bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Nadira membuka matanya dan menatap ke arah ujung koridor yang gelap. Di sana,
terdapat pintu kayu besar yang mengarah ke ruang kerja pribadi mendiang kakek.
Ruangan itu selalu dikunci, dan hanya Pak Herman serta Dinda yang memiliki kunci
utamanya. Namun, jika Dinda berani menantangnya dengan tenggat waktu tiga hari, berarti ada celah yang bisa ia manfaatkan.
Ia harus masuk ke sana, tidak peduli apa risikonya. Determinasi kini mulai menggantikan rasa amarah yang sempat membara di dadanya. Nadira menepis debu imajiner di lengan gaunnya, menegakkan kembali postur tubuhnya yang elegan namun penuh tekad. Ia tidak akan membiarkan Dinda memenangkan pertaruhan kotor ini. Ia akan membuktikan bahwa 'Clarissa' yang sekarang jauh lebih tangguh dari yang bisa dibayangkan oleh siapapun di rumah tersebut.
Ia melangkah maju, kali ini dengan tujuan yang jelas di benaknya. Setiap langkahnya di
lantai marmer terdengar lebih mantap, lebih berwibawa. Pelayan yang kebetulan lewat di
ujung koridor menundukkan kepala dengan cepat, mungkin terkejut dengan aura berbeda
yang tiba-tiba menyelimuti wanita yang selama ini dikenal jahat itu.
Nadira tidak peduli, ia sedang menuju sebuah misi kecil yang akan menjadi kunci kemenangan besarnya.
Sampai di depan ruang kerja, Nadira menghentikan langkahnya sejenak. Pintu kayu jati itu terlihat kokoh, mengkilap karena lapisan pernis yang tebal. Ia mencoba memutar gagang pintunya, dan tentu saja, pintu itu terkunci rapat.
Senyum tipis menghiasi bibirnya, ini
adalah rintangan pertama, dan ia sudah memiliki rencana untuk mengatasinya. Waktu tiga hari dari Dinda bukanlah batas, melainkan pemicu bagi Nadira untuk bergerak sekarang juga.
Nadira merosot ke lantai kayu jati, punggungnya menyandar pada kaki meja kerja yang berat. Udara di ruangan itu terasa pengap, bercampur antara aroma tembakau tua Pak Herman dan bau plastik panas dari lampu meja yang menyala sepanjang malam.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang menggedor rongga dadanya.
"Apa yang dia lakukan di sini?" bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Langkah kaki berat itu berasal dari koridor utama, semakin keras dan teratur. Itu bukan
langkah kaki pelan Dinda yang biasanya menyusup seperti ular. Suara itu terdengar seperti derap botol kaca yang pecah di lantai marmer, tajam dan mengancam.
Nadira menarik buku harian itu dari balik korsetnya, merasakan kertas tua itu menekan kulit perutnya dengan tajam.
Ia harus segera memindahkan buku itu. Jika Pak Herman atau Dinda menemukannya di
sini, ia bisa langsung diusir atau bahkan dilaporkan ke polisi karena mencuri dokumen warisan.
Nadira melirik ke arah jendela yang tertutup tirai beludru tebal. Cahaya neon dari
gedung sebelah menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding yang penuh
dengan lukisan leluhur keluarga tersebut.
Pintu ruang kerja berderit pelan, engselnya mengeluarkan suara melenguh yang familiar.
Nadira membeku, jemarinya mencengkeram buku harian itu hingga kuku-kuku jarinya
memutih. Ia menundukkan kepala, berharap bayangan di bawah meja kerja cukup gelap
untuk menyembunyikan keberadaannya.
"Kamu tahu, Nadira, aku benci orang yang berbohong."
Suara Dinda terdengar dari ambang pintu. Suaranya tidak setajam biasanya, melainkan
dingin, datar, dan sangat berbahaya. Nadira tidak berani mendongak, tapi ia bisa melihat
bayangan sepatu hak tinggi Dinda yang menginjak karpet tebal, bergerak perlahan
mendekat.
"Aku tidak berbohong, Dinda. Aku hanya mencari sesuatu yang hilang," jawab Nadira,
suaranya sedikit bergetar saat ia berusaha merangkak keluar dari persembunyiannya di
bawah meja.
Dinda tertawa pendek, tawa yang tidak sampai ke matanya. Ia berdiri tepat di depan
Nadira, menatap buku harian di tangan wanita itu dengan sorot tajam yang penuh dengan
kemarahan yang tertahan.
"Yang hilang sudah kutemukan, Nadira. Surat wasiat asli itu sudah ada di tanganku
sekarang. Kau pikir kau bisa mengklaim warisan dua ratus triliun itu sendirian? Kau
hanyalah sampah yang kebetulan masuk ke dalam tubuh yang salah."
Nadira menatap Dinda dengan mata terbelalak. Jadi selama ini, ia berpacu dengan waktu yang salah. Dinda sudah mendapatkan surat aslinya, sementara ia sibuk mencari daftar aset yang mungkin saja hanya palsu belaka. Ini bukan lagi sekadar masalah salah paham.
ini adalah kekalahan total jika ia tidak bertindak sekarang. Dengan gerakan refleks yang cepat, Nadira menarik lengan Dinda dan menyodokkan siku ke arah perut saudaranya itu. Dinda mengerang tertahan, kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai.
Nadira memanfaatkan momen itu untuk melompat ke arah pintu, namun Dinda mencengkeram pergelangan kakinya dengan kuat.
"Lepaskan aku, Dinda! Aku tidak akan membiarkanmu mengambil semua itu!" teriak Nadira, meronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman saudaranya.