NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / CEO / Orang Disabilitas / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:4.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kinara, seorang gadis berusia 24 tahun, baru saja kehilangan segalanya, rumah, keluarga, dan masa depan yang ia impikan. Diusir ibu tiri setelah ayahnya meninggal, Kinara terpaksa tinggal di panti asuhan sampai akhirnya ia harus pergi karena usia. Tanpa tempat tujuan dan tanpa keluarga, ia hanya berharap bisa menemukan kontrakan kecil untuk memulai hidup baru. Namun takdir memberinya kejutan paling tak terduga.

Di sebuah perumahan elit, Kinara tanpa sengaja menolong seorang bocah yang sedang dibully. Bocah itu menangis histeris, tiba-tiba memanggilnya “Mommy”, dan menuduhnya hendak membuangnya, hingga warga sekitar salah paham dan menekan Kinara untuk mengakui sang anak. Terpojok, Kinara terpaksa menyetujui permintaan bocah itu, Aska, putra satu-satunya dari seorang CEO muda ternama, Arman Pramudya.

Akankah, Kinara setuju dengan permainan Aksa menjadikannya ibu tiri atau Kinara akan menolak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Siang itu, ruang istirahat karyawan dipenuhi suara sendok, gelas, dan obrolan ringan. Kinara duduk di salah satu sudut, membuka bekal yang sengaja ia bawa dari rumah. Dia baru saja menarik napas lega setelah pagi yang padat, ketika pintu ruang istirahat terbuka kembali.

Beberapa kepala langsung menoleh.

Rome melangkah masuk dengan langkah santai namun berwibawa, sosok yang terlalu mudah dikenali sebagai pemilik gedung itu. Setelan kerjanya rapi, jam di pergelangan tangannya berkilau pelan di bawah lampu. Suasana ruang istirahat seketika berubah kaku.

Tatapannya langsung tertuju pada Kinara.

“Kamu sudah makan?” tanya Rome, berhenti tepat di hadapannya.

Kinara mendongak, jelas terkejut.

“Belum … maksud saya, baru mau makan,” jawabnya hati-hati.

Rome tersenyum kecil. “Kalau begitu, makan siang denganku.”

Bukan pertanyaan, tetapi sebuah ajakan yang terdengar ringan, tapi cukup untuk membuat beberapa karyawan lain menahan napas. Bisik-bisik segera menyebar, pandangan iri dan penuh curiga menusuk dari berbagai arah.

Kinara merasakannya. Dulu, ajakan seperti ini adalah hal biasa. Rome dan dirinya kerap makan bersama, tertawa, berbagi cerita, tanpa beban apa pun. Dia nyaman, merasa aman, karena Rome selalu tahu batas namun itu dulu.

Sekarang statusnya berbeda. Kinara menutup kotak makannya perlahan.

“Tuan Rome,” ucapnya pelan, menjaga nada profesional, “saya hanya karyawan di sini, saya rasa...”

“Hanya makan siang,” potong Rome lembut. “Tidak ada urusan kerja. Tidak ada embel-embel jabatan.”

Kinara terdiam sejenak. Ia tahu, menolak mentah-mentah justru akan menimbulkan lebih banyak gunjingan. Tapi menerima tanpa jarak juga bukan pilihan.

“Baik,” katanya akhirnya. “Tapi sebentar saja.”

Rome mengangguk, seolah sudah menduga jawabannya.

Mereka berjalan berdampingan keluar dari ruang istirahat. Sepanjang langkah itu, Kinara bisa merasakan tatapan-tatapan tajam menempel di punggungnya, penuh iri, penuh tanya.

"Pantes saja cepat diterima…"

"Bosnya sendiri yang mendekati…"

Kinara menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat.

Di sisi lain, Rome meliriknya sekilas.

“Kamu berubah,” katanya tiba-tiba.

Kinara tersenyum tipis tanpa menoleh. “Semua orang berubah, Tuan.”

Rome tertawa pelan. “Kamu masih memanggilku seperti itu.”

“Di kantor, saya harus,” jawab Kinara singkat.

Ada jeda di antara mereka, jeda yang tak pernah ada dulu. Rome menarik napas, suaranya menurun.

“Aku tidak berniat membuatmu tidak nyaman.”

“Saya tahu,” jawab Kinara jujur. “Tapi sekarang … ada batas yang harus ku jaga.”

Rome menatapnya lebih lama, lalu mengangguk.

“Baik. Kita jaga itu bersama.”

Namun di balik sikap tenangnya, satu hal tak bisa disembunyikan, Rome datang bukan hanya untuk makan siang, tetapi untuk mengenang momen mereka di masa lalu.

Meskipun hanya berjalan kaki dan menyeberang jalan, Rome membawa Kinara ke seberang gedung perusahaan farmasi itu. Di sana berdiri sebuah restoran yang terkenal dengan masakannya, tenang, rapi, dan cukup eksklusif untuk jam makan siang para eksekutif.

Rome mendorong pintu lebih dulu.

“Tempat ini tenang. Tidak banyak yang mengenal kita di sini,” katanya singkat.

Kinara mengangguk dan ikut masuk.

Mereka duduk berhadapan di meja dekat jendela. Tak lama pelayan datang membawa menu. Rome langsung memesan beberapa hidangan tanpa banyak bicara, lalu menoleh ke arah Kinara.

“Saya bawa bekal dari rumah,” ujar Kinara sambil mengangkat kotak makannya sedikit. “Lebih enak.”

Rome terkekeh kecil. “Kamu tidak berubah.”

“Saya berubah,” balas Kinara datar. “Tapi selera makanku tidak.”

Rome tak memaksa, dia hanya berkata, “Kalau begitu, pesan minum saja.”

Kinara mengangguk setuju.

"Berhenti berbicara formal saat di luar, aku hanya setuju kamu berbicara formal saat di perusahaan saja," kata Romo, Kinara hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.

Makan siang itu berjalan dalam suasana yang aneh, tenang, tapi penuh sesuatu yang tak terucap. Rome menikmati makanannya, sementara Kinara perlahan menyantap bekalnya. Tidak ada percakapan panjang, hanya sesekali suara alat makan dan musik lembut dari pengeras suara restoran.

Namun, Kinara sadar, Rome terus menatapnya. Bukan tatapan mengintimidasi, bukan pula tatapan menggoda. Lebih seperti tatapan seseorang yang menyimpan banyak penyesalan.

Akhirnya Rome meletakkan sendoknya.

“Aku masih menyesal,” katanya pelan.

Kinara mengangkat wajahnya. “Menyesal apa?”

“Dulu,” jawab Rome tanpa ragu. “Saat kamu diusir dari rumahmu. Aku tahu kabarnya terlambat, dan saat aku mencoba mencarimu saat kembali dari London … semuanya sudah terjadi. Aku tidak bisa menolongmu.”

Kinara terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Rome. Benar, aku belajar hidup sendiri sejak hari itu.”

Rome menatapnya semakin dalam. “Seharusnya aku ada.”

“Itu bukan tanggung jawabmu,” jawab Kinara lembut namun tegas.

Ada jeda singkat sebelum Rome kembali membuka suara.

“Sekarang … siapa yang memegang perusahaan ayahmu?”

Raut wajah Kinara berubah samar. “Mimi dan ibunya,” jawabnya jujur. “Rayyan juga ikut andil.”

Alis Rome langsung berkerut. “Rayyan?”

Kinara mengangguk pelan. “Mereka bertiga.”

Rome menarik napas panjang, rahangnya mengeras.

“Kalau begitu … semuanya memang sudah jatuh ke tangan yang salah.”

Kinara tidak membantah. Ia hanya menatap minumannya, lalu berkata pelan,

“Aku sudah berhenti berharap pada apa yang pernah jadi milikku.”

Namun Rome tahu, wanita di depannya memang terlihat kuat, tapi bekas luka itu masih ada. Dan entah kenapa, keinginannya untuk melindungi Kinara, kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya.

Sore hari datang perlahan, cahaya matahari menurun dan memantul ke kaca-kaca gedung tinggi di sekitar kawasan itu. Jam kerja hampir usai ketika Kinara kembali ke mejanya setelah rapat singkat dengan tim penelitian. Kepalanya sedikit pening, hari pertamanya terlalu padat, terlalu banyak kejutan.

Ponselnya bergetar.

Kinara menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.

“Ya?”

[Kamu pulang jam berapa?] suara Arman terdengar datar seperti biasa, tanpa basa-basi.

“Masih di kantor. Mungkin satu jam lagi,” jawab Kinara jujur.

[Aksa sudah dijemput, dari tempat lesnya,] katanya singkat. [Mama masih di rumah.]

Kinara terdiam sesaat. “Baik.”

Telepon terputus tanpa ucapan tambahan.

Kinara menurunkan ponselnya perlahan. Entah kenapa, nada Arman barusan terasa sedikit berbeda. Bukan dingin, tapi juga bukan peduli. Seperti seseorang yang sedang belajar bertanya tanpa tahu caranya.

Tak lama kemudian, Rome muncul di sisi mejanya. Jasnya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung rapi.

“Kamu sudah mau pulang?” tanyanya.

“Iya,” jawab Kinara sambil merapikan tasnya. “Hari pertama cukup melelahkan.”

Rome mengangguk. “Aku juga, mau aku antar?”

Kinara refleks hendak menolak, tapi teringat mobilnya mungkin juga sudah tiba di rumah Pramudya. Ia menarik napas kecil.

“Tidak perlu. Aku bisa naik taksi.” katanya menolak dengan sopan.

"Di mana sekarang kamu tinggal?"

"Aku menyewa rumah kontrak,"

Rome tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. “Kalau begitu, aku temani sampai depan.”

Mereka berjalan berdampingan menuju lift. Beberapa karyawan melirik, lagi-lagi penuh rasa ingin tahu. Rome tidak peduli, sementara Kinara menunduk, fokus pada langkahnya.

Di lantai dasar, sebelum mereka berpisah, Rome berhenti.

“Kinara,” panggilnya.

Wanita itu menoleh.

“Apa pun yang terjadi sekarang,” kata Rome serius, “kalau kamu butuh bantuan … kamu tahu aku ada.”

Kinara menatapnya lama. “Terima kasih, Rome. Tapi kali ini … aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri.”

Rome tersenyum, senyum yang mengandung penerimaan, meski jelas ada rasa lain di baliknya. “Aku menghormati itu.”

Kinara naik taksi dan menyebutkan alamat rumah Arman. Sepanjang perjalanan, pikirannya melayang, tentang Rome, tentang Rayyan, tentang pekerjaannya yang baru dan tentang menghadapi Arman.

Sementara itu, di rumah besar itu, Arman duduk di ruang kerjanya setelah kembali dari kantor. Jendela terbuka sedikit, angin sore masuk membawa udara dingin. Di mejanya, laporan terapi kaki terbuka, belum disentuh.

Rudi berdiri di samping.

“Nyonya Kinara masih di kantor,” lapornya.

“Aku tahu,” jawab Arman pendek.

Tangannya mencengkeram sandaran kursi roda. Entah kenapa, bayangan Kinara yang duduk makan siang dengan pria lain, yang namanya Rome itu terlintas kembali. Dada Arman terasa sesak, tapi ia menolak menyebut perasaan itu apa adanya.

“Awasi saja,” katanya dingin.

Rudi mengangguk, meski hatinya ragu.

Di saat yang sama, taksi Kinara berhenti di depan gerbang rumah. Matahari hampir tenggelam ketika ia turun.

"Ehem, bawa aku turun. Aku ingin menemuinya," kata Arman, Rudi mengangguk meskipun ada sedikit senyum di bibirnya.

'Tuan, akan membuka hatinya. Nyonya Kinara tidak buruk, dia cukup baik.' gumam Rudi dalam hati.

1
yah
oik Pak arman jgn mbulet menyalahkan diri sendiri atas meninggal ny bapak kinara , nanti ga kelar kelar ini novel
Allmessi Rapami
aksa anak yg baik bs mnilai wanita yg mn jd moms ny
Allmessi Rapami
samgat menarik critanya
Atik Marwati
Kinara sama arman saja
Atik Marwati
harus memutar balikkan fakta
Evy
Mak nya Rome mudah banget terprovokasi... langsung percaya....
Eli Elieboy Eboy
ᥡᥲ ᥱᥣᥲһ 𝖿іrᥲsᥲ𝗍 ᥙᥒ𝗍k ᥣᥲᥒȷᥙ𝗍 ᑲᥲᥴᥲ ᥙһ mᥙᥣᥲі ȷᥱძᥲk ȷᥱძᥙk ᥒіһ
Angraini Devina Devina
kayak nyaseru
ceuceu
Rome cinta sejati melihat yg di cinta bahgaia.
semoga rome jg menemukan kebahagiaan
ceuceu
Jadi ayah kinara meninggal 1 tahun yg lalu apa 5 tahun yg lalu?
Atik Marwati
dasar Amira si biang kerok
ceuceu
Kontrak nikah tanpa bayaran tanpa nafkah,CEO pelit,kirana di butuhkan sebagai pengasuh berkedok istri
Eli Elieboy Eboy
ᑲᥱ𝗍ᥙᥣ kᥲᥒ ᥆𝗍ᥲkᥒᥡᥲ gᥲk ძі ⍴ᥲkᥱ 🤣🤣🤣
Eli Elieboy Eboy
mᥱmᥲᥒg ᑲᥱ𝗍ᥙᥣ2 gᥲk ⍴ᥱrᥒᥲһ ძі ⍴ᥲkᥱ ᥆𝗍ᥲkᥒᥡᥲ sᥲmᥲ sі ᥡᥙ𝗍іkᥲ2 ᥒᥱ ᥡᥲ 🤣🤣🤣
kᥱk ᥒᥡᥲ kᥲkᥲk ᥲძіk sᥲmᥲ sі ᥲmіrᥲ ძᥱһ
Eli Elieboy Eboy
ᥡᥲ ᥱᥣᥲһ ᥱmᥲᥒg sᥙsᥲһ kᥣ᥆ ᥒgm᥆ᥒg sᥲmᥲ ᥆rᥲᥒg ᥡg ᥆𝗍ᥲkᥒᥡᥲ gᥲk ⍴ᥱrᥒᥲһ ძі ⍴ᥲkᥱ 🤣🤣🤣
Evy
Astaga...tembak langsung si Tuan..
Eli Elieboy Eboy
ძᥲᥒ kᥕ ⍴ᥙᥒ ᥕᥲᥒі𝗍ᥲ ᑲ᥆ძ᥆һ 🤣🤣🤣 krᥒ sᥙძᥲһ mᥱmіᥣіһ ᥣᥱᥣᥲkі ᥡg ᑲ᥆ძ᥆һ 😂😂😂
Mutaharotin Rotin
🤣🤣🤣g mau' ngalah niih
Atik Marwati
rome semoga kamu dapat jodoh yg baik. ..
Atik Marwati
semoga tidak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!