Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Utusan Sang Pertapa (Bagian 2)
Malam itu Leon hampir tidak bisa tidur.
Kotak Warisan Penjaga diletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang. Sesekali ia melirik benda itu, berharap segelnya tiba-tiba terbuka.
Namun tidak terjadi apa-apa.
Kotak hitam itu tetap diam.
Sama misteriusnya dengan kelas yang tersegel di dalam dirinya.
Leon mengembuskan napas panjang.
"Sinkronisasi sepuluh persen..."
"Sekarang baru tiga persen."
Berarti masih ada jalan panjang yang harus ditempuh.
Akhirnya, rasa lelah mengalahkan rasa penasarannya.
Leon pun tertidur.
Sebelum matahari terbit, suara ketukan keras membangunkannya.
Tok! Tok! Tok!
"Leon!"
Suara Rowan terdengar dari luar.
"Tiga menit."
"Kalau kau belum keluar..."
"...aku akan menganggapmu menyerah."
Leon langsung melompat dari ranjang.
"Hah?!"
Ia buru-buru mengenakan pakaian latihan, memasang sarung pedang di pinggang, lalu mengambil tas kecilnya.
Kotak Warisan Penjaga ia simpan di bagian paling dalam.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berdiri di depan Rowan dengan napas sedikit tersengal.
Rowan melirik langit.
"Kau terlambat dua puluh detik."
Leon menggaruk kepalanya.
"Maaf."
"Kali ini saja."
Rowan tidak memarahinya.
Ia hanya berbalik dan mulai berjalan menuju lapangan latihan.
"Hari ini bukan latihan biasa."
Leon langsung teringat ucapan Aria semalam.
"Seleksi Pemburu Magang?"
Rowan mengangguk.
"Jadi kau sudah mendengarnya."
"Apa sebenarnya seleksi itu?"
Rowan terdiam beberapa langkah.
Lalu menjawab,
"Setiap pemuda yang ingin menjadi pemburu resmi harus melewati ujian."
"Kalau gagal?"
"Mencoba lagi tahun depan."
"Kalau lulus?"
"Kau mendapatkan izin keluar masuk hutan tanpa pengawasan."
Leon mengangguk pelan.
Itu terdengar seperti ujian mendapatkan lisensi.
Namun dari wajah Rowan, ia tahu ujian tersebut pasti tidak mudah.
Lapangan latihan Desa Aster sudah dipenuhi banyak orang.
Puluhan pemuda dan pemudi seusia Leon berdiri berbaris.
Beberapa terlihat percaya diri.
Sebagian lainnya tampak gugup.
Leon memperkirakan jumlah peserta sekitar tiga puluh orang.
Begitu ia memasuki lapangan, beberapa peserta langsung berbisik.
"Itu dia."
"Pendatang baru."
"Katanya dia bertemu Alpha Dire Wolf."
"Mana mungkin."
"Kudengar cuma rumor."
Leon memilih mengabaikan mereka.
Ia berdiri di barisan paling belakang.
Tak lama kemudian, Garrick melangkah ke tengah lapangan.
Meskipun dikenal sebagai pandai besi, seluruh peserta langsung diam saat melihatnya.
Suara pria tua itu terdengar tegas.
"Selamat datang."
"Hari ini..."
"...kalian akan mengikuti Seleksi Pemburu Magang."
Ia berhenti sejenak, memastikan semua orang mendengarkan.
"Banyak yang mengira ujian ini untuk mencari orang terkuat."
"Itu salah."
"Yang kami cari..."
"...adalah orang yang paling mungkin pulang hidup-hidup."
Kalimat itu membuat seluruh peserta saling berpandangan.
Garrick melanjutkan.
"Karena pemburu yang mati..."
"...tidak akan pernah bisa melindungi siapa pun."
Leon merasakan kata-kata itu jauh lebih berbobot daripada sekadar pidato pembukaan.
Garrick kemudian mengangkat sebuah kantong kain.
"Dalam kantong ini ada tiga puluh lencana kayu."
"Satu untuk setiap peserta."
"Lencana ini harus tetap kalian bawa selama ujian."
"Kalau hilang?"
Seorang peserta bertanya.
"Kalian langsung gugur."
Semua langsung terdiam.
Setelah setiap peserta menerima lencananya, Garrick kembali berbicara.
"Ujian pertama dimulai sekarang."
"Aturannya sederhana."
"Kalian diberi waktu tiga jam."
"Tugas kalian..."
"...mengambil Bunga Fajar yang tumbuh di Bukit Embun."
Leon mengangkat tangan.
"Pak Garrick."
"Ya?"
"Kalau hanya mengambil bunga..."
"...kenapa disebut ujian?"
Senyum tipis muncul di wajah Garrick.
"Pertanyaan yang bagus."
Ia menunjuk ke arah hutan.
"Karena..."
"...tidak ada yang mengatakan perjalanan menuju Bukit Embun akan mudah."
Seketika suasana berubah hening.
Leon mulai merasakan firasat yang tidak enak.
Di saat yang sama, sebuah notifikasi sistem muncul.
Ding!
【Quest Baru】
Seleksi Pemburu Magang – Ujian Pertama
Objektif: Ambil satu Bunga Fajar dan kembali ke Desa Aster.
Batas Waktu: 3 Jam
Hadiah:
EXP +500
Level Pemburu Magang
Sinkronisasi Segel +2%
Kegagalan: Status Seleksi Gagal.
Mata Leon tertuju pada hadiah terakhir.
Sinkronisasi Segel +2%.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat hadiah yang berkaitan langsung dengan kelas tersegelnya.
Artinya...
Ia tidak boleh gagal.
Garrick mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Peserta..."
"...bersiap!"
Seluruh lapangan menjadi sunyi.
"Mulai!"
Puluhan peserta langsung berlari menuju gerbang desa.
Namun Leon tidak ikut bergerak.
Ia justru berdiri diam sambil mengamati.
Melihat hal itu, Rowan yang berdiri di kejauhan tersenyum tipis.
"Bagus..."
"Kau mulai belajar."
Sementara peserta lain berlomba menjadi yang tercepat, Leon memperhatikan peta sederhana yang terpampang di papan dekat gerbang.
Ia teringat salah satu pelajaran Rowan:
"Pemburu yang terburu-buru sering kali tiba lebih cepat di kuburan daripada di tujuan."
Leon pun memilih menarik napas, menghafal rute menuju Bukit Embun terlebih dahulu.
Tanpa ia sadari...
Keputusan sederhana itu akan menyelamatkan nyawanya beberapa menit kemudian.