Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Tamu yang Lancang
Adrian bersandar pada kursi kebesarannya, mempertemukan ujung-ujung jarinya. "Menempatkan orang dari lingkar dalam Arseto di sana secara langsung akan terlihat terlalu mencolok dan memicu kecurigaan dari otoritas kota."
Kirana yang baru saja selesai menuangkan teh hangat, menegakkan tubuhnya perlahan. Sambil memeluk nampan perak di dadanya, ia mengajukan sebuah pandangan taktis dengan nada suara yang tetap santun layaknya seorang pelayan.
"Jika boleh saya memberikan sumbang saran kecil, Tuan Muda," ujar Kirana dengan suara yang tenang namun berkilat cerdas.
Adrian dan Hendra menoleh, menatap gadis pelayan itu.
"Bicaralah, Kirana," perintah Adrian pendek.
"Mengapa kita tidak memanfaatkan salah satu geng lokal yang paling lemah di sana?" jelas Kirana, matanya menatap papan peta digital di meja.
"Kita berikan mereka dana dan persenjataan secara rahasia melalui jalur belakang, biarkan mereka membersihkan distrik selatan atas nama mereka sendiri. Dengan begitu, Arseto memiliki boneka setia yang memegang kendali selatan tanpa harus mengotori nama besar keluarga."
Hendra terbelalak mendengar analisis taktis yang begitu rapi dan matang keluar dari mulut seorang gadis pelayan dapur. Strategi "meminjam pisau untuk membunuh" yang diajukan Kirana adalah taktik klasik yang sangat efisien.
"Siapa geng lokal yang kau maksud, Pelayan?" Adrian menyelidiki, meskipun kilatan kekaguman tidak bisa disembunyikan dari matanya.
Kirana tersenyum misterius, sedikit menundukkan tubuhnya ke arah Adrian. "Saat saya masih hidup di jalanan distrik selatan sebelum Anda menemukan saya, Tuan Muda... saya tahu ada sekelompok anak muda bernama The Iron Wolves. Pemimpin mereka, seorang pria bernama Leo, sangat tegas dalam menjaga wilayahnya dan benci narkotika. Mereka adalah bidak catur yang sempurna untuk kita gunakan."
Pertemuan pagi itu diakhiri dengan keputusan Adrian untuk menyetujui rencana Kirana. Hendra segera diperintahkan untuk melakukan kontak rahasia dengan kelompok The Iron Wolves menggunakan informasi berharga yang diberikan oleh sang pelayan pribadi.
Sore harinya, alur kehidupan di kediaman mewah Bukit Permai kembali berjalan lambat dan tenang. Kirana memanfaatkan waktu luangnya setelah merapikan ruang kerja untuk berjalan menuju ke arah lobi utama, berniat mengambil paket buah segar titipan Mbok Nah.
Saat ia sedang berjalan di selasar lobi, suara deru mobil sport yang sangat bising tiba-playing memasuki halaman depan. Sebuah mobil sport berwarna biru metalik terparkir di depan undakan tangga, dan dari dalamnya turun seorang pria muda berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan gaya yang sangat santai.
Dia mengenakan jaket kulit cokelat dan kacamata hitam. Wajahnya memiliki kemiripan garis rahang dengan Adrian, namun auranya jauh lebih liar, ugal-ugalan, dan tidak beraturan.
Pria itu adalah Julian Arseto—sepupu kandung Adrian yang mengelola bisnis hiburan malam keluarga Arseto di distrik barat, terkenal impulsif dan sering memicu masalah.
Julian melangkah masuk ke lobi, bersiul pelan sembari melepas kacamata hitamnya. Pandangan matanya yang liar seketika terkunci pada sosok Kirana yang sedang berdiri anggun dengan seragam pelayannya di dekat pilar besar.
Melihat kecantikan alami Kirana yang begitu menonjol dengan apron putih bersihnya, mata Julian berkilat penuh ketertarikan yang lancang. Ia mengubah arah langkahnya, berjalan langsung menuju ke tempat Kirana berdiri dengan senyuman nakal yang tersungging di wajahnya.
"Wow... siapa pelayan cantik yang baru kulihat di sini?" tanya Julian dengan nada suara yang sengaja dibuat menggoda, menghentikan langkahnya hanya berjarak satu meter dari Kirana. "Kudengar Adrian punya pelayan pribadi baru di lantai tiga, tapi aku tidak menyangka kalau pelayannya secantik malaikat seperti ini. Siapa namamu, Manis?"
Kirana menatap Julian dengan ketenangan yang mutlak, binar mata bulatnya tidak memperlihatkan ketakutan sedikit pun terhadap pesona atau kekuasaan pria di hadapannya. Sifat tegas dan setianya pada Adrian membuatnya langsung membentengi diri dengan sikap profesional yang dingin.
"Selamat sore, Tuan Julian Arseto," jawab Kirana dengan suara yang jernih, membungkuk hormat sembilan puluh derajat dengan sempurna tanpa cela. "Saya Kirana, pelayan pribadi Tuan Muda Adrian. Jika Anda memiliki keperluan penting dengan Tuan Muda, beliau saat ini sedang berada di ruang kerja lantai tiga."
Julian terkekeh melihat kepatuhan formal Kirana. Ia melangkah maju satu langkah lagi, mencoba menyentuh ujung apron Kirana dengan jarinya yang lancang. "Jangan terlalu kaku, Kirana. Adrian itu pria yang membosankan dan terlalu dingin.
Bekerja dengannya pasti sangat menyiksa jiwa cantikmu. Bagaimana kalau kamu ikut denganku ke distrik barat? Aku bisa memberikanmu posisi manajer di salah satu klub terbaikku, jauh lebih terhormat daripada menjadi pelayan yang mengantarkan makanan di rumah ini."
"Tawaran yang sangat menarik, Tuan Julian," sebuah suara bariton yang dingin dan sarat akan ancaman mematikan tiba-tiba menggema dari arah tangga utama.
Adrian berdiri di sana, menatap tajam ke arah tangan Julian yang berada dekat dengan tubuh Kirana. Atmosfer di lobi utama seketika drop hingga ke titik beku, membuat seluruh pelayan yang berada di sekitar area tersebut refleks menundukkan kepala dalam-dalam karena takut akan amarah sang penguasa Bukit Permai yang siap meledak.