~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
****
Semenjak kabar kehamilan itu menyebar ke seluruh penjuru rumah joglo, suasana kediaman Raden Mas Baskoro berubah total. Rumah yang dulu dikenal sebagai pusat administrasi tanah yang hening, kaku, dan penuh ketegangan, kini seolah berubah menjadi taman bunga yang dijaga ketat oleh penjaga-penjaga yang tak kasat mata.
Baskoro, sang juragan yang biasanya menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kerja atau memantau mandor di lapangan, kini seolah kehilangan minat pada urusan duniawi. Pria paruh baya itu bertransformasi menjadi sosok suami yang sangat protektif, bahkan cenderung obsesif. Ia melarang Larasati melakukan aktivitas apa pun yang melibatkan gerakan fisik berlebih. Bahkan, hanya sekadar berjalan menuju selasar untuk melihat bunga kamboja pun, Larasati harus didampingi oleh Mbok Sum atau pengawal setianya.
"Laras, duduklah. Biarkan Mbok Sum yang membawakanmu air," tegur Baskoro suatu pagi saat melihat Larasati hendak mengambil teko kuningan sendiri. Suara itu tidak lagi terdengar membentak, melainkan penuh kekhawatiran yang menekan.
Larasati terkekeh pelan, meski di balik tawanya ia merasakan sesak di dadanya. "Mas, kulo hanya mengambil air, bukan memindahkan gunung. Tubuh kulo tidak serapuh itu."
"Bagi anak kita, setiap langkahmu adalah pertaruhan, Laras," jawab Baskoro dengan nada yang amat serius. Ia segera beranjak dari kursinya, mengambil alih teko dari tangan Larasati, dan menuntun istrinya kembali ke tempat duduk. "Jangan membantah. Aku tidak akan membiarkan benih ini terganggu sedikit pun."
Larasati hanya bisa menghela napas pasrah. Ia kini menjadi burung emas di dalam sangkar jati yang megah. Segala kebutuhannya dipenuhi, segala keinginannya dikabulkan sebelum ia sempat memintanya. Namun, ada satu hal yang mulai bergejolak di dalam batin Larasati, sebuah dorongan aneh yang biasa dirasakan oleh wanita hamil: ngidam.
Keinginan itu datang seperti badai, menyerang saat fajar menyingsing di hari kelima setelah pengumuman kehamilan. Larasati tidak menginginkan masakan mewah dari juru masak keraton, tidak pula perhiasan emas. Ia menginginkan buah mangga kweni—buah yang tumbuh tepat di belakang gubuk tua tempat ia dibesarkan di desa bawah perbukitan. Buah yang aromanya wangi menyengat, yang dagingnya kuning masir dan terasa asam manis saat matang di pohon.
Sepanjang hari, Larasati mencoba menepis keinginan itu. Ia tahu Baskoro akan merasa keberatan jika ia harus turun ke desa, apalagi ke tanah yang dulu pernah menjadi sengketa. Namun, aroma kweni itu seolah menari-nari di indra penciumannya, membuatnya tidak bisa makan apa pun.
Malam itu, di kamar utama, saat mereka tengah berbaring dalam keheningan, Baskoro menyadari kegelisahan istrinya. Ia membelai perut Larasati yang mulai terasa sedikit membuncit dengan sangat hati-hati.
"Kamu gelisah, Nduk? Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Baskoro lembut.
Larasati terdiam sejenak, lalu memberanikan diri berbisik, "Mas... kulo... kulo ingin mangga kweni."
Baskoro mengernyitkan dahi. "Mangga kweni? Bukankah di kebun joglo banyak buah? Akan kupanggilkan tukang kebun untuk mencarikannya sekarang."
Larasati menggeleng lemah. "Bukan mangga dari kebun sini, Mas. Kulo ingin mangga kweni dari pohon belakang gubuk Ayah di desa bawah. Hanya itu yang bisa membuat rasa mual kulo hilang. Baunya yang wangi khas itu... kulo merindukannya."
Baskoro terdiam. Ia tahu gubuk itu berada di tanah yang paling sulit diakses di kaki bukit, melewati jalan setapak yang sempit. Namun, melihat Larasati yang begitu pucat dan lesu, ia tidak punya pilihan lain.
"Besok pagi, aku yang akan mengambilkannya untukmu," putus Baskoro mutlak.
"Mboten, Mas! Jangan! Anda juragan besar, tidak pantas turun ke desa bawah hanya untuk buah mangga," protes Larasati. "Biarkan Sentot saja."
"Tidak ada yang boleh mengambil buah itu selain aku. Aku ingin memastikan buah yang sampai ke tanganmu adalah buah terbaik yang kupetik sendiri," tegas Baskoro.
Keesokan paginya, pemandangan yang tak masuk akal terjadi di desa bawah. Warga desa yang sedang bersiap ke ladang terbelalak saat melihat iring-iringan kereta kuda Juragan Besar Joglo berhenti di pinggir jalan. Lebih mengejutkan lagi, Raden Mas Baskoro turun dengan pakaian beskap yang disingsingkan, membawa galah bambu panjang, dan langsung menuju ke arah gubuk tua milik Sastro Wignyo.
Warga berbisik-bisik, mengira terjadi sesuatu yang buruk. Namun, mereka justru melihat sang juragan besar yang ditakuti itu memanjat dahan pohon kweni tua dengan susah payah, wajahnya yang penuh wibawa kini bersimbah peluh, tangannya tergores ranting demi memetik tiga buah kweni yang paling matang.
Sastro Wignyo yang keluar dari gubuk langsung bersujud. "Raden Mas! Apa yang Anda lakukan? Biarkan hamba yang memetiknya!"
"Tidak perlu, Pak Sastro," jawab Baskoro sambil turun dari pohon, napasnya memburu namun matanya berbinar bahagia melihat hasil petikannya. "Larasati menginginkan ini. Dia adalah permaisuriku, dan anak di dalam rahimnya adalah pewarisku. Jika dia menginginkan bulan pun, akan kupetikkan."
Baskoro kembali ke joglo dengan baju yang agak kotor oleh debu dan getah pohon. Saat tiba di kamar, ia langsung mendapati Larasati yang menunggunya dengan cemas di ambang pintu. Baskoro segera menghampiri, memamerkan buah kweni yang wangi itu di depan wajah istrinya.
"Ini," bisik Baskoro dengan senyum lebar yang belum pernah Larasati lihat sebelumnya. "Aku sudah memetikkan dunia untukmu, Nduk."
Larasati menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat debu di wajah Baskoro dan goresan ranting di tangannya. Ia sadar, pria ini telah menanggalkan seluruh harga dirinya sebagai bangsawan demi memenuhi keinginan sederhana istrinya.
"Mas... Anda benar-benar gila," ucap Larasati, namun ia meraih buah itu dengan tangan gemetar penuh haru.
Di dalam kamar, Baskoro duduk di samping Larasati. Dengan pisau perak kecil miliknya, ia mengupas kulit mangga itu dengan sangat telaten. Aroma asam manis kweni yang segar memenuhi ruangan, seketika mengusir rasa mual yang sedari pagi menghantui Larasati.
Baskoro menyuapkan potongan daging buah yang kuning ranum itu ke mulut Larasati. "Enak?"
Larasati mengunyah perlahan, merasakan ledakan rasa segar di lidahnya. Air mata haru jatuh saat ia menelan daging buah itu. "Sangat enak, Mas. Seperti pulang ke rumah."
"Kamu memang sudah di rumah, Laras," jawab Baskoro sambil menyuapkan potongan kedua. "Rumah ini akan selalu jadi tempatmu pulang, dan sekarang, rumah ini akan segera memiliki suara tawa baru."
Baskoro kemudian membelai lembut perut Larasati. "Anakku... apakah kamu sudah makan dengan kenyang? Ibumu yang cantik ini sudah makan buah favoritnya, sekarang giliranmu untuk tumbuh dengan sehat di sana."
Larasati tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng perak yang menenangkan. Ia meletakkan kepalanya di bahu Baskoro. "Anda terlalu berlebihan, Mas. Dia baru sebesar kacang."
"Dia adalah masa depanku, Laras," balas Baskoro tegas. Ia mencium kening istrinya dengan kasih sayang yang meluap-luap. "Dulu, aku diajarkan oleh ayahku untuk mematikan perasaan agar bisa menjadi pemimpin. Tapi bersamamu, aku sadar bahwa pemimpin yang sesungguhnya adalah dia yang berani menundukkan kepala demi kebahagiaan orang yang dicintainya."
Larasati meraih tangan Baskoro, menautkan jemarinya di sela-sela jari tangan suaminya yang besar. "Mas, kulo berjanji, anak ini tidak akan tumbuh dalam ketakutan seperti Anda dulu. Kita akan membesarkannya dengan penuh cinta, bukan dengan cambukan perak di dinding kamar."
Baskoro terdiam, menatap cambuk kuda berkepala perak yang tergantung di dinding kamar masa kecilnya—kamar yang kini telah mereka buka bersama. Ia mengangguk pelan. "Ya. Cambuk itu akan kita buang. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi rasa takut di rumah ini. Hanya akan ada kita, dan dia yang sedang tumbuh di dalam sana."
Baskoro kemudian meletakkan piring buah itu, dan dengan perlahan, ia menarik Larasati untuk berbaring di atas ranjang. Ia mendekap istrinya dari samping, membiarkan Larasati mengistirahatkan tubuhnya setelah kelelahan pagi tadi.
"Tidurlah, permaisuriku," bisik Baskoro sambil membelai rambut Larasati hingga gadis itu terlelap.
Di luar jendela, matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga di langit perbukitan. Di dalam rumah joglo yang dulu terasa dingin, kini kehangatan tidak hanya berasal dari perapian atau dupa, melainkan dari jantung yang berdetak di dalam perut Larasati, yang disaksikan oleh dua pasang mata yang kini saling menatap penuh janji masa depan.
Baskoro tidak beranjak. Ia terus menatap wajah istrinya, meresapi setiap napas yang berhembus, menyadari bahwa setiap detik yang ia habiskan di sini jauh lebih berharga daripada semua hektar tanah yang ia miliki di seluruh distrik. Ia telah menemukan apa yang selama ini dicari oleh jiwanya yang sunyi: sebuah tempat untuk bersandar, dan sebuah garis keturunan yang akan membawa namanya ke masa depan dengan cinta, bukan dengan kekuasaan.
Malam itu, joglo terasa begitu damai. Tidak ada badai, tidak ada ketegangan, hanya detak jantung dua orang yang telah menemukan rumah dalam diri satu sama lain.
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat