NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang

Tiga hari setelah meninggalkan lembah kenangan, mereka akhirnya tiba di dataran tinggi paling utara. Pemandangan di depan mata membuat napas mereka tertahan.

Di atas sana, melayang setinggi seribu zhang di udara, berdiri Istana Langit Mengambang. Bangunan raksasa itu terbuat dari batu putih berkilauan dan logam perak, menara-menaranya menembus awan gelap, dan dikelilingi selubung energi putih yang berputar perlahan. Tidak ada tiang penyangga, tidak ada jembatan penghubung—seolah istana itu tidak terikat sama sekali pada dunia di bawahnya, melayang karena keinginan sendiri.

"Ini bukan sihir," bisik Lin Mo pelan. Ia menempelkan telapak tangannya ke tanah di bawah kakinya, menyebarkan kesadarannya menembus lapisan udara dan kabut. "Ada ribuan rantai energi gelap yang menghubungkan dasar istana ini ke seluruh fondasi benua. Ia tidak melayang bebas—ia sedang menahan, bahkan menyerap kekuatan bumi agar bisa tetap tinggi."

Guru Shan mengangguk dengan wajah pucat. "Benar. Sejak ribuan tahun lalu, mereka menyedot inti kekuatan setiap gunung, setiap lembah, dan menyatukannya di sini. Semakin tinggi istana ini, semakin dalam tanah di bawahnya tenggelam."

Mereka tidak bisa naik lewat jalan biasa—selubung energi itu akan langsung menolak siapa pun yang membawa jejak Jalan Akar. Jadi mereka memilih jalan yang tidak disangka siapa pun: masuk dari bawah.

Di bawah bayang-bayang istana terdapat jurang raksasa yang dalam, dindingnya halus dan tertutup segel pelindung. Namun Lin Mo tahu segel itu menutup bagian atas, bukan bagian yang bersentuhan langsung dengan bebatuan. Ia memimpin rombongannya masuk ke dalam gua gelap di dasar jurang, lalu mulai menembus ke atas melalui rongga batuan yang tersembunyi.

Perjalanan naik ini jauh lebih berat daripada turun ke mana pun. Setiap zhang yang mereka lewati, tekanan semakin meningkat, dan energi bumi semakin sulit ditemukan—seolah sedang berjalan menuju tempat di mana kehidupan sudah dilarang. Lin Mo harus terus-menerus membuka jalan, memadatkan batu di sekitar mereka agar tidak runtuh, dan melindungi teman-temannya dari serangan jebakan energi yang terpasang di setiap celah.

Saat mereka akhirnya mencapai dasar platform istana, mereka melihat pemandangan yang mengerikan. Ribuan rantai hitam tebal menancap ke dalam bebatuan di bawah sana, berdenyut gelap seolah sedang meminum darah bumi. Di tengah-tengah rantai itu terdapat sebuah ruangan tersembunyi yang belum tersentuh segel—tempat yang ditandai pada peta peninggalan orang tua Lin Mo.

Di dalam ruangan itu, tidak ada harta karun atau senjata sakti. Hanya dua peti batu yang tertutup debu, dan sebuah altar kecil yang retak.

Lin Mo berjalan mendekat dengan tangan gemetar. Saat ia membuka peti pertama, napasnya tercekat. Di dalamnya terdapat dua set pakaian tua dengan lencana akar yang sudah pudar, serta dua pedang kayu yang ujungnya tumpul karena sering digunakan. Di peti kedua tersimpan catatan harian terakhir orang tuanya:

"Kami tidak bisa memutus rantai ini. Kekuatan Penguasa Tanpa Fondasi terlalu besar. Tapi kami menemukan kelemahannya: ia tidak bisa menghancurkan apa yang menyatu dengan asalnya. Ia hanya bisa menekan. Jika suatu hari pewaris sejati datang, jangan melawannya dengan kekuatan yang sama. Biarkan ia merasakan kembali apa artinya memiliki fondasi, memiliki akar, memiliki rumah."

Belum sempat Lin Mo menutup buku itu, pintu ruangan tertutup rapat sendiri. Cahaya putih menyala terang dari segala arah, dan suara yang pernah didengarnya di lembah bergema di seluruh ruangan—suara tanpa wujud, dingin dan kosong.

"Kau datang jauh-jauh hanya untuk membaca catatan orang yang sudah kalah?"

Di tengah ruangan, bayangan tinggi perlahan terbentuk. Ia tampak seperti manusia yang terbuat dari kabut cahaya, tidak memiliki wajah tetap, dan di sekelilingnya melayang ribuan serpihan batu yang dipaksa melayang tanpa tumpuan.

"Aku tidak datang untuk melawan," jawab Lin Mo tenang, meski kakinya terasa berat menahan tekanan yang bisa menghancurkan gunung. "Aku datang untuk mengembalikan apa yang terpisah."

"Terpisah?" Penguasa Tanpa Fondasi tertawa sinis. "Langit dan tanah tidak pernah bersatu. Langit adalah kebebasan, tanah adalah penjara. Aku membebaskan semua makhluk dari belenggu akar, dari keterikatan tempat, dari keterbatasan asal-usul. Mengapa kalian menolak kebebasan itu?"

"Karena tanpa tempat untuk pulang, kebebasan hanyalah melayang tanpa tujuan," jawab Lin Mo mantap. "Tanpa akar, kau tidak akan pernah tahu siapa dirimu. Kau hanya akan menjadi angin yang membawa debu ke mana saja."

Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di lantai batu ruangan itu. Ia tidak mengeluarkan serangan dahsyat. Ia hanya membiarkan seluruh kekuatannya, seluruh kenangannya, seluruh harapan yang dibawanya dari Desa Akar Kering, dari Lembah Tertutup, dari hati ribuan orang yang menderita—mengalir perlahan ke dalam lantai, ke dalam rantai, ke dalam seluruh fondasi istana itu.

Ia tidak ingin menghancurkan istana itu. Ia ingin menyatukannya kembali dengan tanah yang menopangnya.

"Kau berani mencoba mengikatku kembali?!" Penguasa itu meraung marah. Ribuan serpihan batu melesat menghujani Lin Mo, gelombang energi meledak berkali-kali. Namun Lin Mo tidak mundur, tidak membalas, dan tidak berhenti mengalirkan kekuatan penyatuan. Tubuhnya mungkin terluka, darah mungkin menetes, tapi kakinya semakin tertanam kuat.

Satu per satu rantai hitam mulai bergetar. Cahaya gelap di dalamnya perlahan berubah menjadi cokelat hangat. Seluruh istana yang melayang itu perlahan berhenti bergerak, lalu turun perlahan, sangat perlahan, seolah raksasa yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat.

Penguasa Tanpa Fondasi gemetar hebat. Wujudnya mulai retak. Ia merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya selama ribuan tahun: kestabilan, kehangatan, rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dan abadi.

"Apa... apa yang kau lakukan padaku?" suaranya kini bergetar bingung, bukan lagi penuh kemarahan.

"Aku tidak mengikatmu," jawab Lin Mo lembut namun tegas. "Aku hanya membukakan jalan pulang."

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!