"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUNTUHNYA PERTAHANAN SANG DOSEN KILLER
Langkah kaki Queen terasa sedikit seringan kapas. Kesadarannya sudah agak kabur akibat pengaruh alkohol dari beberapa gelas koktail yang ia teguk sebelumnya, namun hal itu justru melipatgandakan keberaniannya. Di bawah siraman cahaya lampu club yang berputar liar, Queen melangkah mantap dengan pinggul yang bergoyang seksi menuju ke sudut remang-remang tempat meja Arga berada. Gaun satin hijau zamrud yang melekat ketat di tubuhnya mengekspos setiap lekuk tubuh indahnya dengan sempurna mulai dari pinggangnya yang ramping hingga siluet tubuhnya yang padat berisi, benar-benar gambaran nyata dari bentuk tubuh gitar spanyol yang mematikan.
Setiap mata pria yang dilewatinya menatap lapar, namun pandangan Queen terkunci mutlak pada satu sosok pria yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa V.I.P dengan kemeja setengah terbuka.
"Ehh... ada Pak Dosen ganteng," ucap Queen dengan nada centil yang sengaja dibuat manja saat ia akhirnya sampai di depan meja Arga.
Arga yang sedang memejamkan mata perlahan mendongak. Begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, alis tebalnya bertaut rapat. Matanya yang hitam legam dan tajam menatap Queen dengan sorot dingin yang membekukan, sorot mata yang biasa ia gunakan untuk mengusir mahasiswa malas dari kelasnya.
"Ngapain kamu ke sini? Pergi sana," usir Arga tanpa ekspresi sedikit pun. Suara baritonnya terdengar berat, datar, dan sarat akan penolakan mutlak.
Bukannya takut atau mundur seperti mahasiswi pada umumnya, Queen justru terkekeh renyah. Jiwa cegil-nya tertantang berlipat ganda melihat sikap ketus sang dosen.
"Jangan galak-galak, Pak... nanti gantengnya hilang," goda Queen dengan kerlingan mata yang nakal.
Tanpa permisi dan tanpa memberikan celah bagi Arga untuk menghindar, Queen dengan gerakan berani langsung mendudukkan bokong indahnya dengan pas di atas pangkuan kokoh Arga. Tak tanggung-tanggung, kedua lengan lentiknya segera melingkar dengan erat di sekeliling leher kekar sang dosen, mengunci posisi mereka agar tidak ada jarak tersisa.
Deg!
Tubuh tegap Arga menegang seketika. Ia tidak pernah membayangkan ada mahasiswanya yang seberani atau se-tidak waras ini. Aroma parfum manis perpaduan vanila dan buah beri yang bercampur dengan aroma alkohol dari tubuh Queen langsung menyeruak, menusuk indra penciumannya dengan begitu pekat. Kedekatan fisik yang teramat intim ini membuat Arga bisa merasakan kehangatan kulit Queen yang kontras dengan suhu tubuhnya yang dingin.
Queen sedikit memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam netra gelap Arga yang mulai memancarkan kilatan emosi yang campur aduk.
"Pak Arga lagi suntuk, ya? Makanya main ke club," bisik Queen tepat di depan wajah Arga, embusan napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit sang dosen. Nada suaranya berubah menjadi sangat manja dan sensual. "Atau... istri Bapak lagi gak mau ngelayanin Bapak di rumah?"
Pertanyaan frontal itu bagai siraman bensin di atas bara api. Mata Queen bergerak turun, menatap lekat-lekat pada bibir seksi Arga—bibir kokoh yang biasanya hanya mengeluarkan makian dingin, peraturan ketat, dan kata-kata tajam yang menusuk telinga di dalam kelas. Malam ini, Queen ingin tahu apakah bibir itu bisa mengeluarkan suara yang berbeda.
"Turun, Queen. Lebih baik kamu pulang sekarang, dan belajar untuk kuis besok pagi," perintah Arga. Suaranya terdengar jauh lebih berat dari sebelumnya, ada getaran menahan diri yang amat kuat di sana. Arga mati-matian mengerahkan seluruh akal sehatnya yang tersisa untuk mempertahankan kewarasannya yang mulai goyah.
Namun, Queen adalah definisi nyata dari gadis bar-bar yang tidak pernah mengenal kata menyerah dalam kamus hidupnya. Ditantang seperti itu justru membuat gairahnya memuncak. Menatap bibir Arga yang begitu mengundang di depannya, Queen tidak tahan lagi. Ego dan rasa penasarannya meledak. Ia langsung memajukan wajahnya dan membungkam bibir Arga dengan sebuah ciuman yang ganas dan penuh tuntutan.
Arga tersentak kaget di tempat duduknya. Mata elangnya melebar sesaat. Naluri pertahanannya bangkit; ia merapatkan bibirnya dengan rapat, menolak memberikan akses apa pun bagi lidah nakal Queen untuk menginvasi mulutnya. Ia menolak didominasi oleh mahasiswanya sendiri.
Mendapat penolakan dan tidak ada balasan dari sang dosen, Queen tidak kehabisan akal. Dengan berani, ia sedikit menarik kepalanya lalu menggigit bibir bawah Arga dengan cukup kuat, memberikan rasa sakit yang mengejutkan sekaligus nikmat.
"Auhh..." Arga mendesah tertahan, mulutnya refleks terbuka akibat gigitan mendadak itu.
"Kau ini... benar-benar keterlaluan..." desis Arga di sela-sela napasnya yang mulai memburu dan tidak beraturan.
Namun, kata-kata Arga langsung lenyap ditelan malam. Begitu bibir kokoh itu terbuka, Queen tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia kembali merapatkan bibir mereka dan langsung melumat bibir Arga dengan brutal. Queen menyalurkan seluruh keliaran, rasa penasaran, dan jiwa mudanya yang meledak-ledak ke dalam tautan bibir mereka.
Detik itu juga, pertahanan Arga yang selama ini dikenal sekokoh es batu tiba-tiba luntur, hancur berantakan tanpa sisa. Rasa frustrasi karena tekanan pekerjaan, amarah yang membakar akibat dikhianati dan dibohongi oleh istrinya bertubi-tubi, serta gairah kelelakian yang sudah lama terpendam dan mati rasa, mendadak meledak bagai gunung berapi.
Pikiran sehat Arga menguap entah ke mana. Mengabaikan status mereka sebagai dosen dan mahasiswa, Arga mulai membalas ciuman Queen tak kalah brutal. Kedua tangan kokohnya yang dipenuhi urat-urat tegas secara refleks bergerak mencengkeram pinggang ramping Queen dengan sangat kuat, menarik tubuh seksi gadis itu agar semakin merapat dan menempel tanpa celah pada dada bidangnya. Arga melumat balik bibir manis Queen dengan dominasi penuh seorang pria dewasa, menghisap dan mengeksplorasi rongga mulut gadis itu dengan rakus, seolah-olah ia sedang melampiaskan seluruh beban hidupnya lewat ciuman panas tersebut.
Queen tersenyum penuh kemenangan di sela-sela ciuman brutal mereka. Merasa di atas angin, Queen perlahan mengalihkan kecupannya turun ke arah rahang tegas dan leher kokoh Arga yang berurat. Ia menghirup dalam-dalam aroma maskulin perpaduan parfum mahal dan wangi tubuh alami Arga yang sangat memabukkan bagi indra penciumannya.
Tidak berhenti sampai di situ, dengan gerakan yang teramat berani dan sengaja, Queen mulai menggesek-gesekkan bokong indahnya di atas selangkangan Arga. Tindakan provokatif itu langsung menyentuh titik paling sensitif dari kejantanan Arga yang kini sudah mulai menegang dan mengeras sempurna di balik celana kain mahalnya.
"Nggghh..." Arga mengerang rendah, sebuah suara serak yang sangat seksi lolos begitu saja dari tenggorokannya.
Napas sang dosen killer kini memburu hebat, terdengar ngos-ngosan di dekat telinga Queen. Seluruh tubuhnya terasa membara, dibakar oleh gairah liar yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Matanya yang biasa menatap dingin kini menggelap sepenuhnya, dipenuhi oleh hasrat murni seorang jantan yang siap menerkam mangsanya. Tangannya yang mencengkeram pinggang Queen bergerak naik, meraba lekuk punggung gadis itu dengan sentuhan yang menuntut lebih.
Namun, tepat saat Arga sudah berada di puncak gairah dan kehilangan seluruh kendali dirinya, Queen justru menyudahi kelakuannya secara mendadak. Ia menarik bibirnya dari leher Arga, memutus kehangatan yang baru saja tercipta.
Queen menarik diri sedikit, memberikan jarak yang membuat Arga menatapnya dengan pandangan tidak terima dan napas yang terengah-engah. Dengan senyum nakal yang tersisa di bibirnya yang kini basah dan sedikit bengkak, Queen mendekatkan wajahnya ke telinga Arga yang sudah memerah padam akibat gairah.
"Bapak terlihat sangat hot malam ini..." bisik Queen dengan nada manja yang teramat seksi, getaran suaranya langsung meremangkan bulu kuduk dan menggetarkan relung jiwa Arga yang paling dalam.
Queen memberikan jeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam otak Arga yang sudah mati kutu. "Kalau istri Bapak tidak mau melayani Bapak di rumah... aku siap kapan saja untuk menjadi teman ranjang Bapak."
Sebagai sentuhan akhir yang mematikan dan tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Arga, Queen menjulurkan lidahnya sejenak lalu menggigit cuping telinga Arga dengan lembut namun sensual, sebelum akhirnya ia dengan cepat berdiri dan melangkah turun dari pangkuan pria itu.
"Auhh..." Arga mengerang kecil, tubuhnya tersentak ringan.
Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat saat ia menelan salivanya sendiri yang terasa kering. Dengan napas yang masih memburu dan jantung yang berdegup kencang bagaigenderang perang, Arga hanya bisa terpaku di sofanya. Sepasang matanya yang menggelap menatap lurus kepergian Queen yang berjalan menjauh menembus kerumunan club. Di dalam dadanya, ada gairah yang menggantung tanpa tuntas, rasa penasaran yang teramat dalam, dan kesadaran pahit bahwa tembok es yang ia bangun dengan susah payah selama ini... telah runtuh seutuhnya malam ini di tangan mahasiswanya sendiri.