Setiap bek senior menganggapnya beban tim. Alex cuma winger kurus dari klub kasta tiga yang gajinya sering telat. Tapi malam itu, sebuah Sistem aktif di kepalanya — dan mengubah anak kampung jadi ancaman nyata bagi bek terbaik dunia.
#SportsSystem #SistemWinger #FromZeroToHero #RonaldoVibes #EvolusiFisik #FiksiOlahraga #NovelSepakBola #SkillTreeSepakBola #WingerLegendaris #ProgressionFantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toko di Ujung Waktu
Peluit belum ditiup ulang. Bola masih di tangan hakim garis untuk lemparan ke dalam, dan dalam jeda singkat itu—tak lebih dari tiga detik—Alex memejamkan mata sekilas, cukup untuk membuka jendela yang sejak tadi menunggu di sudut pandangnya.
```
[SKILL SHOP DIBUKA]
Poin Sistem: 120
Kategori: Operan
Through Pass Presisi — 80 Poin
Meningkatkan akurasi umpan terobosan hingga 40%, efektif menembus lini pertahanan rapat.
No-Look Pass — 150 Poin (Terkunci, Poin tidak cukup)
Curved Cross — 100 Poin
Umpan silang melengkung dengan akurasi tinggi, sulit dipotong bek bertubuh tinggi.
Waktu tersisa untuk memilih: 3 detik...2...1...
```
Tak ada waktu untuk berpikir panjang. Alex mengetuk pilihan pertama di benaknya—*Through Pass Presisi*—teringat cara kedua bek Rimba FC selalu menutup ruang di depan dan belakang, tapi jarang benar-benar solid di celah tengah di antara keduanya.
```
DIBELI: Through Pass Presisi
Poin tersisa: 40
Kemampuan aktif. Efektivitas penuh dalam 1x percobaan pertama.
```
Bola dilempar. Permainan kembali bergulir.
Alex berlari menjemput ruang di sisi kanan, dan seperti sudah dihafal luar kepala, dua bek Rimba FC langsung bergerak menjepitnya dari depan dan belakang begitu bola sampai ke kakinya. Namun kali ini, alih-alih mencoba melindungi bola atau mencari ruang untuk diri sendiri, Alex justru menunduk sedikit, membaca celah sempit di antara kedua bek yang menjepitnya—sebuah ruang selebar tak lebih dari semeter yang biasanya mustahil ditembus.
Kakinya bergerak nyaris tanpa ayunan, hanya sentuhan halus yang mendorong bola menyusuri tanah dengan sudut yang presisi—melewati celah sempit itu, menembus lurus ke arah kotak penalti tempat Fajar sudah berlari sejak umpan dilepaskan.
Kedua bek Rimba FC saling pandang sepersekian detik, terkejut oleh operan yang seharusnya mustahil lewat di antara mereka.
Fajar menerima bola dengan sentuhan pertama sempurna, langsung melepaskan tembakan first-time ke sudut jauh gawang.
GOL!
Jaring gawang bergetar keras, dan tribun tamu Minang United meledak dalam euforia yang menggelegar, drum dan terompet dibunyikan serempak seolah tak sabar menunggu momen ini sejak awal babak kedua.
Fajar berlari kencang ke arah Alex, melompat ke pelukannya hingga keduanya nyaris terjatuh bersama di rumput basah. "GILA! Umpan dari mana itu tadi?!"
Alex tertawa lepas, napasnya masih tersengal, tapi dadanya membuncah oleh kelegaan yang tak terkira. "Nggak tau, gue cuma... ngerasa ada celah."
```
MISI TERSELESAIKAN
"Tembus Tembok Ganda"
Hadiah: +50 Poin Sistem, +5 Mental
Poin Sistem: 40 → 90
```
Di lini pertahanan, kedua bek Rimba FC berdiri terdiam, wajah mereka campur aduk antara frustrasi dan rasa hormat yang enggan mereka akui. Pelatih Rimba FC di pinggir lapangan berteriak marah, menuntut penjelasan dari kedua beknya yang gagal mengantisipasi operan yang tampak sederhana namun mematikan itu.
Skor kini 1-0 untuk Minang United, dengan waktu tersisa lima belas menit.
Yoga berlari mendekat, menepuk pundak Alex keras-keras. "Itu baru namanya main cerdas! Pertahankan ritme ini!"
Alex mengangguk, meski di dalam hati dia masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Skill Shop, kemampuan yang bisa dibeli layaknya menu di sebuah toko—sesuatu yang jauh berbeda dari sekadar poin atribut fisik yang selama ini dia kumpulkan lewat kerja keras berlatih. Ada dunia baru yang baru saja terbuka di hadapannya, dan dia baru menyentuh permukaannya.
Rimba FC bangkit dengan amarah, menyerang membabi buta di sisa waktu yang ada, memaksa lini pertahanan Minang United bekerja ekstra keras menahan gempuran demi gempuran. Namun pertahanan yang dipimpin Yoga tampil solid, menghalau setiap peluang berbahaya yang datang.
Menit ke-89, wasit memberi tambahan waktu empat menit. Ketegangan memuncak di setiap sudut stadion—suporter tuan rumah berteriak putus asa memberi dukungan terakhir, sementara suporter tamu menahan napas, berharap keajaiban kecil hari itu bertahan sampai peluit panjang berbunyi.
Alex, meski tubuhnya sudah lelah luar biasa, terus berlari membantu pertahanan, sesekali kembali ke belakang untuk membantu menutup ruang—sesuatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya, tapi terasa wajar sekarang, sebagai bagian dari tim yang sedang berjuang bersama menjaga kemenangan yang begitu berharga.
Peluit panjang akhirnya berbunyi.
Minang United menang 1-0 di kandang rival abadi mereka—kemenangan pertama dalam tiga tahun terakhir di ajang Derby Sumatra.
Para pemain berlarian saling berpelukan di tengah lapangan, sorak-sorai suporter tamu bergemuruh membanjiri stadion yang sebagian besar didominasi warna hijau-kuning lawan. Alex berdiri di tengah kerumunan rekan setimnya, tubuhnya basah oleh keringat dan hujan tipis yang mulai turun lagi, tapi wajahnya dipenuhi senyum yang tak bisa dia sembunyikan.
Di sudut matanya, satu notifikasi terakhir muncul pelan sebelum dia benar-benar tenggelam dalam euforia kemenangan bersama rekan-rekannya.
```
PENCAPAIAN TERBUKA: "Pemenang Derby"
Reputasi Regional meningkat signifikan.
Beberapa mata di luar sana mulai memperhatikan Host.
```
Alex tidak sepenuhnya paham makna di balik kalimat terakhir itu. Tapi malam itu, di tengah rumput becek Stadion Rimba yang basah oleh keringat dan hujan, dia hanya ingin menikmati satu hal sederhana: rasa menang bersama orang-orang yang kini benar-benar dia percayai sebagai keluarga keduanya.