Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Umpan dari Mata Air Pribadi
Embun pagi belum sepenuhnya menguap saat matahari mulai mengintip dari balik bukit Desa Perbatasan. Setelah malam yang sunyi penuh kecurigaan, ladang Keluarga Yang kembali menyambut keheningan fajar dengan aroma tanah yang basah.
Di antara rimbunnya tanaman sayur yang tumbuh luar biasa subur, Yang Chan berlutut perlahan. Tangannya bergerak menyingkap dedaunan hijau raksasa yang berembun tebal. Di balik rimbunnya daun itu, sebuah ceruk kecil telah terbentuk secara alami di tanah gembur.
Beriak tenang di dalam ceruk tersebut, air jernih memancarkan uap tipis keperakan di sela-sela akar. Itu adalah mata air spiritual hasil akumulasi Air Kehidupan yang ia siramkan selama dua tahun terakhir. Ia mengusap air itu, merasakan kepadatan energi yang murni.
"Bukan cuma menyuburkan tanah," bisik Yang Chan takjub, menatap pantulan wajahnya di permukaan air. "... intisarinya mengendap dan merajut mata airnya sendiri."
Ketika ia berdiri, ladang sayur sederhana itu kini tampak menjelma menjadi hutan spiritual kecil, terlindung sangat rapat oleh rimbunnya dedaunan hijau yang tumbuh menjulang tinggi. Energi kehidupan mengalir tenang di dalam sana, tak terdeteksi dari luar batas pagar.
Matahari naik ke tengah langit, menyinari parit kecil berlumpur yang membatasi area ladang dengan jalan setapak menuju hutan liar. Parit itu mengalirkan sisa rembesan air dari dalam ladang.
Tiba-tiba, sesosok anjing liar dengan mata menyala merah pekat—tanda mutasi monster yang agresif—mendekati parit tersebut. Alih-alih mengamuk, binatang itu mulai menjilat rembesan air bercampur lumpur itu dengan rakus.
Hanya dalam hitungan detik, warna merah di matanya memudar menjadi hitam jernih. Bulunya yang rontok tampak tumbuh lebih sehat, lalu ia merebahkan diri di atas tanah, tertidur pulas dalam kedamaian.
Di balik pohon tua tidak jauh dari sana, sesosok pria meremas dahan dengan gemetar hingga kulit kayu berjatuhan. Ia adalah mata-mata kiriman Klan Li yang sedang memantau perbatasan sejak semalam.
"Binatang mutasi spiritual liar," gumam mata-mata itu dengan wajah pucat. "... dijinakkan seketika hanya dengan meminum sisa rembesan parit?"
***
Ia mengeluarkan kristal pendeteksi energi dari sakunya. Alat itu seketika berkedip sangat cepat, memancarkan pendaran cahaya hijau terang yang menunjukkan tingkat kemurnian energi yang luar biasa tinggi.
Brakkk!
Suara hantaman keras memecah keheningan sore di paviliun mewah Keluarga Xian. Sebuah cangkir teh porselen hancur berkeping-keping di atas lantai kayu cendana, menumpahkan air teh hijau murni ke mana-mana.
Seorang Tetua Keluarga Xian berdiri dengan dada membusung, matanya berkilat penuh keserakahan saat membaca gulungan laporan di tangannya. Ia mondar-mandir dengan napas memburu, sementara bawahannya berlutut gemetar di lantai yang dingin.
"Selama ini Klan Li bodoh itu mengira itu hanya tanah sisa pupuk yang bagus," tutur Tetua Xian dengan senyum miring yang licik. "Mereka buta! Ada sumber air spiritual murni yang tumbuh di balik gubuk petani miskin itu!"
"Tuan," potong bawahannya dengan suara berbisik, "apakah kita harus bergerak menyita lahan itu malam ini?"
Tetua Xian menghentikan langkahnya, menyentuh lencana emas di dadanya dengan tatapan penuh perhitungan.
"Jangan gegabah," balas Tetua Xian dengan tawa dingin. "Biarkan Klan Li yang memicu keributan pertama, kita akan mengamankan sumber airnya dari belakang."
***
Matahari senja mulai turun di balik bukit, memancarkan cahaya jingga hangat di atas ladang Keluarga Yang. Yang Chan tampak sedang berlutut di dekat ceruk mata air rahasianya.
Ia memegang sebuah batu pipih berukuran sedang, meletakkannya dengan sangat presisi di atas ceruk air. Logam hitam misterius di dalam sakunya melebur menjadi sekop kecil, membantunya menimbun sisa celah dengan kerikil dan ranting kering.
Ia tidak menyumbat alirannya, melainkan hanya memanipulasi permukaan tanah agar mata air murni itu terlihat seperti genangan lumpur kotor biasa jika dilihat dari luar.
"Aroma air yang terlalu murni ya, Chan," celetuk sebuah suara berat dari arah belakang.
Yang Chan menoleh sedikit, melihat ayahnya, Yang Wei, berdiri tenang sambil menghisap pipa tembakau yang mengeluarkan asap tipis beraroma khas.
"Ayah."
"Ayah tahu, air ini terlalu mencolok. Terlalu mencolok untuk pemburu tidak memperhatikan sumber murni ini," lanjut Yang Wei, matanya menatap tajam batas hutan yang mulai menggelap.
Yang Chan hanya tersenyum tipis, ia sudah merasakannya dari kemarin. Perasaan yang tak mengenakkan itu, perasaan seolah dia diawasi. Tidak. Tempat ini sedang diincar.
"Iya kamu benar, Ayah," sahut Yang Chan.
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, menyisakan kegelapan malam yang merayap sunyi di perbatasan desa. Di bawah permukaan tanah, suara aliran air itu kini terdengar sangat samar dan teredam, mengalir tenang menanti badai yang akan segera datang.