“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
Ningsih bersandar pada pintu yang baru saja tertutup rapat, mengembuskan napas panjang seolah baru saja menyelesaikan lari maraton.
Setelah drama tenggorokan kering dan berbagai argumen yang memutar otak, akhirnya Ningsih berhasil mengusir Satria pulang. Pria berkursi roda itu benar-benar tipe pemaksa yang elegan.
Bagaimana tidak, setiap kalimatnya terstruktur rapi bagai buldoser yang meruntuhkan pertahanan Ningsih.
"Sungguh, pria itu benar-benar membuatku kewalahan," gumam Ningsih sembari memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.
"Mama..."
Ningsih tersentak kecil, lalu menunduk. Di sampingnya, Luna masih berdiri tegak dengan mata bulatnya yang berkedip-kedip polos.
Bocah perempuan itu memeluk sebuah boneka beruang kecil, menatap mamanya dengan raut muka penuh rasa ingin tahu yang sangat tinggi.
"Mama, apa benar om tampan yang pakai kursi roda tadi itu calon papa baru Luna?" tanya gadis polos itu tanpa beban.
Ningsih seketika melebarkan matanya, buru-buru berlutut di depan putrinya dan memegang kedua bahu mungil Luna.
"Hush! Luna bicara apa sih, Sayang? Mana ada papa baru. Om Satria tadi itu cuma menghalu. Jangan didengarkan ya, dia itu suka bercanda yang aneh-aneh."
Luna tidak langsung menyerah. Ia memiringkan kepalanya, menatap langit-langit ruang tamu seolah sedang berpikir keras sebelum kembali menatap Ningsih.
"Tapi kalau memang Luna mau punya papa baru... sebenarnya nggak apa-apa sih, Ma. Luna ikhlas kok."
Ningsih hampir saja tersedak air liurnya sendiri. "Luna? Kok bicaranya jadi melantur begini?"
"Kan papa Hendra juga sudah punya istri baru. Masa papa boleh punya banyak istri baru, tapi Mama nggak boleh punya suami baru? Adilnya di mana, Ma?"
Ningsih tertegun sejenak, antara ingin tertawa karena kepolosan putrinya, sekaligus gemas dengan logika keadilan ala anak-anak yang dilontarkan Luna. Ia menuntun Luna untuk duduk bersama di atas sofa panjang.
"Luna sayang, dengarkan Mama ya," ucap Ningsih dengan nada suara yang melembut, lalu mengusap rambut hitam berkilau milik anaknya. "Pernikahan itu bukan kompetisi balapan. Bukan berarti kalau papa punya kehidupan baru, Mama harus buru-buru ikutan punya suami baru juga hanya biar dibilang adil."
"Tapi om Satria tadi baik kok, Ma. Dia puji Luna cantik. Jalannya juga keren pakai kursi roda yang ada tombolnya," puji Luna, rupanya sudah mulai terpesona oleh taktik pendekatan Satria.
Ningsih terkekeh pelan, mencubit gemas pipi gembil Luna. "Oh, jadi anak Mama ini sudah mulai disogok pakai pujian, ya? Dengar ya, untuk saat ini, Mama benar-benar belum terpikir untuk menikah lagi. Fokus Mama sekarang cuma dua, membesarkan Luna supaya jadi anak yang hebat, sama mengurus perusahaan. Mama mau menikmati waktu berdua saja dulu sama Luna."
Luna menatap mata mamanya dengan lekat, lalu memeluk lengan Ningsih erat-erat.
"Luna juga sayang banget sama Mama. Luna sebenarnya takut kalau Mama punya suami baru, nanti Mama nggak sayang lagi sama Luna."
Mendengar ketakutan jujur dari anaknya, hati Ningsih menghangat sekaligus terenyuh. Ia memeluk tubuh mungil Luna dengan penuh kasih sayang, mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Sayang. Luna akan selalu jadi prioritas nomor satu di hidup Mama, sampai kapan pun."
Ningsih melepaskan pelukannya, lalu menatap Luna sembari tersenyum tipis.
"Tapi, kalau untuk urusan masa depan, Mama juga tidak mau mendahului takdir. Mama tidak memungkiri soal jodoh ke depannya nanti. Kalau suatu saat nanti Tuhan mengirimkan pria yang benar-benar tulus, menyayangi Mama, dan yang paling penting sangat menyayangi Luna melebihi dirinya sendiri, mungkin Mama akan mempertimbangkannya."
"Pria seperti mm Satria tadi ya, Ma?" goda Luna spontan dengan cengiran jahil yang sangat mirip dengan gaya menyebalkan Satria tadi.
"Luna! Sudah, ah! Kenapa jadi membahas om itu lagi," ketus Ningsih, wajahnya mendadak merona merah karena salah tingkah di depan anaknya sendiri. "Sekarang, tugas anak kecil adalah tidur. Ayo, Mama antar ke kamar dan Mama bacakan dongeng tentang putri yang mandiri."
"Siap, Mama!" seru Luna riang, langsung melompat dari sofa dan berlari menuju tangga dengan tawa yang renyah.
Ningsih mengikuti dari belakang sembari menggelengkan kepala. Di dalam hatinya, percakapan malam ini bersama Luna dan kehadiran Satria yang tiba-tiba, perlahan mulai membuka celah kecil di hatinya yang selama ini ia gembok rapat-rapat pasca perceraian pahitnya.
*
*
Luna sudah berlari riang masuk ke kamar Yudha di lantai atas untuk melepas rindu pada kakeknya. Namun di lantai bawah, sebuah badai besar baru saja menghantam.
Nawang melangkah masuk bersama Yeni dengan gaya angkuh, diikuti seorang pria tegap yang menunduk sembari menjinjing belasan tas belanjaan bermerek.
"Mas Hendra, taruh saja belanjaan ku di atas meja itu," perintah Nawang manja. Ia kemudian menoleh ke arah Ningsih yang sedang duduk tenang di sofa tunggal sembari menyesap tehnya. "Oh, ada mbak Ningsih toh di sini. Kebetulan sekali, kenalkan, ini mas Hendra. Sopir calon suamiku yang kemarin ku ceritakan ke papa. Ganteng dan kekar, kan?"
Hendra mendongak untuk memasang senyum tegapnya. Namun, begitu pandangannya berbenturan dengan sepasang mata tajam milik Ningsih, seluruh persendian Hendra mendadak lolos.
Wajahnya pucat pasi bagai kertas semen, dan tas-tas belanjaan di tangannya hampir saja merosot ke lantai.
"Ningsih?! Bagaimana bisa dia ada di sini?!" batin Hendra menjerit panik, syok setengah mati menyadari kenyataan pahit bahwa Nawang, gadis kaya yang menjadi target buruannya ternyata adalah adik tiri dari mantan istrinya sendiri.
Ningsih tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan pelan. Ia melipat tangan di dada, lalu memandang Hendra dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang sangat merendahkan, seolah sedang melihat seonggok sampah yang salah tempat.
Ningsih berdiri mendekat, lalu menatap Nawang dan Yeni bergantian dengan senyuman sinis yang mematikan.
"Oh, jadi ini calon suami sekaligus pengusaha sukses yang belakangan ini kamu banggakan ke papa, Nawang?" sindir Ningsih, nada suaranya terdengar begitu tenang.
Nawang mengernyitkan dahi, mendadak merasa tidak nyaman dengan nada bicara kakak tirinya.
"Maksud Mbak Ningsih apa? Mas Hendra ini memang sedang merintis bisnis kontraktor besar!"
Ningsih terkekeh hambar, sebuah tawa meremehkan yang sukses membuat bulu kuduk Hendra meremang.
Sementara Hendra hanya bisa menunduk dalam, merutuki nasibnya dan berdoa dalam hati agar Ningsih tidak membongkar kedoknya sebagai mantan suami yang pernah selingkuh di depan Yeni dan Nawang.
Namun, Ningsih sengaja tidak menyebutkan hal itu. Ia sama sekali tidak sudi mengotori mulutnya dengan mengakui Hendra sebagai masa lalunya, apalagi sebagai ayah Luna. Ia memilih menyembunyikannya karena enggan ikut campur dalam kebodohan adik tirinya.
"Tidak ada apa-apa, Nawang. Aku hanya sedikit kagum dengan standar seleramu," lanjut Ningsih dengan tatapan mata yang beralih mengunci Hendra yang sudah berkeringat dingin. "Hebat sekali ya, seorang pengusaha sukses tapi punya banyak waktu luang untuk merangkap jadi sopir pribadi dan membawakan tas belanjaan wanita. Benar-benar profil pria idaman yang sangat... multiguna."
Yeni yang sejak tadi diam mulai merasa tersinggung dengan sindiran tajam Ningsih.
"Ningsih! Jaga bicaramu ya! Jangan mentang-mentang kamu memimpin perusahaan utama, kamu bisa merendahkan pilihan adikmu!"
"Aku tidak merendahkan, Tante Yeni. Aku hanya sedang menilai bobot calon menantu Tante," sahut Ningsih dengan senyum dingin. Ia menatap Hendra sekali lagi dengan tatapan yang membuat pria itu merasa sekecil semut. "Silakan dilanjutkan drama belanjaannya. Aku mau naik ke atas menemui papa."
Ningsih membalikkan badan dan melangkah anggun menuju tangga, meninggalkan Nawang, Yeni, dan Hendra yang membeku diam seribu bahasa.
jika bener bener mau tobat
mka saat di panti nanti coba buka website
jualan apa gitu🤔🤔
kan bisa dpt penghasilan
asale tidak korupsi lgi
dasar satria nyicil melulu kapan lunasnya😀
pagi dan sore🤣🤣🤣
bengek bengek
dului kau congak menghina Ningsi h habis habisan
nah sekarang orang lain yang menghinamu
beres
yang resek justru yang tua
🤣🤣🤣
malam ,pagi
KLO siang untk kerja
maka sore juga bisa 🤣🤣🤣🏃🏃🏃