Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Ikut?
Sersan Baim langsung berdiri tegap dan memberi hormat, "Lapor, Kapten! Ini Pak Joko, warga desa seberang. Mengeluhkan sakit perut parah sampai pingsan dan muntah-muntah," jawabnya.
Hazel tidak membuang waktu, ia melangkah maju dan memotong pembicaraan sebelum Sersan Baim menjelaskan lebih panjang.
"Kapten Gavin, Pak Joko mengalami radang usus buntu parah. Dari gejalanya, usus buntunya kemungkinan besar sudah pecah di dalam perut. Tubuhnya sudah demam tinggi dan perutnya mengeras, kita tidak punya waktu lagi," ucap Hazel.
Gavin mengalihkan pandangannya dari Pak Joko, lalu menatap lekat-lekat ke dalam mata Hazel. Ada keraguan yang sempat melintas di wajahnya, "Bawa ke rumah sakit daerah lewat jalur darat sekarang juga, pakai mobil dobel kabin milik pos," perintah Gavin.
"Tidak bisa! Jalur darat lumpuh karena longsoran tebing belum bersih. Ditambah lagi, butuh waktu empat jam untuk sampai ke sana. Kalau kita nekat pakai jalur darat, usus buntunya yang pecah akan menyebarkan bakteri ke seluruh rongga perutnya. Pak Joko bisa meninggal karena syok septik di tengah jalan!" ucap Hazel dengan nada suara yang meninggi, ia merasa frustrasi karena berpacu dengan waktu.
Suasana di dalam barak medis yang sempit itu mendadak hening, Sersan Baim dan dua prajurit lainnya menahan napas dan tidak berani menyela perdebatan antara sang dokter dan komandan mereka.
Gavin mengerutkan keningnya dalam-dalam, "Jadi mau Dokter apa?" tanya Gavin.
"Saya butuh izin evakuasi udara, kita harus menerbangkan Pak Joko pakai helikopter ke Rumah Sakit di kota malam ini juga. Tolong, Kapten Gavin... ini masalah hidup dan mati," pinta Hazel.
Sorot mata Hazel yang tadi berkaca-kaca karena masa lalu, kini berubah menjadi tatapan memohon yang amat sangat demi keselamatan seorang pasien.
Gavin terdiam beberapa detik, pikirannya berputar cepat menghitung risiko yang akan terjadi. Menerbangkan helikopter di daerah perbatasan pada pukul sebelas malam dengan cuaca yang mulai gerimis berangin bukanlah perkara mudah, risikonya sangat tinggi untuk keselamatan kru helikopter itu sendiri.
Namun, melihat kondisi Pak Joko yang mulai mengigau menahan sakit, Gavin tahu ia tidak punya banyak pilihan. Sebagai komandan, tugasnya adalah melindungi rakyat.
"Sersan Baim!" panggil Gavin tegas.
"Siap, Kapten!" jawab Sersan Baim.
"Hubungi pangkalan udara sektor darurat sekarang, katakan kita butuh satu unit helikopter evakuasi medis darurat secepatnya!" perintah Gavin tanpa ragu.
"Siap, laksanakan!" Sersan Baim langsung berlari keluar menuju ruang radio dengan terburu-buru.
Gavin kembali menatap Hazel, jarak mereka begitu dekat. "Helikopter akan tiba dalam dua puluh menit jika cuaca tidak memburuk, jadi pastikan kamu bisa menjaga pasien ini tetap stabil sampai helikopter datang," ucap Gavin dengan suara yang melembut, tidak sedingin tadi.
Hazel mengangguk mantap, "Pasti! Terima kasih, Kapten Gavin," jawab Hazel.
Dua puluh menit terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa. Di dalam barak, Hazel bergerak dengan sangat cekatan. Ia memasang jalur infus kedua pada tangan Pak Joko untuk memasukkan antibiotik dosis tinggi dan cairan penguat tubuh, sementara tangannya yang lain sibuk mengompres dahi pria paruh baya itu.
Sifat Hazel yang biasanya terlihat anggun dan rapuh seketika hilang, di mata Gavin yang diam-diam memperhatikannya dari sudut ruangan, Hazel terlihat seperti seorang pejuang wanita yang sangat tangguh.
Hingga tiba-tiba, terdengar suara petir menyambar di kejauhan dan disusul dengan suara gemuruh baling-baling helikopter yang semakin lama semakin mendekat. Lampu sorot helikopter berwarna putih terang tampak berputar-putar di luar, menembus kaca jendela barak yang berdebu.
"Helikopter sudah mendarat! Ayo bergerak!" teriak Gavin mengomando.
Dua prajurit dengan sigap mengangkat tandu Pak Joko, Hazel segera meraih tas medis daruratnya dan memegangi botol infus yang menggantung, bersiap ikut berlari keluar. Namun, karena terburu-buru dan kondisi kakinya yang masih lecet akibat sepatu kemarin, Hazel sempat terhuyung dan hampir terjatuh di lantai yang licin.
Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sebuah tangan kekar dengan cepat menangkap lengannya. Gavin menahan tubuh Hazel, memastikan wanita itu tetap berdiri tegak.
"Hati-hati," bisik Gavin pendek di dekat telinga Hazel, sebelum akhirnya melepaskan pegangannya dan ikut membantu memapah tandu keluar menembus angin kencang yang dihasilkan oleh baling-baling helikopter.
Di bawah guyuran gerimis dan angin malam yang menusuk tulang, mereka semua berlari kearah helikopter. Angin dari baling-baling helikopter begitu kuat hingga menerbangkan rambut Hazel yang terikat, begitu tandu Pak Joko berhasil dinaikkan ke dalam kabin helikopter, Hazel langsung melompat naik dan duduk di samping Pak Joko.
Hazel mengira Gavin hanya akan mengantarnya sampai di luar, namun detik berikutnya, Gavin ikut melompat masuk ke dalam kabin helikopter. Pria itu menutup pintu geser helikopter dengan keras dan langsung mengambil posisi duduk di depan Hazel.
Hazel terbelalak kaget di tengah kebisingan suara mesin helikopter, "Kamu ikut?" tanya Hazel dengan berteriak agar suaranya terdengar di antara gemuruh mesin.
Gavin memasang headset komunikasinya, lalu menatap Hazel datar namun sarat akan perlindungan. "Ini wilayah tugasku, prosedur evakuasi udara warga sipil harus dikawal langsung oleh komandan kompi!" jawab Gavin setengah berteriak.
Helikopter mulai terangkat naik, bergoyang hebat saat menembus awan malam yang gelap dan tebal. Guncangannya berkali-kali lipat lebih terasa dibanding pesawat komersial biasa, membuat perut Hazel seketika terasa mual dan kepalanya pusing. Hazel refleks memejamkan matanya rapat-rapat sambil mencengkeram erat pinggiran tandu Pak Joko, mencoba menahan rasa takutnya pada ketinggian.
Di tengah kegelapan kabin yang hanya disinari lampu indikator berwarna merah redup, Gavin tidak melepaskan pandangannya dari Hazel. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana bibir Hazel memucat dan tubuhnya sedikit gemetar karena kedinginan dan takut.
Perlahan, Gavin mengulurkan tangannya di antara sela-sela tandu, meraih jemari tangan Hazel yang bebas dan menggenggamnya dengan sangat erat. Genggaman tangan Gavin terasa begitu hangat dan kokoh, seolah menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.
Hazel membuka matanya karena terkejut, menatap ke arah Gavin. Di dalam remang-remang kabin helikopter, untuk pertama kalinya setelah empat belas tahun, Hazel kembali melihat tatapan hangat yang dulu selalu ia rindukan dari seorang Gavin.
Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka karena bisingnya mesin. Namun, lewat genggaman tangan itu, Hazel tahu bahwa di lubuk hati Gavin yang paling dalam. Pria itu masih menjadi Gavin yang sama, pria yang selalu siap melindunginya dari badai apa pun.
Namun, momen itu tidak bisa berlangsung lama. Fokus Hazel langsung terenggut kembali begitu mendengar erangan Pak Joko yang semakin lirih, Hazel segera melepaskan genggaman tangan Gavin.
Hazel menempelkan dua jarinya di leher Pak Joko, memeriksa denyut nadinya yang begitu cepat dan lemah. Ia kemudian memeriksa monitor tanda vital portabel yang terpasang di dada pria paruh baya itu, angka yang tertera membuat jantung Hazel mencelos. Tekanan darah Pak Joko merosot tajam, sementara detak jantungnya meningkat drastis.
"Gavin! Tekanan darahnya turun drastis! Dia mulai masuk fase syok septik!" teriak Hazel kencang di dekat telinga Gavin.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak