Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Mengubah Segalanya
...~Ada hari yang tak pernah bisa diulang. Hari ketika dua orang asing mengucap janji untuk menjadi rumah bagi satu sama lain.~...
Mentari pagi bersinar cerah, seolah ikut merayakan kebahagiaan hari itu. Halaman rumah keluarga Naira sudah berubah total. Tenda putih bersih berdiri megah, dihiasi untaian bunga melati dan mawar yang menebarkan aroma harum. Sejak subuh, riuh rendah suara kerabat yang sibuk mempersiapkan acara terdengar bersahut-sahutan.
Sementara di dalam kamar, suasana terasa jauh lebih tenang. Naira duduk terpaku di depan cermin besar. Gaun akad berwarna putih gading membalut tubuhnya dengan pas, membuat riasan sederhananya terlihat begitu anggun tanpa membuang kesan lembut yang selama ini menjadi cirinya.
"Naira..." panggil Ibu Siska lirih. Beliau melangkah pelan mendekati putrinya, menatap sang anak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Iya, Bu," sahut Naira. Ia menoleh perlahan, mencoba mengulas senyum tipis di bibirnya.
"Sudah siap, Nak?" tanya Ibu Siska lagi, kini tangannya terulur mengusap lembut bahu Naira.
"Insyaallah," jawab Naira mantap, meski kedua tangannya di atas pangkuan saling menggenggam erat untuk meredakan gemuruh di dadanya. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Hari ini, statusnya akan berubah total.
Tok... Tok...
Pintu kamar terbuka. Pak Ridwan melangkah masuk, lalu mendadak berhenti beberapa langkah di dekat tempat tidur. Pandangannya terkunci pada sang putri tercinta.
"Nak..." bisik Pak Ridwan. Suaranya tercekat di tenggorokan, sementara pelupuk matanya mulai memerah.
"Iya, Yah?" tanya Naira. Ia langsung bangkit dari kursi rias dan melangkah cepat mendekati ayahnya.
"Kamu cantik sekali hari ini," puji Pak Ridwan dengan senyum bangga yang dipaksakan menahan haru.
"Jangan menangis, Yah," goda Naira lembut, langsung menghambur ke dalam pelukan hangat sang ayah.
"Ayah belum menangis, kok," kilah Pak Ridwan, meski getaran pada suaranya sama sekali tidak bisa dibohongi. Beliau memeluk Naira dengan sangat erat. "Terima kasih... terima kasih sudah menjadi anak yang selalu membanggakan Ayah selama ini."
"Justru Naira yang harus berterima kasih, Yah," bisik Naira. Air matanya akhirnya luruh juga, membasahi pundak sang ayah. "Terima kasih karena Ayah selalu menjaga dan menyayangi Naira sampai detik ini."
"Hari ini..." Pak Ridwan mengusap lembut puncak kepala putrinya, lalu mengurai pelukan mereka perlahan. "...Ayah akan menyerahkanmu kepada lelaki yang insyaallah akan menjagamu jauh lebih baik setelah Ayah."
Di sisi lain, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Satria turun perlahan, diikuti kedua orang tuanya. Ia tampak gagah mengenakan beskap putih bersih, lengkap dengan peci hitam yang senada.
"Sat," panggil Pak Hasan, menepuk pelan pundak putranya.
"Iya, Pak?" Satria menoleh, mencoba menyembunyikan embusan napasnya yang berat.
"Gugup, ya?" tanya Pak Hasan sambil terkekeh pelan.
"Sedikit, Pak," aku Satria, mengulas senyum kaku sambil membetulkan posisi pecinya.
"Ayah juga dulu begini waktu mau menikahi ibumu," seloroh Pak Hasan, berniat mencairkan suasana.
"Ingat, Sat," sela Bu Ratna. Beliau melangkah maju, menjinjit sedikit untuk merapikan kerah baju putranya yang agak miring.
"Iya, Bu?" Satria menatap lekat mata sang ibu.
"Hari ini bukan tentang menjadi suami yang langsung sempurna," ucap Bu Ratna lembut, menepuk dada Satria dengan penuh kasih sayang. "Tapi tentang kesiapan kamu untuk terus belajar bersama Naira setiap hari."
"Insyaallah, Bu. Satria ingat nasehat Ibu," jawab Satria dengan anggukan mantap. Keyakinannya kini penuh.
Rombongan keluarga Baskara kemudian melangkah memasuki halaman rumah.
"Assalamualaikum," sapa perwakilan keluarga pria dengan ramah.
"Waalaikumsalam," sambut keluarga Naira serempak.
Suasana yang tadinya tegang seketika berubah hangat. Setelah saling bersalaman dan bertukar sapa, keluarga besar Naira langsung mempersilakan rombongan mempelai pria masuk menuju area utama tempat meja akad sudah disiapkan.
Satria berjalan dengan langkah tegap, lalu duduk tepat di depan penghulu dan Pak Ridwan. Di sampingnya, Pak Hasan kembali meremas pelan bahu putranya.
"Tarik napas dalam-dalam," bisik Pak Hasan menyemangati. Satria hanya mengangguk pelan, mencoba menenangkan debar dadanya yang kian menggila.
Beberapa menit berlalu, penghulu mulai membuka prosesi akad nikah. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang syahdu dan khutbah nikah selesai disampaikan, momen yang paling mendebarkan pun tiba.
Pak Ridwan mengulurkan tangannya di atas meja, siap menjabat tangan Satria. Suasana mendadak hening seketika. Seluruh tamu undangan yang hadir tampak menahan napas, ikut larut dalam ketegangan. Penghulu melirik Pak Ridwan lalu mengangguk pelan.
"Silakan, Pak," ucap penghulu memberi aba-aba.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan putri kandung saya, Naira Azzahra binti Ridwan, dengan engkau Satria Baskara bin Hasan, dengan maskawin berupa seperangkat alat salat, emas seberat sepuluh gram, dan uang tunai yang dibayar tunai," ucap Pak Ridwan dengan suara lantang dan tegas yang bergetar menahan emosi.
Satria mencengkeram tangan mertuanya dengan mantap. Tanpa ada jeda sedikit pun, ia langsung menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Naira Azzahra binti Ridwan dengan maskawin tersebut, dibayar tunai!"
"Sah?" tanya penghulu keras ke arah para saksi.
"Sah!" seru para saksi hampir bersamaan.
"Sah! Alhamdulillah," sahut para tamu undangan yang langsung mengusap wajah mereka dengan kedua tangan tanda syukur.
"Allahu Akbar..." Takbir terdengar menggema samar di sudut ruangan.
Air mata haru seketika pecah. Bu Ratna langsung memeluk suaminya erat, sementara Ibu Siska di sudut lain tampak menyeka pipinya yang basah, tak kuasa membendung rasa bahagia yang membuncah.
Tidak berselang lama, pintu kamar terbuka. Naira dipersilakan keluar dan berjalan menuju ruang akad. Langkah kakinya sangat pelan, dengan kepala yang masih tertunduk malu karena menjadi pusat perhatian.
Begitu Naira duduk tepat di samping Satria, aura di antara mereka terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, status mereka berubah total. Bukan lagi sepasang calon, melainkan sudah resmi menjadi suami dan istri.
"Silakan, mempelai pria boleh memasangkan cincinnya," ucap penghulu memecah kecanggungan sambil tersenyum hangat.
Satria mengambil kotak beludru, mengeluarkan cincin emas yang mereka pilih bersama beberapa hari lalu. "Permisi ya," bisiknya pelan. Dengan sangat hati-hati, ia meraih jemari Naira dan menyematkan cincin itu di jari manis sang istri. Jarinya sempat sedikit gemetar, membuat Naira yang melihatnya terenyum kecil.
Kini giliran Naira. Ia mengambil cincin untuk Satria. Saat jemarinya menyentuh kulit tangan sang suami, pandangan mereka tidak sengaja bertemu. Tidak ada kata yang terucap dari bibir masing-masing, namun senyum tulus yang terukir di wajah keduanya sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.
Setelah doa bersama selesai dibacakan, suasana berganti menjadi santai. Para tamu mulai mengantre untuk memberikan ucapan selamat di pelaminan.
"Selamat ya, Sat! Selamat, Naira," ucap salah seorang kerabat sambil menjabat tangan mereka bergantian.
"Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," timpal tamu lainnya.
"Aamiin, terima kasih banyak," jawab Satria dan Naira kompak sambil menangkupkan tangan di dada.
Di ujung antrean, tampak Doni, Gea, dan Siska yang sejak tadi tidak sabar menunggu giliran. Begitu sampai di depan Satria, Doni langsung menarik sahabatnya itu ke dalam pelukan erat.
"Selamat ya, Sat! Akhirnya nikah juga lo," bisik Doni penuh semangat sambil menepuk-nepuk punggung Satria.
"Terima kasih banyak, Don. Makasih sudah datang," balas Satria sambil tersenyum lebar.
Doni kemudian menggeser posisinya menghadap Naira. "Selamat juga ya, Mbak Naira. Mulai sekarang, saya titip Pak Satria, ya. Tolong diurus," candanya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Insyaallah, Mas Doni," sahut Naira dibarengi tawa kecil yang terdengar anggun.
"Pak Satria itu kalau lagi ngambek di kantor, gampang kok Mbak. Kasih brownies aja, pasti langsung luluh," sela Gea ikut menggoda bosnya.
"Betul banget! Oh iya, jangan lupa juga kasih diskon khusus buat pegawai kecamatan ya, Pak!" timpal Siska memprovokasi, membuat teman-teman mereka yang lain ikut tertawa renyah.
Satria hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan para bawahannya itu. "Kalian ini, malah jualan di pelaminan saya," candanya balik.
Namun, di sela-sela tawa itu, Satria melirik ke arah samping. Melihat senyum lepas yang mengembang di wajah manis istrinya, sebuah kehangatan menjalar di dada Satria. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar bahwa keputusan menerima perjodohan ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya.
Ketika acara berangsur sepi dan menyisakan keluarga inti, Satria memiringkan tubuhnya, menoleh ke arah Naira yang berdiri di sampingnya.
"Mulai hari ini... aku akan belajar menjadi suami yang baik buat kamu," bisik Satria sangat pelan, memastikan hanya Naira yang bisa mendengar suaranya. Ia menatap lekat mata istrinya. "Mungkin aku belum sempurna, tapi aku berjanji akan selalu berusaha keras untuk membuatmu tersenyum."
Naira menoleh sempurna. Senyum hangat langsung merekah di bibirnya, sementara matanya kembali berkaca-kaca karena haru.
"Kalau begitu..." Naira menjeda kalimatnya sejenak, menatap balik mata Satria dengan tatapan teduh. "...aku juga akan belajar menjadi istri yang selalu membuatmu rindu dan ingin cepat pulang."
Di bawah langit siang yang cerah, dan di hadapan orang-orang tercinta yang tulus mendoakan mereka, kisah baru sebagai sepasang suami istri akhirnya resmi dimulai.
Bersambung...