Bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah kantor dan dijodohkan oleh bos pemilik perusahaan dengan putri dari bos tersebut. Tapi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Falco Kaiseradler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
Pernikahan, sebuah ikatan sakral yang menyatukan hati, pikiran, dan raga antara laki-laki dan perempuan, menjadi gerbang awal terbentuknya sebuah keluarga baru. Ia adalah komitmen yang tidak hanya menjanjikan kebersamaan di atas kertas, namun juga janji suci untuk saling menjaga, mendukung, dan berbagi setiap inci suka maupun duka sepanjang sisa usia.
Hari yang telah lama dinantikan itu akhirnya tiba. Di bawah naungan dekorasi yang megah namun tetap terasa hangat, Fadli duduk bersila di hadapan Pak Indra. Mengenakan busana adat pengantin berwarna putih bersih yang melambangkan kesucian niatnya, Fadli tampak gagah meski guratan gugup tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Di sebelah Pak Indra, seorang penghulu telah siap dengan buku nikahnya, sementara para saksi dan tamu undangan duduk mengelilingi mereka dalam keheningan yang penuh khidmat, menanti dimulainya prosesi Ijab Kabul.
Di ruangan terpisah yang tak jauh dari sana, Visha, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha duduk berdampingan bersama Bu Yelena. Jemari mereka saling bertautan, mencoba menyalurkan keberanian satu sama lain sembari menunggu saat yang tepat untuk melangkah masuk menuju kehidupan yang baru.
Dengan jantung yang berdegup kencang seolah ingin melompat keluar, Fadli menjulurkan tangannya untuk menjabat erat tangan Pak Indra. Di bawah bimbingan tenang sang penghulu, Pak Indra menarik napas dalam dan memulai prosesi dengan suara yang berwibawa dan tegas.
“Nak Fadli, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri-putri saya—Visha, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha—dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat serta perlengkapan lain yang telah diminta oleh para pengantin perempuan, dibayar tunai.”
Seketika atmosfer ruangan terasa membeku. Pak Indra menyodorkan mikrofon, dan Fadli yang wajahnya kian memerah akibat tekanan emosional, mengatur napasnya sejenak. Ia memejamkan mata, memantapkan tekad dalam hatinya, lalu mulai mengucapkan kalimat sakral itu tanpa jeda.
“Saya terima nikah dan kawinnya Visha, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha dengan maskawin tersebut dibayar tunai,” ucap Fadli. Suaranya memang sedikit bergetar, namun setiap katanya terdengar sangat lugas, tegas, dan sempurna tanpa kesalahan satu huruf pun.
“Bagaimana para saksi? Apakah sah?” tanya penghulu, memecah keheningan.
“Sah! Sah!” jawab para saksi dan tamu undangan serempak, mengiringi doa yang langsung dipanjatkan sebagai penanda resminya ikatan mereka di mata agama dan hukum.
Pak Indra tersenyum bangga dengan mata yang berkaca-kaca, sementara Fadli mengembuskan napas lega yang panjang. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan Bu Yelena membimbing kelima putrinya masuk. Mereka tampak begitu anggun dan mempesona dalam balutan gaun pengantin putih yang melambai indah, layaknya lima bidadari yang turun menyentuh bumi.
Satu per satu, Fadli melingkarkan cincin pernikahan ke jari manis para istrinya. Dimulai dari Visha yang menatapnya penuh haru, disusul Tasha, si kembar Misha dan Masha, hingga terakhir si bungsu Sasha yang tak henti menyeringai bahagia. Setelah cincin tersemat indah, masing-masing dari mereka mencium punggung tangan Fadli dengan penuh takzim, dan Fadli membalasnya dengan kecupan lembut di kening mereka satu per satu sebagai tanda perlindungan.
Suasana kian mengharu biru saat prosesi sungkeman dimulai. Di hadapan orang tua mereka, para pengantin bersimpuh memohon restu. Bu Yelena tak lagi mampu membendung air matanya saat merasakan jemari putri-putrinya menyentuh kakinya, menyadari bahwa kini anak-anaknya telah memiliki nahkoda baru. Pak Indra, meski berusaha tetap terlihat tegar, hanya bisa tersenyum lebar dengan bahu yang bergetar menahan haru.
“Tolong, jaga mereka berlima dengan segenap jiwamu, Nak,” bisik Pak Indra lirih namun dalam saat Fadli bersimpuh di depannya.
“Saya berjanji, Pak. Saya akan menjaga mereka sebaik saya menjaga nyawa saya sendiri,” jawab Fadli mantap, sebuah janji yang membuat Pak Indra mengangguk penuh kepercayaan.
Kebahagiaan itu pun menular. Orang tua Fadli tampak menyeka air mata bahagia, sementara adik perempuan Fadli berdiri di sudut ruangan dengan senyum bangga, menyaksikan kakaknya kini resmi menjadi kepala keluarga besar.
Acara kemudian berlanjut ke sesi resepsi yang lebih santai. Fadli bersama kelima istrinya duduk di pelaminan, menyambut aliran tamu yang datang. Meski ada beberapa pasang mata yang menatap dengan penuh rasa ingin tahu—mengingat keunikan pernikahan poligami serempak ini dan perbedaan usia yang mencolok—kehangatan cinta yang terpancar dari mereka berhasil meredam segala praduga.
Kehebohan terjadi saat rombongan sahabat Fadli tiba. Tetron dan kawan-kawan langsung menyerbu bertanya dengan wajah yang masih diliputi rasa tidak percaya.
“Fad! Gila kau! Cepat jelaskan, bagaimana ceritanya bisa langsung borong lima begini? Mana cantik-cantik semua lagi!” seru Tetron dengan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya.
“Sudah kubilang kan, aku dijodohan! Jujur saja, sampai detik ini aku pun masih merasa seperti sedang bermimpi,” jawab Fadli sambil tertawa kecil dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Tapi mereka terlihat sangat muda, Fad. Seperti masih remaja. Apa mereka mahasiswa?” tanya Aditya, menelisik dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Bukan mahasiswa... mereka semua bahkan masih duduk di bangku sekolah,” jawab Fadli jujur, yang kemudian menyebutkan usia masing-masing istrinya.
“Apa?!” Suara terkejut dari para sahabatnya pecah seketika, mengundang perhatian tamu lain.
“Wah, parah! Ternyata sahabat kita ini seleranya daun sangat muda! Dasar pedofil!” goda Fian dengan seringai nakal yang memancing tawa yang lain.
“Sembarangan! Aku bukan pedofil, ini murni amanah dari Pak Indra!” seru Fadli membela diri, namun ia hanya bisa pasrah saat teman-temannya tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya yang kelabakan.
Saking asyiknya bernostalgia dan bercanda, Fadli hampir melupakan posisinya sebagai raja sehari. Hingga akhirnya, Visha melangkah mendekat dengan anggun.
“Mas Fadli, maaf jika aku memotong obrolan serunya, tapi Sasha dan yang lainnya sudah mulai lapar. Ayo kita makan dulu, Mas,” ajak Visha dengan suara yang lembut namun penuh perhatian.
“Ah, maafkan aku, Vi. Aku sampai lupa waktu,” jawab Fadli seraya meminta izin kepada teman-temannya. “Oh iya, perkenalkan, ini Visha, istri pertamaku. Dan mereka ini adalah sahabat-sahabatku.”
“Salam kenal semuanya, saya Visha. Terima kasih sudah datang di hari bahagia kami,” sapa Visha ramah yang langsung dibalas dengan sapaan kikuk namun hormat dari teman-teman Fadli.
Kembali ke bangku pelaminan, Fadli mendapati keempat istrinya yang lain sudah menanti. “Maaf ya, tadi saya terlalu asyik mengobrol. Kalian ingin makan apa? Biar saya yang ambilkan porsinya untuk kalian,” tawar Fadli.
“Terbalik, Mas. Sekarang kan kita sudah sah, jadi kamilah yang berkewajiban untuk melayani dan mengambilkan makanan untuk suaminya,” sahut Tasha dengan senyum manis yang memikat.
“Betul sekali. Sudah menjadi tugas kami untuk memastikan Mas Fadli makan dengan kenyang dan enak,” sambung Misha penuh semangat.
“Jadi, Mas cukup duduk manis saja di sini. Biar kami yang berpencar mengambilkan menu terbaik untuk Mas,” tambah Masha.
“Mau ayam? Ikan? Atau mau ‘makan’ kami dulu saja? Hehe...” goda Sasha dengan nada manja yang berani, seketika membuat wajah Visha dan yang lainnya memerah padam karena malu di depan umum.
“Eh, tapi kalau mau menu yang terakhir, Mas harus sabar menunggu sampai acara ini selesai dan kita sampai di rumah nanti malam,” lanjut Sasha sambil mengedipkan satu mata dengan nakal.
“Sudahlah, Sasha... jangan mengada-ada,” jawab Fadli santai sembari menyembunyikan senyumnya. “Ambilkan saja apa pun yang kalian suka, nanti kita makan bersama-sama di sini.”
“Ide bagus! Dengan begitu, kami semua bisa menyuapi Mas secara bergantian,” seru Visha riang.
Sejurus kemudian, kelima gadis itu berpencar menuju meja prasmanan dengan ceria. Saat mereka kembali, suasana di pelaminan berubah menjadi pemandangan yang sangat manis. Mereka duduk mengelilingi Fadli, saling berbagi lauk dan menyuapi suami mereka dengan penuh kasih sayang. Di antara tawa, canda, dan suapan makanan, Fadli menyadari bahwa perjalanan barunya ini mungkin akan penuh tantangan, namun ia tahu ia tidak akan pernah merasa kesepian lagi.