NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEKAN OLAHRAGA - Part 1

Selasa sore, Gea sempat di dera galau harus menonton pertandingan voli sahabatnya atau

pertandingan futsal sang kekasih. Dia sangat ingin menonton pertandingan pertama Risa. Namun di satu sisi, dia juga ingin memberi dukungan penuh kepada Jay, apalagi dia sudah berjanji.

“Udah, gak usah galau. Lo nonton Jay aja dulu, Ge. Voli masih ada next pertandingan, kok,” ucap Risa menenangkan saat mereka makan siang.

Mata Gea berbinar mendengar kalimat itu. “Lo wajib menangin hari ini ya, Ris. Gue mau liat lo

main,” ucapnya memberikan semangat kepada sahabatnya itu.

“Pasti! Kita pasti menang hari ini,” sahut Risa penuh yakin, menghadirkan gelak tawa diantara

mereka.

Jadilah setelah menunaikan ibadah salat asar di himpunan, Gea berlari ke lapangan futsal

di belakang kampus. Area penonton sudah terisi penuh oleh mahasisa dari berbagai jurusan; tidak hanya anak Arsitektur dan Hubungan Internasional yang bermain hari ini. Sembari berjalan mencari tempat duduk kumpulan anak arsi, Gea berulang kali bertukar sapa dengan beberapa kenalannya yang dia temui di pinggir lapangan. Hingga akhirnya, matanya mendapati sosok familier.

“Lah? Lo di sini juga, Yon?” Gea menghampiri pria tinggi 186 cm itu dan langsung mengambil tempat di sebelahnya. Sembari duduk di samping Lyon, lehernya memanjang, berusaha mencari dimana anak-anak jurusannya yang ternyata memilih duduk berkumpul di sebrang

lapangan.

“Iya dong,” jawab Lyon santai dengan nada tengil khasnya. “Kan anak-anak jurusan gua juga pada

main.”

Mereka asik berbincang, membuat Gea sama sekali tidak menyadari sepasang mata di pinggir

lapangan yang sejak tadi menatap ke arahnya dengan sangat intens.

Di dekat gawang, Jay sedang melakukan pemanasan ringan bersama timnya. Tatapannya

lurus mengunci ke satu titik di tribun penonton. Dadanya mendadak terasa sesak melihat Gea justru duduk berduaan dengan seorang pria jangkung yang wajahnya terasa familier tapi dia lupa, alih-alih bergabung dengan anak Arsitektur lainnya.

“Mane cewek lo, Jay?” tanya Liko, anak HI yang juga anak UKM futsal.

“Itu, ada di sana,” jawab Jay pendek. Ia berusaha mati-matian menampilkan ekspresi sesantai

mungkin, walau rahangnya diam-diam mengeras saat melihat pria di sebelah Gea itu mengacak

rambut kekasihnya dengan akrab.

“Anjrit, sama Gea beneran lo?” timpal Vincen yang baru bergabung. “Keren banget kawan gue

yang ini ternyata,” ucapnya disusul tawa renyah. “Gue kira lo cuma becanda.”

“Jay mana ada bercanda soal cewek,” balas Liko.

“Ya, mana tau cuma mau bikin si Andre keki doang.”

Alis Jay langsung bertaut rapat. Fokusnya teralih. “Andre kenapa?”

“Lah, lo gak tau?” tanya Vincen heran, yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Jay. “Dia dulu kan pernah deketin Gea habis-habisan. Tapi cewek lo gak nanggepin, cuek banget. Gue kira dulu pas lo cerita lagi deket sama Gea, itu karena lo sengaja pengen bikin Andre makin kesel.”

Andre dan Jay memang sudah lama terlibat rivalitas dingin di UKM Futsal, terutama sejak

perebutan posisi inti untuk turnamen antar-kampus semester lalu. Hal itu sudah menjadi rahasia umum yang sering diperbincangkan anak-anak futsal.

“Gue gak tau kalo Andre pernah naksir Gea,” balas Jay jujur. Ada letupan emosi baru yang

mendadak membakar dadanya.

“Serius lo?” tanya Liko. “Dulu anak-anak pada heboh padahal pas Andre di tolak mentah-mentah sama Gea. Cewek lo juga udah jelas-jelas gak respon pas di deketin, dia malah nekat nembak. Kacau emang tuh anak.”

“Tapi anaknya udah ngegandeng cewek laen, tuh,” Jay menunjuk dagunya ke arah kerumunan

penonton di sudut lain. Ada Andre di sana dengan seorang perempuan di sebelahnya.

“Ya bagus, deh. Jadi gak perlu ada perang nanti kalo kita latihan,” ucap Liko sambil tertawa.

Perbincangan tentang Andre dan pemandangan Gea yang asyik mengobrol dengan pria jangkung itu membuat perhatian Jay tersita. Rasa cemburunya menumpuk seketika. Ternyata benar, banyak yang menaruh hati pada kekasihnya, bahkan orang yang ada di lingkaran

terdekatnya sendiri.

Gumpalan emosi itu membuat Jay bermain dengan jauh lebih agresi di lapangan. Pertandingan sore itu terasa sangat cepat dan panas. Namun beruntung, Arsitektur memenangkan pertandingan pertama dengan skor 2-1.

Begitu peluit panjang berbunyi, sorak-sorai penonton langsung pecah. Teman-teman setim

Jay saling berangkulan dan melakukan high-five merayakan kemenangan perdana mereka. Di

seberang lapangan, Gea tampak buru-buru berpamitan pada Lyon, lalu berjalan setengah berlari menghampiri Jay yang masih berdiri di area lapangan.

Senyum Gea mengembang lebar, tangannya sudah bersiap mengacungkan jempol. Ia ingin

menjadi orang pertama yang memberikan selamat atas kemenangan sang kekasih.

“Jay! Keren banget tadi mainnya!” seru Gea begitu sampai di depan pria itu.

Namun, Gea tidak menyangka dengan apa yang terjadi selanjutnya. Jay sama sekali tidak

membalas senyumannya. Pria itu hanya menatapnya dengan pandangan datar, lalu menyahut pendek, “Iya, makasih.”

Jawaban dingin itu meluncur begitu saja sebelum Jay berbalik badan, mengabaikan Gea untuk mengambil tas ranselnya di pinggir lapangan tanpa menoleh lagi.

Senyuman di wajah Gea luntur seketika. Dadanya mendadak terasa sesak oleh perubahan sikap yang tiba-tiba itu. Dengan bingung, Gea mengalihkan pandangannya ke arah teman-teman Arsitektur yang kebetulan berdiri tidak jauh dari mereka, seolah bertanya lewat tatapan mata tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Jay. Namun, mereka hanya kompak mengangkat bahu tanda sama-sama tidak tahu. Gea terpaku di tempatnya, menatap punggung Jay yang berjalan menjauh dengan sejuta

pertanyaan yang mendadak memenuhi kepalanya.

...****************...

Jumat pukul dua siang, Gea dan Risa sudah bersiap dengan kaos *dry-fit, sweatpants* dan

sepatu lari mereka di pinggir lapangan. Bersama dua orang junior lainnya, mereka akan mewakili

jurusan Arsitektur untuk cabang olahraga lari estafet. Sembari melakukan pemanasan, mereka

mendengarkan briefing singkat dari panitia pelaksana.

Dari kejauhan, Gea melihat sosok bertubuh tinggi yang dia kenal. Pria tinggi itu pun melambaikan tangannya kepada Gea dengan penuh semangat, lengkap dengan senyum merekah lebar di wajahnya.

“Lyon ikutan lomba lari estafet juga?” tanya Risa yang ikut melihat ke arah pandangan

Gea.

“He-eh. Dia mah pernah menang lomba lari pas SMA,” sahut Gea.

“Oh, ya? Keren juga. Pantes fansnya banyak banget di kampus, ternyata bukan modal tampang doang,” ucap Risa asal, sukses membuat Gea tertawa.

Tak lama berselang, pria jangkung itu berjalan menghampiri mereka dan langsung menepuk

puncak kepala Gea dengan akrab.

“Cowok lo mana? Gak nonton dia?” tanya Lyon sambil bertolak pinggang.

“Dia kan tanding futsal,” jawab Gea. “Eh, gua denger lo bakal duel sama Malik, ya, pas tanding

basket nanti? Gak sabar gue mau liat duo terbaik jaman SMA bakal duel,” katanya terkekeh.

“Nonton dong makanya.”

Obrolan mereka bertiga mengalir seru di pinggir lapangan. Sosok Lyon yang memang

populer dan wajahnya sering mondar-mandir di akun base kampus, siang itu kembali menjadi

bahan perbincangan hangat di jagat maya. Foto Lyon yang sedang tertawa bersama Gea di pinggir lapangan, dikirimkan oleh seseorang ke akun base X kampus dengan caption yang memicu rasa penasaran.

Banyak yang memberikan dukungan untuk Lyon, namun tak sedikit pula warga kampus

yang mempertanyakan hubungan dan kedekatan pria itu dengan si "cewek Arsitektur". Pasalnya,

Lyon terkenal jarang terlihat berinteraksi akrab dengan perempuan, tetapi ia bisa bersikap begitu santai dan manis jika bersama Gea.

Hebohnya jagat maya pada hari Jumat itu pun akhirnya sampai di telinga Jay. Bukan karena ia sengaja mencari tahu, melainkan karena teman-temannya yang heboh bergosip di pinggir

lapangan futsal habis pertandingan.

Jay yang sebenarnya jarang menggunakan twitter / X, terpaksa log-in ke akun media

sosialnya demi melihat hal yang sedang diperbincangkan teman-temannya. Begitu layar ponselnya menampilkan foto Gea yang sedang tersenyum lebar sementara kepalanya ditepuk oleh pria jangkung bernama Lyon itu, rahang Jay seketika mengeras. Dada Jay bergemuruh hebat, rasanya jauh panas dibanding hawa siang itu.

Keempat temannya saling lempar pandang begitu melihat punggung Jay yang menjauh

dengan atmosfer mencekam.

“Lo sih, Put, bahas gituan di depan dia,” kata Dion seraya menyenggol lengan Putri dengan

sikunya.

“Lebay ah,” balas Putri acuh tak acuh sembari terus memainkan ponselnya.

“Maksudnya Putri kan baik, Yon. Biar si Jay tau kalo emang mereka tuh deket,” bela Ria.

“Ya gak perlu lah kata gue mah,” potong Dion lagi, “orang lagi capek, lo malah omongin gituan.

Mood Jay kalo udah jelek tuh rasanya kayak tembok, njir.”

“Ya kan biar dia waspada! Lagian dia kalau cemburu ceweknya dekat sama cowok lain gak

pernah diobrolin langsung ke Gea,” Putri membela diri. “Lo gak inget waktu dia curhat yang Gea boncengan sama Mas Karis? Dia pendem aja sendiri gak ngomong apa-apa ke Gea,” tambahnya.

“Namanya juga baru pacaran, Put. Masih takut-takut buat bahas hal sensitif kayak gitu. Takut dibilang ngekang atau posesif,” timpal Adam. “Udah, dari pada kalian yang ribut, mending kita makan ajalah. Tuh, anaknya udah kelar,” katanya menunjuk dengan dagu ke arah Jay yang berjalan kembali ke arah mereka dengan rambut yang masih agak basah.

“Jangan dibahas lagi, Put, yang di base tadi,” bisik Dion memperingatkan sekali lagi.

“Iye iye, bawel,” sahut Putri seraya menyambar tasnya, lalu berjalan mendahului kedua teman

cowoknya bersama Ria.

Jay sampai di hadapan mereka dengan ekspresi yang masih sekaku papan.

“Makan yuk,” ajak Jay pendek.

“Lah, hayok! Kita juga nungguin lo mau makan. Abis itu baru balik sekre,” kata Dion mencoba

mencairkan suasana.

“Mau makan apa, Jay?” tanya Putri mencoba bersikap biasa saja, “kan elo nih yang abis menangin pertandingan futsal hari ini, so this is your day buat milih mau makan apa.”

“My day my ass,” desis Jay tajam dengan suara berbisik. Kalimat itu diucapkan begitu dingin,

namun cukup jelas terdengar oleh teman-temannya yang langsung bungkam seketika.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!