NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:955
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Kitab Kuno Mahardika

Sabtu pagi di Menteng selalu memiliki atmosfer yang berbeda. Udara terasa lebih sejuk, barangkali karena rimbunnya pepohonan beringin tua yang memayungi jalanan aspal di kawasan elite tersebut. Untuk kedua kalinya dalam seminggu, sedan hitam milik Arkananta Mahardika meluncur mulus melewati gerbang besi tempa raksasa kediaman utama keluarga Mahardika.

Di dalam mobil, Kinanti sibuk merapikan catatan kecil di tabletnya. Kali ini, penampilannya sedikit lebih kasual namun tetap anggun dengan blus tunik berwarna krem dan celana kulot. Di sebelahnya, Arkan menyetir dengan kaos polo hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya. Keheningan di antara mereka hari ini tidak lagi terasa kaku atau canggung seperti minggu lalu, melainkan dipenuhi oleh ketegangan yang fokus—ketegangan dua orang rekan tim yang bersiap memecahkan sebuah teka-teki besar.

"Pak, apa Eyang Widya benar-benar akan menunjukkan kitab kuno keluarga hari ini?" tanya Kinanti, menoleh ke arah bosnya.

Arkan mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan semen menuju lobi rumah. "Eyang menelepon saya semalam. Beliau bilang, karena kamu sudah membuktikan kompetensimu menghadapi Mr. Tanaka dan menjaga rahasia ini di kantor, kamu dianggap sudah 'layak' untuk mengetahui detail sumpah darah Mahardika. Sesuatu yang bahkan tidak semua anggota keluarga inti tahu."

Mobil berhenti. Kali ini, tanpa menunggu pelayan membukakan pintu, Arkan dan Kinanti langsung turun. Bik Ani sudah menyambut mereka di pintu depan dengan senyuman hangat yang familier.

"Den Arkan, Mbak Kinanti, Nyonya Besar sudah menunggu di ruang perpustakaan bawah tanah," ujar Bik Ani sambil membungkuk hormat.

"Perpustakaan bawah tanah?" Kinanti berbisik pelan ke arah Arkan saat mereka berjalan mengikuti Bik Ani melewati lorong utama. "Saya pikir ruangan seperti itu cuma ada di film-film petualangan."

Arkan mendengus geli. "Rumah ini dibangun tahun 1912 oleh buyut saya. Pada masa kolonial, ruangan di bawah digunakan untuk menyimpan dokumen dagang dan rempah-rempah berharga agar terhindar dari jarahan. Sekarang fungsinya berubah jadi ruang arsip keluarga."

Mereka tiba di sebuah pintu kayu ek tebal di sudut belakang rumah. Arkan mendorong pintu tersebut, menyingkap sebuah tangga melingkar dari batu alam yang turun ke bawah. Penerangan di dinding menggunakan lampu temaram bernuansa kuning hangat, memberikan kesan magis sekaligus misterius.

Di ujung tangga, sebuah ruangan luas berlantai kayu jati menyambut mereka. Bau khas kertas tua dan wangi kayu cendana langsung menyergap indra penciuman Kinanti. Di sekeliling ruangan, rak-rak buku setinggi langit-langit berjejer rapi, menyimpan ribuan jilid buku tua bersampul kulit.

Di tengah ruangan, di atas sebuah meja kayu raksasa, Eyang Widya sudah duduk menanti. Di hadapannya, terdapat sebuah kotak beludru hitam yang sudah agak pudar warnanya.

"Selamat datang kembali, anak-anak," sapa Eyang Widya, suaranya yang parau namun berwibawa menggema di ruangan sunyi itu. "Duduklah. Kita tidak punya banyak waktu sebelum mendung sore nanti mungkin datang lagi."

Arkan dan Kinanti duduk berdampingan di kursi kayu berukir. Mata Kinanti langsung tertuju pada kotak beludru di atas meja.

Eyang Widya membuka kotak tersebut dengan jemarinya yang dihiasi cincin zamrud. Di dalamnya, terletak sebuah kitab kuno bersampul kulit rusa yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Lembaran-lembarannya terbuat dari kertas dluwang kuno yang berwarna cokelat kekuningan. Terdapat tulisan aksara Jawa kuno dan guratan tinta emas yang mulai memudar pada halaman pertamanya.

"Inilah Serat Jayaning Mahardika," kata Eyang Widya lembut, jemarinya mengusap sampul kitab itu dengan penuh rasa hormat. "Ditulis langsung oleh Raden Mas Rangga Mahardika pada tahun 1845. Beliau adalah leluhur pertama yang mengikat sumpah dengan penguasa spiritual tanah Jawa demi menyelamatkan bandar dagang keluarga yang hampir bangkrut akibat monopoli serikat dagang asing."

Arkan memicingkan mata. "Dan harga dari kejayaan itu adalah kutukan ini, Eyang?"

"Bukan kutukan, Arkan. Eyang lebih suka menyebutnya sebagai 'Keseimbangan Takdir'," koreksi Eyang Widya tegas. "Sumpah itu berbunyi: Sopo sing mikul dhuwur jenenge Mahardika, bakal dadi singo ing progo, nanging bakal asor dadi kucing ing nggandheng reresik angin. Artinya, siapa yang menjunjung tinggi nama Mahardika akan menjadi singa di dunia nyata, tetapi akan diturunkan derajatnya menjadi kucing yang tak berdaya saat jiwanya goyah atau diterpa air langit."

Kinanti mencondongkan tubuhnya, menatap aksara emas di kitab itu. "Lalu Eyang, mengenai celah 'Ketulusan Tanpa Syarat' yang Eyang sebutkan minggu lalu... bagaimana kitab ini menjelaskannya?"

Eyang Widya membalik halaman kitab itu dengan sangat hati-hati, berhenti di sebuah halaman yang menampilkan ilustrasi lukisan tinta hitam. Lukisan itu menggambarkan seorang pria yang sedang berlutut, dan di hadapannya terdapat wujud siluet seekor kucing yang dikelilingi oleh lingkaran cahaya berbentuk hati.

"Di halaman ini, leluhur kita menuliskan penawarnya dalam bentuk bait tembang," Eyang Widya membaca baris aksara kuno itu, lalu menerjemahkannya untuk Kinanti. "Naliko jiwo kang tulus ngrontokake angkuh, wujud sato bakal sirno. Kutukan ini mengunci ego dan kesombongan pria Mahardika. Sumpah ini hanya akan luntur jika sang pewaris menemukan seseorang yang mampu menembus dinding keangkuhan itu. Seseorang yang memandangnya setara, baik saat dia berada di puncak kekuasaan sebagai manusia, maupun saat dia menjadi makhluk paling lemah dalam wujud hewan."

Eyang Widya menatap Kinanti dengan tatapan yang sangat dalam. "Ketulusan tanpa syarat itu berarti... cinta yang tidak peduli pada topeng korporat Arkan. Kinanti, sumpah ini menuntut pembuktian nyata. Sumpah ini harus 'melihat' bahwa kamu merawat Arkan bukan karena takut dipecat, bukan karena bonus, dan bukan karena tuntutan pekerjaan sebagai sekretaris atau direktur."

Kinanti terdiam. Kata-kata Eyang Widya terasa begitu berat, menghujam langsung ke lubuk hatinya. Ia melirik Arkan dari sudut matanya. Sang CEO tampak menunduk, menatap lantai kayu dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada guratan luka lama dan kesepian yang mendalam di wajah tampannya.

"Lalu... bagaimana cara membuktikannya kepada 'Sumpah Takdir' ini, Eyang?" tanya Kinanti pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan.

Eyang Widya tersenyum misterius. "Takdir akan menguji kalian sendiri, Cah Ayu. Ujian itu akan datang di saat yang paling tidak kalian duga. Ketika situasi mendesak kalian untuk memilih antara ego masing-masing atau keselamatan satu sama lain, di sanalah ketulusan itu akan diukur."

Eyang Widya menutup kitab kuno itu dengan bunyi blup pelan, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak beludru. "Sekarang, bawalah kotak ini, Arkan. Simpan di tempat yang aman. Tugas Eyang untuk menjaganya sudah selesai. Masa depan kutukan ini sekarang berada di tangan kalian berdua."

Sore harinya, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, langit rupanya tidak secerah pagi tadi. Awan kelabu mulai berarak cepat dari arah selatan, menutupi pancaran sinar matahari sore. Gemuruh guntur mulai terdengar bersahut-sahutan di kejauhan.

Arkan meningkatkan kecepatan mobilnya, rahangnya tampak menegang. "Sial, mendung datang lebih cepat dari prediksi BMKG."

"Pak Arkan, kita cari tempat berhenti dulu!" seru Kinanti, melihat rintik hujan pertama mulai menghantam kaca depan mobil dengan keras. "Kita masih di jalan tol, berbahaya kalau Bapak mendadak berubah di balik kemudi!"

"Tidak ada waktu untuk keluar tol, Kinanti! Rest area terdekat masih lima kilometer di depan!" suara Arkan terdengar panik. Getaran sihir keemasan mulai muncul di ujung-ujung jemarinya yang menggenggam setir mobil. Tubuhnya mulai terasa menyusut, dan pandangan matanya mendadak menjadi lebih rendah.

"Pak Arkan! Lepas setirnya! Biar saya yang ambil alih!" Kinanti dengan nekat melepaskan sabuk pengamannya, merangkak melewati pembatas tengah kursi mobil mewah itu di tengah laju kendaraan yang cukup kencang.

"Kinanti! Berbahaya!" seru Arkan, namun suaranya mendadak mengecil dan berubah menjadi serak.

Dalam hitungan detik, kilatan cahaya keemasan memenuhi kabin mobil. Kemeja rajut sage milik Arkan mengempis. Sedan mewah itu sempat oleng ke kanan karena kehilangan kendali pada setir.

Dengan sigap dan adrenalin yang memuncak, Kinanti langsung menjatuhkan dirinya ke kursi pengemudi, mengambil alih kemudi dengan tangan kanannya, sementara kaki kanannya dengan susah payah menginjak pedal rem untuk memperlambat laju mobil. Dari balik tumpukan baju di bawah tubuhnya, terdengar suara meongan panik.

MEONG!

Kinanti berhasil mengendalikan mobil dan mengarahkannya ke bahu jalan tol, menyalakan lampu darurat, lalu menghentikan kendaraan dengan aman di bawah guyuran hujan deras yang kini menghantam atap mobil dengan suara menggelegar.

Napas Kinanti terengah-engah. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau copot. Ia bersandar pada setir mobil, mencoba menenangkan diri sebelum menunduk ke bawah, ke arah kursi pengemudi.

Dari balik gulungan kaos polo hitam yang kebesaran, muncul sebuah kepala oranye gembul dengan mata hijau zamrud yang melebar syok. Arkan—versi kucing—menatap Kinanti dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus kekhawatiran yang mendalam. Kucing itu merangkak keluar dari baju, melompat ke atas paha Kinanti, lalu menyundulkan kepalanya ke tangan Kinanti yang masih gemetar di atas setir.

Meong... Suara meongannya kali ini terdengar sangat pelan, seolah sedang meminta maaf karena telah membahayakan nyawa gadis itu.

Kinanti menatap kucing gembul di pangkuannya. Rasa takut dan panik yang sempat menderanya mendadak sirna, digantikan oleh rasa sayang dan kehangatan yang luar biasa. Ia mengangkat Arkan ke dalam pelukannya, memeluk tubuh berbulu yang hangat itu dengan erat di tengah suara badai di luar.

"Saya tidak apa-apa, Pak Arkan... Saya aman," bisik Kinanti lembut, mengusap punggung Arkan berulang kali. "Bapak juga aman sekarang. Jangan takut."

Di dalam pelukan hangat Kinanti, di tengah deru hujan deras di pinggir jalan tol, Arkan memejamkan matanya. Suara dengkuran (purr) yang sangat keras dan konstan mulai keluar dari dadanya. Untuk pertama kalinya sejak kutukan ini jatuh kepadanya, Arkan tidak lagi merasa marah atau mengutuk takdir saat hujan turun. Karena saat ini, ia tahu, ada seseorang yang dengan tulus mendekapnya erat tanpa peduli wujud apa yang sedang ia sandang.

Tanpa mereka sadari, di dalam kotak beludru hitam yang terletak di kursi belakang, sebuah guratan aksara emas di dalam Serat Jayaning Mahardika perlahan-lahan mulai memancarkan cahaya redup, menandakan bahwa roda takdir penguji ketulisan itu... baru saja mulai berputar.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!