Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Daratan ini bernama Yunzhou, Daratan Awan," kata Wu Lin sembari berjalan di samping Wu Tian.
Mereka berempat kini menyusuri jalan setapak yang membelah perbukitan hijau. Wu Lin, Wu Chen, dan Wu Ao menggunakan teknik meringankan tubuh (Qinggong) tingkat tinggi dari Klan Wu. Tubuh mereka melesat ringan, menyentuh ujung-ujung rumput dengan cepat. Namun, yang membuat Wu Chen dan Wu Ao berulang kali menoleh dengan takjub adalah Wu Tian. Pemuda itu hanya melangkah kaki dengan santai, kedua tangannya disembunyikan di balik baju kulit serigalanya, tetapi ia selalu berada tepat di samping mereka tanpa tertinggal satu jengkal pun, bahkan tanpa sebutir keringat di dahinya.
"Yunzhou adalah wilayah yang sangat subur," lanjut Wu Lin, mencoba mengalihkan kekagumannya pada kemampuan gerak kaki Wu Tian. "Sembilan Daratan masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri, dan Yunzhou adalah tempat di mana energi alam berlimpah, membuat persaingan antar faksi di sini menjadi sangat ketat."
Wu Tian hanya mendengarkan sembari sesekali menatap langit biru. Di dalam kepalanya, memori kuno memang memiliki peta geografi dunia bawah, tetapi melihat langsung keindahan Yunzhou yang damai terasa sangat kontras dengan memori masa kecilnya yang dipenuhi petir hitam dan jeritan binatang buas Shenzhou.
Setelah berjalan setengah hari, mereka tiba di sebuah kota transit yang cukup ramai bernama Kota Fajar. Kota ini dipenuhi oleh penginapan, pasar senjata, dan kedai-kedai makanan untuk para kultivator yang sedang bepergian.
Melihat pakaian kulit serigala Wu Tian yang compang-camping dan menarik terlalu banyak perhatian, Wu Lin segera menarik pemuda itu ke toko kain terbesar di kota tersebut.
"Kita harus mengganti pakaianmu, Wu Tian. Di Yunzhou, penampilan luar sangat mencerminkan kedudukanmu," ujar Wu Lin.
Di dalam toko, Wu Lin memilihkan beberapa potong jubah kultivator. Wu Tian dengan enteng menunjuk sebuah jubah berbahan sutra tebal berwarna biru tua kehitaman dengan sulaman perak minimalis. Baginya, warna gelap lebih mudah digunakan untuk bersembunyi di kegelapan.
Ketika Wu Tian selesai berganti pakaian dan keluar dari bilik kain, suasana di dalam toko mendadak hening.
Wu Lin, Wu Chen, dan Wu Ao terpaku di tempat. Bahkan pemilik toko kain yang merupakan seorang wanita paruh baya sampai menjatuhkan gunting kainnya.
Jubah biru tua itu melekat sempurna pada tubuh Wu Tian yang tegap dan atletis. Rambut hitamnya yang panjang kini telah disisir rapi dan diikat sebagian dengan tusuk konde perak sederhana pemberian Wu Lin. Tanpa lapisan kulit binatang yang kotor, ketampanan alami Wu Tian terpancar sepenuhnya. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan kulit yang bersih tanpa cela—efek samping dari tubuhnya yang telah ditempa oleh esensi energi murni Shenzhou. Ditambah dengan sepasang bola mata hitam legam yang memancarkan aura misterius dan dingin, Wu Tian terlihat seperti seorang tuan muda dari sekte tersembunyi yang sangat agung.
Saat mereka melangkah keluar menuju pasar, beberapa kultivator wanita yang sedang lewat spontan menghentikan langkah mereka. Mereka berbisik-bisik sembari mencuri pandang dengan pipi merona.
"Siapa tuan muda tampan itu? Dari klan mana dia?" bisik salah satu murid perempuan dari sekte lokal.
Wu Tian yang mendengar semua bisikan itu hanya menoleh sekilas dengan wajah datar dan cuek. Ia sama sekali tidak paham kenapa orang-orang menatapnya seperti itu. "Apakah ada yang salah dengan wajahku?" tanya Wu Tian enteng pada Wu Lin.
Wu Lin hanya bisa tertawa canggung sembari menggeleng. "Tidak ada yang salah. Malah... terlalu bagus. Ayo, kita cari kedai makanan sebelum melanjutkan perjalanan."
Mereka akhirnya memilih sebuah kedai dua lantai yang cukup ramai di sudut pasar. Aroma gurih kaldu dan daging panggang langsung menusuk indra penciuman Wu Tian yang sangat tajam. Perutnya mendadak berbunyi kecil.
Wu Lin memesankan meja di lantai satu dan langsung meminta pelayan menghidangkan menu terbaik: Daging Sapi Panggang Bumbu Rempah, Sup Ayam Spiritual, Bakpao Daging Madu, dan beberapa hidangan sayur.
Selama delapan belas tahun hidup di Shenzhou, Wu Tian hanya memakan daging binatang buas yang dibakar hambar tanpa garam, atau buah-buahan hutan yang asam. Begitu hidangan manusia pertama tiba di depannya, matanya yang biasanya sedingin es sedikit melebar.
Tanpa basa-basi, Wu Tian mengambil sepotong besar daging sapi panggang dan memasukkannya ke dalam mulut.
DEG.
Ledakan rasa gurih, manis, dan asin langsung memanjakan lidahnya. Wajah Wu Tian tetap datar tanpa ekspresi, tetapi tangannya bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Dalam hitungan detik, mangkuk sup spiritual langsung tandas, disusul dengan lima buah bakpao yang lenyap dalam sekejap.
Cara makan Wu Tian sangat lahap dan efisien, seperti predator yang tidak ingin makanannya direbut, tetapi anehnya tetap terlihat elegan karena kontrol motorik tubuhnya yang sempurna. Wu Chen dan Wu Ao hanya bisa melongo memegangi sumpit mereka sendiri, menatap tumpukan piring kosong di depan Wu Tian yang meninggi dengan sangat cepat.
"Pelayan, tambah sepuluh porsi lagi," kata Wu Lin sembari tersenyum geli melihat nafsu makan Wu Tian.
Sembari menemani Wu Tian yang masih sibuk mengunyah dengan sangat lahap, Wu Lin mulai menjelaskan struktur wilayah Yunzhou menggunakan cangkir teh sebagai perumpamaan.
"Yunzhou saat ini dikuasai oleh Tiga Pilar Besar," jelas Wu Lin dengan nada serius. "Pertama adalah Klan Wu kita, yang menguasai wilayah selatan. Kedua adalah Klan Li, yang menguasai wilayah utara dan merupakan musuh bebuyutan klan kita sejak ratusan tahun lalu. Dan yang ketiga adalah Sekte Pedang Langit, yang berada di tengah-tengah sebagai penengah."
Wu Tian menelan bakpao terakhirnya, lalu menatap Wu Lin. "Jadi, Klan Wu memiliki musuh?"
"Benar. Dan persaingan kami sangat berdarah. Kompetisi klan bulan depan adalah ajang bagi generasi muda untuk merebut wilayah tambang batu spiritual. Klan Li selalu menggunakan cara-cara kotor untuk—"
BRAAAK!
Belum sempat Wu Lin menyelesaikan kalimatnya, pintu kayu kedai ditendang terbuka dengan kasar. Suasana kedai yang tadinya ramai mendadak sunyi senyap.
Empat orang pemuda dengan jubah berwarna merah menyala dan sulaman lambang harimau masuk dengan angkuh. Pemimpin mereka adalah seorang pria bertubuh tegap dengan pedang besar di punggungnya, memancarkan aura kultivasi Ranah Pemurnian Qi tingkat akhir.
Mata pemimpin kelompok itu menyapu ruangan hingga akhirnya tertuju pada meja Wu Lin. Senyum sinis langsung terkembang di wajahnya.
"Oh, lihat siapa yang kita temukan di sini," seru pria berjubah merah itu sembari melangkah mendekat, membuat Wu Chen langsung gemetar ketakutan. "Murid-murid inti Klan Wu ternyata suka keluyuran di kota kecil seperti ini. Dan... siapa pemuda berwajah cantik di sebelahmu itu, Wu Lin? Apakah kamu baru saja memungut mainan baru dari jalanan?"
Itu adalah kelompok kultivator muda dari Klan Li.
Wu Lin langsung berdiri, tangannya mencengkeram hulu pedangnya dengan erat. "Li Peng! Jaga ucapanmu! Ini bukan wilayah Klan Li!"
Li Peng tertawa meremehkan, matanya beralih menatap Wu Tian yang saat ini sedang menatap mangkuknya yang kosong dengan wajah kecewa karena makanannya terganggu. Li Peng menganggap ketenangan Wu Tian sebagai bentuk penghinaan. Ia maju selangkah, meletakkan tangannya di atas meja Wu Tian dengan kasar.
"Hei, anak haram dari mana kamu? Ditanya oleh tuan muda Klan Li, kenapa tidak menjawab?!" bentak Li Peng penuh arogansi.
Wu Tian perlahan mengangkat pandangannya. Matanya yang hitam legam menatap Li Peng dengan tatapan dingin yang biasa ia gunakan pada binatang buas yang mengganggu wilayah berburunya di Shenzhou. Bagi Wu Tian, manusia di depannya ini hanyalah seekor lalat yang berisik.
Secara perlahan, Wu Tian mengambil sebatang sumpit bambu yang tersisa di meja. Di bawah kolong meja, tanpa disadari oleh siapa pun, ujung jarinya mulai dialiri oleh secercah energi hitam keemasan yang berputar lambat, siap untuk memelintir ruang di sekitar kepala Li Peng hingga hancur.