NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sylvia Rosyta

Karya ini telah terpilih sebagai pemenang YAAW 2026 periode 1 kategori 2 juara 3🥳 🎉 🎉

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

“Kita bantu, Pak,” ucap dokter akhirnya. “Kami yang akan jadi saksi pernikahan Arsy dan pak Syakil.”

Suster mengangguk cepat sambil menyeka

air matanya yang jatuh tanpa izin. Syakil berdiri kaku. Lututnya terasa lemas, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak. Tangannya menggenggam jemari Arsy yang terasa dingin dan gemetar. Arsy sendiri seperti kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya. Ia tahu momen ini akan datang, tapi saat benar-benar berada di depannya, rasa sakit itu tetap tak tertahankan.

Pak Rahman menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan seluruh sisa hidupnya dalam satu tarikan.

“Syakil…” panggil pak Rahman lirih dan membuat Syakil mendekat, lalu duduk di kursi kecil di samping ranjang. Tubuhnya sedikit membungkuk, penuh hormat.

“Iya, Pak.”

"Mari kita lakukan sekarang akad nikahnya," pinta pak Rahman dengan lirih dan membuat Syakil mengangguk.

Dengan tangannya yang gemetar, pak Rahman meraih tangan syakil dan menjabatnya dengan erat.

"Siapa nama lengkap kamu nak?"

"Nama lengkap saya adalah Syakil Arrafiy, pak." Jawab Syakil yang membuat pak Rahman menatap wajah Syakil dengan matanya yang mulai redup.

“Saudara Syakil Arrafiy, ayah nikahkan kamu dengan putri Ayah yang bernama Arsy Raihana Syahira…” ucap pak Rahman pelan dan dengan napasnya yang tersendat namun jelas. “Dengan mas kawin surat Ar-Rahman, dibayar tunai.”

Ruangan itu terasa sesak saat pak Rahman mulai membimbing Syakil untuk mengucapkan kalimat ijab qobul. Syakil menutup matanya sejenak. Tangannya gemetar. Dadanya terasa penuh. Ia membuka mata kembali dan menjawab dengan suara yang bergetar namun tegas.

“Saya terima nikahnya Arsy Raihana Syahira binti Rahman dengan mas kawin surat Ar-Rahman, dibayar tunai.”

Suasana kembali hening. Untuk sepersekian detik terasa seperti keabadian. Dokter dan suster menatap monitor jantung Pak Rahman yang berdetak tidak stabil, tapi masih bertahan. Mereka menatap Arsy dan Syakil, lalu saling berpandangan.

"Bagaimana saksi?" Tanya pak Rahman dengan lirih.

“Sah,” ucap dokter dengan suara parau sementara suster menutup mulutnya untuk menahan tangisnya.

Arsy membeku. Kata itu masuk ke telinganya, tapi hatinya terlambat mencerna. Ia telah resmi menjadi istri dari Syakil. Dan ayahnya, ayahnya itu baru saja menuntaskan tugas terakhirnya di dunia. Pak Rahman tersenyum. Senyum yang begitu damai, begitu lega, seolah beban puluhan tahun terangkat dari dadanya.

“Alhamdulillah,” bisik pak Rahman lirih. Tangannya yang gemetar meraba di udara seolah-olah tengah mencari sesuatu.

“Ayah…” suara Arsy pecah. Ia mendekat, menggenggam tangan ayahnya erat-erat. “Ayah…”

Pak Rahman menatap putrinya. Mata mereka

bertemu. Namun tak ada lagi kata yang perlu diucapkan.

“Jaga diri kamu baik-baik, Arsy” ucap Pak Rahman pelan. “Sekarang… kamu sudah ada yang menjaga, ayah merestui kalian berdua.”

Mata pak Rahman perlahan terpejam dan membuat monitor jantung mengeluarkan bunyi panjang dan datar.

Dokter tersentak, sementara suster menutup wajahnya. Air mata mereka jatuh secara bersamaan.

“Pak Rahman…” dokter memeriksa denyut nadi, lalu menghela napas panjang dengan matanya yang basah. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Arsy tidak langsung menangis. Ia hanya memandang wajah ayahnya yang kini tampak begitu tenang. Tidak ada lagi rasa sakit di sana. Tidak ada lagi napas berat yang terlihat pada tubuh ayahnya.

“Ayah?” panggil Arsy dengan lirih namun tidak ada jawaban. “Ayah…” suara Arsy bergetar. “Ayah bangun…”

Tangisan Arsy akhirnya pecah. Keras dan Menyayat. Seperti jeritan kehilangan yang tak bisa ditahan lagi.

“AYAHHHH—!”

Tubuh Arsy ambruk ke ranjang. Tangannya mencengkeram jasad ayahnya. Bahunya terguncang hebat. Syakil ikut menangis. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah. Ia memeluk Arsy dengan sekuat tenaga, membiarkan perempuan itu menangis di dadanya, memanggil ayahnya berkali-kali dengan suara yang semakin melemah.

“Arsy… sayang…” bisik Syakil dengan parau. “Tolong ikhlaskan kepergian ayah mu, Ayahmu sudah tenang sekarang.”

“Enggak… enggak…” Arsy menggeleng keras di pelukan Syakil. “Aku belum siap mas, aku belum siap kehilangan Ayah.”

Syakil memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak.

“Arsy…” ia mengusap punggung istrinya perlahan. “Ayahmu pergi setelah memastikan kamu aman… itu tanda cintanya sebelum pergi.”

Tangis Arsy semakin menjadi. Dokter dan suster tak sanggup menahan air mata mereka. Mereka diam-diam memberi ruang dan membiarkan keluarga kecil itu tenggelam dalam duka.

Sore itu, langit tampak mendung. Awan abu-abu menggantung berat, seolah ikut berkabung dengan meninggalnya pak Rahman. Jenazah Pak Rahman telah dimandikan dan dikafani. Tubuh yang tadi pagi masih berbicara kini terbaring kaku. Arsy berdiri terpaku di depan keranda. Tangannya terlihat gemetar saat menyentuh kain penutup keranda yang didalamnya terdapat tubuh ayahnya.

“Ayah…” bisiknya. “Maafin Arsy…”

Syakil yang berdiri di belakangnya, menopang tubuh Arsy yang nyaris roboh. Ambulans melaju pelan menuju pemakaman umum dekat kontrakan kecil tempat Arsy dan Pak Rahman selama ini tinggal. Jalanan basah sisa hujan siang tadi. Suasana hening menyelimuti perjalanan itu. Di pemakaman, tanah merah sudah digali. Beberapa warga berdiri dengan wajah sendu. Mereka semua tidak menyangka kalau pak Rahman akan pergi meninggalkan mereka dalam waktu yang secepat itu.

Saat jenazah Pak Rahman diturunkan ke liang lahat, tangisan Arsy kembali pecah. Tubuhnya lemas, dan bersandar penuh di pelukan Syakil.

“Ayah… jangan tinggalin Arsy… ayah.” isak Arsy dengan lirih dan membuat Syakil memeluknya erat. Air matanya jatuh membasahi hijab Arsy.

“Kamu harus kuat Arsy, kita kirimkan doa terbaik kita buat ayah.” bisiknya. “Biar Ayah tenang di alam sana.”

Setelah jasad pak Rahman berada di tanah, beberapa orang mulai menutup liang lahat. Suara tanah jatuh seperti palu yang menghantam hati Arsy satu per satu. Saat semua selesai, Arsy terduduk lemah di makam ayahnya. Pandangannya terlihat kosong saat menatap nisan sederhana itu. Di pelukan Syakil, Arsy akhirnya mengerti satu hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.

Hari itu, ia telah kehilangan ayahnya sekaligus penopang penting dalam hidupnya.

Beberapa saat kemudian Orang-orang mulai melangkah pergi, meninggalkan pemakaman pak Rahman yang kini menjadi penanda perpisahan paling pahit dalam hidup Arsy. Beberapa tetangga mendekat. Wajah-wajah yang selama ini terlihat akrab dan sering menyapa ayahnya setiap pagi, kini menatap Arsy dengan mata berkaca-kaca.

“Yang sabar ya, Nak Arsy. Semoga almarhum husnul khotimah.”

"Ayahmu orang baik, Nak. InsyaAllah Allah akan menempatkan ayahmu ditempat yang mulia.”

Arsy mengangguk pelan setiap kali menerima ucapan belasungkawa itu. Bibirnya bergetar, tapi tak lagi ada air mata yang keluar. Seolah seluruh tangisnya sudah habis terkuras sejak jenazah ayahnya dikuburkan tadi. Syakil berdiri di sampingnya, satu tangannya menopang punggung Arsy, sementara tangannya yang lain menggenggam jemari istrinya erat-erat. Ia tahu tubuh istrinya itu sudah berada di batasnya. Ketika ucapan belasungkawa terakhir disampaikan, Syakil menunduk sedikit ke arah Arsy.

1
Farida Dalle
Thor, tolong sisakan satu calon suami yg sprti Syakil, pokoknya Syakil is the best😂🔥
Farida Dalle
Duhhh Syakil.... kamu baik banged, semoga ttp semangat dn tdk putus asah,semoga Arsy nntinya cpt menetima cinta kamu yah🤲😇kita doakan, hehe
Farida Dalle
untung ketahuan sebelum pernikahan, udahlh Arsy, cowok modelan Radit gak usah ditangisi, lelaki kurang ajar dan tak berperasaan, sabar nnti dipertemukan dg jodoh yg baik,yg cinta mati sm kamu
Diiah Iryaa
lemahh amat sih heran, tinggal diseret aja atau panggil suster kok lebay
Nurma Sadiah
syakil keren👍
Bunda Fiya
/Good//Good//Good/
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak 🙏😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
dari bab awal knp mengandung bawang si thor, pls aku jd ikutan nangis 😭😭😭
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
lo bukan nya kebalik ya, kan kamu duluan yg menghancurkan hidup arsy kok skrg kamu merasa jd korban
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
sultan arab mah beda ya, mau beli rumah sakit uda kek mau beli cilok
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ikutan mewek 😭😭 yakinlah suatu saat mereka berdua yg mengkhianatimu akan dpt karmanya
Dewi Yuli
bisa pake kata brangkar kak, ranjang dorong kepanjanngan🙏🙏
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak 🙏😍
total 1 replies
Sinta Dewi
ceritanya bagus Thor 😀, tetap semangat 💪💪 berkarya ya Thor 🥰🌹🔥🔥🔥
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak pasti, terima kasih bintang limanya kak 🙏🥰
total 1 replies
martiana. tya
masih di IGD? lama amat ICU kali?
Ima Kristina
Mending Arsy mulai belajar menjadi istri yang tangguh pantas mendampingi Syakil
Nurma Sadiah
😍😍
Ima Kristina
Wah Syakil kejar setoran tuh
Ima Kristina
Beruntung sekali Arsy dicintai begitu dalam pria seperti Syakil
Ima Kristina
Masyaallah seandainya semua suami di dunia co cweet kayak Syakil pasti rumah tangga aman sentosa 😄😄
Ima Kristina
Bukannya Syakil sudah ijab qobul di RS waktu itu kok ijab lagi ...kirain cuman pesta resepsi saja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!