihat lebih jelas namun tetap menjaga jarak aman. Tatapannya tetap tajam dan tak kenal ampun.
"Pisau itu terlalu tumpul untuk melukai siapa pun di rumah ini, terutama dirimu sendiri yang tubuhnya masih lemas tak berdaya," lanjutnya mengejek dengan nada dingin. "Dan jika kau berani mencoba menggunakannya padaku, aku berjanji tangan yang memegang pisau itu akan patah sebelum ujungnya sempat menyentuh ujung bajuku. Kau mau buktinya?"
Kata-kata itu menusuk tepat di titik keraguan Kania. Ia merasakan betapa kosong dan lemahnya posisinya sekarang. Ia tak punya tempat lari, tak punya kekuatan untuk melawan, hanya rasa takut yang mendorongnya berbuat nekat. Tangannya makin lemas, pisau itu terasa berat luar biasa digenggamannya.
Victor menatapnya tanpa berkedip, memberi tekanan senyap namun kuat. "Aku hanya butuh satu hal darimu, tetap hidup dan bicara jujur besok. Tak lebih, tak kurang. Jadi letakkan benda itu, minum susunya, dan tidur. Jangan buat aku membuang tenaga untuk mengamankanmu dengan cara yang lebih kasar."
Ditekan oleh tatapan dan nada bicara yang tak memberi ruang bantahan, kekuatan terakhir di tubuh Kania luruh. Jari-jarinya terlepas perlahan, pisau itu jatuh ke lantai dengan bunyi yang lembut namun terdengar sangat jelas di ruang sunyi itu. Ia segera menutup wajah dengan kedua telapak tangan, tangisan kembali meledak tanpa tertahan.
Victor hanya melirik pisau itu sekilas, lalu melambaikan tangan singkat ke arah pintu. Dua pengawal yang sudah menunggu di luar segera masuk, mengambil benda itu dengan cepat dan diam-diam.
"Kunci pintu dari luar. Jangan ada yang keluar atau masuk tanpa izinku," perintahnya kepada mereka, lalu kembali menoleh ke arah Kania yang terguncang. "Ingat perkataanku. Mulai malam ini nyawamu bukan milikmu. Itu milikku."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Kania yang terisak sendirian di tengah kebingungan antara rasa takut yang belum hilang dan sedikit harapan samar yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.
-
-
-
Jam menunjukkan pukul lima pagi saat mobil Haris berhenti di depan rumah mewah keluarganya. Pintu terbuka, dan Haris turun dengan langkah terhuyung-huyung, tubuhnya terombang-ambing karena pengaruh alkohol yang kuat. Pakaiannya berantakan, rambutnya basah terkena embun dan sisa hujan, serta napasnya berbau tajam minuman keras. Ia berjalan menuju pintu utama dengan mata terpejam setengah, seolah dunia di sekelilingnya berputar tak menentu. Di kepalanya masih terngiang wajah Kania yang basah kuyup dan kata-katanya 'Aku korban'. Tapi dia memilih menenggelamkannya dengan alkohol.
Belum sempat ia memegang gagang pintu, lampu teras menyala dan Ayahnya, Tuan Darius Baskara, sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah menahan amarah.
"Haris! Apa yang kau lakukan sampai pulang dalam keadaan begini?!" bentak Tuan Darius dengan suara menggelegar yang memecah keheningan pagi. "Kau lupa hari ini ada pertemuan bisnis penting? Atau kau sudah lupa posisimu sebagai pewaris keluarga ini?"
Haris hanya mendongak samar, senyumnya miring dan tak jelas. "Tenang saja… Ayah… aku cuma butuh menenangkan pikiran saja… banyak hal yang membuat pusing…"
Tuan Darius mengeratkan rahang, dadanya naik turun menahan amarah yang nyaris meledak. Ia melangkah maju, jarinya menunjuk tepat ke wajah Haris yang masih terhuyung-huyung.
"Menenangkan pikiran? Dengan cara menghabiskan minuman keras sampai pagi buta begini?!" bentaknya lagi, suaranya makin meninggi. "Jawab Ayah! Ke mana saja kau semalaman? Kenapa harus pulang dalam keadaan seperti sampah? Apa kau tak punya rasa malu dan tanggung jawab sedikit pun?!"
"Kau pikir jadi pewaris keluarga ini cuma soal menikmati harta dan bersenang-senang? Pagi ini seluruh mitra penting akan datang, dan jika kau masih dalam keadaan kacau begini, nama baik keluarga kita bisa hancur!" lanjutnya tanpa henti, matanya menyala penuh kekecewaan.
Belum sempat Haris menggumamkan jawaban yang tak jelas, Nyonya Astrid sudah keluar dari balik tubuh suaminya, wajahnya cemas namun lembut. Ia memegang lengan Tuan Darius perlahan, mencoba menenangkan.
"Mas, tolong turunkan suaramu," ucapnya lembut namun tegas. "Lihat saja keadaannya sekarang, dia tak mampu berdiri tegak, apalagi menjawab pertanyaan dengan kepala jernih. Memarahi dia dalam kondisi begini juga percuma, hanya buang-buang tenagamu saja."
Ia lalu menoleh ke arah Haris yang hampir terjatuh, dan melanjutkan kepada suaminya, "Biarkan dia masuk dan istirahat dulu sampai sadar. Setelah dia bangun nanti, baru kita tanya dengan tenang apa yang terjadi sampai dia minum banyak begini."
Tuan Darius masih mendengus keras, napasnya terengah, namun saat melihat istrinya memandang dengan tatapan memohon, amarahnya perlahan mereda meski masih terlihat ketidakpuasan di wajahnya. Ia mendengus sekali lagi, lalu berbalik sambil bergumam, "Baiklah... Begitu dia sadar, suruh dia langsung datang ke ruang kerjaku."
Sementara itu, Nyonya Astrid segera menyandarkan tubuh Haris yang lemas ke bahunya, lalu membawanya perlahan melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi itu.
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭